Ozaki Rika atau dulunya Ozaki Ryu adalah manusia buatan dari era moderen dan secara tiba-tiba muncul di abad pertengahan yang menjadi wilayah iblis, ia ada di sana karena upacara pemanggilan yang dilakukan oleh Zarathos sang raja Iblis kecil di wilayah itu, Rika dinikahi karena sang Raja Iblis tidak ingin manusia itu disakiti bawahannya, ia memikirkan kegunaan gadis yang terpanggil olehnya karena ia tidak pernah menyangka akan memanggil manusia, karena dalam upacara itu harusnya yang terpanggil adalah monster kuat dari dimensi lain untuk membantunya perang melawan manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azai Nagamasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Suamiku adalah Raja Iblis
Ditulis oleh: Hamdi/Azainagamasa53
Chapter 23
"Ada masalah apa Gusti!" seru mereka semua sembari mendekati tenda.
Zarathos yang mendengar keributan di luar langsung keluar tenda dan berkata, "Rika pingsan."
"Apa! Tidak mungkin Ratu Iblis kita yang meski manusia punya tenaga monster itu bisa pingsan. Bagaimana mungkin? Apa yang sebenarnya terjadi Gusti Prabu, kenapa Gusti Ratu bisa pingsan?"
Zarathos yang ditanyai oleh Enja, pengawal sang penjaga gerbang api miliknya ini hanya diam saja karena jujur, kalau ditanya apa penyebabnya ia juga tidak tahu.
"Aku tidak tahu, tapi dia pingsan ketika bertanya tentang bahan dari jamu yang dia minum."
Seketika itu pula Enja dan Suija berserta jendral lainnya, bahkan Mary yang hanya seorang pelayan langsung tertawa lepas.
"J-jadi hanya karena itu, Ahaahahahahahahahahahahaha! Aku kira ratu kita punya mental yang kuat, tapi tetap saja dia adalah seorang wanita yang tidak menyukai darah. Ahaahahahahahahaha, lucu sekali!" seru mereka semua.
Sementara itu Zarathos yang menyadari maksud dari perkataan anak buahnya hanya tersenyum kecil saja, ini adalah kali pertamanya ia melihat sisi lemah istrinya.
"Ya sudah, kalian kembalilah berjaga di pos masing-masing, aku akan menjaga Rika."
"Laksanakan Gusti Prabu!"
Zarathos pun kembali ke dalam tenda dan di dalam terlihat Rika sudah kembali bangun, tapi ia nampak sangat aneh, "Jangan mendekat! Aku tidak mau meminum jamu menjijikan itu lagi! Tidak!" seru Rika dari dalam tenda, para iblis yang berada di luar hanya bisa senyam-senyum saja mendengarnya.
"Rika tenanglah, aku tidak akan memberikanmu obat itu, karena memang belum waktunya kau meminumnya."
"Belum waktunya! Artinya aku akan meminumnya lagi di lain waktu begitu?!"
"Anggap saja begitu? Dan dari pada membahas obatmu yang tidak enak, lebih baik kita bahas apa yang kau rasakan."
"Rasanya aku ingin muntah," gumam Rika ketika mengingat bahan-bahan dari ramuan herbalnya benar-benar menjijikan.
"Tenanglah, bukankah rasa nyerinya hilang?"
"Kau belum menyebutkan semua bahannya, katakan beberapa bahan menjijikan lainnya itu apa?"
"Karena aku tidak ingin membuatmu pingsan, jadi aku tidak mau memberitahukannya, biarlah itu jadi rahasia."
Rika yang mendengar jawaban Zarathos mengenai bahan lainnya yang tetap di rahasiakan langsung cemberut, tapi ia memilih untuk diam dan berbaring di kasur tenda miliknya.
"Hey sayang jangan cemberut gitu dong."
"Jangan panggil aku sayang, kita tidak sedekat itu!"
Zarathos yang mendengar seruan istrinya langsung mendadak menyentuh dadanya, "Kata-katamu menyakitiku."
Rika menatap ke arah Zarathos dan mencoba untuk duduk lalu menatap suaminya itu dengan pandangan aneh, "Sejak kapan kamu bisa bertingkah seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Tingkahmu sangat lebay dan tidak berwibawa, jangan-jangan kau adalah penipu yang menyamar menjadi suamiku?" tanya Rika dengan mata menyipit.
"Ah kau ini, sudahlah ..., Rika ketika kau sudah sampai di sana aku harap kau tidak panik dan ketakutan."
Rika yang mendengar hal itu hanya tersenyum sinis, "Kau meremehkanku?"
"Tidak, mana mungkin aku meremehkanmu. Hanya saja, semua iblis yang hadir di pertemuan sudah saling kenal, jadi kalau mereka melihatmu pasti tatapan mereka akan sangat sinis dan tajam, karena kau adalah sosok asing yang datang ke pertemuan secara tiba-tiba."
Mendengar hal itu Rika pun berkata, "Heh, bahkan jika yang dihadpanku adalah monster beruang aku tidak akan takut, apalagi kalau hanya sekelompok iblis sepertimu."
