NovelToon NovelToon
Menertawakan Diri Sendiri

Menertawakan Diri Sendiri

Status: tamat
Genre:Komedi / Romantis / Dosen / Patahhati / Teen / Contest / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: CAPEK

Semua berawal pada malam itu di saat pertunangan seorang teman. Dipertemukan dengan keadaan yang tidak bisa di mengerti. Entah itu duka atau suka di masa depan nanti. Dia terlihat cantik pada malam itu, seperti kunang-kunang di bawah bulan purnama. Entah harus senang atau malu pada saat itu. Kepercayaan cinta pada pandangan pertama tidak mengalahkan pada rasa kewaspadaan; sehingga menganggap setiap hal adalah jenaka semata. Di sisi lain, ada rasa beruntung. Laki-laki mana yang tidak beruntung bertemu dengan makhluk indah di antara makhluk lainnya. Hingga dari fase ke fase, rasa ingin memiliki semakin sulit. Namun tetap merasa beruntung, dengan begini bisa merasa tetap ada dalam hidupnya. Meskipun begitu, kepercayaan pada "usaha tidak mengkhianati hasil" masih teguh nan kokoh di dalam dada. Hingga sebuah kalimat terlontar dari bibir, "Terimakasih pernah menulis buku sejarah indah. Meski harus berakhir seperti ini;)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CAPEK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Asa Tak Diharapkan

..."Tidak ada keputusan mutlak di dunia cinta...

...Masing-masing memiliki cara sendiri untuk merdeka...

...Karena merdeka adalah hak manusia,...

...termasuk wanita dan cinta"...

Memulai hari dengan secangkir kopi, menyalakan rokok sambil mendengar orang-orang pasar berteriak dengan ketiak berkeringat seperti minyak jelantah, bukan musik dangdut seperti yang seharusnya. Namun bukan itu yang ingin disampaikan. Aroma kopi pagi adalah anugerah Tuhan untuk membebaskan diri dari gelapnya malam. Suara bising di pasar adalah cara Tuhan mengisi ruang-ruang kosong. Alangkah lucunya, kalau aku baru menyadari hal itu.

Aroma pagi ini bukan tidak segar, jika dilihat dari sisi lain kalau asap kendaraan dan bau asam di balik ketiak, bahwa manusia harus tahan dengan itu untuk mencapai sesuatu, entah itu untuk sesuap nasi atau bertahan hidup. Begitu pula dengan diriku, di pasar ini dengan tekad kuat demi melangkah tanpa dirinya—hingga mencapai titik terbiasa.

Pagi yang menjelang, manusia sedang mengejar mimpinya. Begitu pula dengan diri ini. Dulu ia adalah mimpi yang diperjuangkan, meski mimpi itu pergi menyakiti, pun hingga sempat membuat langkah terhenti. Tidak peduli walau bisikan ragu itu menggema, karena setiap jiwa juga layak untuk bahagia. Tapi bukan hanya karena itu. Hingga menyadari, mimpi apa yang layak untuk diperjuangkan? Dan baru menyadari bahwa selama ini ia bukanlah mimpi. Lebih tepatnya seperti berita di koran yang ditertawakan masyarakat.

"Woyyy bangs*t... katanya mau ngerjain tugas Si Botak itu. Ehhh malah enakan di sini ngobrol dengan cewek," kata Atok membentakku.

"Bising amat sih nyet..! Bukannya didukung malah nge-gas. Ini adalah progress move-on," bantahku yang sedang melayani pembeli. "Pendek amat sih IQ kamu." Beberapa saat aku bertanya, "Dari mana nih..?"

"Biasalah, macam gak tau aku aja," jawabnya seperti orang kelelahan. "Eh... aku bantu ya?"

"Untuk apa..?" tanyaku balik. Setelah wanita (pembeli) pergi. Aku pun berkata, "Lagian aku gak akan mau gaji kamu..!!"

Atok berkata dengan mengeluh, "Habis aku suntuk di rumah. Gak ada kegiatan."

Aku berkata, "Baru kali ini aku dengar seorang Atok yang super sibuk dengan dunianya. Hari ini ia memohon kepada orang untuk cari kerjaan." Aku menyindirnya sambil menahan tawa.

"Suntuk loh di rumah... Di kios pun gak ada orang," keluhnya.

"Aku jadi curiga. Dan sekarang aku menduga kalau kamu tuh sedang menghindari yang namanya kesepian, kan? Hihihihi," kataku dengan menggodanya.

"Bangsttt...!!" Atok tampak kesal dengan tingkahku. Pun Atok mengganti pakaiannya.

Hari ini tidak hanya tenang, tapi juga tampak meriah dengan kedatangannya, mungkin karena aku selalu menggodanya. Tapi tidak juga, mungkin karena aku telah menemukan kembali arah hidup ini. Tidak hanya itu, karena hidup tidak melulu tentang cinta...

