Kirana Larasati, menghadapi problema hidup yang sangat berat ketika usianya beranjak 23 tahun. Dia harus menerima kenyataan ketika kekasihnya Darren menikah dengan Tiara kakaknya sendiri, dan di saat yang hampir bersamaan dia juga harus mengetahui bahwa ibu yang sangat dia sayangi ternyata bukanlah ibu kandungnya.
Dengan duka Lara yang datang bertubi-tubi, dia harus mampu melanjutkan hidupnya. Hingga pada akhirnya dia bisa menemukan cinta seorang Joshua, yang ternyata justru lebih menghancurkannya karena kesalahpahaman yang terjadi.
Mampukah Lara menghadapi kisah hidupnya yang seperti roller coaster? Bagaimana akhir kisah cintanya dengan Joshua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanny Tanuwidjaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa yang berbeda
Seperti biasa Darren pulang dari kantor menjelang malam, dan seperti biasa juga dia selalu mendapati hidangan makan malam tersaji di meja makan. Pernikahannya dengan Tiara sudah berjalan dua bulan, mereka menjalani hari-hari seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu atap. Sibuk dengan aktivitas masing-masing, berbicara pun seperlunya saja. Tiara menjalankan kewajibannya sebagai istri pada umumnya, hanya saja mereka tidak berbagi tempat tidur.
Mungkin ini terlihat aneh, tapi tidak bagi Tiara dan Darren, mereka sudah menyadari konsekuensinya menjalani pernikahan ini, status mereka cuma di atas kertas saja. Dan masing-masing sudah memahami bahwa di antara mereka tidak akan pernah bisa saling mencintai. Tapi kan itu hanya pemikiran mereka saja, siapa juga yang tahu ke depannya akan seperti apa hubungan mereka. Karena apa yang dirancangkan manusia belum tentu rancanganNya.
Darren duduk di meja makan, membuka tudung saji. Dia melihat hidangan yang tersaji, sangat menggugah seleranya. Ini pertama kalinya dia mau menyentuh masakan Tiara, itupun karena terpaksa tadi dia malas mampir di restoran langganannya untuk sekedar makan malam.
"Kau sudah pulang?" tanya Tiara basa basi.
Dia mendapati Darren sudah duduk di meja makan ketika dia ingin mengambil air minum di dapur.
"Ya," jawab Darren singkat.
"Kau mau makan? Mau kuambilkan?" tanya Tiara lagi.
"No, thanks. I can do it myself, and for you to know aku terpaksa makan masakanmu karena tadi aku malas mampir ke resto langgananku," Darren menjelaskan tanpa diminta oleh Tiara.
"Silahkan," ujar Tiara mengangkat bahunya tanda dia tak peduli dengan penjelasan Tiara.
Darren tidak jadi mengambil makanannya ketika dilihatnya Tiara tampak acuh padanya, dia merasa tidak nyaman melihat itu.
"Kau tidak jenuh dengan keadaan ini?" Pancing Darren.
"Sejujurnya sangat jenuh, tapi mau bagaimana lagi? Kita sudah sepakat dari awal kan?" Tiara balik bertanya.
"Temani aku makan," perintah Darren tegas.
Tanpa menjawab ataupun menolak, Tiara segera duduk di hadapan Darren, ini bisa dibilang moment langka, mereka bisa berkomunikasi lebih dari lima menit. Darren melanjutkan kembali aktivitasnya mengisi piring makannya dengan hidangan yang tersaji, tanpa ada canggung sedikitpun dia mulai makan.
"Rasanya enak juga, ini kau masak atau beli?" tanya Darren membuyarkan lamunan Tiara.
Sedikit terkejut Tiara menatap Darren, dia memuji masakanku, batinnya.
"Hampir setiap hari aku masak, jarang beli," Tiara mencoba bersikap biasa saja. "Kalau kau suka, kau bisa makan masakanku tiap hari."
