Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: KEMBALI DARI KEDALAMAN KABUT
Vila di Lugano, Swiss, seharusnya menjadi tempat peristirahatan yang damai bagi mereka yang ingin menghilang dari radar dunia. Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah jet pribadi berlogo Valenti mendarat di pangkalan udara privat dekat perbatasan. Pintu pesawat terbuka, menampakkan sosok wanita yang seolah-olah ditelan oleh waktu, namun kini bangkit dengan aura yang sanggup membekukan udara di sekitarnya.
Alessandra Valenti, atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai Ibu Alessandra, istri pertama Pradikta Kusuma yang selama ini dikabarkan sakit parah dan terasing.
Ia melangkah turun dengan tongkat perak berkepala singa. Meski usianya sudah senja, sorot matanya tetap setajam elang, persis seperti saudaranya, Lorenzo. Jika Lorenzo adalah pengatur siasat di balik layar, maka Alessandra adalah sang arsitek ambisi. Ia adalah wanita yang membesarkan Cansu dengan tangan besi, sebelum akhirnya "dibuang" oleh skenario politik suaminya sendiri.
Pertemuan Dua Generasi
Di ruang tengah vila yang menghadap ke Danau Lugano, Cansu sedang membacakan buku untuk Matteo. Suasana hangat itu pecah saat pintu besar terbuka tanpa ketukan. Cansu berdiri, jantungnya berdegup kencang melihat siapa yang berdiri di sana.
"Ibu...?" bisik Cansu. Suaranya bergetar antara rindu dan ngeri.
Alessandra tidak langsung memeluk putrinya. Ia berjalan mendekat, matanya tidak tertuju pada Cansu, melainkan pada Matteo. Ia menatap cucunya dengan intensitas yang menakutkan, memindai setiap garis wajah bocah itu yang begitu mirip dengan Adrian Diningrat.
"Darah Diningrat dan Valenti menyatu dalam satu tubuh," suara Alessandra serak namun berwibawa. "Dan kau membiarkan anak ini tumbuh di pengasingan seperti anak pelarian, Cansu? Memalukan."
"Ibu, apa yang Ibu lakukan di sini? Ibu seharusnya sedang dalam perawatan di vila rahasia paman Lorenzo," Cansu mencoba mendekat, namun ibunya mengangkat tangan, memberi isyarat agar Cansu diam.
Alessandra duduk di kursi utama, meletakkan tongkatnya. "Perawatan? Aku tidak butuh obat, Cansu. Aku butuh keadilan. Aku melihat apa yang dilakukan Adrian di Jakarta. Dia membersihkan namamu, ya? Dia membuatmu menjadi 'korban' yang dikasihani rakyat? Itu adalah penghinaan terbesar bagi seorang wanita Valenti!"
Mencuci Otak Sang Mawar
Setelah Matteo dibawa oleh pelayan ke taman, Alessandra memulai "operasinya". Ia meminta Cansu duduk tepat di hadapannya. Ia menatap putrinya dengan tatapan dingin, seolah sedang melihat produk yang gagal dipasarkan.
"Kamu pikir dengan namamu yang bersih, kamu sudah menang?" Alessandra tertawa sinis. "Kamu hanya menjadi pion dalam permainan Adrian. Dia membersihkan namamu agar dia bisa tidur nyenyak di samping istrinya yang sedang hamil. Dia memberimu 'belas kasihan', bukan 'hak'!"
"Ibu, aku tidak butuh posisi itu lagi! Aku ingin hidup tenang bersama Matteo!" bantah Cansu dengan air mata yang mulai menggenang.
Alessandra berdiri, dengan gerakan cepat yang tak terduga, ia mencengkeram rahang Cansu, memaksa putrinya menatap matanya. "Tenang? Tidak ada kata tenang bagi seorang ibu yang anaknya kehilangan hak waris sah! Matteo adalah putra sulung Adrian Diningrat. Secara hukum alam dan darah, dialah yang berhak menduduki puncak piramida Diningrat Group, bukan janin yang ada di rahim wanita dokter itu!"
"Ibu sudah gila! Ian mencintai Rhea, dan aku tidak mau merusak itu!"
"Cinta adalah racun bagi orang-orang seperti kita, Cansu!" teriak Alessandra. "Lihat aku! Aku mencintai Pradikta, dan dia membuangku saat aku tak lagi berguna. Dia memaksamu menjadi istri Presiden Diningrat! Apakah kamu ingin Matteo mengalami hal yang sama? Menjadi anak yang tidak diakui, hidup dari tunjangan rahasia yang diberikan karena rasa bersalah? Tidak!"
Alessandra melepaskan cengkeramannya, suaranya kini melunak namun penuh manipulasi. "Matteo adalah singa, Cansu. Tapi singa butuh induk yang serigala. Kamu harus berhenti menjadi mawar yang layu. Kamu harus kembali menjadi Cansu yang dulu—yang tegas, yang tahu cara memutar balik keadaan. Kamu harus merebut kembali tempatmu di Jakarta. Bukan sebagai istri, tapi sebagai ibu dari pewaris tunggal."
