IG : Srt_tika92
Kisah cintanya tak seindah yang ia bayangkan. Milly harus berusaha keras mendapatkan cinta dari seorang pria bernama Mario yang tak lain adalah Sean,putra yang dibesarkan oleh sang ayah. Putra dari mantan istri ayahnya.
Milly bertemu Mario pertama kalinya di sebuah club malam, dan Milly langsung menjatuhkan hatinya pada pria tersebut.
Disini juga menceritakan bagaimana kisah cinta Gavin dan Mike untuk mendapatkan cinta sejatinya. ( kisah cinta keluarga besar Nugroho dan Yamazaki)
Ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susi sartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit sekali
Happy Reading
~
Hari ini, setelah pulang kuliah Milly pergi untuk menemui Gana, karena sudah lama sekali tidak pernah mengunjungi kuda peliharaannya itu.
Gana nama yang di berikan Milly pada kuda pemberian Brian saat Milly berulang tahun di usianya yang ke 20 tahun.
Setelah sampai, Milly tidak lupa menanyakan kesehatan Gana pada pria paruh baya yang selalu merawat kuda peliharaan keluarga Nugroho dan Mahess.
" Gana.. aku merindukan mu. " Milly bengelus - elus kepala gana.
" Apa kau tau? aku sedang sedih, pria yang ku cintai sangat menyebalkan, " celoteh Milly, seakan Gana tau apa yang di ucapkan Milly.
" Gana.. mau kah kau menemaniku? " Milly bersiap untuk menunggang Gana dan mengajaknya berkeliling area sekitar yang memang sudah tersedia, Milly sudah siap dengan pakaian khusus yang biasa ia pakai saat berkuda.
Satu jam Milly memacukan Gana, rasa lelah membuat Milly menyudahi aktivitas nya.
" Aauuuhhhhh.... " pekik Milly yang terjatuh saat turun dari kuda berwarna putih itu.
" Nonaaa... " Tom dan Tam segera menghampiri Milly yang jatuh tersungkur tidak jauh dari posisi Gana berada.
" Sakit... hiks.. hiks... " isakan Milly yang menahan sakit di pergelangan kaki kirinya.
Dengan sigap kedua bodyguard nya membawa Milly ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Milly mendapatkan perawatan langsung. Dokter yang menangani Milly mengatakan bahwa luka Milly tidak lah serius, kakinya hanya terkilir, dua atau tiga hari Milly akan sembuh.
Rafi yang baru selesai melakukan operasi langsung menghampiri Milly, ketika dia mendengar Milly di rawat di rumah sakit tempat dia bertugas.
" Milly.. " Rafi membuka pintu ruang dimana Milly dirawat, melihat Milly yang tengah berbaring di brankar.
" Kak Rafi.. " Milly segera mendudukan diri dan bersandar.
" Kau kenapa? " tanyanya camas melihat kaki Milly yang terlilit perban elastis berwarna coklat.
" Aku hanya terkilir saat bermain dengan Gana. " jelas Milly.
" Kenapa kau bisa ceroboh, " tanya Rafi penuh selidik, karena Rafi cukup tahu Milly sangat pandai menunggang kuda. " Apa yang sedang kau pikirkan? " tebak Rafi.
Seketika tangis Milly pecah, " Hiks.. hiks.. hiks... sakit sekali.. " Milly menepuk nepuk dadanya dengan telapak tangan. Milly mengingat kembali penolakan cinta yang ia terima.
" Hey.. kenapa kau menangis. " Rafi mengelus kepala Milly untuk menenangkan nya.
" Sakit sekali..hiks... " hanya kalimat itu yang keluar dari mulut nya. Susah payah Milly melupakan penolakan itu, tapi pertemuan kemarin dengan Mario, membuat Milly mengingatnya lagi.
" Sudahlah jangan menangis lagi. Daddy dan Mommy baru pulang nanti malam, Gavin dan Arnaf masih sibuk dengan pekerjaan nya, nanti mereka kesini. " Rafi yang sudah selesai bertugas bisa langsung menemani Milly, karena Brian dan Jia masih di luar kota jadi tanggung jawab Rafi untuk menjaga Milly.