Tidak pula tentang cinta yang kami bicarakan, terkadang kami juga membicarakan bagaimana mati tanpa penyesalan. Entahlah... aku juga tidak tau mati itu seperti apa.!! Yang jelas, itu seperti dikhianati oleh seseorang yang dicintai. Tapi yang brengseknya, tubuh masih saja bernapas.

Tampak riang dari kedua wajah kami, entah itu ketika melayani wanita janda atau ketika pembeli belum datang. Terlebih ketika berbicara masa depan, suatu kegiatan yang menyenangkan mewarnai langit. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Atok. Baginya... Selama api tekad itu terus menyala, yang IQ jongkok pun mampu melakukan apa pun (itulah kalimat yang pernah aku dengar dulu). Aku pun tertawa ketika ia berbicara, dan ia semakin kesal denganku.

"Eh... ada Abang ganteng, tapi ini lebih ganteng." Tiba-tiba Bu Salamah datang.

"Baru aja di-omongin," kata hatiku.

"Lihat-lihat dulu, Bu..! Siapa tau ada yang menarik hati Ibu," kata Atok.

Si Janda Kembang Desa bertanya, "Kalau Abang ganteng ini yang membuat hati saya tertarik, apa bisa dibawa pulang..?"

"Hehehe... jangan Bu. Saya anak mami," jawab Atok.

"Alahhh.. Hahaha... Makanya, kamu tuh belajar sama yang lebih berpengalaman," kataku dengan mengisyaratkan mata ke Bu Salamah.

"Itu lah... Mainnya kurang jauh, Gam" tambah Bu Salamah.

Atok berkata, "Gak pa-apa Bu. Kalau main terlalu jauh, entar jatuhnya terlalu sakit."

"Asyuuu...!!" kataku ngeyel.

Tidak ada yang lebih dari ini. Aku bisa menikmati setiap hiruk-piruk manusia yang datang. Bahkan sesebal itu pula yang mengisi setiap ruang kosong. Ada yang sedang bertengkar karena tidak ingin membayar parkir liar, ada juga sedang kebingungan mencari harga cabai termurah. Dan itu menjadi keseruan tersendiri.

"Udah makan Abang ganteng...?" tanya Si Janda.

"Udah pernah," jawabku singkat.

Si janda berkata, "Biasanya jam segini udah ada yang anterin." Seketika pendengaranku menjadi tajam. "...Jadi kangen sama Mbak cantik itu—" sambung Si Janda.

"Suuffhhhttt... jangan gitu donk Bu," Atok langsung memotong pembicaran beliau. "Seharusnya yang kangen itu dia, bukan Ibu," bisik Atok.

Si Janda berkata, "Kamu ya..!! Saya ini masih muda. Jangan panggil-panggil saya Bu. Kakak aja..!!" Beliau terlihat kesal. Seketika Atok terdiam lesu.

"Kangen itu pasti. Tapi aku juga berhak untuk merdeka," kataku di sela-sela panas.

"Bacottt...!!! Hahahaha," kata Atok. Bu Salamah pun pergi setelah membeli kebutuhannya.

Kami pun lupa, karena beliau sudah tidak janda lagi. Walau pun usianya selisih 2 tahun dengan kami, tetap saja memanggilnya dengan sebutan Bu, karena ia memiliki seorang anak, dan untuk menghargai yang lebih tua. Sejujurnya, suka aja membuatnya kesal dengan panggilan Bu...

Kami terus melayani pembeli yang berdatangan, dengan berbagai watak yang berbeda-beda. Ada yang kemayu, ada yang datar, hingga ada yang nge-gas seperti orang yang tinggal di pinggir pantai. Pun caranya berbeda-beda, yang membuat sama adalah senyum.

Tiba-tiba Bapak datang membawa bungkusan. Dan berkata, "Nak... Ada titipan."

"Dari siapa, Pak?" tanyaku pada Bapak.

"Udah... terima aja dulu. Bapak ada urusan sebentar," kata Bapak yang terburu-buru.

"Yasudah Pak. Makasih ya pak..."

Beliau pun pergi menjemput urusannya. Aku termenung melihat bungkusan plastik itu yang entah apa isi di dalamnya. Sempat menduga isi di dalamnya adalah sambal, seperti aroma yang tercium.

"Kayaknya enak nih... Buka ya..!" kata Atok. Dia pun membuka isinya. "Yuk makan... Enak nih, sambal teri," ajak Atok.

"Harusnnya aku yang bilang gitu..!" kataku.

"Oh... iya ya.. Hehehe," jawab Atok dengan cengir.

Aku berkata, "Makan aja...! Lihat aja aku dah kenyang."

"Ayolah... sedikit aja," ajak Atok.

Tiba-tiba saja datang perasaan tidak enak dari aroma makanan tersebut, seperti bom waktu yang akan meledak dalam kepalaku. Dan dengan aroma tersebut, bayangan-bayangan indah itu kembali mencuci otak. Terus terang, aku hanya bisa terdiam diantara keramaian.

Beberapa saat Atok kembali berkata, "Ini udah waktunya jam makan siang, aku tau kamu lapar."

