"Bisakah kita segera menikah? Aku hamil." ucap Shea Marlove dengan kegugupan ia berusaha mengatakan hal itu.
Tak ada suara selain hembusan nafas, sampai akhirnya pria itu berani berucap.
"Jangan lahirkan bayinya, lagipula kita masih muda. Aku cukup mencintaimu tanpa perlu hadirnya bayi dalam kehidupan kita. Besok aku temani ke rumah sakit, lalu buang saja bayinya." balas pria dengan nama Aslan Maverick itu.
Seketika itu juga tangan Shea terkepal, bahkan jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelum ia gugup mengatakan soal kehamilannya.
"Bajingan kau Aslan! Ini bayi kita, calon Anak kita!" tegas Shea.
"Ya, tapi aku hanya cukup kau dalam hidupku bukan bayi!" ucapnya. Shea melangkah mundur, ia menjauh dari Aslan.
Mungkin jika ia tak bertemu dengan Aslan maka ia akan baik-baik saja, sayangnya takdir hidupnya cukup jahat. ......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagita Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Shea terus melangkah mundur, bukankah ia harus menelpon Matthew? Ini terlalu bahaya kalau ia harus menghadapi Aslan seorang diri.
Shea berucap pelan pada sopir milik Matthew.
“Kita kembali saja, tolong antar aku lagi ke tempat Matthew.” ucap Shea pada sopir itu.
Aslan mendengar suara Shea, mana bisa begitu! Memang bagi Aslan, Matthew ini benar-benar pengganggu untuknya. Ia benci sekali karena Shea seperti ketergantungan pada Matthew.
Sial! Aslan tak suka itu.
“Aron, bereskan sopir itu.” perintah Aslan.
“Baik Tuan.” balas Aron.
Aron langsung menarik tubuh sopir itu dengan kuat.
Shea yang melihat itu langsung terkejut.
“Mau apa kau? Lepaskan dia, kau…”
“Ssssttt. Shea, jangan membuatnya dalam masalah. Urusan aku itu hanya dengan kau saja, apa kau mau merubah seorang yang hidup jadi mati?” tanya Aslan.
Shea terkejut mendengar ucapan menakutkan Aslan.
Shea menoleh, rupanya Aslan sudah berada didekatnya.
“Brengsek! Apa kau gila? Aku tak punya urusan denganmu lagi!” ucap Shea dengan tatapan yang dipenuhi emosi.
Aslan semakin dekat, sedangkan Shea terus mundur lalu pergi tanpa mau mendengar ucapan Aslan lagi.
Sampai di luar bandara, tangannya Shea langsung ditahan oleh Aslan.
“Sayang.” ucap Aslan.
“Tutup mulutmu gila! Jangan pernah menyebutku sayang!” peringat Shea.
Aslan makin suka walau sekalipun percakapan mereka berdua tak bagus, tampaknya Shea begitu membencinya.
Namun hal itu bukan masalah besar bagi Aslan, karena mereka pernah saling mencintai di masa lalu. Begitulah pikir Aslan.
Aslan menahan Shea, tapi Shea segera menepis kasar tangan Aslan, namun detik setelahnya pinggang Shea langsung ditarik oleh Aslan dengan kuat.
Tubuh mereka menyatu dengan posisi yang intim, mata mereka juga bertemu begitu dekat.
“Kau selalu cantik sayang.” ucap Aslan begitu lembut.
Air mata Shea hampir menetes membuat senyum Aslan sedikit pudar.
“Apa kau takut denganku? Takut apa hm? Aku tak akan menyakitimu sayang, aku sangat mencintaimu.” ucap Aslan menempelkan ujung hidungnya tepat di pipi Shea.
Aslan mengendus wangi Shea yang selalu candu untuknya dan sialnya Aslan merasakan parfum pria lain.
Ah sial, Aslan tak terima dan ia jadi teringat tentang mimpi itu. Mimpi dimana Shea dan Matthew bercinta di hadapan Aslan.
Aslan berbisik dengan sangat pelan di telinga Shea, pemberontakan Shea tak ada apa-apanya bagi Aslan.
“Ikut aku, atau aku yang ikut kau. Pilih Shea.” ucap Aslan berbisik.
Shea berusaha mendorong tubuh Aslan, mulutnya kelu untuk bicara. Shea seolah tak mampu mengucapkan kata-kata, karena dada Shea terlalu sesak saat ingin mengatakan segalanya.
