Sebagai Putri Changle, seharusnya ia menikmati kemewahan dan cinta. Namun, gadis modern ini justru terperangkap dalam tubuh seorang putri kuno dengan masa lalu yang mengerikan: dikhianati oleh kekasihnya sendiri, disiksa tanpa ampun, dan meregang nyawa dalam kesengsaraan. Takdir memberinya kesempatan kedua. Dengan Sistem Poin dan Ruang Ajaib sebagai senjatanya, Putri Changle bangkit dari kematian untuk menuntut balas.
Setiap poin yang dikumpulkan adalah langkah menuju pembalasan. Setiap level yang diraih adalah tameng untuk melindungi diri dari musuh-musuh yang mengintai. Namun, semakin dekat ia dengan tujuannya, semakin dalam ia terjerat dalam labirin rahasia kelam yang mengubur masa lalunya dan asal-usul Sistem itu sendiri.
Mampukah Putri Changle mewujudkan dendamnya, ataukah ia hanya pion dalam permainan yang jauh lebih besar dan berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsme AnH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyeretnya ke Bawah
"Nyonya, silakan lewat sini." Nyonya Ketiga berujar dengan nada dibuat-buat, senyumnya terlalu manis, terlalu dipaksakan. Ia mempersilakan istri perdana menteri berjalan di depannya, gestur yang lebih terasa seperti menjilat daripada menghormati.
Tiba-tiba, "Arghhh!" Guan Shiqing menjerit, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dunia berputar, dan ia tahu dirinya akan jatuh.
Namun, alih-alih mencium lantai, Guan Shiqing justru menimpa sesuatu yang lebih empuk, lebih ... berbahaya. Ia mendengar erangan kesakitan tertahan. Tubuhnya menindih sosok istri perdana menteri yang—sialnya—baru saja hendak menaiki tangga bersama Nyonya Ketiga dan para nyonya bangsawan lain yang haus pujian.
Suasana hening seketika.
Melihat sang istri perdana menteri jatuh, Nyonya Ketiga segera berlutut di sampingnya, air mata palsu sudah siap tumpah. "Nyonya, Anda tidak apa-apa?" tanyanya cemas, suaranya bergetar dibuat-buat. Dalam hati, ia merutuki kebodohan seorang wanita yang telah menghancurkan segalanya.
Dengan gerakan kasar, ia berpaling melihat Guan Shiqing yang masih terduduk linglung di lantai. "Siapa yang berani menabrak istri perdana menteri?!" bentaknya murka, nadanya menusuk setajam belati.
Pelayan yang mengejar Guan Shiqing membantunya berdiri. Nyonya Ketiga terkejut melihat wajah pucat menantunya.
"Guan Shiqing?" desisnya tak percaya.
"Ibu?" sahut Guan Shiqing lirih, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang sama.
Plakkk!!!
Tamparan keras mendarat di pipi Guan Shiqing, membuatnya terhuyung. Wajahnya memerah, bukan hanya karena tamparan, tapi juga karena malu.
"Dasar jalang buta!" maki Nyonya Ketiga, air matanya kini benar-benar tumpah—bukan karena simpati pada istri perdana menteri, tapi karena amarah dan keputusasaan. "Menabrak orang seperti lalat tanpa kepala! Benar-benar memalukan putraku!"
"Kalian berdua berjalan terlalu cepat. Aku—" Guan Shiqing mencoba membela diri, tapi nyalinya langsung menciut saat melihat tatapan membunuh dari Nyonya Ketiga. "Menantu perempuan tidak melihat jalan, menantu perempuan tidak sengaja," katanya dengan suara pelan, menundukkan kepala dalam-dalam.
Guan Shiqing tahu, di keluarga ini, ia hanyalah debu yang tak berarti.
"Siapa dia?" tanya Istri Perdana Menteri pada Nyonya Ketiga, suaranya dingin dan menusuk. Ekspresinya menunjukkan rasa sakit yang bercampur dengan penghinaan.