Aku berkata, "Aku gak mau makan dari makanan orang yang udah buat aku gak waras."

"Bukan gitu juga," bantah Atok. Tanpa peduli ia langsung melahap makanan tersebut. Dan berkata, "Kalau memang kamu sudah move-on, buktikanlah..! Dari hal-hal kecil seperti ini ..." Jelas Atok sambil melanjutkan kunyahan nasi di dalam mulutnya.

Mendengar hal itu seketika seluruh ruang hati tersentak. Mungkin ada sebagian jiwa yang belum sepenuhnya merelakan untuk melepasnya. Padahal selama ini jeritan dalam hati tidak terdengar lagi setelah membulatkan tekad. Dan terbenak dalam sukma, bahwa aku belum sepenuhnya terbiasa. Sial... kukira semua sudah baik. Hehh...!

"Hahaha... Lucu."

"Kenapa..?" tanya Atok yang masih sibuk mengisi perutnya.

Aku berkata, "Aneh aja dengan hati yang tidak bisa diatur." Atok yang sibuk-sibunya melahap makan siang, terhenti begitu saja. "... Padahal aku adalah tuan dari seluruh jiwa ragaku. Hahaha..." sambungku. Kami terdiam sejenak.

Beberapa saat Atok meletakkan makanan tersebut. "Memang seperti itu... Cinta memang anugerah Tuhan. Yang Maha Kasih—mendatangkan dia yang kita cintai dalam hidup kita, walaupun kemudian Tuhan membuat dia pergi dari hidup kita." Aku hanya terdiam mendengar Atok berkata layaknya seorang khatib jumat. "Sang Maha Cinta tidak membiarkan hamba-Nya sedih, Tuhan hanya ingin hamba-Nya terus belajar," kata Atok. Kami hening sejenak. "Jangan terlalu dipikirkan kali. Buka mulutmu..!" Dan aku pun membukanya. "Nih... makan..!"

"Bangs*tsssss...!!!!" teriakku dengan kesal, melihat tingkah sahabatku yang tiba-tiba menyulang nasi ke arahku, dan bodohnya aku mengikuti instruksi darinya.

Seharian kami terus bersama, hingga senja menjemput kami untuk berkemas pulang.

Tidak ada yang lebih dari ini. Wanita banyak yang lebih di luar sana, tapi tidak ada yang sama. Namun bukan pula untuk terus bertahan pada perasaan yang sama (perasaan yang telah menyayat hati). Alangkah lucunya diri ini, belum juga mencapai finish untuk membiasakan diri dengan kenangan indah bersamanya.

Senja hampir sejajar dengan permukaan laut, dengan maksud untuk menyesuaikan diri ketika menyambut malam. Ada rasa ingin seperti bulan dengan mentari. Akur tanpa perselisihan untuk keseimbangan bumi. Lucunya dengan diri ini, mengapa tidak seperti demikian. Ingin sekali hati dan logika akur untuk keseimbangan jiwa. Namun siapa yang sadar akan hal itu, bahwa tidak semua bisa akur dan diatur.

Perlahan bahasa kami berubah. Tidak ada lagi tentang cinta dalam topik pembicaraan kami, hanya ada rencana-rencana kecil menuju hal-hal besar. Entahlah... Kini cinta sudah menjadi bahan tawa bagiku...

Pohon bakau sepanjang jalan mengiring kami. Beberapa orang desa di pinggir jalan sedang mengupas tiram. Aroma garam mulai terasa, seakan-akan kebebasan semakin mendekat.

Kuala Langsa tampak ramai bila senja tiba. Biasanya mereka datang bersama pasangannya untuk melengkapi kisah cintanya, tapi kami datang untuk mencari kebebasan.

Di ujung daratan. Rasanya seperti memasuki pintu kebebasan, dengan angin laut terus membelai raga- seakan ingin terbang bersama senja.

"Haaaaaahhhh.... Plong mennn...!"

"Iya... Tenang banget di sini," kata Atok sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.

Membakar sebatang rokok, sebagai bentuk persembahan syukur kepada Yang Maha Cinta. Asap rokok melesat terbang tinggi ke angkasa, tanpa beban, dan tenang.

Atok masih saja memejamkan mata, seakan ia sangat menikmati cahaya jingga dari ufuk barat. Baginya... angin senja selalu menitip pesan, dan ia pernah berkata, jingga itu hanya sesaat. Hargailah dengan waktu yang sesaat itu. Tidak mengerti dengan dirinya yang selalu tau cara untuk menyembunyikan kepedihan, hanya gitarnya yang lebih tau perasaannya.

"Ngapain begituan...?"

"Coba aja dulu...! Pejamkan mata. Lalu angkat tanganmu setinggi mungkin..!" kata Atok. Pun aku mengikutinya. "Sugestikan pikiran, bahwa kamu bisa menyentuh awan. Terus lakukan itu, hingga kaki tidak menyentuh bumi,"

tambah Atok.