" Ka Rafi, aku sangat bosan. aku ingin keluar. " ucap Milly dengan air mata yang masih menetes.
" Baiklah, kita akan ke taman. " Rafi memindahkan Milly duduk di kursi roda dan membawanya di taman rumah sakit.
" Milly, berhentilah menangis! kau tidak malu semua orang melihat mu! " ucap Rafi yang melihat Milly menangis sepanjang perjalanan.
" Di sini sangat sakit.. hiks.. " Milly menepuk dadanya.
" Kau ini aneh sekali, kaki mu yang terkilir kenapa dada mu yang sakit. " celetuk Rafi.
" Huaa... ka Rafi sama sekali tidak mengerti! "
" Diamlah.. kau membuat ku malu! " Rafi mengamati sekitar di area taman, tidak sedikit yang melihat ke arah mereka dengan tatapan penuh tanya.
" Kau menangis seperti sedang patah hati saja. "
Milly tak bergeming.
" Seperti orang yang di tolak cintanya! "
" Huaaa... ka Rafi jahat. " tangis Milly semakin pecah.
" Ah jadi memang benar. " tebak Rafi yang melihat Milly semakin meraung. " Lupakanlah, itu hanya cinta moonyyet yang tidak penting. "
Rafi terlihat gusar dan meraup wajahnya dengan kasar yang melihat Milly tak berhenti menangis.
" Menyusahkan saja! " batin Rafi.
" Jangan menangis lagi, aku akan mengambil minum, tunggu disini. " Rafi sengaja menghindar dengan beralasan mengambil air minum untuk Milly padahal Rafi sangat malu menjadi pusat perhatian orang yang ada di taman rumah sakit.
" Milly... " panggil seseorang.
Milly pun menoleh ke arah suara tersebut. " Tante.. "
" Kau kenapa? apa yang terjadi. " tanya Dinda yang kala itu sedang menemani Morgan untuk Checkup, tidak sengaja melihat Milly di taman rumah sakit itu.
" Aku hanya terkilir. " Milly berusaha berhenti menangis, mengusap sisa air matanya.
Dinda mengangkat wajah Milly yang terlihat sembab di sekitar matanya. " Kenapa menangis? apa sangat sakit? " tanya Dinda.
Milly mengangguk. " Iya tante, sakit sekali. " Milly kembali menepuk - nepuk dadanya.
Dinda mengernyitkan keningnya, " Mana yang sakit? "
" Di sini. " tunjuk Milly di sekitar dadanya.
" Bukannya kaki mu yang sakit? " tanya Dinda yang heran, kenapa Milly menunjuk dadanya sedangkan yang cidera kakinya.
" Mario... anak tante menyakitiku.. hiks.. hiks.. sakit sekali. " Milly tidak sungkan mengadu pada ibu dari pria yang menyakitinya.
Dinda menghela nafasnya dalam.
" Sayang.. dengarkan tante. " Dinda membelai pipi Milly. " Mario juga mencintai mu.. "
Milly berhenti sejenak dan menata ke arah Dinda, " Tidak mungkin. "
" Kau tidak percaya? " Milly menganggukan kepalanya.
" Oke, tante buktikan. " Dinda segera mengutak atik ponselnya. " Selesai, tidak lama lagi kau akan percaya.. " Dinda menaruh kembali ponselnya ke dalam tasnya.
Mario yang sedang Meeting di kejutkan dengan pesan dari Dinda, yang memberi tahu jika Milly sedang berada di rumah sakit.
Tidak perlu menunggu lama, Mario meninggalkan ruang Meeting begitu saja tanpa berpamitan atau memberi alasan.
Semua karyawan hanya bisa menatap dengan heran dengan tingkah bosnya yang tidak biasa, bahkan sang asisten pribadinya pun tidak menyangka, Mario meninggalkan meeting yang sangat penting untuk alasan yang belum jelas.
*
*
*
Jangan lupa Vote.. vote.. vote...
Karena Vote kalian membuat Author semangat up.
Bye.. bye..