"Nyonya Perdana Menteri, maafkan saya. Dia hanyalah seorang pelayan rendahan yang tidak tahu sopan santun. Putraku patah hati karena Putri Changle, bersikeras menikahi pelayan ini. Tidak kusangka malah mengotori mata Anda." Nyonya Ketiga merendahkan Guan Shiqing serendah mungkin, berharap bisa menjilat kembali hati sang Istri Perdana Menteri.
"Oh, jadi ini istri baru si juara itu ...." Nyonya Perdana Menteri menatap sinis Guan Shiqing dari atas hingga bawah, seolah ia adalah serangga menjijikkan. "Menurutmu, kau menabrakku karena aku datang di saat yang tidak tepat sehingga menghalangi jalanmu, ya?" tuduhnya dengan nada menyindir.
Mendengar itu, Nyonya Ketiga segera melambaikan tangannya dengan panik. "Bukan, Nyonya ... jangan salah paham," bujuknya dengan senyum canggung yang terasa seperti topeng.
"Nyonya Ketiga, Anda mengundangku hari ini untuk apa?" tanya Nyonya Perdana Menteri, mengabaikan pembelaan Nyonya Ketiga. Setelah jeda singkat, ia kembali berkata, "Oh, saya tahu ... awalnya kamu berharap saya mengatakan beberapa hal baik di depan suamiku."
"Itu sebenarnya tidak mustahil." Nyonya Perdana Menteri kembali melirik Guan Shiqing dengan tatapan merendahkan. "Namun, bahkan jika hari ini Tuan Muda Xie mendapatkan posisi tinggi dan gaji besar, anggota keluarga yang tidak bisa diandalkan ini, suatu hari akan menyeretnya ke bawah."
Guan Shiqing menunduk semakin dalam, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa seperti telanjang di depan semua orang, aibnya dipertontonkan tanpa ampun.
Sementara itu, Song Zhiwan yang menonton pertunjukan itu hanya tersenyum miring, menikmati drama yang terjadi. Pelayannya bahkan tampak berbahagia melihat penderitaan Guan Shiqing.
Song Zhiwan belum membuat kekacauan yang sesungguhnya. Ia hanya mendorong Guan Shiqing sedikit untuk melindungi pelayannya, sebuah tindakan kecil yang ternyata memicu efek domino yang dahsyat.
Tanpa disangka, tindakan itu berhasil membuat rencana Nyonya Ketiga untuk menjilat Nyonya Perdana Menteri gagal total.
"Saya pergi dulu, tidak perlu mengantar," kata Nyonya Perdana Menteri dingin, berbalik dengan anggun dan meninggalkan ruangan.
"Eh, Nyonya Perdana Menteri, jangan pergi! Mohon tunggu ...." Nyonya Ketiga berusaha menahan, tapi Nyonya Perdana Menteri mengabaikannya dan terus berjalan keluar dari Kedai Makan Fufan.
Nyonya Ketiga menangis histeris, air matanya bercampur dengan amarah dan rasa malu yang mendalam. Ia menatap Guan Shiqing dengan tatapan penuh kebencian. "Lihatlah apa yang telah kau lakukan!"
Dengan sisa harga dirinya, Guan Shiqing meraih tangan ibu mertuanya, mencoba menenangkan wanita yang sudah di ambang histeria. "Ibu, tenanglah. Jangan pedulikan Nyonya Perdana Menteri. A-Zhan memenangkan juara karena bakatnya sendiri, bukan karena koneksi. Terlebih lagi, bukankah dia masuk Akademi Hanlin hari ini melalui seleksi ketat? Anda menjilat seperti ini... malah merusak citra Rumah Changyuan kita."
Kata-kata Guan Shiqing, yang seharusnya menenangkan, justru terdengar seperti penghinaan di telinga Nyonya Ketiga.
Nyonya Ketiga semakin berang mendengar kata-kata Guan Shiqing. Dengan kasar, ia menepis tangan sang menantu, seolah tangan itu adalah sumber penyakit menular.
Kemudian, tanpa peringatan ....
Plakkk!
Tamparan kembali mendarat di wajah Guan Shiqing. Kali ini, lebih keras, lebih menyakitkan.