Lebih tenang, bahkan sangat tenang dari genangan air mata. Seperti berada di tengah—antara langit dan bumi, antara ada dan tiada. Suatu ruang tiada tepi, tiada sudut, bahkan tidak menemukan bayangan di mana pun.

Dalam ruang itu. Ada sebuah lorong di depan, dan aku pun memasuki pintu itu. Namun apa yang di balik pintu itu? Hitam, gelap, bahkan cahaya tempat kaki ini berpijak tidak sedikit pun menerangi ruang itu. Sangat gelap, hingga aku tidak berani untuk menapakinya.

Atok berkata, "Kau boleh ke mana saja, tapi jangan pernah masuk ke ruang itu."

"Kenapa?"

"Karna itu sisi dimensi kamu yang kedua," jawabnya.

Aku pun membuka mata, "Maksudnya...?" tanyaku yang tidak mengerti.

Atok berkata, "Sebenarnya manusia biasa melarikan diri dari dunia yang melelahkan ini. Untuk memasukinya, pikiran dan hati harus tenang." Aku terdiam sejenak.

Aku bertanya, "Apa karna itu, kamu bisa tetap tenang dan bersikap biasa aja semenjak putus dari dia?"

Atok tidak langsung menjawab. Dia terlihat seperti memikirkan sesuatu. Dan berkata, "Di kala sepi. Dunia mimpi lebih menyenangkan, dan itu hanya datang di kala tidur menjelang." Dan aku masih saja belum paham apa yang dikatakannya. Atok pun menjawab pertanyaanku, "Aku pernah menapaki luka, dan kau juga. Dunia terasa sempit, entah itu pandangan atau langkah hingga mengacu untuk pergi atau mati." Atok mulai membakar rokoknya. "Huhfffhhh... Kamu hanya perlu duduk tenang. Menyelaraskan hati dan pikiran, bahwa semua itu bisikan setan," jelas Atok. Aku memandang langit untuk menyerap apa yang dikatakannya.

Beberapa saat aku bertanya, "Lalu, bagaimana dengan dimensi gelap tadi..?"

Atok menjawab, "Bila kamu mendengar dan masuk ke ruang itu, sama aja tidak akan menemukan arah hidup. Memang menyenangkan memasuki ruang tersebut, terlebih kenangan-kenangan indah yang membuat nyaman di ruang itu. Tapi... apa kau ingin terus larut di situ tanpa bergerak maju?"

Tidak ada yang salah dari kalimatnya. Sebagai mana manusia terlalu naif dalam hal keputusan. Bahkan diambang jurang, tetap menyeberang tanpa berpikir kalau nyawa hanya satu.

Sesekali hilang arah dan tersesat, maka dari itu gunanya teman. Entah apa jadinya bila tiada mereka, mungkin seperti ikan tanpa karang.

Terus melewati ruang dan waktu, menanti garis goal yang belum juga tampak di depan mata. Tak mengapa, garis start telah lenyap ditelan bumi.

Langit mulai keunguan, menuju gelap tanpa ruang pelarian. Namun tak mengapa, karena bintang tidak pernah sendiri.

Bulan cerminan raga, sedangkan matahari cerminan jiwa. Layaknya bintang, orang hanya bisa melihat dari luar dengan kesenangan di sekitarnya. Tapi tidak melihat sosok matahari; dengan kesendiriannya— ia tetap bersinar.

Setelah shalat isya aku pun pamit kepada ayah untuk mencari angin. Beliau pun sudah paham akan ke mana, kios.

"Agam... kemari sebentar," suara itu membuat langkah terhenti melewati pintu. "Ada hal yang perlu Ayah bicarakan," kata Ayah memberi isyarat untuk duduk di sebelahnya.

"Tentang apa, Ayah?" tanyaku membalas nada seriusnya. Aku pun duduk di sebelahnya.

Ayah berkata, "Sebentar lagi Agam hampir wisuda, kan?"

"Iya Ayah.. kenapa?" jawabku.

"Cuma mau tanya aja," kata Ayah dengan menghela napas pelan. Aku terdiam, Ayah juga terdiam. Kami hening di sela suara tv yang sibuk dengan kekacauan negeri ini. Ayah berkata, "Agam tau? Kalau Indonesia ini indah." Aku hanya mengangguk. "Ayah cuma gak mau Agam seperti Ayah. Tidak bisa menikmati keindahan itu," katanya.

"Kenapa Yah..?"

"Kalau kakimu sudah gatal untuk melangkah, jangan ditahan. Gunakan hati sebagai kompas untuk melihat indahnya dunia," kata Ayah sambil menepuk pundakku.

Ayah seorang nelayan, tapi bagiku ia seorang pelaut tangguh. Tidak hanya tangguh fisiknya, tapi juga tangguh hatinya. Segala masalah yang menghantam pikirannya yang tidak pernah kuketahui, namun beliau tetap dengan kokoh berdiri tegak. Meskipun begitu, aku bisa merasakan walau sedikit pun tidak tau apa masalah itu.

