NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Lembah yang Menelan Matahari

​Kabut di Lembah Marapi tidak pernah benar-benar turun; ia merayap. Bagaikan jemari pucat dari ribuan roh yang enggan meninggalkan bumi, kabut itu memeluk batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi, menyelinap melalui celah-celah tebing, dan akhirnya menelan jalan aspal sempit yang tengah dilalui oleh bus antarkota berkarat ini.

​Dara Kirana menyandarkan dahinya pada kaca jendela bus yang sedingin es. Di luar sana, dunia tampak seperti sketsa monokrom kelabu dan hitam. Tidak ada warna hijau daun, tidak ada biru langit. Hanya ada kabut pekat dan deretan pohon raksasa yang tampak seperti penjaga purba, mengawasi setiap pendatang dengan tatapan bisu.

​Gadis berusia delapan belas tahun itu menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang sejak tadi berdetak tak beraturan. Udara di dalam bus beraroma apak—campuran antara debu jok tua, minyak angin, dan kretek murahan dari sopir di depan. Namun, bukan bau itu yang membuat napas Dara terasa sesak.

​Itu adalah kenangan.

​Setiap kali bus berguncang melewati lubang jalan, pikiran Dara terlempar kembali ke malam jahanam enam bulan lalu. Suara decit rem bus bercampur baur dengan suara logam raksasa yang melengking robek. Guncangan jalan berbatu berubah menjadi sensasi gravitasi nol yang mengerikan saat pesawat yang ditumpanginya menukik tajam menuju lautan gelap. Jeritan para penumpang... bau avtur yang terbakar... dan kemudian, keheningan absolut yang lebih menakutkan dari kematian itu sendiri.

​Dara mencengkeram lututnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Bernapas, Dara. Tarik, embuskan, rapalnya dalam hati, mengulang mantra yang diajarkan terapis psikologinya di Jakarta.

​Dari seratus dua puluh penumpang penerbangan nahas itu, hanya tiga belas yang selamat. Dara adalah salah satunya. Dan dari tiga belas orang itu, hanya Dara yang kehilangan seluruh pijakan hidupnya. Ayah dan ibunya tidak pernah ditemukan, tertelan oleh samudra bersama puing-puing baja.

​"Neng, sudah mau sampai pertigaan desa," tegur kondektur bus, menepuk pelan bahu Dara dan membuyarkan lamunannya. Pria paruh baya itu menatap Dara dengan tatapan iba—mungkin karena melihat wajah pucat gadis itu, atau karena lingkaran hitam yang menggantung tebal di bawah mata cokelat terangnya. "Barang-barangnya disiapkan. Bus nggak bisa masuk sampai ke dalam, jalannya terlalu kecil dan nanjak."

​Dara mengangguk kaku. "Iya, Pak. Terima kasih."

​Ia membenarkan letak syal rajut di lehernya. Pakaian berlapis yang ia kenakan—kaus, kemeja flanel, dan jaket tebal—terasa belum cukup untuk menahan hawa dingin yang seolah mampu menembus pori-pori kulit dan membekukan sumsum tulang.

​Lima menit kemudian, bus berhenti di sebuah pertigaan sepi yang diapit oleh jurang di satu sisi dan dinding tebing berlapis lumut di sisi lainnya. Tidak ada halte, hanya sebuah pos ronda dari kayu yang sudah lapuk dan sebuah plang besi berkarat bertuliskan: Desa Lereng Marapi - 2 KM.

​Dara turun, menyeret sebuah koper besar berwarna hitam dan menyandang tas punggung berisi sisa-sisa kehidupannya di ibu kota. Begitu bus itu kembali melaju dan deru mesinnya menghilang di telan tikungan, keheningan lembah langsung menerkamnya.

​Hening di tempat ini berbeda dengan hening di Jakarta. Di kota, hening berarti sekadar jeda antara suara klakson dan deru kendaraan. Di Lembah Marapi, hening terasa masif. Berat. Seolah-olah udara itu sendiri sedang menahan napas.

​"Neng Dara?"

​Dara terkesiap, nyaris melompat mundur ketika seorang wanita paruh baya berdaster kelelawar berlapis jaket tebal tiba-tiba muncul dari balik kabut di dekat pos ronda. Wanita itu membawa payung hitam dan senter berukuran besar.