Strategi Sang Nenek
Alessandra mulai membentangkan rencananya. Ia tidak berbeda dari Pradikta; ia haus kekuasaan. Namun, motivasinya adalah "cinta yang bengkok" untuk Cansu dan Matteo. Ia ingin melihat keturunannya berada di posisi tertinggi, apa pun taruhannya.
"Lorenzo terlalu lembek," gumam Alessandra sambil menyesap tehnya. "Dia membiarkanmu bersembunyi. Tapi aku? Aku sudah menyiapkan jalan. Kita akan kembali ke Jakarta. Bukan melalui pintu belakang, tapi melalui pengakuan publik yang sah. Kita akan membuat drama yang membuat masyarakat menuntut agar Matteo diakui."
"Ibu, itu akan menghancurkan Ian. Itu akan membunuh bayi Rhea!" Cansu memohon.
"Maka biarkan mereka hancur!" Alessandra menatap Cansu dengan mata berkilat. "Dalam perebutan tahta, tidak ada tempat untuk empati. Jika kamu tidak bergerak, Matteo akan menjadi debu sejarah. Apa kamu mau dia bertanya suatu hari nanti, 'Mama, kenapa aku harus bersembunyi sementara adikku hidup seperti pangeran di Jakarta?' Apa kamu sanggup menjawab itu?"
Cansu terdiam. Kalimat ibunya mulai meracuni pikirannya. Bayangan Matteo yang diabaikan oleh dunia luar mulai menghantuinya. Alessandra tersenyum tipis melihat keraguan di mata putrinya. Ia tahu benih ambisi itu masih ada di dalam diri Cansu, tertutup oleh lapisan trauma yang tebal.
Jakarta: Firasat Sang Macan
Di Jakarta, Ian sedang berada di ruang kerja saat ia merasakan firasat buruk yang luar biasa. Ia menatap dokumen rehabilitasi nama Cansu yang baru saja ditandatangani oleh pejabat berwenang.
"Yusuf," panggil Ian.
"Ya, Tuan Muda?"
"Cek Perkembangan Tier grub atas pimpinan Jonathan."
Yusuf segera melakukan pengecekan. Menit-menit berlalu dalam ketegangan. "Tuan Muda... Tier grub berkembang pesat, Jonathan hanyalah tangan kanan cansu, pasti itu semua masih dalam kontrolan cansu di Italia! ",
Ian berdiri, napasnya memburu. "Bagaimana jika aku membujuk cansu untuk kembali ke sini karena ingin lanjut kerja sama dengan tier grub,tapi aku takut jika Alessandra sewaktu waktu akan ikut campur masalah ini, Jangankan beres pasti akan berantakan dan sia sia yang ku lakukan hari ini?",
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan Muda? Nona Rhea sedang merencanakan acara syukuran kehamilannya minggu depan."
Ian mengepalkan tangan di atas meja mahoni. "Wanita itu... dia lebih berbahaya dari Pradikta karena dia tidak punya sesuatu untuk dilepaskan.Untuk rhea tolong perketat kesamaan, aku tidak mau dia kenapa napa!",
Transformasi di Balik Cermin
Kembali ke Lugano, Cansu berdiri di depan cermin besar. Di belakangnya, Alessandra berdiri, memakaikan sebuah kalung zamrud kuno milik keluarga Valenti ke leher Cansu.
"Lihat dirimu, Cansu," bisik Alessandra di telinga putrinya. "Mawar telah lama hilang. Yang tersisa sekarang adalah duri yang siap menusuk jantung siapa pun yang menghalangi jalan putramu."
Cansu menatap pantulan dirinya. Matanya yang tadinya penuh kesedihan, kini perlahan berubah menjadi dingin dan datar. Kata-kata ibunya telah meresap, membangkitkan sisi gelap yang selama ini ia tekan demi kewarasan.
"Kita akan pergi ke Jakarta, Ibu?" tanya Cansu dengan nada suara yang kini lebih berat dan tegas.
"Bukan hanya pergi, sayang. Kita akan pulang untuk mengambil apa yang menjadi milik kita," jawab Alessandra dengan senyum kemenangan.
Malam itu, di bawah bimbingan ibunya, Cansu mulai merancang langkah-langkah licik untuk kembali ke puncak. Ia tidak lagi peduli pada "Aksen Cinta" atau kenangan manis di Italia. Baginya sekarang, dunia hanya terdiri dari dua sisi: mereka yang berkuasa, dan mereka yang tersingkir. Dan dengan Alessandra Valenti di sampingnya, Cansu siap memastikan bahwa Matteo tidak akan pernah menjadi yang kedua.
Simfoni baru telah dimulai. Bukan lagi tentang pembersihan nama, melainkan tentang perebutan tahta yang akan menyeret seluruh keluarga Diningrat ke dalam neraka yang baru. Sang Macan di Jakarta kini benar-benar harus bersiap, karena "Mawar" yang ia bela kini telah berubah menjadi badai yang siap meratakan istana kebahagiaannya.