NovelToon NovelToon
BRANDALAN POSESIF

BRANDALAN POSESIF

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

​SINOPSIS: BRANDALAN POSESIF

​Pertemuan tak sengaja di aspal hitam menjadi awal mimpi buruk sekaligus obsesi yang berbahaya.

​Shania Clarissa, mahasiswi kedokteran yang hidup sederhana dan penuh prestasi, tidak pernah menyangka bahwa malam itu ia akan berhadapan dengan Davindra Elangga. Davindra adalah putra tunggal konglomerat yang arogan, gemar balapan liar, dan memiliki tatapan sedingin es.

​Kecelakaan motor yang nyaris merenggut nyawa Shania justru berujung pada penghinaan. Harga diri Shania terusik ketika Davindra mencoba membayar lukanya dengan uang, yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Shania. Bagi Davindra, penolakan itu adalah tantangan.

​Takdir mempertemukan mereka kembali di kampus, di mana Davindra ternyata adalah putra dari pemilik yayasan tempat Shania menuntut ilmu. Dengan kekuasaan di tangannya, Davindra bertekad menjerat Shania dalam sebuah permainan kendali. Shania yang menginginkan ketenangan kini harus terjebak dalam pusaran obsesi posesif seorang brandalan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRANDALAN POSESIF

BAB 24: Makan Siang dan Teritori Sang Singa.

​Siang itu, kantin Rumah Sakit Medika Utama sedang berada di puncak keramaian. Aroma antiseptik yang biasanya mendominasi gedung medis ini sesaat kalah oleh kepulan uap soto ayam dan aroma kopi dari stan kantin. Di salah satu sudut meja yang agak jauh dari kerumunan, Shania duduk bersama Laras, sahabat karibnya sesama mahasiswa koas yang sudah menemaninya sejak semester awal kuliah.

​Laras baru saja menyuapkan sesendok nasi saat matanya melirik ke arah Shania yang tampak gelisah.

"Shania, kamu tuh makan atau cuma diaduk-aduk doang? Sayang tuh ayamnya dicuekin," tegur Laras sambil tertawa kecil.

​Shania mendesah, meletakkan sendoknya.

"Aku, cuma kepikiran, Ras. Davindra bilang mau datang buat makan siang bareng. Kamu tahu kan dia orangnya gimana? Aku takut dia bikin keributan lagi di sini."

​Laras memutar bola matanya.

"Ya ampun, Sha. Sejak kapan Davindra Elangga datang ke suatu tempat tanpa bikin sensasi? Tapi jujur ya, aku iri. Punya suami yang protektifnya level dewa itu kayak punya bodyguard pribadi gratis 24 jam. Apalagi gantengnya... eh, ingat, itu suami orang, Laras!"

​Shania hanya tersenyum kecut. Belum sempat ia membalas ucapan sahabatnya, suasana kantin yang tadinya bising oleh obrolan para dokter dan perawat tiba-tiba mereda. Suara denting sendok dan piring seolah terhenti serentak. Shania tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja masuk. Kehadiran pria itu memiliki frekuensi yang bisa dirasakan sebelum ia terlihat.

​Di ambang pintu kantin, Davindra Elangga berdiri dengan aura yang sangat kontras dengan lingkungan rumah sakit yang bersih dan tenang. Ia mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka, memperlihatkan sedikit kalung peraknya, dipadukan dengan celana kain mahal yang membalut kaki panjangnya. Meski tampil rapi, tatapan matanya tetap tajam, menyapu seluruh ruangan seolah sedang memindai ancaman sebelum akhirnya terkunci pada satu titik: Shania.

​"Nah, 'Iblis Posesif'-mu sudah mendarat," bisik Laras, menahan tawa.

​Davindra melangkah dengan penuh percaya diri. Setiap pasang mata mengikuti gerakannya. Beberapa perawat muda tampak berbisik-bisik, terpesona oleh ketampanan pria yang terlihat seperti baru keluar dari pemotretan majalah fashion itu. Namun, Davindra sama sekali tidak peduli. Baginya, ruangan itu kosong kecuali meja di sudut sana.

​"Kenapa belum dimakan?"

Suara berat Davindra langsung menyapa begitu ia sampai di meja. Tanpa menunggu izin, ia menarik kursi di samping Shania, memposisikan dirinya begitu dekat hingga bahu mereka bersentuhan.