​"A-astaga. Iya, Bu," jawab Dara, mengelus dadanya yang berdegup kencang.

​"Bikin kaget, ya? Maaf, Neng. Saya Bu Mirna, yang punya warung di dekat balai desa. Kakek Danu minta tolong saya buat jemput Neng di sini. Beliau lagi ada urusan sebentar sama tetua desa, makanya nggak bisa turun." Bu Mirna tersenyum ramah, memperlihatkan susunan giginya yang sedikit tidak rata. Namun, senyum itu terasa hangat di tengah udara yang menggigit.

​"Nggak apa-apa, Bu Mirna. Maaf merepotkan."

​"Ah, nggak repot. Sini, saya bantu bawakan tasnya. Kakekmu itu orang paling dihormati di sini, warga mana pun pasti mau disuruh bantu beliau," kata Bu Mirna sambil mengambil alih tas punggung Dara, sementara Dara menarik kopernya.

​Mereka mulai berjalan mendaki jalan setapak berbatu bata merah yang membelah rimbunnya pohon pinus dan damar. Sepanjang perjalanan, Bu Mirna terus berceloteh, mencoba mencairkan suasana. Ia bercerita tentang cuaca desa yang memang tidak pernah melihat matahari penuh, tentang panen sayur, dan sesekali melirik Dara dengan tatapan penuh selidik namun sungkan.

​Dara tahu apa yang dipikirkan wanita itu. Berita tentang kecelakaan pesawat yang menewaskan orang tua Dara pasti sudah sampai ke telinga warga desa melalui Kakek Danu. Di kota kecil seperti ini, tragedi seseorang adalah konsumsi publik.

​Namun, alih-alih merasa terganggu, Dara membiarkan suara Bu Mirna menjadi white noise yang mengalihkan pikirannya dari pepohonan gelap di kanan dan kiri mereka.

​Entah mengapa, sejak melangkahkan kaki ke jalan setapak ini, bulu kuduk Dara terus meremang. Ia merasa... diawasi.

​Dara menoleh ke arah pepohonan lebat di sebelah kanannya. Kabut bergulung-gulung di antara batang-batang pohon besar yang akarnya mencuat dari tanah seperti pembuluh darah raksasa. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya kelebatan pakis dan semak berduri. Namun, insting primal di dalam tubuhnya—sesuatu yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya selama hidup di kota modern—berteriak pelan, memperingatkannya akan kehadiran sesuatu yang besar, purba, dan berbahaya.

​Hanya perasaanmu saja, Dara. Kau masih trauma, batinnya, mempercepat langkah agar sejajar dengan Bu Mirna.

​Rumah Kakek Danu terletak di ujung desa, sedikit terpisah dari pemukiman warga lainnya. Rumah itu adalah perpaduan aneh antara arsitektur kolonial Belanda—dengan jendela-jendela tinggi berterali besi—dan struktur rumah adat panggung kayu khas Sumatera. Atapnya terbuat dari sirap kayu ulin yang sudah menghitam dimakan usia, sementara pilar-pilar penyangganya tampak sekokoh beton.

​Di halaman depan, hamparan rumput liar tumbuh di sekitar sebuah pohon beringin raksasa yang daun-daunnya nyaris menyentuh atap beranda.

​"Nah, sampai," kata Bu Mirna, meletakkan tas Dara di anak tangga kayu. "Neng langsung masuk saja, pintunya nggak dikunci. Saya harus kembali ke warung, suami saya nyariin pasti. Kalau butuh apa-apa, warung saya letaknya dekat balai desa, ya."

​"Terima kasih banyak, Bu Mirna."

​Setelah wanita itu pergi menembus kabut, Dara berdiri di depan anak tangga, menatap rumah besar yang tampak tertidur itu. Terakhir kali ia datang ke sini adalah saat ia masih berusia lima tahun. Ingatannya sangat samar. Ia hanya ingat bau kapur barus, suara lonceng angin, dan kakeknya yang selalu memberinya permen jahe.

​Dara melangkah naik. Lantai kayu beranda berderit halus menyambut pijakannya. Saat tangannya menyentuh gagang pintu kuningan yang dingin, pintu itu sudah terbuka dari dalam.

