Lilis tumbuh besar bersama kawan kawannya. Tanpa keluarga, tanpa kasih sayang orang tua. Hanya beberapa teman yang selalu ada. Termasuk seorang remaja bernama Kak Nur. Yang selalu ada dan menjadi pelindungnya, walaupun takdir membuat mereka terpisah.
Lilis behasil meraih mimpi menjadi seorang kowad. Dirinya ternyata berbakat memegang senjata. Dalam kariernya dia mengenal cinta. Juga patah oleh cinta itu sendiri.
Kenapa Lilis patah? Lalu mampukah ia bangkit kembali meraih bahagia? Apakah Lilis kembali bertemu Nur lagi?
Bagi yang sudah membaca novel saya, mungkin anda sudah mengenal tokoh ini. Dalam novel ini akan ada orang yang ada kira jahat, ternyata tidak sejahat itu. Dan orang yang anda kira baik, ternyata tidak sebaik itu. Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan tokoh, tempat, dan kejadian, itu hanya kebetulan saja. Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utiyem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan
Tiga hari setelahnya, Lilis mendapatkan panggilan untuk kembali bersekolah. Tere dan Sri mupeng berat. Itu adalah sekolah khusus sniper. Mungkin hanya tentara beruntung yang dapat panggilan itu.
"Wajar sih, Lilis punya bakat menembak. Apalah aku yang cuma pandai pegang buku," kata Tere sedih.
"Tapi LDR dong sama komandan," kata Sri. Seketika hati Lilis direm mas juga. Haaaa iya… dia akan sulit berhubungan dengan Herman. Berhubungan saja sulit. Apalagi bertemu, hampir mustahil. Tapi semua demi kemahiran Lilis. Siapa tahu dia bisa naik pangkat cepat dengan pendidikan ini. Tidak terlalu memalukan untuk menjadi menantu Mayor Jenderal TNI (Purn) Yono Atmaja, S.Tr.(Han), M.H.
Herman tahu panggilan sekolah itu. Kemungkinan Lilis berangkat dua minggu lagi. Sebelumnya, Lilis harus memenuhi beberapa syarat administrasi dan fisik. Akan sangat membuat sibuk gadis itu.
[Dek, pergi sebentar yuk!] pesan Herman. Ini mungkin akan jadi malam minggu terakhir mereka bersama. Mungkin juga malam minggu terakhir sebagai kekasih.
Flash back on….
"Aku tidak menerima perjodohan ini Yah. Aku mencintai Lilis!" kata Herman keras pada ayahnya.
"Oya? Bisa apa kau kalau ayah tidak merestui? Ayah bisa meminta junior ayah memindahkan tugas kalian. Agar bertemu saja tidak mungkin. Kemudian sebuah kesalahan fatal dilakukan Lilismu itu. Kemungkinan dia dipecat. Hancur mimpi yang susah payah Lilis capai. Percayalah kemungkinan gadis itu bersyukur tiap malam karena menjadi tentara," kata Yono sungguh sungguh. Herman hanya mampu mengepalkan tangannya. Herman tahu seperti apa kerasnya keinginan Yono. Pria itu berbalik keluar dari ruangan Yono. Terus pergi keluar rumah.
Ibunya sampai kalang kabut melihat kepergian Herman mengendarai mobilnya.
"Herman!!! Herman!!!" teriak Lita dari balkon kamarnya. Perdebatan Herman dan ayahnya terdengar oleh seluruh penghuni rumah.
"Dik, kejar Masmu!!" kata Lita panik.
"Biarkan!" cegah Yono keras. Membuat Sidiq membeku di tempat.
Herman berkelana malam itu. Entah kemana angin membawanya. Tertidur di taman kota antah berantah. Kemudian melanjutkan perjalanan entah kemana. Sampai pagi kembali, bahkan sampai sore pria itu masih menggelandang. Hingga dia sampai pada suatu keputusan sedih…. Demi Lilis…..
Demi Lilis…. Herman mau Lilis bahagia. Dengan mematahkan hatinya dan mencapai puncak kariernya. Demi Lilis, Herman akan mematahkan hatinya. Menghentikan cinta yang sebenarnya sudah membakar seluruh hatinya. Herman bisa saja egois memilih cintanya. Menentang Yono pasti butuh banyak pengorbanan. Herman yakin ayahnya tidak akan brutal menyerangnya, tapi Lilis yang akan jadi korban. Herman bisa membawa Lilis dalam perlindungannya. Akan tetapi Lilis harus keluar dari tentara. Demi memutus pengaruh ayahnya. Gadis itu harus mengubur bakat dan cita citanya. Duduk diam menjadi ibu rumah tangga. Dan bakat yang sangat mencolok itu terkubur oleh panci panci kotor dan tangisan anak. Mungkin bakat itu bisa menyelamatkan bangsa ini. Mungkin bakat itu mampu melambungkan Lilis jauhhh mengudara. Kemudian mereka akan terbang bersama. Mencapai batas langit yang tidak dapat dicapai Yono lagi. Herman menghembuskan nafas dalam. Ya, dia sudah mengambil keputusan. Pria itu kembali ke mobilnya dan menjalankannya pulang menuju kediaman pribadinya dekat asrama. Disanalah dia bertemu Lilis yang khawatir padanya.
Flash back off….
Suara pesan masuk mengagetkan Herman. Rupanya Lilis membalas pesannya.
[Mau pergi kemana Kak?] Balas Lilis pada pesannya.
[Nanti malam dandan yang cantik. Aku ijinkan sama Tere] balas Herman.
Disinilah mereka malam ini. Menonton bioskop. Kegiatan pacaran yang belum pernah mereka lakukan. Kemudian sibuk jejingkrakan di time zone mall itu. Herman seakan ingin memberikan kenangan manis pada Lilis.
"Terimakasih untuk malam ini," kata Lilis senang. Saat mereka sudah diatas mobil mengarah pulang ke barak.
"Sama sama… ingat malam ini. Ingat aku. Ingat kalau aku mencintaimu. Hanya mencintaimu," kata Herman. Lilis langsung menoleh pada kekasihnya. Ada yang aneh dengan Herman. Entah apa.
"Kok ngomongnya begitu?" tanya Lilis. Herman tersenyum pahit. Mengambil tangan Lilis dan menciumnya.
"Aku takut kamu lupa setelah pendidikan nanti. Entah kapan kita bisa begini lagi," kata Herman. Sekarang dua insan itu berwajah sedih. Walaupun sedih yang berbeda, tapi perpisahan memang menyedihkan.
maklum y thoor masih terbiasa bca yg happy ending.
Nah, ws thor... aku promosikan lagi tuh