Pergi meninggalkan kamar. Menuju ke basecamp untuk mencari kesenangan semata. Hanya saja tidak ingin terlalu larut dalam gemuruh.

Berjalan melewati setiap pohon cemara. Tampak dari kejauhan motor yang tidak asing bagiku di basecamp. Rasa curiga dengan hati berdebar-debar, seakan ingin beranjak dan memutar arah laju motor.

Mungkin halusinasi saja... Aku terus melaju dengan pelan untuk memastikan yang tidak pasti.

Seperti yang terduga-duga, hal yang disangka menjadi nyangka. Jantung seakan ingin beranjak dari kedudukannya. Sial...

Hati kembali berperang dengan logika. Antara berbalik atau tetap melangkah, diri ini kian meragu untuk kedua-duanya.

Menelusuri apa yang membuat diri ini ragu. Kaki pun tetap melangkah ke kios. Melawan semua bisikan-bisikan yang memuakkan, menembus rasa tak karuan yang menjadi-jadi, menahan detak jantung kian akan pecah.

Memarkirkan motor, lalu berjalan ke dalam kios. Mendekati rak guna menyebat sebatang rokok. Membakar tembakau tanpa berdosa, dengan perlahan menghisap dalam-dalam. Pun mengembusnya ke langit malam, tersirat dalam hati, 'Puji Tuhan serta keagungan-Nya telah menurunkan setetes kenikmatan surga, meski orang-orang benar menganggap itu racun'.

Masih bersandar diantara papan-papan kios. Si Orang Tua yang senang dengan lagu-lagu sendunya, diikuti oleh mereka-mereka yang tau lagu itu.

Jangan tanyakan perasaanku

Jika kau pun tak bisa beralih...

Dari masa lalu yang menghantuimu

Karna sungguh ini tidak adil...

"Hay...?" sapanya. Namun mata hanya meliriknya dengan sedikit senyum yang tidak diinginkan. Tampak dari raut wajahnya mulai layu.

Kios tampak ramai dengan mereka. Ada yang sedang gila-gilaan, hingga ada yang benar-benar gila. Beberapa ada yang menikmati, ada juga yang sedang berpura-pura.

Tidak ada yang berwarna, tidak juga abu-abu. Ada tak ada dirinya, sama halnya tinta di lembaran hitam.

Awalnya terbesit bahwa diri ini akan berbalik dan lari, nyatanya hati hanya sedikit belum menerima akan keberadaannya. Menyelami relung sukma, bahwa hati belum sepenuhnya tertutup. Diri ini juga paham, bahwa hati juga butuh waktu.

"Udahh... Biasa aja kali," kata Atok, dengan maksud untukku.

Tubuh masih bersandar dengan sebatang rokok yang tersangkut di bibir. Sedikit melirik dirinya yang duduk di seberang sana. Dia masih cantik dengan lesung pipinya. Yang membuat berbeda, rasa telah hambar. Cut...

Kulihat ia di sudut sana berteman dengan gawai, mungkin ia sedang melihat-lihat beranda sosial media. Tampak wajahnya datar, seperti menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan.

Mengayunkan kaki mendekatinya, tanpa rasa berdosa bahwa ia bukan lagi milikku. Mungkin ada tanda tanya yang belum terjawab dariku.

"Ada apa?"

Cut menjawab, "Gak ada... cuma ingin main kemari." Aku meliriknya. "... Rasanya udah lama aja" kata Cut dengan senyum.

"Ohh gitu," jawabku sekedar.

Dalam hening, hati seakan saling berbisik. Akan tetapi hati ini enggan untuk berkomunikasi. Entah apa yang dipikirkan. Mungkin saja aku tidak bisa lagi membuka diri, terutama perihal hati. Jika pun bisa, aku juga tidak tau bagaimana caranya.

"Aku tau... rasa itu gak ada lagi" katanya yang mulai menyakukan ponselnya.

"Terus..?" tanyaku.

"Ya gak kayak biasanya seperti pertama kali kita kencan," jawabnya.

"Hempp..!"

Kami kembali hening. Kaki yang pegal sedari tadi berdiri, gengsi untuk duduk di kursi yang satu-satunya hanya bisa ditempati di sampingnya.

"Udah duduk aja," kataku padanya akan berdiri.

"Gak pa-apa," jawabnya. "Lagian mana enak bicara sedangkan kamu aja berdiri."

"Aku udah biasa," kataku dengan datar. Namun ia masih saja berdiri. "... Kamu tamu di sini. Seharusnya aku yang bilang seperti itu."

"Kalau begitu... Kamu duduk sebagai tuan rumah, dan persilahkan aku duduk sebagai tamu" kata Cut dengan tersenyum.

Tetap menahan emosi dengan tingkah manjanya itu yang sempat membuat hati ini jatuh terlalu dalam, sempat membuat dada resah akan rindu untuk bertemu. Kini sudah berbeda. Tidak ada lagi dirinya. Hanya ada kenangan-kenangan indah yang menyakitkan dan takut terulang.

