Darimu aku belajar mencintai dengan ikhlas, meski tak terbalas.
(Nama yang selalu menjadi perbincangan disepertiga malamku)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Hari-hari berikutnya di isi oleh Indara seperti biasa. Hingga hari Minggu tiba, dimana dia sudah berjanji dengan Ibam untuk keluar. Sepertinya Indara juga tidak mengetahui kemana Ibam akan mengajaknya. Kebiasaan Indara memang bangun pagi, meskipun dalam keadaan belum suci ia sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit. Pagi ini ai enggan sekali untuk jogging, mungkin karena siklus yang menjadi penyebabnya.
Setelah membereskan tempat tidur ia meraih ponselnya untuk sekedar mengecek. Namun belum ada sedetik ponsel tersebut di tangannya. Ia mendapat notifikasi pesan dari Ibam.
Assalamualaikum Dara. Kamu nggak lupa kan hari ini. Jam sembilan aku jemput yah.
Rasanya wajah Indara seperti terbakar, padahal matahari sama sekali belum menampakkan sinarnya.
“Waalaikumussalam. Iya inget kok.” Balas Dara dengan diakhiri oleh senyum merekahnya.
Setelah membalas pesan Ibam, Indara segera menuruni anak tangga untuk menuju dapur.
“Bu Titi sama Naura mau dibantu ngapain nih ?” Tanyanya pada dua orang perempuan yang masih sibuk didapur.
“Ehh, nggak usah mbak Ara. Mending pergi jogging saja.” Tolak Bu Titi yang malah menawarinya lari pagi.
“Masih males bu, biasa tiap bulan.” Tolaknya dan mendaratkan tubuhnya di kursi tepat depan dapur.
“Ohh, belum selesai mbak cantik ?” Tanya Nuara sambil mengambil piring didalam lemari.
“Hu’um Nau.” Jawabnya. “Aku kedepan deh ketempat bude’.” Ucapnya kembali.
Dengan segera ia membawa tubuhnya itu berjalan menuju taman depan tempat bude’ Aya berada. Kaki jenjang Indara kini sudah terlihat menapaki ubin ruang tamu.
“Bude’.” Panggilnya dan membuat bude’ Aya sedikit terkejut.
“Kalau manggil itu jangan keras-keras. Buat bude’ kaget lagi.” Ucap Bude’ Aya yang masih menyiram tanamannya.
“Hehehe, iya bude’ maaf.” Ujar Indara dengan cengirannya. “Ara aja bude’, Ara mau nyiram bantu bude’.” Ucapnya dan mengambil alih selang dari tangan Bude’ Aya.
“Kamu kenapa Ra ? Kok semangat gitu ?” Tanya Bude’ Aya beruntun.
“Hmmm, nggak bude’. Ara nggak kenapa-kenapa.” Jawabnya sambil menyunggingkan senyum tipis.
“Ihhh, nggak kenapa-kenapa gimana. kayak orang senang gitu.” Tutur Bude’ Aya kemudian dan memeriksa tanamannya.
“Bude’.” Panggil Indara.
“Hmm.”
“Boleh nggak Ara keluar hari ini ?” Tanya kembali.
“kemana ?” Bude’ Aya balik bertanya.
“Nggak tau bude’.” Jawab Indara yang sungkan menatap Bude’ Aya.
“Emang sama siapa ?” Tanya Bude’ Aya kembali.
“Sama Ibam bude’.”
“Hmmm, ijin mau pergi sama Ibam nih ?” Tanya Bude’ Aya dan menatap Indara. “Jadi ini penyebabnya kamu senyam senyum dari tadi ?” Tanyanya kembali.
“Nggak bude’, kan emang kalau pagi-pagi itu harus senyum bude’ biar harinya tetap ceria.” Elak Indara.
“Iya iya Ra. Kamu bisa aja yah.” Ucap Bude’ Aya. “Tapi kamu ingatkan ?” Tanyanya kembali.
“Iya bude’ Ara inget kok. Jangan terlalu dekat dengan laki-laki meskipun berteman. Jangan sampai melewati batas. Ntar juga Ara akan bawa motor kok, jadi sendiri-sendiri. Ara juga akan balik sebelum Magrib bude’ atau malah sebelum Ashar.” Jelas Indara pada Bude’ Aya.
“Ya udah, ntar pertemuin dulu Ibam sama bude’.” Ucap Bude’ Aya dan meninggalkan Indara yang masih menyiram tanaman.
“Iya bude’.” Jawab Indara.
***
Ibam sudah berada di depan rumah bude’ Aya. Tepat saat Ibam akan menekan bel rumah bude’ Aya, ternyata seseorang telah lebih dulu membuka pintu rumah tersebut. Dari dalam rumah nampak lah seorang gadis yang menggunakan tunik berwarna denim bermotifkan bunga kecil-kecil dengan bawahan kulot plisket berwarna hitam dan dipadukan dengan jilbab berwarna gelap. Sungguh gadis itu terlihat begitu anggun juga kekinian. Dengan segera ia berjalan menuju pintu gerbang setelah melihat Ibam yang sudah berdiri di depan sana.
“Assalamualaikum Dara.” Ucap Ibam dengan senyum tipis.
Indara pun membalas senyum Ibam “Waalaikumussalam." Ucapnya dan membuka pintu gerbang untuk Ibam. “Ayo masuk dulu, bude’ mau ketemu kamu dulu katanya.” Lanjutnya dan mempersilahkan Ibam masuk.
