Kisah yang menceritakan perjalanan hidup seorang gadis yang tinggal di panti asuhan, Qinan namanya. Qinan adalah putri yang terbuang dan dibesarkan di panti asuhan. Kemudian Qinan diasuh oleh janda yang mempunyai satu anak.
Dipanti asuhan Qinan mempunyai sahabat lelaki dan perempuan yang bernama Tiara dan Zio. Qinan harus berpisah dengan sahabatnya karena mereka diasuh oleh orang tua angkatnya masing masing. Namun nasib Qinan berbeda dari sahabatnya, Qinan harus menghadapi konflik batin yang bertubi tubi dan Qinan harus merelakan kebahagiannya untuk menggapai impiannya. Hingga harus merelakan cita citanya demi membalas budi orang tua asuhnya. Meski berat, Qinan tetap mengabulkan permintaan ibu asuhnya untuk menikah dengan lelaki tampan dan kejam yang bernama Angga Wilyam. Meski Angga banyak dikagumi oleh wanita wanita cantik namun Angga tidak meresponnya. Angga tetap pada pendiriannya wanita hanya mencintai harta dan tahta bukan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Sahabat
Qinan,Angga dan Ayahnya duduk santai di ruang keluarga sedang menonton TV sambil menunggu kedatangan Ferdi.
Suara mobil terdengar jelas berhenti dihalaman rumah Tuan Wilyam. Suara langkah kaki kini mulai terdengar oleh Tuan Wilyam mapun Angga,sedangkan Qinan sedang masuk kamar untuk mengembalikan ponsel Suaminya. Perasaan Angga menjadi was was jika yang datang tidak cuman Ferdi dan Ayah nya.
Ferdi langsung menghampiri Angga dan Tuan Wilyam.
"Angga... aku ada kejutan untukmu. Lihat lah siapa yang datang kemari," ucap Ferdi.
Kedua bola mata Angga terpenganga ketika melihat sosok lelaki yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil. Rasa senang pun ada, apa lagi rasa geram pastinya sudah ada dari hari sebelumnya.
"Hai brother.. apa kabarmu, nikah kenapa tidak mengabariku , hah! sudah lupa dengan ku. Lalu apa ini, kenapa kamu menyembunyikan kepadaku, dan pernikahanmu kenapa tidak terliput dimedia mana pun. Apa kamu sedang ingin kabur dari dunia kesibukanmu?" ucap sahabat Angga.
Angga mencoba mengatur pernapasan nya agar tidak berubah menjadi emosi.
"Aku tidak ingin mendapat simpati dari kalian, cukup aku sendiri yang merasakannya. Aku menikah juga agar kamu bisa menunggu adik perempuan Ferdi bukan?" jawab Angga mencari alasan. padahal sangat mustahil menunggu seorang adik dari sahabatnya yang hilang dari sejak bayi. Fikir Angga dan kedua sahabatnya.
Sedangkan Ferdi tertawa mendengar penuturan dari Angga.
"Yakin nih kamu masih menunggu adik perempuan ku Vino," timpal Ferdi sambil cekikikan.
"Sialan kalian suka nya mengejekku. Mentang mentang sekarang Angga sudah menikah lalu mengejekku untuk menunggu adiknya Ferdi, awas saja kalau adik perempuannya Ferdi sudah ditemukan dan masih sendiri dan cantik pastinya. Kamu Angga bakalan menyesal nanti," ucap Vino dengan ngeledek.
"Mana ada Angga menyesal, karena Istrinya sudah jauh lebih baik dari wanita lainnya. Iya kan Angga?" goda Ferdi.
"Ngomong ngomong katanya Angga sudah menikah, kok dari tadi aku tidak melihat istrinya." Ucap Vino penasaran.
Tiba tiba Ada suara seorang wanita sedang menuruni tangga, sedangkan Angga maupun kedua sahabatnya memandanginya dengan lekat.
'Cantik bener Istrinya Angga, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana, aaah siapa dia sebenarnya. Aaapaaa Qinan?' gumam Vino tidak percaya.
'Sialan, Vino pasti akan bertanya tanya mengenai pernikahanku dengan Qinan. Aaah kenapa aku mesti takut, bukannya sekarang Qinan sudah menjadi Istriku, berarti milikku seutuh nya.' Gumam Angga dengan senyum senyum.
'Andaikan saja adik perempuanku sudah ditemukan pasti sudah sebesar Qinan dan cantik seperti Qinan. Semoga Qinan ku akan segera ditemukan dan berkumpul kembali meski ibu telah tiada, paling tidak permohonan ibu tersampaikan.' Gumam Ferdi dengan perasaan sedih.
"Qinan..." ucap Vino Kaget.
"Pak Dosen..." ucap Qinan kaget.
