>>>SEASON 1<<<
Natasha yang dijodohkan dengan Fadhil, sabatnya sendiri. Harus menelan pil pahit ketika pacar Fadhil kembali disaat Natasha sudah menikah dengan Fadhil.
Lalu apa jadinya, ketika Natasha hamil, Pacar Fadhil juga mengaku hamil setelah berhasil menjebak Fadhil di saat mereka sudah putus.
Akankah Natasha memaafkan Fadhil dan menerimanya kembali? Atau memilih merelakan suaminya untuk wanita lain?
>>>SEASON 2<<<
Nazira Taraan, Anak dari Natasha.
Dan Nabilla Anastasya, Anak dari mantan Pacar Fadhil. Beranjak dewasa bersama, walaupun sering diperlakukan berbeda.
Ana, sapaan untuk Nabilla Anastasya. Gadis malang itu tidak tahu, mengapa dia diperlakukan berbeda.
Sampai dia harus dijodohkan dengan Alfath. Yang bermaksud hanya untuk mendapatkan Anak dari rahim Ana. Karena istrinya mandul.
Ana yang padahal sudah memiliki pacar saat itu tidak punya pilihan, kecuali menuruti keinginan keluarganya.
Akankah penderitaan Ana terbayarka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Terburuk
"Heii teman-teman, lihat siapa yang datang." Ucap si gadis killer tersebut saat melihat ku sudah berdiri di hadapannya.
Dia beranjak dari tempat duduk nya, datang mendekatiku.
"Kenapa datang terlambat ?" Tanya nya santai.
"Aku bangun kesiangan karena membuat tugas kemalaman."
Lalu dia melempari tas nya ke arah ku. reflek aku langsung menangkapnya.
"Bawakan tas ku dan ikuti aku." Ucapnya sambil berjalan meninggalkan kantin.
"Tapi aku ada kelas sekarang."
"Aku tak peduli." Dia terus berjalan, benar-benar tak peduli.
"Aku juga belum sarapan." Gumam ku dalam hati sambil berjalan mengikutinya dari belakang dengan kepala menunduk.
Dia menuju ke arah kelas nya. Aku tidak berani bertanya apa-apa dan dengan bodoh terus mengikutinya.
Dia masuk ke kelas dan duduk di kursi barisan belakang.
"Berdiri disana." Sambil menunjuk ke arah sudut ruangan.
"Berdiri ?" Tanya ku memastikan dan sekaligus tak percaya dengan ucapannya.
Yang benar saja, aku harus berdiri di sudut kelas nya sampai dia selesai mengikuti pelajarannya..
"Iyaa berdiri. Sana !!!" Ucap nya sambil menunjuk ke arah sudut ruangan untuk kedua kalinya.
Dengan langkah yang berat, aku menuju ke sudut ruangan yang di maksud.
Aku berdiri sesuai dengan permintaannya.
Bel berbunyi. Semua mahasiswa masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran.
Mata silih berganti menatap ke arah ku.
"Sial..!!!” Gumam ku dalam hati ketika melihat si pria idola kampus juga masuk ke dalam ruangan ini. Aku memalingkan wajahku ke arah samping. Berharap dia tidak menoleh ke arah ku.
Dan ...
Yang benar saja, dia duduk di kursi tepat di hadapan ku.
Tak lama, Dosen pun masuk..
"Kenapa kamu berdiri disana ?" Dosen itu bertanya pada ku.
Aku menoleh ke arah si gadis killer. Berharap dia menjelaskan sesuatu pada Dosen tersebut. Namun, dia hanya senyum-senyum sendiri tak jelas sambil mencoret-coret buku yang ada di hadapan nya.
"Jika bukan dari kelas ini sebaiknya kamu keluar." Ucap Dosen tersebut karena melihat ku yang hanya terdiam.
"Baik lah.." Ucap ku bersemangat dan akan bergegas pergi.
"Tetap di situ." Ucap si gadis killer membuat ku kaget dan menghentikan langkah ku.
"Aku yang menyuruh nya berdiri di sana." Dia menjelaskan pada Dosen tersebut. Dan seketika Dosen itu tidak mempermasalahkannya lagi.
Aku mengernyit kan kening tak percaya.
"Sana ..!!!" Ucap nya pada ku. Dan aku kembali ke posisi ku sebelumnya.
Kelas dimulai ..
Aku dengan patuh, berdiri tanpa suara.
Tanpa aku sadar, aku terus memperhatikan pria yang ada di hadapanku ini.
Dengan begitu serius dia memperhatikan setiap penjelasan Dosen yang berkoar-koar di depan ...
Dia tidak hanya populer karena tampang nya. tapi juga karena IQ nya yang di atas rata-rata.
Setelah sesi belajar selesai. Dan Dosen sudah keluar ..
"Belikan aku makan siang."
"Hahh .." Aku tidak terlalu mendengar apa yang di ucapkan gadis itu barusan. Karena sedang sibuk memijat betis ku yang terasa begitu pegal.
Gadis itu beranjak, mendekatiku.
"Ngerti bahasa gak sih. Maka nya ini telinga di pakai untuk dengar. Jangan kebanyakan ngelamun." Ucap gadis itu sambil mendorong-dorong bahu ku dengan jari telunjuknya.
