Jackson Leonard Michaelson, pewaris tunggal dari seorang billioner Rusia yang memiliki wajah tampan, rahang yang tegas namun ia memiliki sifat yang sangat diingin. Jackson berada di Indonesia untuk melakukan beberapa pekerjaan, namun Ia tak sengaja bertemu dengan seorang wanita cantik yang berhasil menarik perhatiannya. Selama ini tak ada wanita yang berhasil menarik perhatian Jackson, namun berbeda halnya dengan wanita berwajah cantik yang satu ini.
Siapa kah wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desih nurani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kebahagiaan atau kesedihan?
"Hey Mr. Hero. Aku menolak untuk menikah dengan mu..."
Jackson menekan rem mobil secara mendadak. Alhasil Elsha sangat terkejut. Hampir saja keningnya terbentur.
"Apa yang anda lakukan?" tanya Elsha kesal. Jackson memberikan tatapan tajam. Lalu ia kembali melajukan mobilnya.
"ulang perkataan mu tadi." ucap Jackson datar.
"Saya bilang, saya menolak untuk menikah dengan anda." ucap Elsha santai. Jackson tersenyum simpul.
"why?" tanya Jackson tak kalah santai.
"Kenapa gak kaget sih?" ucap Elsha pelan. Namun masih dapat di dengar oleh Jackson.
"Why?" Jackson kembali mengulangi pertanyaannya. Elsha menatap Jackson lekat.
"Katakan jika anda mencintai ku." ucap Elsha menyipitkan matanya. Jackson mengernyit bingung dengan ucapan Elsha. Gadis itu sangat aneh.
"Why?" Jackson tetap mempertahankan pertanyaan yang belum Elsha jawab. Ia menghentikan mobil dibawah pohon rindang. Lalu memutar tubuhnya untuk menghadap Elsha.
"Karena banyak wanita disekelilingmu. Aku takut, takut kau meninggalkan aku. Kau sangat manis pada wanita mana pun. Aku tidak suka itu." Elsha benar-benar mengeluarkan isi hatinya. Air matanya mulai terbendung. Sejak kapan ia menjadi cengeng?
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Jackson menatap dalam netra sang kekasih. Ia merapikan rambut yang menghalangi wajah Elsha.
"Jangan tersenyum untuk orang lain. Jangan banyak bicara dengan wanita manapun, kecuali keluarga kita. Jangan...
"Aku akan melakukan itu. Asalkan kau bahagia." potong Jackson yang berhasil membuat Elsha terperangah. Padahal masih banyak yang ingin Elsha sampaikan.
"Belum selesai." rengek Elsha bagikan anak kecil. Ia mengerucutkan bibirnya. Ingin sekali rasanya Jackson menerkam gadis itu.
"Tidak perlu diselesaikan. Aku sudah tahu inti masalahnya." ucap Jackson kembali melajukan mobilnya. Elsha terdiam. Ia bingung harus bicara apa lagi . Sebenarnya sangat banyak pertanyaan dihatinya. Namun melihat wajah dingin Jackson ia langsung mengurungkan niatnya.
"Kenapa diam?" tanya Jackson saat suasana sangat hening.
"Tidak tahu bicara apa lagi." ucap Elsha menopang dagu. Ia menatap lurus kedepan.
"Ada apa? Katakan saja." ucap Jackson tanpa menoleh.
"Tidak ada." jawab Elsha cuek.
"Hmmm." mendengar gumaman Jackson. Elsha langsung menoleh.
"Kenapa cuek banget sih." ucap Elsha.
"Bukannya kamu yang minta hmmm?"
"Ck, iya. Tapi untuk orang lain. Saat kita berdua itu tidak berlaku. Mengerti Mr. Hero?" ucap Elsha.
"Aku belum mengerti. Cobak jelaskan lagi dengan cara lain agar aku lebih faham." Elsha mengernyit bingung.
"Maksudnya itu...
Cup! Sebuah kecupan hangat mendarat indah dipipi Elsha. Elsha sangat terkejut dengan perlakuan Jackson secara tiba tiba. Wajahnya bersemu merah.