"Dalam waktu dekat ini, datang, ya..?" Cut menyodorkan sebuah undangan.

"Secepat itu? Padahal aku..." lirihku dalam hati. Aku sedikit kaget.

"Datang, ya?" katanya yang membuyarkan lamunanku.

Ada rasa tak sangka di balik wajah yang tenang, ada jiwa yang tergunjang di balik raga yang tenang. Mendengar itu, aku seperti menipu diri sendiri. Namun diri ini tetap saja angkuh untuk tidak ambil sikap akan hal itu. Menghiraukan semua sinyal yang bertubi-tubi menghantam logika.

Aku bertanya, "Ohh jadi karna itu kamu datang? Huuhahaha..."

"Enggak juga, cuma mau singgah. Kayak udah lama aja..!" jawabnya dengan tenang.

"Hahah.. hahaha... Selain itu?" tanyaku lagi.

"Sebagai teman. Kita harus saling mengisi, bukan?" jawab Cut.

Dia masih saja berani menyebutkan kata teman di hadapanku. Tanpa memikirkan apa yang telah ia ucapkan itu sangat fatal. Mungkin itu bagiku, tidak baginya.

Rindu yang bersembunyi di balik status teman. Mengatas namakan teman untuk menyalurkan rindunya, aku berasumsi. Pun entah apa lagi yang belum selesai denganku, entah apa lagi yang diharapkan dariku. Padahal diri ini telah menghindar, tidak menghubunginya, atau tidak melihat-lihat story atau feed instagram-nya.

Kios masih ramai, bahkan bertambah ramai setelah mereka selesai kencan dengan pasangannya. Di seberang sana, mereka masih saja tampak riang dengan lagu yang dibawakan Atok. Hampir sebagian dari mereka terhipnotis dengan lagu-lagu sendunya, entah dari mereka sedang mengenang atau sedang tergenang, yang pasti mereka sangat menikmatinya.

Kami tidak lama bersama, karena aku berpura-pura sibuk menerima telepon dari Hanna. Cut mengakhiri perbincangan, mungkin ia merasa risih akan tingkahku atau mungkin berharap untuk kembali mengulang waktu yang indah itu.

Hati ini saja belum siap untuk mengenang keindahan itu, apalagi mengulang kembali rasa berbunga-bunga itu. Lelah, bagaimana rasanya membersihkan kelopak-kelopak bunga layu berguguran seluas padang Sahara. Yang awalnya menanam dengan canda dan cinta, kini harus berjuang seorang diri.

Cut pamit beserta lesung pipinya. Di sela matanya, ia seperti menahan sesuatu yang entah apa itu. Dia tampak tegar dan tenang. Ia begitu kuat yang tidak seperti diri ini yang rapuh. Timbul rasa ingin seperti dirinya dengan mudah melupakan dan tenang berhadapan denganku.

Menerima keadaan yang tidak lagi sama, status dan perasaan yang tak lagi sama. Terlebih setelah mendengar kabar baru darinya, seperti ada sesuatu yang menganjal di benak.

Sejujurnya aku tidak menerima semua ini. Bagaimana tidak? Padahal sudah jauh kaki ini berlari, mendatangi tempat-tempat baru, orang-orang baru, menjauhi jalan yang pernah kami lalui atau tempat yang pernah kami singgahi. Tapi apa? Rasa kesal dan marah terhadapnya, kembali tumbuh dengan pesat. Padahal aku tiada hak akan hal itu. Apa yang salah denganku...

Malam semakin malam. Bulan sabit tetap pada posisinya. Kelelawar di ranting sedang membidik mangsa. Beberapa anak basecamp telah pulang, hanya beberapa yang tersisa, termasuk aku, Atok, Adan dan Beko sedang berteriak menyanyikan lagu dengan suara seraknya.

Dengan teguh membungkam semua amarah. Mengoptimalkan diri, walau jiwa sedang tidak stabil. Berusaha agar semua baik-baik saja, tidak ingin akan kekacauan ini ada yang ikut campur. Aku hanya ingin menghadapi sendiri untuk mengukur; sejauh mana diri ini kokoh dihantam badai.

"Siap...?" tanya Atok dengan meliriku.

Aku pun tersenyum, "Siap donkk...!! Hahaha..."

"Yakin...?" tanyanya lagi.

Aku berkata, "Hahaha... Siap gak siap, yakin gak yakin. Aku harus segera menyatakan kemerdekaan ini. Hahaha..."

"Gelora nasionalisme-ku bangkit dengan membara. Jadi teringat seseorang," kata Atok.

"Bang Bagong...?" tanyaku masih menahan tawa.

"Bukan," jawabnya yang masih mencoba berpikir.

"Terus siapa..?"

Atok menjawab, "Ir. Soekarno di teks proklamasi."

"Kamu kok mirip dengan guru sejarah aku di SMP? Pintar-pintar mesum," kata Si Beko.

"Hahahah bangkeee..!! Hahaha..." Aku tertawa lepas.