Tiara menunggu Darren mengucapkan sesuatu, sambil terus menatapnya, Tiara mencoba bersikap santai.
"Besok aku minta dibuatkan ayam bakar bisa? Mudah-mudahan rasanya bisa mirip dengan buatan Lara," Darren berkata ringan.
"No, jangan membandingkan masakanku dengan masakan Lara," pangkas Tiara dengan suara sinis.
"Why? Cemburu?" tanya Darren menggodanya.
"Tidak sama sekali, sorry to say," jawab Tiara dengan enteng disertai mimik meremehkan Darren.
Senyum lebar terukir di bibir Darren demi melihat raut wajah Tiara yang terlihat lucu itu, ternyata wanita ini cukup menghibur, pikir Darren.
"Jangan menatapku terlalu lama, nanti kau jatuh cinta padaku," ujar Tiara sambil beranjak dari tempat duduknya.
Dengan langkah ringan Tiara berjalan melewati Darren hendak menuju ke kamarnya, tapi belum sempat menjauh, Darren menarik lengannya.
"Duduklah sebentar, temani aku," suara Darren berubah serius.
Genggaman tangan Darren di lengannya membuat Tiara menjadi salah tingkah, dengan halus dijauhkannya lengannya dari genggaman Darren. Dia menghela nafas dan kembali duduk, kali ini dia duduk di samping Darren.
"Maafkan aku karena mengacuhkanmu selama ini, sebenarnya aku marah pada diriku sendiri. Aku merasa berdosa karena tanpa sengaja aku telah membuatmu dan Lara jadi terluka, itu yang menjadi sebab diamku padamu. Aku tidak ingin membuatmu semakin terluka karena menjadi pelampiasan kemarahanku pada diriku sendiri," Darren berkata serius. "Aku tahu perasaanmu seperti apa, kamu juga tersiksa kan dengan keadaan ini?"
Hening tercipta diantara mereka, Tiara sedikit terkejut dengan pernyataan Darren barusan. Dia tidak menyangka Darren yang terlihat selalu mengabaikannya ternyata juga mempedulikan perasaannya.
"Tidak masalah, Darren. Buatku ini sudah menjadi konsekuensi dari keputusan yang kuambil, terkadang segala sesuatu memang butuh pengorbanan, walaupun tak jarang menyakitkan buat kita. Lara pun pastinya terluka, itu sebabnya sampai saat ini aku belum sanggup bertemu dengannya, padahal aku merindukannya," air mata mulai menggenang di pelupuk mata Tiara ketika membicarakan adiknya itu.
Dia tahu sebesar apa pengorbanan Lara, mungkin luka yang dialaminya tidak sebanding dengan luka Lara. Dia ingat percakapan terakhirnya dengan Lara di lorong rumah sakit, dia memaksa Lara untuk membujuk Darren supaya mau menikahinya. Dia terpaksa melakukan itu karena khawatir dengan keadaan ibunya yang terkena serangan jantung. Tiara begitu marah karena secara tidak langsung fakta tentang hubungan asmara Lara dan Darren adalah penyebab utama ibunya terkena serangan itu, jadi secara tidak langsung Lara juga bersalah menurutnya waktu itu.
Dengan jelas Tiara melihat betapa terlukanya Lara dengan permintaannya itu, belum lagi sang ayah yang tidak mengijinkannya menjenguk ibunya sebelum Darren kembali pada Tiara dan tetap menikahinya. Karena rasa bersalahnya telah menyebabkan ibunya terkena serangan jantung, akhirnya Lara menyetujui untuk membujuk Darren supaya menikahi Tiara, sementara dirinya mengingkari perasaannya sendiri.