​"Baru mau mulai, Dav. Kamu kok cepat banget? Katanya tadi masih di markas," ujar Shania pelan, mencoba menetralkan rasa gugupnya karena menjadi pusat perhatian.

​"Aku, nggak suka membuat istriku menunggu. Dan aku nggak suka kamu makan makanan dingin," jawab Davindra singkat.

Ia kemudian melirik Laras yang masih terpaku memegang sendok.

"Hai, Laras. Masih menjaga Shania dengan baik, kan?"

​Laras tersedak pelan lalu mengangguk cepat.

"Siap, Bos Davindra! Aman terkendali!"

​Davindra kembali menatap Shania. Ia mengambil sendok dari tangan Shania, memotong sepotong kecil daging ayam di mangkuk soto istrinya, lalu menyodorkannya ke depan mulut Shania.

​"Dav, apa-apaan sih? Malu tahu, banyak orang," bisik Shania dengan wajah yang mulai merona merah.

Ia melirik ke sekeliling; beberapa rekan koasnya mulai cekikikan sambil mencuri pandang.

​"Biar saja mereka melihat. Aku sedang memberi makan istriku, bukan sedang melakukan tindakan kriminal," sahut Davindra santai, tangannya tetap stabil menyodorkan sendok.

"Buka mulutmu, Sayang. Atau aku harus menciummu dulu di depan mereka supaya kamu patuh?"

​Ancaman itu bekerja seketika. Shania tahu Davindra bukan tipe pria yang hanya menggertak sambal. Dengan perasaan malu yang luar biasa, ia membuka mulutnya dan menerima suapan itu.

​"Anak pintar," gumam Davindra dengan senyum tipis yang mematikan.

​Di seberang mereka, Laras merasa seperti menjadi penonton film romansa live action.

"Sha, kalau aku jadi kamu, aku mungkin sudah pingsan karena baper atau malah pingsan karena malu. Kombinasinya dahsyat banget," celetuk Laras.

​Tiba-tiba, seorang dokter muda—konsulen yang cukup populer di rumah sakit itu—berjalan melewati meja mereka. Dokter itu, yang dikenal bernama dr. Adrian, sempat berhenti dan tersenyum pada Shania.

"Lho, Shania, belum kembali ke bangsal? Setelah ini ada pemeriksaan pasien di kamar 302, ya."

​Raut wajah Davindra berubah dalam sepersekian detik. Keromantisan yang tadi terpancar menguap, digantikan oleh hawa dingin yang mencekam. Ia meletakkan sendok ke piring dengan bunyi denting yang cukup keras.

​"Dia, siapa?" tanya Davindra, suaranya rendah dan sarat akan nada ancaman.

Matanya menatap dr. Adrian dengan sorot mata menantang.

​"Itu dr. Adrian, konsulen yang membimbingku, Dav. Cuma urusan kerjaan," bisik Shania cepat, mencoba menenangkan singa yang mulai terjaga.

​Davindra berdiri dari duduknya, membuat dr. Adrian sedikit tersentak. Davindra jauh lebih tinggi dan memiliki bahu yang lebih lebar, menciptakan intimidasi fisik yang nyata.

"Dokter, saya Davindra, suami Shania," ucapnya sambil mengulurkan tangan, namun suaranya sama sekali tidak terdengar ramah.

"Pastikan urusan kalian 'hanya' di kamar 302 dan hanya soal medis. Istri saya di sini untuk belajar, bukan untuk dipandangi terlalu lama."

​Dr. Adrian, yang merasa suasana menjadi canggung, berdehem dan menjabat tangan Davindra singkat.

"Tentu, Pak Davindra. Saya hanya menjalankan tugas. Mari, permisi."

​Setelah dokter itu pergi dengan langkah terburu-buru, Davindra kembali duduk, namun ia masih terlihat gusar. Ia meraih tangan Shania, menggenggamnya erat di atas meja, mempertontonkan cincin pernikahan mereka kepada siapapun yang berani melirik.

​"Dav, kamu keterlaluan. Dia itu dokter seniorku," protes Shania, meski suaranya lembut.

​"Aku, tidak peduli senior atau junior. Pria itu menatapmu lebih dari tiga detik, dan aku tidak suka cara dia tersenyum," sahut Davindra posesif.

Ia kemudian menarik tisu, membersihkan sedikit sisa kuah di sudut bibir Shania dengan gerakan yang sangat lembut, kontras dengan emosinya sesaat lalu.