​"Akhirnya kau tiba juga, Cucu kesayanganku."

​Dara mendongak. Kakek Danu berdiri di ambang pintu. Pria tua itu mengenakan kemeja katun berlengan panjang dan sarung tenun berwarna gelap. Rambutnya sudah memutih sepenuhnya, disisir rapi ke belakang. Tubuhnya tegap untuk ukuran pria berusia akhir tujuh puluhan. Namun, yang paling menonjol dari Kakek Danu adalah matanya. Mata cokelat gelapnya begitu tajam, dalam, dan menyimpan kebijaksanaan sekaligus rahasia yang seolah berusia ratusan tahun. Pria tua itu tidak terlihat rapuh; ia terlihat seperti gunung karang yang tak bisa dihancurkan oleh badai apa pun.

​Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, pertahanan emosi Dara runtuh. Bibir gadis itu bergetar. Kakek Danu tidak mengatakan kalimat klise seperti 'yang sabar ya', atau menatapnya dengan penuh rasa kasihan yang memuakkan. Pria tua itu hanya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

​Dara menghambur ke pelukan kakeknya dan menangis tersedu-sedu. Koper hitamnya dibiarkan tergeletak di beranda. Kakek Danu mendekap erat cucu satu-satunya itu, menepuk-nepuk punggung Dara dengan telapak tangannya yang kasar namun hangat.

​"Menangislah, Nduk. Keluarkan semuanya. Hutan ini cukup luas untuk menampung semua air matamu," bisik Kakek Danu. Suaranya berat, dalam, dan menggemakan ketenangan yang aneh.

​Aroma pelukan Kakek Danu mengingatkan Dara pada campuran daun cengkeh kering, kertas tua dari buku-buku kuno, dan aroma tanah basah sehabis hujan. Entah mengapa, ada perasaan familier yang janggal mengalir di pembuluh darah Dara. Pelukan ini entah bagaimana menenangkan sesuatu yang liar di dalam dadanya, sesuatu yang selama enam bulan terakhir terus memberontak akibat trauma.

​Setelah tangis Dara mereda, Kakek Danu menuntunnya masuk. Bagian dalam rumah itu persis seperti yang direkam memori masa kecil Dara, namun dengan nuansa yang lebih temaram. Perabotan kayu jati ukir, lampu gantung klasik dengan cahaya kekuningan, dan rak-rak buku besar yang menutupi hampir seluruh dinding ruang tengah.

​"Kakek sudah merapikan kamar ibumu untukmu," kata Kakek Danu sambil membawakan koper Dara menuju sebuah lorong di sayap kiri rumah. "Tidurlah di sana. Di lemari masih ada beberapa baju masa mudanya dulu kalau kau mau melihat-lihat."

​Langkah Dara terhenti. Menyebut kata 'ibu' masih terasa seperti menelan pecahan kaca bagi kerongkongannya. Kakek Danu yang menyadari itu segera berbalik.

​"Dara," panggil kakeknya lembut. "Kakek tahu ini berat. Memulai hidup baru di tempat terpencil, meninggalkan semua temanmu di kota, dan... hidup dengan bayang-bayang mereka. Tapi percayalah, membawamu kembali ke akar keluargamu di tanah Marapi ini adalah hal terbaik. Ada hal-hal di dunia ini yang bergerak melebihi nalar manusia, dan kepulanganmu ke sini... sudah tertulis di tanah ini."

​Dara mengerutkan kening. Kalimat kakeknya terdengar puitis sekaligus membingungkan. "Maksud Kakek?"

​Kakek Danu hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Hanya orang tua yang bicara melantur. Mandilah dengan air hangat. Kakek sudah memasak sup iga sapi kesukaanmu. Setelah makan malam, ada hal penting yang harus Kakek sampaikan tentang aturan tinggal di desa ini."

​Ruang makan itu hanya diterangi oleh sebuah lampu bohlam bernuansa hangat di atas meja bundar. Sup iga sapi buatan Kakek Danu terasa luar biasa lezat, namun Dara hanya berhasil menelan beberapa suap sebelum lambungnya menolak. Trauma masih mengunci selera makannya rapat-rapat.