"Belikan aku makan siang. Tidak pakai lama."
Ucap nya menegaskan.
Aku langsung bergegas menuju kantin. Berburu dengan waktu.
Aku membeli apa saja yang terlintas dalam fikiran ku. Karena tidak tau apa yang mau dia makan.
Dengan terburu-buru aku langsung bergegas menuju ke kelas nya.
"Ini.." Sambil meletakkan makanan yang aku beli di atas meja nya.
"Apa-apaan ini." Bentak nya, setelah melihat makanan yang aku beli.
"Maaf...!! Aku tidak tau apa yang ingin kamu makan. Jadi...." Belum lagi aku selesai dengan ucapanku. Gadis itu sudah mengguyurkan aku dengan Pepsi yang aku beli untuk nya.
"Dasar bodoh !!!" Bentak nya lagi.
"Cukup !!!" Terdengar suara seseorang yang mengheningkan kelas itu yang tadi nya begitu bising dengan suara tertawaan mahasiswa-mahasiswa yang menertawakan ku.
Aku tidak menoleh. Tidak mau tau siapa yang akan membela ku. Aku hanya menunduk menahan malu.
Sampai akhirnya nya seseorang menarik tanganku. Menjauh dari si gadis killer. Meninggalkan kelas itu.
"Keringkan pakaianmu." Ucap nya setelah sampai di depan toilet wanita. Aku memberanikan diri untuk menatap ke arah nya.
Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku dengan mata terbelalak.
"Ada apa ?" Tanya nya.
"Ti.. tidak apa-apa." Ucap ku gugup, setelah itu bergegas masuk kedalam toilet.
"Kenapa harus dia sih. Benar-benar memalukan." Ucapku pada diriku sendiri sambil menggenggam geram tanganku. Saat mengingat yang menolongku justru si pria idola kampus, Kim Tan.
Aku mengeringkan pakaian ku dengan hairdryer yang tersedia di toilet.
Setelah selesai aku keluar dari toilet sambil menepuk-nepuk pakaian ku yang terasa tetap lengket walaupun sudah kering.
"Astaga !!!" Aku kaget saat melihat Kim Tan berada tepat di hadapanku.
"Sudah selesai ?" Tanya nya santai.
"Emm sudah. Tapi masih terasa lengket."
"Sebaiknya kamu pulang. Dan minta bantuan teman mu untuk meminta Izin pada Dosen."
"Tidak apa-apa. Aku.." Tanpa mau mendengar apa yang akan aku katakan. Kim Tan menarik tangan ku. Dan sekarang, dia membawa ku menuju ke arah halte.
"Aku tidak apa-apa masuk kelas dengan keadaan seperti ini. Sungguh !!!" Ucap ku mencoba menjelaskan pada nya. Namun dia tidak mau mendengarkan apa pun penjelasanku. Dia terus berjalan dengan menarik tanganku.
Sesampainya di halte.
"Dengarkan aku. Pulang dan istirahat lah. Jangan terlalu di fikirkan kejadian hari ini."
Aku mengernyit kan kening. "Apa maksud pria ini." Aku bertanya pada diriku sendiri.
Setelah itu dia berlalu pergi. Kembali ke Kampus.
Dan entah mengapa, aku mengikuti apa yang di katakan nya.
Entah karena ucapan nya atau bukan. Aku benar-benar merasa baik-baik saja seperti tidak terjadi apa-apa.
Perasaan ku tidak lagi begitu memikirkan kejadian di kampus tadi.
Ada rasa lega yang entah dari mana datang nya.
Aku meraih handphone ku. Berniat mengirim Vany WhatsApp.
Ternyata WhatsApp Vany sudah lebih dulu masuk di handphone ku.
"Kamu dimana ?"
"Kenapa tidak masuk kelas ?"
"Cepat datang ke kelas. Dosen sudah masuk."
"Apa yang kamu lakukan ?"
"Terjadi sesuatu kah ?"
Bibir ku tersenyum. Ternyata masih ada yang mengkhawatirkan aku.
"Bantu aku untuk Izin hari ini. Besok akan aku ceritakan."
Tidak menunggu besok. Sore nya mereka sudah berbondong-bondong menghampiri kost ku.
Dengan begitu penasaran bertanya apa yang terjadi ..
Aku mencoba menceritakan setiap kejadian sedetail-detail nya.
"What ?????" Ucap Mely setengah kaget.
"Kim Tan yang tolongin kamu ???" Tanya nya tak percaya. Aku hanya mengangguk, mencoba untuk meyakinkannya.
"Bagai mana mungkin ?" Tanya nya lagi.
Aku menaikkan bahu ku..
"Entah lah.. Mungkin karena dia merasa kasihan pada ku." Ucap ku menerka-nerka.
"Aaaaa seandainya aku yang berada di posisi kamu .." Mely mulai berhalu.
"Memangnya kamu mau di tindas sama gadis killer itu ?" Tanya Rose pada Mely.
"Mau mau aja asal kan di tolongin sama Kim Tan." Jawab nya asal.
Aku dan Vany saling melirik terus tersenyum bersama mendengar jawaban Mely..
***
**🐣 Vote dan Like Bebbbbb ...
Krisan nya jangan lupa.. 😊✌**
Jangan cepat-cepat END