Kabur dari rumah demi menghindari perjodohan gila yang direncanakan oleh pamannya membawa Kelaya sampai disebuah desa yang sangat jauh dari rumahnya, hingga ia berakhir pingsan di sebuah rumah di tengah hutan yang ternyata adalah milik seorang lelaki.
Ide gila muncul saat mengetahui lelaki itu masih melajang dengan wajah yang cukup menarik sebagai seorang peternak juga pengrajin kayu, dan minim bicara, membuat Kelaya mengajaknya menikah dan nekat menjebak lelaki itu agar mereka dinikahkan secara paksa oleh masyarakat setempat.
Ide itu muncul sebagai upaya mencegah pamannya untuk menjodohkannya kembali dan lagi pula Kelaya menyukai lelaki itu.
Masalahnya, lelaki itu bagaikan musim dingin yang panjang dan terlalu misterius. Rasanya Kelaya ingin menyerah saja untuk meluluhkan hati dingin lelaki itu.
Apakah Kelaya akan benar-benar menyerah apa lagi setelah mengetahui sebuah rahasia yang disembunyikan lelaki itu? Atau bertahan sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23. Rasa Yang Pahit
Debaran Kelaya semakin merajalela menguasai dalam dadanya, sorot mata Elkan yang semakin gelap merayap dan nyaris merebut kesadaran Kelaya.
"Elkan..." Suara Kelaya yang setengah lirih membuat sesuatu juga mendesak pria itu untuk berbuat lebih. Tangan kasar dan besar yang hangat itu perlahan bergerak, mengusap lengan hingga ke pundak Kelaya yang membuat perempuan itu meremang di atas tubuh liat itu.
Tidak bisa! Kelaya berteriak dalam kepalanya. Otaknya terang-terangan melarangnya untuk diam di sana, namun tubuhnya berkehendak lain, tubuhnya menginginkan sentuhan itu terus bergerak. Lagi dan lagi.
"Elkan... apa yang kau lakukan?" Suara Kelaya pelan, dengan kedua matanya yang terpejam saat ia merasai sentuhan hangat itu membelai pipinya.
"Kau sendiri...apa yang kau lakukan di dekatku tadi?" Suara berat Elkan yang serak menggetarkan kesadaran Kelaya.
Cepat bangun Kelaya! Titah otaknya. Tapi tubuhnya masih ngeyel untuk mematuhi perintah.
"Aku hanya...aku hanya..." Ah, Kelaya bahkan kehilangan fokusknya saat jemari Elkan menyapu permukaan bibir merah muda yang lembut dan kenyal itu. Gumpalan yang telah dia rasai dan membuatnya selalu menahan diri untuk tidak kecanduan.
"Kau memancingku duluan, Kelaya..."
"Tidak...aku tidak..."
"Kenapa kau tidak tidur?"
"Aku hanya..."
"Kenapa kau malah menghampiriku?"
"Tapi aku..."
"Kau bertanya padaku sebelumnya, apakah aku bisa melakukannya dengan perempuan yang tidak kusuka?"
Kelaya membuka kelopak matanya yang sempat terpejam menikmati sentuhan pria itu. Tatapan mata Kelaya menjeritkan jawaban bahwa Kelaya ingin tahu.
"Baiklah, mari kita cari tahu, apakah aku bisa."
Sreg! Dengan sekali gerakan, Elkan memutar posisi mereka. Elkan yang tadinya berada di bawah Kelaya, kini posisi itu digantikan oleh Kelaya yang terkukung oleh kedua lengan kekar berotot Elkan yang mengunci sisi-sisi tubuhnya. Tubuh Elkan yang besar itu seperti bayangan hitam yang mengarungi tubuh kecil Kelaya di bawahnya. Napasnya yang hangat dan berhembus berat membuat Kelaya kehilangan daya untuk melawan.