​Melihat cucunya hanya mengaduk-aduk kuah sup, Kakek Danu meletakkan sendoknya. Ia menatap Dara dengan intensitas yang membuat gadis itu salah tingkah.

​"Kamu anak yang kuat, Dara. Garis wajahmu, matamu... kamu mewarisi darah yang sangat istimewa dari nenek moyangmu, dari jalur ibumu," gumam Kakek Danu.

​"Ibu jarang sekali bercerita tentang sejarah keluarga kita, Kek," balas Dara pelan. "Ibu cuma bilang kita punya garis keturunan pemangku adat zaman dulu."

​"Ibumu memilih untuk lari dari takdirnya demi hidup normal di kota bersama ayahmu. Kakek tidak menyalahkannya," suara Kakek Danu sedikit menurun, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian, pria tua itu menegakkan punggungnya, menatap lurus ke mata Dara. Atmosfer di ruang makan itu mendadak berubah. Udara terasa lebih padat, lebih dingin.

​"Dara, dengarkan Kakek baik-baik," nadanya kini terdengar sangat serius, menghilangkan kesan kakek tua yang ramah. "Desa Lereng Marapi ini bukanlah desa biasa. Hutan yang mengelilingi kita ini menyimpan sejarah yang sangat tua. Ada keseimbangan rapuh yang harus dijaga antara kita yang hidup di bawah sinar matahari, dengan mereka yang menguasai bayang-bayang."

​Dara mengerjap. "Mereka? Binatang buas maksud Kakek? Harimau sumatera? Atau babi hutan?"

​"Itu bahasa manusianya," jawab Kakek Danu singkat. "Tapi ada satu aturan mutlak yang tidak boleh kau langgar selama kau bernapas dan tinggal di tanah ini. Aturan ini bukan sekadar pamali orang kampung. Ini masalah nyawa."

​Dara menelan ludah. Wajah kakeknya benar-benar tidak sedang bercanda.

​"Apa aturannya, Kek?"

​"Mulai malam ini, apa pun yang terjadi, betapa pun besar rasa penasaranmu, dan suara apa pun yang memanggil namamu... jangan pernah membuka pintu atau jendela rumah ini setelah jam dua pagi. Jangan pernah melangkah keluar ke halaman, apalagi mendekati perbatasan hutan di belakang rumah. Kau mengerti?"

​Logika kota Dara seketika menolak. "Kenapa, Kek? Kalau ada keadaan darurat? Atau ada tetangga yang butuh bantuan?"

​Kakek Danu mencondongkan tubuhnya ke depan melintasi meja. Cahaya lampu menyorot sebagian wajahnya, menyisakan bayangan tajam yang membuat gurat keriputnya tampak seperti ukiran relief kuno.

​"Tidak ada manusia waras di desa ini yang akan keluar rumah atau meminta bantuan setelah jam dua pagi, Dara. Waktu antara jam dua hingga menjelang fajar... bukanlah waktu milik kita. Itu adalah waktu mereka berburu. Dan percaya pada Kakek, kau tidak ingin menarik perhatian mereka. Darahmu... baumu akan sangat menarik bagi mereka."

​Kalimat terakhir kakeknya membuat Dara merinding hebat. Baumu. Kakek mengucapkannya seolah-olah Dara adalah sepotong daging segar.

​Karena tidak ingin mendebat kakeknya pada hari pertama kepindahannya, Dara akhirnya mengangguk pelan. "Iya, Kek. Dara mengerti."

​Pukul 01.45 dini hari.

​Dara berguling ke kiri dan ke kanan di atas ranjang kayu berukir di kamarnya. Kasur kapuknya sangat nyaman, selimut tebalnya hangat, namun matanya menolak terpejam. Setiap kali ia memejamkan mata, kilatan memori kecelakaan itu kembali memutar layaknya kaset rusak. Suara logam merobek, jeritan, dan sensasi terjun bebas.

​Napas Dara memburu. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi keningnya. Ia bangkit duduk, mencengkeram dadanya yang terasa nyeri akibat serangan panik (panic attack). Ia butuh udara. Ia merasa seolah sedang berada di dalam kabin pesawat yang kehabisan oksigen.