"Yang jadi masalah adalah kalau kau tiba-tiba menyerang mereka, itu bisa membuat keributan."
"Hem, aku mengerti. Kau tidak ingin mencari keributan dengan kerajaan lain begitu?"
"Ya begitulah."
Rika hanya mengangguk pelan, lalu ia mengalihkan pandangan matanya dari Zarathos, "Aku tidak mau meminum jamu itu lagi tak peduli apapun yang terjadi."
"Nanti perutmu nyeri lagi loh. Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau obat yang dibuat oleh seseorang itu harus diminum karena terdapat cinta di dalamnya lalu harapan untuk orang yang meminumnya bisa sembuh."
Mendengar perkataan Zarathos, membuat Rika menggembungkan pipinya, jika dipikir-pikir khasiat jamu yang ia minum itu sangat manjur dan seperti tak ada bandingannya, tapi meski demikian Rika juga bisa merasa tidak nyaman akan apa yang ia minum.
"Baiklah, aku akan berusaha menahan rasa mualku ketika meminumnya."
Zarathos kemudian tersenyum dan mengelus rambut istrinya dengan pelan, "Sudahlah, jangan dipikirkan. Sebaiknya kau tidur, karena besok kita harus berangkat pagi-pagi."
Rika hanya mengangguk dan membaringkan dirinya di kasur yang ada di dalam tenda, begitu juga Zarathos yang mencoba mengistirahatkan dirinya.
'Jika diingat-ingat kembali, ini pertama kalinya Rika mengeluh dan bersikap layaknya perempuan. Mungkin ia sudah lelah bertingkah seperti ksatria yang tegar dalam menghadapi banyak hal,' pikir Zarathos sembari menatap istrinya yang terbaring lemah di sampingnya.
Ke esokan harinya.
Terlihat, Zarathos, Rika, Suija, Enja dan Zanki bersiap berangkat bersama prajurit mereka, Mary juga sedang mengajak Rika untuk mandi di sungai, setelah selesai mereka pun akhirnya kembali dengan pakaian yang cukup rapi, Rika juga terlihat mengenakan gaun hitam dengan model baru yang sedikit ramping, yang membuat Rika bisa bergerak dengan mudah di pinggangnya juga terdapat katana panjang.
Zarathos juga membawa katana di pingganya lalu mereka pun melanjutkan perjalanan ke ibu kota mengenakan kereta kerajaan, ketika perutnya mulai terasa nyeri Zarathos kembali memberikan jamu itu, Rika mau tidak mau meminumnya meski ada rasa enggan. Namun, demi menghormati perasaan tabib yang membuatnya, Rika pun meminumnya.
"Istri yang baik, tahan jangan sampai dimuntahkan," ucap Zarathos sembari tersenyum. Rika sebenarnya sedikit kesal dengan ekspresi Zarathos yang seolah seperti menertawakannya, tapi ia diam saja dan tidak terlalu mempermasalahkannya, toh ini juga demi kebaikannya sendiri.
"Oh iya bahan rahasianya adalah, lendir siput, empedu katak raksasa dan tentu saja beberapa bahan super rahasia lagi," ungkap Zarathos dengan nada jahil dan tatapan yang seolah menunggu reaksi Rika.
Rika yang mendengar bahan lanjutannya langsung menatap tak percaya ke arah jamu miliknya dan ke arah Zarathos sekali lagi.
"Le-lendir?? Kau! ... Ah sudahlah aku tidak ingin mendengar bahan-bahannya lagi, sudah cukup aku tidak mau mengetahui apapun tentang ini."
Rika terus menahan rasa mualnya agar obatnya tidak keluar bersama muntahannya, ia benar-benar kesal dengan Zarathos yang malah memberitahunya disaat ia sedang meminum jamunya dan bukan disaat ia menanyakannya.
'Sialan! Aku tidak menyangka perempuan di dunia bawah ini akan meminum jamu dengan bahan yang tidak lazim saat Haid!' pikir Rika dengan air mata berlinang menahan rasa mual yang menjadi-jadi.
"Ahahahahahahaha! Lihat wajahmu lucu sekali gyahahaahahaaha!!"
"Zarathos!!!"
"Ampun Rika! Maaf-maaf!"
"Tidak ada maaf bagimu sialan!"
"Ahahahahaha!"
Zarathos langsung keluar dari kereta dan berlari meninggalkan Rika dan prajurit pengawal mereka, sementara itu Rika juga ikut keluar dan mengejar Zarathos dengan kecepatan tinggi lalu para prajurit yang melihat hal itu hanya bisa diam dan tercengang.
"Wow, mereka bahkan masih bisa bermesraan di dalam perjalanan," gumam Enja yang sedang mengendarai kuda di samping Suija yang sedang mengendalikan kuda yang menarik kereta tuannya.
"Ya mau bagaimana lagi, rayakan saja," tanggap Suija dengan wajah datarnya, lalu bibirnya nampak sedikit melengkung ke atas tanda ia tersenyum melihat interaksi raja mereka dengan Rika.
Bersambung