"Elkan...aku hanya ingin melakukannya bersama seseorang yang mencintaiku." kata-kata Kelaya membuat sorot gelap itu memudar. Ia memejamkan matanya sebentar, kemudian kembali menampakkan wajahnya dengan ekspresi datar kebanggaannya.
"Apakah kau akan mencintaiku jika aku berikan milikku hanya kepadamu?"
"Tidak." jawab Elkan.
"Ap-apa?" Keterkejutan terdengar nyaris sempurna pada suara Kelaya.
"Aku hanya menjawab pertanyaanmu, apakah aku bisa atau tidak bisa, melakukannya dengan perempuan yang tidak aku suka."
Ah, kenapa pahit sekali rasanya?
Sudah kukatakan untuk sadar, dasar bodoh! Suara dalam otak Kelaya mengomel dengan sangat nyaring.
"Kalau begitu, menyingkir dari tubuhku!" Ujar Kelaya dengan tegas.
"Kenapa? Bukankah kau yang mendekatiku lebih dulu?"
Kelaya mendorong dada Elkan hingga dia bisa duduk dan berdiri dari pria yang kini duduk memandang dirinya dengan sorot dinginnya yang biasa.
"Aku hanya ingin menyelimutimu!" kata Kelaya seraya menendang selimut yang tergeletak lagi di atas lantai kayu itu. "Lagi pula, jika pun kau tetap melakukannya padaku, aku akan menuntut pertanggung jawabanmu untuk menafkahiku sampai akhir hayatmu, jika aku hamil, kau juga harus menafkahi anakmu, aku tidak akan melepaskanmu lepas dari tanggung jawab setelah kau merenggut milikku, yang aku yakin, kau tidak akan pernah menyukai hidup dengan tanggung jawab besar seperti itu!" Kelaya mengucapkannya dengan tajam. Sorot kekecewaan, penyesalan dan malu bercampur menjadi satu dalam hazel matanya yang mulai berkaca.
"Kalau begitu, jaga jarakmu dariku. Jangan memancing hasratku sebagai laki-laki, karena aku tidak suka tanggung seperti itu." jawab Elkan dengan kata-kata yang sangat menusuk setiap permukaan hati Kelaya.
"Aku hanya bertanggung jawab atas keselamatanmu sebagai status istriku di desa ini."
Kelaya mengepalkan kedua tangannya, menahan sakit dan pahitnya setiap kata yang diterimanya dari pria yang sudah membuatnya jatuh cinta tapi juga terluka.
"Kalau begitu, kau juga tidak boleh menyentuhku lagi."
"Ya."
Tidak ada lagi kalimat yang mereka lontarkan, Kelaya kembali masuk ke dalam kamar, bersandar pada pintu yang ditutupnya rapat. Dia merosot hingga terduduk di atas lantai, dadanya sesak, sakit sekali mencintai seseorang yang terang-terangan membencinya. Dan pada akhirnya, ia hanya mampu meneteskan air matanya, menangis tanpa suara sungguh menyedihkan.
Sementara pria yang masih duduk bersandar pada lantai kayu itu masih dengan ekspresinya yang datar dan tatapannya yang lurus pada pintu kamar yang tertutup. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas kursi, mengabaikan kain selimut yang menjadi alasan Kelaya mendatanginya. Ia memejamkan matanya, mengabaikan mati-matian segala rasa asing yang mengusik dadanya dari segala sisi, menghantamnya dengan sangat keras.
* * *
Kelaya tidak merajuk, tapi ini jauh lebih meresahkan. Sikap Kelaya yang menjadi dingin dan benar-benar menjaga jarak dari Elkan membuat Elkan sedikit tertegun pada awalnya. Namun, ia tidak bisa melayangkan protes apa-apa karena dia tidak mengalami amnesia dan melupakan setiap kata yang dia berikan kepada Kelaya.
Sebuah mobil pick up dua baris datang di depan rumah Elkan, hari ini jadwal belanja untuk keperluan ladang dan peternakan, Hendra yang biasanya dibayar Elkan untuk membantunya belanja tidak lagi bisa membantu karena pindah rumah, dan Elkan terlalu malas menjelaskan hal baru pada orang baru, jadi ia hanya menyewa jasa mobil dan supir untuk mengantarkannya ke kota untuk berbelanja.