"Itu adalah cara lebih efektif." ucap Jackson penuh arti. Namun sayang, Elsha sama sekali tidak mengerti dengan ucapan kekasihnya itu. Elsha hanya menunduk malu. Elsha tersenyum kecil.
***
"Ya ampun, hari ini terasa begitu panjang. Aku sangat bahagia." ucap Elsha menjatuhkan tubuhnya diatas kasur empuk yang sudah lama tak ia kunjungi. Elsha memutuskan untuk pulang ke apartemen miliknya. Sudah sangat lama ia tak pernah datang kesana.
Elsha tersenyum saat mengingat kembali kejadian dimobil bersama Jackson tadi. Tanganya terus menyetuh pipinya.
"Kenapa aku sangat bahagia? Seindah inikah jatuh cinta?Ahhh...ingin sekali rasanya aku berteriak. Aku sangat bahagia mama." ujar Elsha merentangkan tangannya sambil memainkan kedua kakinya. Ia melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Ah sudah sore ternyata." Elsha langsung beranjak menuju kamar mandi.
Malam hari Elsha kembali sibuk dengan tugas kampusnya. Matanya sudah terlihat lelah. Namun beberapa tugasnya belum juga kelar. Sesekali Elsha meregangkan otot nya yang terasa kaku.
"Semangat Elsha, sedikit lagi." ucapnya dengan mata yang terus tertuju pada benda persegi dihadapannya.
Beberapa saat kemudian, ia kembali merenggangkan otot nya. Matanya sudah diserang rasa kantuk. Perlahan ia berbaring dan meletakkan laptop miliknya di nakas. Matanya mulai terpejam.
Namun tak lama ponselnya berdering. Ia sangat terkejut dan kembali terbangun. Tanganya berusaha untuk mencari keberadaan ponselnya.
"Dimana sih?" ucapnya sambil mencari ponselnya dibalik bantal. Setelah menemukan ponsel kesayangannya, ia langsung menekan tombol hijau.
"Halo kak Mon ada... Kak? Kakak kenapa? Elsha langsung kesana." Elsha menyibak selimutnya dengan kasar dan langsung beranjak keluar dari kamar. Ia sangat terkejut mendapatkan telepon dari Monik tengah malam seperti ini.
Jarak apartment Elsha dengan Arzu tidak terlalu jauh. Jadi hanya 5 menit ia sudah berada di depan apartemen sang kakak. Dengan tangan gemetar ia membuka sandi, untung saja Arzu belum mengganti sandinya.
Dengan cepat Elsha masuk, ia mencari keberadaan Monik namun tidak terlihat. Elsha membuka pintu kamar sang kakak dengan cepat. Benar saja, disana Monik sudah jatuh pingsan.
"Kak mon, ya allah!!" teriak Elsha langsung menghampiri Monik. Wajahnya pucat seketika saat melihat darah segar yang sudah membasahi lantai.
"Ya allah, kak Zu kemana sih?" ucapnya kesal. Ia membantu Monik bangun. Sebelah tanganya merogoh ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Ya allah kak, kenapa bisa seperti ini sih?" Ia langsung membawa Monik kerumah sakit terdekat.
"Halo Ma, kak Mon pendarahan. Sekarang Elsha dirumah sakit xxx... Iya Ma, kak Zu tidak bisa dihubungi. Iya Ma, Elsha mengerti. Wa'alaikumusalam" Elsha duduk di kursi tunggu dengan begitu lemas. Ia menatap pintu UGD begitu lekat. Bibirnya terus bergerak untuk memanjatkan doa, kedua tangannya terpaut.
"Ya allah, tolong lindungi kak Mon dan bayinya." ucap Elsha. Ia bangun dari duduknya untuk mendekati pintu. Dia benar-benar gelisah.
"Elsha, bagaimana keadaannya?" tiba-tiba Arzu muncul dan mengejutkan Elsha.
"Ya ampun, kakak kemana aja sih? Kak mon pendarahan. Sudah tahu istri sedang hamil malah tidak pulang" omel Elsha menatap Arzu tajam.