Hingga…
Cup!
Bibir Aslan menempel di pipi Shea membuat mata Shea melotot penuh amarah. Saat itu juga sedikit tenaga Shea membuat tubuh Aslan terdorong.
Plak!
Shea tampar wajah Aslan, jujur Shea melihat kalau wajah Aslan tak semulus dulu. Terlalu banyak bekas luka disana. Pria itu tampak sekali kacau dengan banyak bekas luka itu di wajahnya, namun persetan untuk semuanya. Shea tak peduli, itu urusan Aslan.
Shea mundur, koper yang tertinggal miliknya segera ia bawa pergi keluar dari bandara itu.
Shea langsung meminta seorang sopir taksi membantunya, tapi yang gilanya Aslan masih mengekor Shea.
Saat Shea masuk ke dalam taksi itu, Aslan pun mengikuti Shea.
“Keluar!” ucap Shea tak suka.
“Sayang, bukankah pilihanmu agar aku mengikutimu hm?” ucap Aslan.
Tangan Aslan terulur, namun hanya hitungan detik saja Shea langsung menepisnya dengan kasar.
“Jangan gila ya! Aku tak sudi berdekatan denganmu! Jangan mengikutiku, aku sudah memiliki suami yang sangat aku cintai.” ucap Shea menatap Aslan dengan marah.
Ucapan Shea yang memancing amarah Aslan.
Rahang Aslan langsung mengeras, tangannya sampai terkepal karena ucapan Shea.
“Jalankan mobil taksinya sekarang!” perintah Aslan.
“Tidak! Tidak! Aku tak sudi bersama denganmu dan aku…”
“JALAN!” Teriak Aslan penuh amarah memerintah sopir yang tak juga mau jalan.
Shea yang mendengar teriakan Aslan langsung terkejut, belum pernah selama ini Shea melihat kemarahan Aslan. Selama mereka menjalin hubungan, Aslan selalu lembut padanya.
Shea menunduk, tangannya menggenggam tangan miliknya sendiri.
Hingga…
Terdengar suara nafas Aslan, tangan Aslan menarik Shea masuk dalam pelukannya.
“Maafkan aku sayang, aku tak bermaksud membentakmu. Aku hanya tak suka mendengar ucapanmu. Kau hanya boleh mencintaiku.” ucap Aslan dengan lembut.
Mobil taksi akhirnya jalan.
Shea berusaha tak terisak, ia sekuat tenaga menahan isak tangisnya karena dadanya sesak berdekatan dengan sumber lukanya.
Shea perlu obat, dia mau minum obat tapi ia lebih takut kalau ia malah tertidur di dalam pelukan Aslan.
Shea dorong tubuh Aslan yang memeluknya.
“Menjauh! Menjauh dariku, kau tak berhak atasku. Aku membencimu, kau bukan siapa-siapa untukku.” ucap Shea pelan.
Aslan melepaskan pelukan itu, ia tersenyum menatap Shea yang sudah meneteskan air matanya. Tangan Aslan memberikan elusan lembut di puncak kepala Shea.
“Tidakkah kau mengerti Aslan? Aku membencimu dan aku tak mau berdekatan denganmu, jangan mengusikku!” ucap Shea.
Mata mereka berdua bertemu, ah Aslan selalu merindukan wajah cantik itu. Shea begitu sempurna di mata Aslan dan cintanya untuk Shea tak pernah pudar.
Tangan Shea terkepal hingga bergetar, melihat wajah Aslan hanya membuat luka lama milik Shea kembali terbuka.
Segala ingatan tentang Aslan benar-benar melukai Shea.
Shea memutuskan tatapan itu.
“Aku muak denganmu, aku sangat membencimu!” ucap Shea.
Tangan Aslan berpindah ke wajah Shea, Aslan usap air mata Shea. Hanya perlu hitungan detik, tangan Aslan kembali ditepis Shea.
“Apapun yang kau lakukan, tak akan bisa mengubah masa lalu.” ucap Shea.
“Benar, nyatanya tak ada yang berubah Shea. Semua telah terjadi, dan aku cuma butuh kau disisiku. Hanya kau!” ucap Aslan begitu lembut.
Air mata Shea jatuh lagi.