"Aku, hanya ingin mereka tahu siapa pemilikmu, Shania."

​Shania menghela napas panjang.

"Kamu, ini... benar-benar raja jalanan yang pindah ke rumah sakit, ya?"

​Davindra terkekeh, suara rendahnya terdengar seksi di telinga Shania. Ia mencondongkan tubuh, berbisik tepat di telinga istrinya hingga napas hangatnya membuat Shania meremang.

"Aku, bukan cuma raja jalanan, Sayang. Di sini, di kantin ini, atau di mana pun kamu berada, aku adalah pelindungmu. Kalau ada yang berani macam-macam, mereka tidak akan hanya berurusan dengan rumah sakit, tapi dengan seluruh amarahku."

​Laras yang merasa kehadirannya semakin tidak dianggap, akhirnya berdehem keras.

"Oke, sepertinya aku harus segera ke apotek. Udara di sini tiba-tiba jadi penuh dengan gula dan hormon posesif. Sha, aku duluan ya! Bos Davindra, titip Shania, jangan sampai dimakan beneran di sini!"

​Sepeninggal Laras, Davindra semakin menjadi-jadi. Ia mengabaikan piring makanannya sendiri dan hanya fokus memperhatikan Shania makan. Sesekali ia merapikan anak rambut Shania yang keluar dari hijabnya.

​"Makan yang banyak. Kamu terlihat lelah pagi ini. Apa koas sesulit itu?" tanya Davindra dengan nada yang kini benar-benar perhatian.

​"Lumayan. Banyak pasien, banyak laporan juga," jawab Shania jujur.

​"Kalau kamu lelah, berhenti saja. Aku bisa membelikan rumah sakit ini untukmu kalau kamu mau, supaya kamu tidak perlu capek-capek jadi koas," ucap Davindra dengan nada santai, seolah ia baru saja menawarkan untuk membelikan segelas jus.

​Shania tertawa kecil, kali ini tawa yang tulus.

"Davindra, menjadi dokter itu impianku. Bukan soal punya rumah sakitnya, tapi soal prosesnya. Kamu nggak bisa membeli mimpi seseorang dengan uang."

​Davindra menatap mata Shania dalam-dalam. Ada kekaguman yang terpancar di sana, sesuatu yang jarang ia tunjukkan pada dunia luar.

"Itu sebabnya aku memilihmu. Karena kamu tidak bisa dibeli, dan kamu satu-satunya yang berani bilang 'tidak' padaku."

​Ia lalu mengecup punggung tangan Shania dengan lembut, cukup lama hingga orang-orang di sekitar mereka kembali berbisik.

"Habiskan makananmu. Setelah ini aku akan menemanimu sampai depan lift. Dan ingat pesan Galang dan Boni tadi?"

​"Pesan apa?"

​"Keamanan Ibu Negara adalah prioritas. Jadi, kalau ada apa-apa, sekecil apa pun itu, langsung telepon aku. Paham?"

​Shania mengangguk pasrah. Di balik sikap posesif yang terkadang menyesakkan itu, ia tahu ada rasa cinta yang begitu besar dan murni. Seorang Davindra Elangga, sang penguasa jalanan yang ditakuti, kini benar-benar telah bertekuk lutut pada seorang calon dokter.

​Sambil menyuap sisa makanannya, Shania menyadari satu hal. Hidupnya tidak akan pernah tenang lagi dengan pria ini di sisinya, tapi ia juga tahu, ia tidak akan pernah merasa lebih aman daripada saat berada dalam jangkauan lengan Davindra.

​"Ayo, sudah jam masuk," ajak Shania setelah selesai.

​Davindra berdiri, merangkul pinggang Shania dengan posesif, menuntunnya keluar dari kantin. Langkah mereka menjadi pusat perhatian, seperti sepasang raja dan ratu yang sedang berjalan di antara rakyatnya. Bagi Davindra, ini bukan soal pamer, tapi soal deklarasi teritori. Shania Clarissa adalah miliknya, dan seluruh dunia harus tahu itu.

​BERSAMBUNG ....

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh protektif banget
Saniaa96: hiii... makasih dah luangkan waktunya tuk baca🙏🙏☺️
total 1 replies
n
thor lanjut dong thor💪🤭 mau lihat posesif nya davindra..
Saniaa96: heee.. udah yaa dan mksh 🙏🙏☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!