Pada akhirnya terjadilah pernikahan itu, dengan sedikit sandiwara bahwa antara Lara, Tiara, dan Darren tidak ada yang terluka seraya pura-pura bahagia demi ibunya. Aku merindukan adikku, sekalipun kami tidak lahir dari rahim yang sama, aku tahu betapa besar cintanya untuk kami semua. Dia rela mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagiaan orang-orang terkasihnya. Sementara aku sendiri tidak akan sanggup melakukan itu, Tiara terus bermonolog dalam hatinya.
"Bisakah kita bercerai saja? Aku akan bicara pada ibuku dan memberikan pengertian padanya tanpa membuatnya terkejut, dan kita bisa menjelaskan kepada keluarga besar kita seperti apa kondisinya. Setelah itu, kembalilah bersama Lara. Aku ingin melihatnya berbahagia," isak Tiara.
"Kau pikir sesederhana itu mempermainkan sebuah pernikahan? Lalu sesederhana itu pula Lara akan menerimaku kembali?" Darren bertanya sarkas. "Seandainya waktu bisa kuputar kembali, aku pun tak ingin ada di posisi ini. Melihatnya terluka membuatku patah arang, aku merasa sia-sia menjadi seorang lelaki yang hanya sekedar untuk dijadikan tempat bersandar olehnya saja tidak bisa. Aku tersiksa menyaksikan dia menangis dan menanggung semuanya sendirian."
Hening lagi, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tiara sibuk menyeka air matanya yang tak berhenti mengalir, tissue bekas di depannya sudah menggunung.
"Hei, kau bisa menghabiskan tissue itu tanpa sisa," seru Darren mengejutkan Tiara.
"Astaga, Darren. Kau pelit sekali, akan kubelikan nanti kalau habis," rajuk Tiara.
Darren tertawa geli, membuat Tiara mengernyitkan alisnya. Perlahan diusapnya pipi Tiara yang masih basah dengan ibu jarinya, mereka saling bertatapan.
"Kalau kau merindukannya, temui saja dia. Kita sama-sama tahu sifat Lara, dia tidak pernah mendendam. Dia pasti akan menyambutmu, karena aku rasa dia juga merasakan hal yang sama denganmu," Darren masih dengan posisi menatap Tiara dengan intens.
Ada rasa berdebar di hati Tiara, dia tak mengerti rasa itu, yang pasti ini adalah rasa yang berbeda.
"Aku akan menemuinya, tapi tanpamu. Kau hanya akan merusak suasana," Tiara menepis tangan Darren dari pipinya, dia berlaku seperti itu untuk menutupi kegugupannya.
"Kau cemburu ya?" Goda Darren sambil terkekeh.
Tiara mencebik, lalu meninggalkan Darren yang masih menertawakan kelakuan Tiara barusan.
***
From author :
Thor, kok ga ada Joshua sama Lara? Kangen tauk, mereka kan lg baperan tuh, kok malah ga muncul di episode ini?
Sengaja guys, biar ada yg nanyain di comment, wkwkwk...
Yang kangen sm Joshua dan Lara, cuzz vote dl. Like, comment, n share juga y. Bintang 5 jangan lupa please....
Anyway tq untuk pembaca setiaku, ikuti terus kisah mereka yang mengharu biru ya guys...
Luv,
Lanny Tan
g usah munak..giliran dituduh mencak²... aneh lu
meskipun tiara atau keluarganya sklipun.melihat itu yg sangat gak pantas dipikir klian berdua berselingkuh
itu kan karna kebodohanmu sendiri. kenapa tidak bisa berterus-terang dan menjadi laki² pengecut.
ingat ya.. mgkin menurut orang tua pilihan meraka itu tepat tapi belum tentu terbaik bagi anaknya
ntar jdi bingung bacanya . ribet
Dia memperkosa istri,, melecehkan dg kata2x, berbohong pd istrinya bhw ada kerjaan sampai mbiarkan anak istrinya pdhal berduaan dg mantan,,, apapun alasannya Joshua bkn suami yg baik n penuh cinta,,,, Cinta tdk akan menyakiti fisik maupun mental,,,