Guan Shiqing memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Ia menatap tak percaya pada Nyonya Ketiga, matanya berkaca-kaca. "Ibu, kenapa ... kenapa kamu memukulku lagi?" tanyanya lirih, suaranya bergetar menahan tangis.
"Kau bintang sial!" Nyonya Ketiga mengacungkan jari telunjuknya yang gemetar ke arah Guan Shiqing, matanya menyala-nyala karena amarah. "Jika bukan karena kau, putraku akan menjadi suami Putri Changle dan kita akan mendapatkan bantuan dari istana Pangeran Qin! Tidak seperti sekarang, diberhentikan dari jabatannya tepat setelah seleksi!"
"Apa?" Guan Shiqing tersentak kaget, rasa sakit dan malunya menguap begitu saja. "A-Zhan diberhentikan dari jabatannya?" tanyanya dengan nada tak percaya.
Guan Shiqing menggelengkan kepalanya, mencoba menyangkal kenyataan yang baru saja didengarnya. "Mustahil! Bukankah dia juara? Bagaimana mungkin dia diberhentikan?"
"Pejabat seleksi adalah Pangeran Chu, tunangan Putri Changle," ungkap Nyonya Ketiga dengan nada sinis. "Karena kau menyinggung Putri Changle, Pangeran Chu membalaskan dendam untuk sang putri pada putraku!" Suara Nyonya Ketiga meninggi, mencapai nada histeris.
"Awalnya, membujuk istri pejabat masih ada secercah harapan, sekarang sudah selesai ... semua sudah kau hancurkan!" teriak Nyonya Ketiga, melampiaskan amarahnya yang membuncah dengan air mata yang mengalir deras.
Detik berikutnya, Nyonya ketiga mendengus, sebelum akhirnya ia mengibaskan lengan bajunya dengan gerakan dramatis, lalu berbalik dan pergi meninggalkan Guan Shiqing yang terpaku di tempatnya.
"Ibu ...," panggil Guan Shiqing lirih, tetapi dia hanya mendapati punggung Nyonya Ketiga yang semakin menjauh, menghilang di balik kerumunan.
Guan Shiqing ambruk, lututnya lemas tak mampu menopang tubuhnya. Untungnya, pelayannya dengan sigap menyambut, menahannya agar tidak jatuh ke lantai.
"Pangeran Chu dan Song Zhiwan bertunangan?" Guan Shiqing tampak linglung, matanya kosong. "Mustahil!" bisiknya tak percaya.
Di atas, di lantai dua Kedai Makan Fufan, Song Zhiwan masih menyaksikan pertunjukan yang telah usai dengan senyum puas yang menghiasi wajahnya. Ia menikmati setiap detik penderitaan Guan Shiqing.
Guan Shiqing mendongak, menatap Song Zhiwan yang tersenyum penuh kemenangan ke arahnya. "Song Zhiwan, bukankah kau dibenci oleh semua orang? Namamu sudah tercemar, bagaimana mungkin Pangeran Chu menyukaimu?" teriak Guan Shiqing dengan nada putus asa.
"Tentu saja karena Putri Changle sangat anggun dan cerdas." Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakang Song Zhiwan, mengejutkan kedua wanita itu.
Guan Shiqing dan Song Zhiwan tidak menyangka akan kehadiran orang lain di antara mereka. Suara itu dalam dan tegas, mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
***
Hayooo, siapa yang datang?
Thor aku stop baca critanya ya..
diawal crita seru, sekarang SDH seperti crita Indosiar yg terus bersambung..
udah bosan dgn drama guan shiqing..
kok ceritanya ne guan shiqing yg jadi pemeran utama...?
kmana nih momo....... gunakan sistem dong.....
sistem apa? greget bgt.. masalah nya cuma berputar2 di sini aja ga selesai- selesai. trs kelebihan putri cangle apa? masa lemah bgt. mudah di tindas, mau di skip tp penasaran. wkwkwk 🤣🤣🤣🤣
bagusan pemeran perempuan pas novel perempuan beracun kesayangan pangeran lebih cerdas & keren😄
semangat nulisnya😍😍😍