“Tutup mulutmu, jangan katakan apapun lagi!” ucap Shea.
Shea mau mengabaikan ucapan Aslan yang sering ia dengar.
“Aku benar-benar tak perlu apapun selain dirimu Shea, aku hanya memerlukanmu. Tolong jangan tinggalkan aku lagi, jangan membuatku menderita. Pahami aku She.” ucap Aslan.
Nafas Shea memburu, ia menatap Aslan lagi dengan amarah.
“Jangan membuat aku jadi terlihat jahat Aslan! Kau yang membuat aku pergi! Apapun pilihanku, kau tak berhak menyalahkan aku! Hubungan dimasa lalu kita, tak berhak buat ada. Aku bukan Shea yang kau kenal lagi dan terlebih aku hanya perlu suamiku, bukan kau!” ucap Shea dengan tegas.
Aslan tersenyum miring mendengar ucapan Shea.
“Tidak! Kau akan tetap disisiku, kali ini aku tak akan melepaskanmu Shea. Kau akan selamanya bersamaku. Terserah bagaimana kau menganggapku, aku tak peduli. Selagi kau disisiku.” ucap Aslan.
Aslan menarik Shea masuk ke pelukannya, pelukan itu erat dan Aslan membiarkan Shea berontak. Bagaimanapun pemberontakan Shea, tetap saja kekuatan Aslan lebih besar dari Shea.
Puncak kepala Shea dikecup oleh Aslan beberapa kali.
'Kau milikku Shea, hanya milikku.' ucap Aslan membatin.
***
Satu jam setelahnya, Shea dibawa masuk oleh Aslan ke sebuah Mansion mewah.
“Bawa kopernya masuk.” ucap Aslan pada seorang pelayan.
“Baik Tuan.” balasnya patuh.
“Lepas Aslan! Lepas!” pekik Shea marah.
Aslan tak melepaskan tautan tangannya di tangan Shea.
Shea benar-benar sangat marah, ia berontak sekuat tenaga tapi Aslan tak mau melepaskannya.
“Shea, jalanlah atau kau mau aku gendong?” ucap Aslan memberi opsi.
Mata mereka kembali saling menatap, hingga ponsel Shea berdering di dalam tasnya. Ada panggilan yang berasal dari nomor asing.
Untuk hal itu, Shea tampak tak mengabaikannya.
Shea menatap layar ponselnya, tanpa banyak berbasa-basi Shea langsung mengangkat panggilan itu walau tangan satunya masih dalam genggaman Aslan.
“Maaf mengganggu waktunya, kami dari pihak kepolisian ingin menyampaikan sesuatu. Apa benar saya bicara dengan Nyonya Shea Marlove?” tanya nya.
“Hm, saya sendiri.” balas Shea.
Ada perasaan tak enak yang langsung mengganggu Shea.
“Saya mau menyampaikan kalau suami anda, Tuan Matthew Cassius mengalami kecelakaan saat mengemudi. Tuan Cassius sekarang dilarikan kerumah sakit.” ucapnya.
Mendadak Shea sulit bernafas.
“Anda bisa segera datang ke rumah sakit kota, Nyonya Shea.” ucapnya lagi.
Panggilan berakhir membuat Shea mencoba menarik tangannya dari Aslan lagi.
“Lepaskan aku Aslan, aku harus segera ke rumah sakit.” ucap Shea terus menarik tangannya.
“Shea, masuklah. Aku tak akan…”
“Suamiku kecelakaan! Jangan menahanku sialan!” marah Shea.
Tautan tangan itu terlepas, Shea melangkah pergi dari arah Mansion itu membuat Aslan memilih diam. Sudut bibir Aslan tertarik hanya untuk mengukir senyum.
Sampai suara Aslan terdengar.
“Entah kenapa ini terasa menyenangkan, aku berharap suamimu tiada saja. Kalian memang tak berjodoh, karena hanya aku yang akan menjadi jodohmu Shea.” ucap Aslan membuat langkah Shea terhenti.
Tangan Shea kembali terkepal.
Shea membalikan tubuhnya hanya untuk berucap.
“Aku semakin membencimu, Aslan!” ucap Shea.
Setelahnya Shea berlari, ia menjauh dari kawasan Mansion milik Aslan.
Bersambung…
curiga mata udah menyelidiki no asing itu. makanya dia merubah keberangkatan nya ke los angle.