Ibam yang mendengar ucapan Dara sontak saja dibuat senam jantung. Rasanya seperti ia sedang akan mengajak kencan anak orang. Seketika ia merasakan tenggorokannya mendadak kering.
“Motor kamu mana ?” Tanya Dara yang menatap sembarang arah karena tak mendapati motor Ibam terparkir disana.
Seakan Ibam tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya namun ia dengan sekuatnya untuk tetap terlihat tenang. “Kita pakai mobil aja.”
“Nggak ah, motoran aja. Pakai motor sendiri-sendiri.” Tolak Dara karena tak ingin semobil berdua dengan Ibam. “Ini aku juga mau manasin motor nih.” Ucap Indara kembali dan memperlihatkan kunci motor yang kini ada ditangannya.
Ibam yang menyadari alasan dibalik Indara yang menolak semobil dengannya, dengan tegap langkahnya menuju pintu depan penumpang mobil. Kemudian tangan laki-laki yang tengah memakai kaos oblong yang dibalut jaket hitam itu membuka pintu, dari sana terlihat kaki mungil seseorang.
Indara yang memandang hal tersebut langsung mengerutkan dahi kemudian menyadari siapa yang tengah dipersilahkan turun oleh Ibam.
“Tuan putri.” Panggil Indara dan langsung berjalan menuju mobil.
“Tanteee Araaaaa.” Panggil Ina kembali dengan suara yang begitu melengking khas anak kecil.
Indara yang melihat Ina juga berlari kearahnya sontak merentangkan tangan dan menjongkokkan badan. Ina pun segera berhambur dalam pelukan gadis tersebut.
“Assalamualaikum tante Ara.” Salam Ina yang masih berada didalam pelukan Indara. “Ina kangen tante Ara.” Ucapnya kembali.
“Waalaikumussalam. Iya putri. Tante juga kangen.” Jawab Ara dan mengelus punggung Ina. “Tuan putri kenapa tadi nggak ikut turun sama om Ibam ? Tuh liat jadi keringetan kan.” Tanya Indara yang sibuk menyeka keringat dipelipis Ina.
“Iya om Ibam bilang nggak lama. Cuma mau jemput tante Ara aja. Ternyata lama, jadinya Ina keringetan didalam.” Jawab gadis kecil itu dengan polosnya.
Mendengar penuturan Ina pada Indara, membuat Ibam berpura-pura tak mendengar percakapan kedua perempuan itu.
“Kenapa kamu tega sekali pada keponakanmu sendiri ?” Tanya Indara yang menatap Ibam seolah bola matanya akan keluar dari tempatnya. “Tega sekali kamu ini.” Ucapnya kembali.
“Iya tega sekali tante.” Jawab Ina yang seolah memanas-manasi Indara.
“Ina, kenapa begitu sama om ?” Ucap Ibam seperti sedang membela diri, namun dengan tatapan yang begitu memelas.
“Om kan memang tega.” Jawab Ina kembali. “Ayo tante naik.” Ajak Ina yang menarik tangan Indara untuk masuk ke dalam mobil.
“Sebentar ya tuan putri. Om Ibam harus ketemu dulu sama Bude’ Aya. Nggak apa-apa kan ?” Tanya Indara pada Ina sembari diangkat untuk digendongnya.
“Kenapa memangnya tante ? Kenapa Bu Haya mau bertemu om Ibam. Apa om Ibam bikin luka tante Ara lagi ? Biar Ina kasih tau nenek nyai.” Tanya gadis kecil itu yang terlihat malah menggemaskan.
“Nggak tuan putri, Bude’ Aya memang mau ketemu om Ibam. Bukan berarti om Ibam bikin luka tante Ara lagi. Tante juga belum mengambil tas, jadi kita harus masuk dulu yah.” Jawab Indara yang memberikan pengertian pada Ina.
“Oh.” Ucap Ina yang seolah mengerti ucapan Indara.
“Ayo Bam.” Ajak Indara kembali dan mendahului Ibam masuk. Sementara Ina masih berada didalam gendongan Indara. Gadis kecil itu terlihat begitu manja dengan Indara.
Ibam semakin dibuat gugup saja, bukannya Indara tak menyadari Ibam yang tengah diliputi oleh rasa gugup. Namun Indara hanya memilih cuek dan seolah tak mengetahui. Dengan langkah yang dibuat sebiasa mungkin, Ibam mengekor Indara.
Hingga saat mereka sampai tepat di depan pintu rumah Bude’ Aya. Sontak saja Ibam semakin dibuat gugup, rasanya ia seperti akan menduduki bara api saat melihat sofa yang berada diruang tamu Bude’ Aya. Ibam merasa seperti seseorang yang telah berbuat kesalahan dan sebentar lagi akan disidang. Padahal ia hanya akan mengajak Indara keluar, itupun juga bersama Ina.
“Ayo masuk Bam.” Ajak Indara yang menyadari Ibam tengah mematung diambang pintu. “Aku panggilin bude’ dulu.” Ucapnya kembali tanpa menurunkan Ina dari gendongannya.
“Eh iya.” Ucap Ibam dengan cengengesannya. “Assalamualaikum.” Ucapnya kembali dengan suara yang bergetar.
“Waalaikumussalam.” Jawab seseorang dari arah dalam rumah itu.