Kadang manusia tidak sadar sedang menelan ego. Tidak heran bila penyesalan datang di sesi akhir. Sama hal hanya dengan diriku yang bodoh selama ini; bertahan dalam luka.

Mungkin ini adalah cara semesta mengajarkan untuk melampaui batas. Dengan sesal dan kesal; perlu jatuh sejatuh-jatuhnya agar diri tau apa yang berharga setelah patah. Dan di balik dinding ragu, ada rasa lega bila berhasil melewati. Dan kini, aku sedang meyakinkan hati.

Sejujurnya... jika boleh dikatakan, ada sedikit ragu yang masih tersangkut. Bertanya dengan hati, apa yang membuatnya masih menangis. Tidak ada jawaban, hati masih saja menangis akan keikhlasan. Butuh waktu untuk perasaan yang terluka, bukan orang baru.

Malam tampak biasa saja, sepertinya hati mulai menerima angin malam. Bintang juga tidak begitu perih di mata ketika hendak memandang langit. Dinding kamar juga tidak lagi tertawa setiap kali akan tidur. Tidak ingin merasa munafik pada diri sendiri; sesungguhnya rindu itu masih ada meski tak sepekat dahulu.

Dalam hening malam, mata terpejam. Sepinya malam hanya terdengar detak jantung. Kamar pun telah padam. Tiada musik, sosmed, atau notifikasi favorit. Hanya ada rasa tidak menerima; yang harusnya diterima.

Kenangan indah bersama tanggal undangan, kepala berkerut dalam mata terpejam. Tubuh jatuh ke dalam lubang hitam. Tidak ada setitik cahaya dalam jeritan. Tiba-tiba terdengar suara yang kukenal dari atas. Kemudian dihidang sebuah ciuman mesra di halaman rumah yang pernah aku singgah. Getaran dalam dada tiada mampu menahan, seakan jantung ingin hengkang dari kedudukannya. "Bangsattt...! Hahahaha," makiku dalam hati. Seketika ada sosok tangan yang menggenggam tanganku. Dan...

Siapa sangka sekujur tubuh telah basah, bantal terasa lembab, dengan jantung masih berdebar. Resah gelisah, tidak mengerti apa penyebabnya. Sekuat tenaga menahan air mata, karena ia tidak pantas ditangisi.

Aku mencoba mengalihkan pikiran. Mengusap-usap layar kaca yang mungkin bisa dijadikan sebagai pelarian sementara. Sebuah notifikasi yang kuterima dari sahabat.

*Jangan takut sendiri... Ini memang pahit, dan harus diterima. Ingat..!! Obat itu pahit.

Ada senyum setelah membaca itu, sedikit lega dari sesuatu yang mengganjal hati. Tidak ada yang salah, apa lagi disalahkan. Mungkin diri ini belum sepenuhnya siap untuk hal yang besar.

Alih-alih aku mencoba bertualang. Melihat keindahan dunia dari internet seperti Taman Guel, Picos de Europa, dll. Setelah melewati beberapa item tampak bangunan nan indah, awalnya mengira kalau itu adalah bangunan sejarah dengan taman aneka bunga. Mencari dan mencari dari struktur bangunan klasik tersebut. Universitat Autonoma de Barcelona, dengan foto yang sama dari judul sebuah website. Tidak menyangka banyak sekali foto dari segala sudut bangunan tersebut.

Terus menelusuri di situs tersebut, beberapa kutemui foto kegiatan di taman bangunan tersebut. Tampak seperti para turis sedang menikmati taman itu. Ada yang canggung dari foto itu. Kebanyakan tampak dari orang di sana memegang buku atau laptop, ada juga beberapa memakai pakaian seperti jaz. Dan mata pun tenggelam...

 

'Diantara bayangan... Hidup di antara rasa yang tertinggal sangat tidak menyenangkan. Apakah itu rindu? Apakah kenangan itu terlalu indah? Yang jelas, aku benci untuk mengakui semuanya; angkuh sebagai lelaki yang tidak ingin terlihat lemah'

'Tidak hanya darimu, aku juga ingin merdeka dari bayanganmu. Tidak ingin terus dijajah ketika malam larut, tidak ingin terus menerus disakiti oleh tempat yang pernah kita singgah'

'Tidak juga sebenarnya, di lain tempat terkadang menemukan kenyamanan. Sesekali juga aku menemukan titik cahaya, namun setiap kali mendekat untuk menggapai itu hilang begitu saja'

'Terima kasih dari harap yang tidak diharapkan'

***

"Ada yang lihat Atok gak?" tanya Adan padaku.

"Tuh... di belakang."

Adan pun ke belakang kios. Terlihat Si Beko juga berada di sana sedang bersenandung dengan Atok. Adan memegang senar yang sedang dipetik Si Orangtua (Atok). Dengan polosnya Adan bertanya, "Tok.. Tok.. Ini cewek cantiknya pakai kali."

Apa yang dilakukan Adan adalah hal yang paling fatal. Dan apa yang terjadi?