"Maaf, rumah sakit sedang kekurangan dokter. Lalu bagaimana sekarang?" ujar Arzu berjalan kearah pintu. Wajahnya terlihat sangat pucat. Ia mendapat kabar dari Cella, Inna lah yang menghubungi dokter cantik itu.
"Dokter masih menangani kak Monik, kakak duduk dulu" ucap Elsha menghampiri Arzu.
"Bagaimana aku bisa sebodoh ini, ponsel ku lowbat" ucap Arzu memgacak rambutnya kasar. Ia terus berjalan kesana kemari.
Tak berapa lama dokter pun keluar. Arzu langsung mendekati dokter itu dengan wajah pucat. Elsha hanya bisa terdiam melihat Arzu yang sudah salah tingkah.
"Bapak suaminya?" tanya sang dokter yang langsung di jawab anggukkan oleh Arzu.
"Kami harus melakukan operasi secepatnya, istri anda mengalami pendarahan hebat dan anak yang ada dalam kandungannya harus segera di keluarkan" ucap sang dokter yang berhasil membuat Arzu lemas seketika.
"Ya tuhan, bagaimana ini bisa terjadi? Usia kandungannya belum genap 7 bulan dok" ucap Arzu mengusap wajahnya kasar.
"Maaf tuan, tapi istri anda harus segera di operasi. Jika tidak maka... "
"Lakukan yang terbaik dok, saya mohon selamatkan istri saya" ucap Arzu menatap sang dokter penuh harap. Elsha berjalan menghampiri sang kakak yang sudah terlihat frustrasi.
"Kami akan segera melakukan operasi, tolong segera urus administrasi nya tuan" ucap sang dokter yang langsung dijawab anggukan oleh Arzu.
"Banyak berdoa kak, kak Monik pasti kuat dan baby selamat" ucap Elsha menepuk pundak Arzu. Arzu menatap Elsha lekat, lalu ia memeluknya. Elsha membalas pelukkan Arzu dengan lembut.
"Terimakasih, jika kamu tidak ada. Kakak tidak tahu apa yang akan terjadi" ucap Arzu.
"Iya kak" ucap Elsha, ia mengelus pundak kakaknya dengan lembut.
Satu jam telah berlalu, Arzu terus menatap pintu ruang operasi. Lampu penanda belum juga menunjukkan jika operasi akan selesai. Walaupun Arzu sudah sangat sering melakukan operasi, namun kali ini ia benar-benar dirasuki rasa takut. Ia duduk dikursi tunggu dengan kaki yang terus bergoyang. Sesekali ia mengusap wajahnya.
"Kak, Elsha keluar sebentar ya? Mama udah dijalan" ucap Elsha yang dijawab anggukan oleh Arzu. Elsha pun menatap Arzu iba, lalu ia langsung beranjak pergi.
"Hallo." ucap Elsha bersandar di dinding rumah sakit. Matanya kini sudah dipenuhi buliran air bening. Sedari tadi ia berusaha untuk tidak menangis.
"Hallo sayang, ada apa? Ini sudah malam. Kenapa belum tidur?" suara serak di balik telpon berhasil membuat butiran bening itu mengalir deras.
"Kak Mon, dia masuk rumah sakit." ucap Elsha pelan. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Matanya terpejam untuk menahan air mata yang terus berjatuhan tanpa henti.
"Tenangkan dirimu sayang, kakak mu akan baik-baik saja ok. Jangan menangis. Aku kesitu sekarang. Tolong kirim alamat rumah sakit tempat kamu berada."
"Iya." ucap Elsha yang langsung menutup telpon. Tubuhnya bergetar, rasa takut kini menyelimuti dirinya.
'Ya allah, tolong selamatkan kak Monik dan bayinya. Izinkan kami untuk berkumpul bersama lagi.'
kli kamu masih terpaku pada masa lalu,kenapa kamu mau menikahi elsha?
elsha bukan wanita yg hanya kamu jafikan pelarian...kamu sendiri yg mendesak ingin menikahi elsha secptnya dan memaksa elsha dan kluarganya untuk menerima pinanganmu..klo memang blm bisa move on...lepaskan elsha..jngn egois eason...
sukses
semangat
mksh
ya emang pnikmat wanita aja kali