NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 BALIK KE NERAKA

Jam 4 sore. Terminal bus.

Kami berlima berdiri di depan loket. Bawa tas ransel doang. Isinya baju ganti, senter, garam, sama HP butut. HP pinter udah dibuang. Percuma, Ardi bisa masuk lewat layar.

Tujuan: Desa Larangan. Kecamatan Kalijambe. Kabupaten Sragen.

Tiket cuma ada satu bus. Berangkat jam 5. Nyampe sana tengah malem.

“Yakin mau berangkat sekarang?” tanya Ibu penjual tiket. Matanya curiga lihat muka kami yg kuyu semua. “Desa Larangan... jarang ada yg turun. Apalagi malem-malem.”

“Yakin, Bu,” jawab Rendi. “Ada urusan keluarga.”

Ibu itu ngasih tiket sambil komat-kamit. “Ati-ati, Le. Dalan peteng.”

Jalan gelap.

Di bus, cuma kami berlima penumpangnya. Sopir sama kenek di depan ga ngajak ngobrol. Cuma nyetel radio dangdut pelan.

Sinta tidur di pundak Dina. Dari kos tadi dia belum ngomong. Matanya yg putih sebelah ditutupin plester. Kata Dina, biar Ardi ga bisa “ngintip”.

Jam 11 malem, bus berhenti.

“Desa Larangan. Wes tekan,” kata kenek.

Kami turun. Bus langsung cabut. Ninggalin kami di jalan aspal sepi. Kiri kanan sawah. Gelap. Cuma ada satu lampu jalan, itu pun kedip-kedip.

Gapura “Selamat Datang di Desa Larangan” masih ada. Tapi... beda.

Catnya kelupas. Kayunya lapuk. Dan tulisan di bawahnya... baru.

“YANG MASUK TIDAK AKAN KEMBALI UTUH”

Tulisan pake cat merah. Masih basah. Netes.

“Masuk jebakan lagi kita,” bisik Bayu.

“Udah kepalang basah,” jawabku. “Jalan.”

Kami jalan masuk desa. Sepi. Rumah-rumah warga gelap semua. Jam 11 malem, wajar. Tapi... terlalu sepi. Ga ada suara jangkrik. Ga ada suara anjing. Cuma suara langkah kaki kami.

Nang... nang... nang...

Suara kempul. Dari arah depan. Dari tengah desa.

Fajar nelen ludah. “Dia tau kita dateng.”

Lima belas menit jalan, sampe.

Rumah Paklik Joyo. Rumah Kuncen.

Tapi... rumahnya beda. Dulu rumah kayu biasa. Sekarang... jadi bangunan bata tanpa plester. Jendelanya tinggi-tinggi. Mirip penjara.

Di depan pintu, duduk seorang.

Paklik Joyo. Yg buta sebelah. Pake blangkon. Tongkat di samping.

Dia ga noleh. Tapi ngomong. “Tak enteni kalian wiwit wingi. Tak kiro ora wani bali.”

Aku sudah tunggu kalian dari kemarin. Kupikir tidak berani kembali.

Kami berlima langsung sungkem. Sinta dituntun Dina.

“Paklik...” suaraku serak. “Njaluk sepuro. Kami bawa balik... Penagih.”

Paklik Joyo ketawa. Ketawanya kering. “Sopo sing njaluk? Kowe? Apa Ardi?”

Dia nunjuk ke belakang kami.

Kami noleh.

Ardi berdiri di ujung jalan. 20 meter dari kami. Masih tembus pandang. Masih senyum. Di tangannya... ada pemukul. Bukan pemukul tulang. Pemukul gamelan biasa. Kayu.

Tapi di ujung pemukulnya... ada kepala. Kepala kenong. Berdarah.

“Dia yg njaluk,” jawab Paklik Joyo. “Dia Penagih. Kowe berlima... Utang.”

Paklik Joyo berdiri. Susah payah. Dia bukain pintu rumahnya.

“Mlebu. Ngomong nang njero. Njabane... akeh sing ngrungokne.”

Di luar... banyak yg mendengarkan.

Di dalam rumah, cuma ada satu ruangan. Kosong. Lantainya tanah. Di tengah ruangan ada lingkaran garam. Gede.

“Wis tak siapne,” kata Paklik Joyo. “Lingkarane. Ben Penagih ora iso mlebu.”

Kami berlima masuk ke lingkaran garam. Sinta langsung jatuh lemes. Didudukin.

Paklik Joyo nutup pintu. Nyalain obor. Satu obor doang.

“Saiki ngomong. Opo seng mbok jaluk?”

Rendi yg maju. “Paklik. Cara mutus kutukan Kuncen pertama. Cara ben ga perlu ada yg dadi tumbal meneh. Ben Ardi iso tenang.”

Paklik Joyo diem lama. Obor di tangannya berderak.

“Ono,” jawabnya akhirnya.

Kami berlima langsung negak. Ada caranya.

“Opo, Paklik? Opo carane?!” Fajar ga sabar.

Paklik Joyo menatap ke arah Sinta. Ke mata putih Sinta.

“Carane... ngganti lonceng.”

Ganti lonceng?

“Lonceng Kyai Setan Kober wis pecah. Gerbang ketutup. Tapi kekuatane... pindah. Pindah nang awak seng mukul pungkasan.”

Yg mukul terakhir. Lestari.

“Lestari ning ndi, Paklik?” tanyaku. “Dheweke kan wis... bebas?”

Paklik Joyo geleng. “Ora bebas. Dheweke dadi Lonceng anyar. Nyawane. Sak iki... Lonceng anyar kuwi... nang kene.”

Dia nunjuk. Ke Sinta.

Sinta yg matanya putih sebelah. Yg kesurupan Lestari + Ardi.

“Gusti...” Dina nutup mulut.

Jadi Lestari... pindah ke badan Sinta. Jadi Sinta sekarang... Lonceng Kyai Setan Kober versi manusia.

“Cara mutus kutukan?” Paklik Joyo lanjut. “Pecahke Lonceng anyar. Pas purnama. Pake pemukul... yg dibuat dari tulang Kuncen pertama.”

Tulang Kuncen pertama. Kakek buyutnya Paklik Joyo.

“Di mana tulangnya, Paklik?” tanyaku.

Paklik Joyo ketok-ketok tongkatnya ke lantai tanah.

“Kringete tongkat iki.”

Ujung tongkat ini.

Tongkat yg dia pegang... dari tulang. Tulang manusia.

“Ambil. Pukul. Pecah. Tapi...”

Paklik Joyo menatap kami. Sorot mata satunya tajam.

“...sing mukul... ganti dadi Lonceng selanjutnya. Nggo 10 tahun ngarep.”

Giliran. Kutukan muter terus. Cuma ganti orang.

Kecuali...

“Kecuali nek seng mukul... dudu menungso.”

Bukan manusia.

Ting... ting... ting...

Suara saron. Dari luar pintu.

Diikuti suara ketukan.

Tok. Tok. Tok.

Ardi. Ngetok pintu.

Paklik Joyo berbisik. “Wes teko. Penagih. Dia ngajak... rembugan.”

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!