Kelaya ikut serta dalam perjalanan itu, dengan alasannya, dia akan belajar berbelanja keperluan ladang dan peternakan. Elkan tidak melarangnya dan membiarkan perempuan itu ikut. Elkan duduk di samping supir, sementara Kelaya duduk pada kursi penumpang di belakang supir. Wajahnya selalu melihat keluar jendela, tidak sekali pun Kelaya melirik padanya apa lagi melihatnya. Ia terlihat tenang, tapi juga terlihat jauh dari pada ketika perempuan itu merajuk.
Ah, seharusnya Elkan tidak perlu risau dengan perubahan Kelaya yang sangat tiba-tiba itu, kan?
Tiga jam perjalanan diisi dengan lagu-lagu dari radio yang terkadang sinyalnya hilang. Si supir sudah tahu bagaimana karakter Elkan yang irit bicara, jadi tak heran jika suami dan istri itu tidak banyak bicara dalam perjalanan mereka.
Supir dan mobil menunggu di tempat lain, sementara Kelaya mengikuti kemana pun Elkan pergi. Ia memperhatikan bagaimana cara Elkan menawar, apa saja yang dibeli, apa saja yang diperlukan dan dibutuhkan. Ia tetap melakukannya dalam jarak satu meter berdiri dari Elkan, tanpa banyak bicara.
Satu kios membuat perhatian Kelaya tertarik, dia tanpa ijin dan pamit dari Elkan yang masih sibuk memilih bibit terbaik untuk ladangnya, berjalan menjauh dari tempat Elkan berada. Kios yang menjual pernak pernik dan alat-alat menjahit super lengkap ada disana, beragam warna benang jahit sampai benang sulam dijajakan. Tiba-tiba ia rindu kegiatan menjahitnya dulu.
"Ada yang mau dibeli?" tanya si penjual dengan bahasa daerahnya yang kental.
"Maaf Bu, saya tidak bisa bahasa daerah." Sahut Kelaya dengan sopan dan seulas senyum manis.
"Apa ada yang mau dibeli, bisa dilihat-lihat dulu." kata si ibu penjual mengulang dengan bahasa yang dimengerti Kelaya.
"Ah, maaf, Bu, saya tidak ada uang, ehm, dompet saya tertinggal. Suami saya disana sedang memilih bibit untuk di ladang." jawab Kelaya menjelaskan dengan singkat.
"Oh begitu, mungkin lain kali bisa mampir ke sini lagi. Di sini kualitas benang-benangnya bagus."
Kelaya mengangguk. "Boleh saya lihat-lihat dulu, Bu?"
"Silahkan."
Senyum manis Kelaya semakin merekah, meski pun dia sangat ingin membeli beberapa benang sulam itu dan alat-alat menyulam, dia tidak akan menjatuhkan lagi harga dirinya dengan meminta uang kepada Elkan. Tidak! Dia akan memuaskan dirinya hanya dengan mencuci matanya seperti ini.
"Hei, orang asing! Kita bertemu lagi!" Suara pria yang tak terdengar asing membuat Kelaya menolehkan kepalanya.
"Kau!" Kedua mata Kelaya melebar.
"Hei, kenapa melihatku seperti itu? Apa aku sangat tampan sampai membuatmu terpesona."
"Ish!" Kelaya memutar bola matanya dengan sikap malas. Dia kemudian pamit dari si ibu penjual dan meninggalkan kios untuk kembali ke tempat Elkan tadi, tapi Elkan sudah tidak ada di sana.
Matilah aku! Batin Kelaya meringis nyeri.
Cekrek!
"Hei!" Kelaya protes ketika menyadari orang asing itu baru saja memotretnya. "Siapa yang mengijinkanmu memotretku?!" Kelaya berkacak pinggang.