"BISA GAK JANGAN MENGGANGGU..!? APA KURANG PUAS PEREMPUAN YANG SEMALAM KAU BAWA JALAN, SAMPAI KAU GANGGU AKU LAGI MAIN GITAR...??" kata Atok begitu murka. Atok sangat marah jika ada orang yang menyentuh senar gitar saat ia bernyanyi.

Kriik.. kriikk Krik... kriik..**.

Aku dan Si Beko terdiam. Terlebih Adan, ia terlihat pucat pasi ketika Si Orang Tua itu seakan berubah anjing liar.

"Anuu..." Terlihat Adan sedikit takut dan merasa bersalah. "..., aku mau tanya?" kata Adan mencoba memberanikan diri. Ia memperlihatkan ponselnya; sosok wanita yang diposting oleh Atok.

Beberapa saat melihat reaksi Adan, Si Beko tertawa seperti orang menahan muntah. *Brruuppsshh...

"Kenapa ketawa?" tanya Atok seakan-akan ingin menerkam mangsa.

"Gak ada," jawab singkat Si Beko yang langsung menutup mulutnya.

Beberapa saat Atok berkata, "Aku udah tau, kau mau minta kenalan sama itu, kan? Itu sohib aku kalau lagi mager nulis tugas." Tampak wajah Adan berseri-seri ketika mimik Atok sudah kembali menjadi manusia. Dengan spontan Atok berkata, "aku gak bisa kasih kasih dia ke kau."

"Kok gitu? Jangan egois gitu-lah..." kata Adan.

Biasanya Atok selalu memberi kontak temen ceweknya. Namun entah kenapa kali ini ia mengatakan tidak.

"Lagi pula yang egois itu adalah Adan. Semua wanita ia sikat dengan pandang bulu. Yang penting bening..."

Atok pun menjawab, "Dia udah tunangan." Lagi-lagi Si Beko tertawa seperti orang ingin muntah ketika melihat mulai ekspresi Adan yang lesu. Aku pun ikut tertawa. Di tambah wajah Adan yang sedikit kecewa dengan jawaban Atok. "... Aku gak bisa kasih dia ke kau, karna ia udah tunangan." Wajah Adan bertambah kecewa dengan jawaban Atok.

Aku tau Adan tidak mudah kecewa berlarut-larut sepertiku. "Anj*yy.... Belom juga aku mulai, udah kau bilang gitu," kata Adan dengan ceria.

Atok berkata dengan rokok yang masih melekat di bibirnya, "Dia tunangan sama Geuchik (Kepala Desa) muda di kampungnya. Baru-baru aja dia tunangan."

Adan memegang dagu serta memandang langit; seakan-akan ia menggunakan otaknya. "Kita tikung, ya? Hiii....!!" kata Adan dengan polosnya.

Aku dan Beko menahan tawa melihat ekspresi Atok mulai panas. Seketika Atok menjitak Si Pemburu Wanita tersebut. Dan berkata, "MAU BERAPA BANYAK LAGI WANITA YANG INGIN KAU MAINKAN..?? DASAR BIAWAKKK...!!!"

1
Author SUPERSTAR
Tnp mengurangi rasa hormat, kalau boleh sy kasih saran jgn terlalu panjang satu babnya. Lebih baik dibuat jd beberapa bab. Semangat trs thor
Author SUPERSTAR: 💪💪💪💪💪
total 3 replies
zahwa maysura
💓
Nanda Madridista
pengen ngajak si Agam ngopi...
Sambil Menertawakan Diri Sendiri Karna Manusia Terlalu Waras Menjalankan Hidup..

Wahahahahaha
capèk: Ah siap Boss ku. sabar aja yg kedua.
total 1 replies
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🎋AniN🩷❀∂я
semangat up Thor....
Aris
gak tau bilang. Pokok nya gak mau nangis
capèk
Gimana enggak. Naskahnya dari 2018 😔
capèk
karna buaya sesungguhnya itu laki2. meski ada jenis betina
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🎋AniN🩷❀∂я
baru ini baca cerita yg panjaaaaangg beud... but i like it...

next up thor
capèk
makasih buggy
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
up kk, menarik ❤️😘❤️😘❤️👍
capèk
ku menangisss....
Vieneze
Bahasanya puitis banget y.
Vieneze
semangat selalu Thor.
RN
keren 2 jempol buat mu😍
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk
Nndya_kun
saoloh kak,aku baru baca...dan tulisannya tu puitis bgt,kek nyesek aja dihatieeee...uhuk..(batuk gw sorry)
dah lah,gw paporit in dlu ye,mksih dah bikin cerita ini,kek sedikit melambangkan tentang jiwaku,huaaaa😭😭😭,sayangnya gw cewek 😭
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
💯💯💯😘❤️👍
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
👍🙏💯❤️ paket komplit! ada lucu ada puitis 😘😘😘
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
Aku jarang nemu yang seperti kisah kk ini, good job ❤️💯🙏👍
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
👍😘🙏💯❤️
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
aku suka semua quote kk 😘😘👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!