"Kamu kenapa ada disini, apa kamu sudah pindah kerja. Lalu kenapa sudah tidak bekerja di tempat Ferdi, ataukah gajihnya kurang? seharusnya kamu bilang padaku Qinan, aku akan mengajakmu menikah dan kamu tidak susah payah bekerja dirumah sahabatku Angga." Ucap Vino tanpa jeda dan tidak disadari mengajak Qinan untuk menikah.
sedangkan Qinan bergidik ngeri mendengar penuturan dari Dosen Vino.Apalagi Angga seraya ingin melempar tinjuannya ke arah Vino namun Angga sadar dirinya tidak bisa berbuat apa apa. Hanya bisa menahan kesal agar tidak terjadi keributan.
"Vino..." dengarkan penjelasanku dulu ya, sebenarnya Qinan adalah nona muda Tuan Angga Wilyam. Jadi berhati hatilah kamu dengan Tuan Muda Angga." ucap Ferdi menjelaskan dengan jelas, bukan bermaksud untuk mengejek. Namun agar Vino melupakan ucapan konyolnya didepan Angga.
Sedangkan Vino terpenganga mendengar penjelasan dari Ferdi, bagaimana mungkin bisa menjadi Istri Angga, sedangkan Angga sedang mengalami trauma dan menganggap wanita hanya pembohong, tetapi tiba tiba sudah menikah. Dan Qinan pun tidak pernah mengatakannya bahkan di kampus tidak ada pemberitaan mengenai pernikahan nya Qinan. Fikir Vino sedikit dengan perasaan kecewa, karena wanita yang diincar nya kini sudah resmi menjadi Istri sahabatnya sendiri yang tidak lain adalah Angga.
"Maafkan aku Angga, karena aku tidak mengetahui jika Istrimu adalah Qinan mahasiswi ku di Kampus Xxx. Karena di Kampus tidak ada kabar tentang pernikahan Qinan." Ucap Angga.
"Tidak masalah itu hak kamu, karena ini juga salahku menyembunyikan pernikahanku dari kamu, mungkin masih banyak lagi diluar sana yang kecewa sepertimu.Sekarang kamu sudah tahu sendiri bahwa Qinan adalah Istri sah ku," ucap Angga lesu.
"Maafkan Qinan juga ya Pak Dosen, jika Qinan tidak memberi tahu tentang pernikahan Qinan dengan Angga." Ucap Qinan menimpali.
"Kita memang tidak sama sama jujur jadinya seperti ini, tapi sudah lah semua sudah jelas." Jawab Vino.
"Sudah lah jangan saling menyalahkan maupun apa lah, yang terpenting kita tetap bersahabat, karena kita bersahabat juga diwarisi oleh orang tua kita. Orang tua kita masih bersahabat. Begitu juga kita sebagai penerus, kita juga tidak boleh kalah persahabatannya." Ucap Ferdi menengahi.
"Ngomong ngomong aku sudah lapar, apakah sudah disiapkan makan malamnya?" ucap Vino meledek agar lepas dari permasalahan dengan sahabatnya.
"Tentu saja," Istriku sudah memasaknya tadi, ayolah kita makan bersama." Ucap Angga.
"Sayang... panggil Papa di kamar untuk makan malam bersama kita," Titah Angga pada Istrinya. Qinan pun dibuat kaget karena panggilan yang tertuju untuk nya.
"Baik.." jawab Qinan tersipu malu dambil melangkahkan kaki.
"Ehem ehem..." goda Ferdi.
"Cie cie..." goda Vino menimpali.
Sedangkan Angga hanya geleng geleng sambil senyum tipis.
Semua nya sedang menikmati makan malam bersama dirumah Tuan Wilyam. Perasaan bahagia kini mulai dirasakan oleh Tuan Wilyam yang setiap harinya memantau putranya dalam bersikap dan melakukan segala aktivitasnya.
"Masakannya sungguh menggugah selera rupanya, apakah semua ini kamu yang memasak nya Qin?" ucap Vino yang tidak sadar telah membuka suara.
"Saya dibantu pelayan juga kok Pak, jadi bukan sepenuhnya saya yang memasak." Jawab Qinan dengan perasaan bingung.
"Panggil saja Kak Vino, seperti kamu memanggil Ferdi. Karena kita sudah seperti keluarga ditambah kamu Istri dari seorang kepala Perusahaan. Jadi sangat tidak pantas kamu memanggilku dengan sebutan Pak," ucap Vino.
Sedangkan Ferdi tertawa cekikikan mendengar penuturan dari Vino, tetapi tidak bagi Angga, didalam fikiran Angga terdapat tanda tanya yang sangat besar.
"Kamu maksa banget sih Vin, minta dipanggil sebutan Kakak segala, kenapa tidak paman saja. Bukankah sebentar lagi akan dibuatkan Angga junior," ucap Ferdi menimpali dengan meledek.
"Aaah benar juga kata kamu Fer," bentar lagi kita pasti akan di buatkan Angga junior, aaah aku tidak mau Angga junior, aku maunya Qinan junior, titik." Sahut Vino menggoda sahabatnya.
Sedangkan Angga hanya garuk garuk leher yang tidak gatal sambil senyum tipis, begitu juga dengan Qinan tersipu malu dengan wajah yang seperti rebusan kepiting.
Galuh apa vino....