"Semesta." jawab pria itu dengan santainya sambil melihat hasilnya. "Lihat, kau terlihat...pendek!"
"Cepat hapus! Dasar menyebalkan!" Kelaya hendak merebut kamera pria itu, tapi perbedaan tinggi mereka yang mencolok tentu saja membuat Kelaya gagal mendapatkan kamera yang diangkat tinggi-tinggi oleh pria itu, meskipun Kelaya loncat-loncat seperti kanguru. Pria itu tertawa melihat Kelaya yang memasang wajah masam.
"Baiklah akan aku hapus, tapi kita berteman." Pria itu mengajukan syarat yang membuat Kelaya memberengut.
"Apa?"
"Kau tahu, ketika dua orang asing sudah lebih dari satu kali bertemu dengan tidak sengaja, itu artinya mereka tidak lagi asing."
Kelaya mendengus, "Kenapa kau sangat ingin berkenalan denganku, sih? Seperti orang jatuh cinta pada pandangan pertama saja!"
"Kalau iya, kenapa?"
Kelaya mendesis alih-alih tersipu malu. Ia memicingkan matanya melihat pria itu dengan tatapan sinis. "Kurasa aku sudah memberitahumu aku wanita yang sudah bersuami."
"Memang kenapa? Aku hanya jatuh cinta dan menyukaimu, tidak berniat merebutmu dari suamimu, kecuali jika kau sendiri yang ingin kabur bersamaku."
"Dasar gila!"
"Hahahaha!"
"Ayolah, kita berteman. Aku tidak punya teman di desa ini." Pinta pria itu kini dengan tampang memelas yang butuh dikasihani. Padahal saat ini, Kelaya lah yang paling patut untuk dikasihani.
"Kalau begitu pergi saja dari desa ini."
"Tidak bisa, pekerjaanku belum selesai."
"Memangnya tidak ada desa lain yang bisa kau ambil gambar-gambarnya."
"Ada, tapi objek-objek potretku ada di desa ini." jawabnya. "Berteman denganku, atau aku akan memajang potretmu di galeri pameranku di kota?"
"Jangan!" Kelaya sontak mencengkram krah kemeja pria itu sampai membuat pria itu sedikit menunduk karena tak siap.
"Wow, santai, aku tidak mungkin mencium istri orang di tengah pasar." Pria itu menyeringai lebar dan menyebalkan, tapi sialnya terlihat tampan, meski tidak setampan Elkan.
Ah, lagi-lagi Elkan. Pria itu bahkan menghilang, atau mungkin ia akhirnya memiliki kesempatan untuk membuang benalu seperti dirinya di tengah pasar.
Kelaya mendengus kasar dan melepaskan cekalannya. "Baiklah," katanya mengalah, dari pada potretnya dipajang di galeri orang gila ini.
"Aku, Dio."
"Kelaya."
Pria bernama Dio itu pun tersenyum puas dan menepati janjinya dengan menghapus potret Kelaya tadi dan menunjukkannya pada Kelaya. Matanya bergerak ke belakang Kelaya, di antara lalu lalang orang-orang di pasar itu ia melihat seseorang berjalan ke arah mereka. Bibirnya bergerak membentuk senyum tipis yang puas.
"Baiklah, kurasa aku harus kembali berburu objek sebelum kehabisan waktu. Sampai bertemu lagi, Aya." Dio mengacak puncak rambut Kelaya dengan gayanya yang ringan lalu berbalik meninggalkan Kelaya seraya memakai kaca mata hitamnya.
"Hei! Namaku Kelaya!" Ujar Kelaya setengah berteriak kesal, namun Dio hanya terus berjalan, tapi tetap melambaikan tangannya tanpa berbalik badan.
"Aku tahu namamu Kelaya."
.
.
.
Bersambung~~>>
Dio ganggu aja😁
pemilihan kata"nya jg indah...
knp baru nemu cerita sbagus ini😁👍🏻👍🏻