​Gadis itu turun dari ranjang, berjalan terhuyung menuju jendela kaca besar di kamarnya. Jendela itu terkunci rapat dan ditutupi oleh tirai beludru berwarna merah marun.

​Dara menyibak sedikit tirai itu.

​Di luar, dunia tenggelam dalam lautan kabut putih yang bersinar keperakan di bawah cahaya bulan sabit yang redup. Pohon-pohon di hutan belakang rumah tampak seperti pilar-pilar raksasa menuju langit yang kelam.

​Dara melirik jam beker berbentuk bulat di atas nakasnya. Jarum jam menunjukkan pukul 01.58. Dua menit menuju jam dua pagi.

​Ia menempelkan sebelah tangannya ke kaca jendela yang berembun dingin. Jangan buka jendela setelah jam dua pagi, peringatan Kakek Danu terngiang di kepalanya. Tentu saja ia tidak akan membukanya. Namun, menatap keluar seperti ini sedikit banyak membantu menenangkan degup jantungnya. Setidaknya di sini sepi. Tidak ada suara ledakan, tidak ada keramaian.

​Tepat saat jarum jam menyentuh angka dua belas—menandakan tepat pukul 02.00—keheningan malam itu pecah.

​Bukan oleh suara binatang biasa. Melainkan sebuah geraman rendah, berat, dan dipenuhi oleh kekuatan purba yang membuat kaca jendela di hadapan Dara bergetar pelan. Grrrrrrrrr.

​Dara menahan napas. Geraman itu tidak terdengar jauh; suaranya seolah berasal tepat dari batas halaman belakang rumah, di mana hutan pinus bermula. Itu bukan geraman anjing liar. Frekuensinya terlalu rendah, terasa bergetar hingga ke tulang rusuk Dara.

​Tiba-tiba, kabut pekat di dekat pepohonan tersibak dengan paksa, seolah diterjang oleh angin yang sangat kuat, padahal malam itu sedang tidak berangin.

​Dari balik bayang-bayang pepohonan raksasa, sesosok bayangan bergerak.

​Mata Dara membelalak ngeri sekaligus terpesona. Bayangan itu sangat besar. Jauh lebih besar dari manusia, namun posturnya mengisyaratkan bahwa ia bisa berdiri dengan dua kaki maupun merangkak dengan empat kaki. Dalam kegelapan, Dara tidak bisa melihat detail wujudnya.

​Namun, sepasang mata menyala membelah kegelapan kabut. Mata itu berwarna keemasan terang, menyala dengan amarah, liar, dan memancarkan aura dominasi mutlak. Hawa panas yang gaib entah bagaimana menembus kaca jendela, membuat udara dingin di kamar Dara mendadak terasa menghangat secara aneh.

​Makhluk di dalam kabut itu menoleh perlahan.

​Dara tercekat. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Makhluk itu menatap tepat ke arah jendela kamarnya. Ke arahnya. Padahal kamar Dara gelap gulita tanpa penerangan.

​Di saat bersamaan, sesuatu yang luar biasa aneh terjadi di dalam tubuh Dara. Rasa takut dan serangan paniknya mendadak lenyap tanpa bekas. Digantikan oleh aliran energi yang menyejukkan, mengalir deras dari jantung ke seluruh pembuluh darahnya. Darahnya seolah merespons tatapan makhluk tersebut. Ada rasa familier yang purba. Sebuah tarikan magnetis tak kasat mata yang membuat Dara tanpa sadar mengangkat tangannya ke arah slot kunci jendela.

​Makhluk bermata emas itu menggeram sekali lagi, lebih keras, penuh penderitaan sekaligus ancaman.

​Dara tersentak sadar, buru-buru menarik tangannya dari kunci jendela seolah baru saja menyentuh besi panas. Ia mundur selangkah, napasnya kembali terengah-engah, membiarkan tirai beludru itu menutup rapat dan menghalangi pandangannya dari luar.

​Gadis itu merosot ke lantai kayu dengan kaki gemetar. Tangannya memeluk lutut di tengah ruangan yang remang.

​Di luar sana, di balik kabut Lembah Marapi yang mencekik, takdir yang selama ini berusaha dihindari oleh ibunya, kini akhirnya menemukan Dara. Perang antara cakar, taring, dan darah yang tertidur, perlahan mulai membuka matanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!