Pada awalnya, kehidupan Keana Larson sebagai gadis remaja terbilang biasa-biasa saja. Namun, semuanya berubah ketika ia mulai mengenal cowok baru di sekolahnya yang bernama Gabriel Axton White.
Keana sadar, mungkin saja berdekatan dengan Gabriel bisa membuat kehidupannya jauh dari kata normal. Cowok itu punya rahasia besar yang tak boleh diketahui siapapun. Mengetahuinya sama saja mati. Tetapi, sudah terlambat bagi Keana untuk menghindar. Gadis itu justru jatuh cinta padanya.
Iblis dan malaikat. Keana tak menyangka harus terjebak di antara keduanya. Rentetan-rentetan kejadian buruk seolah takkan berhenti sampai gadis itu benar-benar mati.
Lantas, tahukah Keana kalau apa yang terjadi dengannya bukanlah suatu kebetulan semata? Dan bisakah ia mengubah takdir buruk yang telah digariskan untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poetry Alexandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-22- Eagle Mountain
Aku mengerjap beberapa kali. Dia ngomong apa sih? Sementara Calvin---dan juga Gabe---menatapku, menunggu jawaban yang keluar dari mulutku. Aku benar-benar tergagap. Sial! Kenapa Calvin harus memberi pertanyaan seperti ini?
Aku balas menatap kedua cowok itu bergantian dengan gugup. Ekspresi Calvin menegang, sedangkan Gabe terlihat penasaran. Sejenak aku tergoda untuk berlari ke dalam rumah dan bersembunyi, meninggalkan kedua cowok itu tanpa harus menjelaskan apapun.
Mereka masih menunggu. Aku menggigit bibir bawahku dan memilin-milin ujung pakaianku. Apa aku harus menjawab yang sejujurnya bahwa aku memang menyukai Gabe? Tapi, itu sangat memalukan sekali tentu saja. Ini akan berbeda jika Gabe tidak berada di sini di hadapanku.
"Calvin!" seruku akhirnya setelah beberapa saat terdiam. "Pertanyaanmu benar-benar konyol. Soal penolakanku kemarin tidak ada sangkut pautnya dengan Gabe. Oke? Dan soal perasaanku menyukai siapa, itu bukan urusanmu. Kau benar-benar konyol. Sangat konyol."
"Itu bukan pertanyaan konyol. Aku hanya butuh kejelasan saja." Calvin berkeras.
"Ya, tapi dengan pertanyaan seperti itu apa kau sengaja ingin membuatku terlihat bodoh?" Aku melotot padanya.
"Kau salah mengartikan maksudku," balasnya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan kesal. "Aku tetap tidak akan menjawab pertanyaan konyolmu itu."
Calvin mengatupkan rahangnya, matanya menyipit. Tapi, sejurus kemudian ia tersenyum samar. "Baiklah. Kurasa itu sudah jelas."
"Hei, bolehkah aku menyela percakapan kalian?" Gabe tiba-tiba bersuara. Wajahnya terlihat gusar. Matanya melirik Calvin sekilas. "Aku tidak tahu kenapa aku dibawa-bawa dalam masalah kalian, tapi kupikir kalian bisa membahas soal perasaan kalian dari hati ke hati lain kali saja. Untuk saat ini, bisakah kita pergi sekarang? Atau jika kalian memang ingin mengobrol berdua, aku dengan senang hati untuk menutup telingaku dan pergi dari sini."
Aku mendesah, menatap kedua cowok itu bergantian. "Maaf, Calvin. Aku harus pergi sekarang."
"Ya, baiklah. Selamat bersenang-senang," gumam Calvin sambil beranjak masuk ke dalam mobilnya. Wajahnya cemberut. Ia membanting pintu mobilnya keras-keras. Dan mobilnya pun meluncur deras meninggalkan kami.
"Kurasa dia marah padaku," komentar Gabe, tersenyum geli.
Aku menghela napas panjang. Ada rasa tidak enak yang kurasakan melihat ekspresi Calvin tadi. "Denganku juga," sahutku. "Kita akan kemana sebenarnya?"
Gabe menatapku penuh arti. "Kau akan tahu nanti. Sekarang, ayo kita pergi."
Ia membawa mobil kami menuju hutan Nasional yang terletak di Saint Louis, timur laut Minnesota. Markas besar hutan berada di Duluth County di luar batas hutan. Di sanalah Gabe memarkir kendaraannya dan mengajakku masuk menelusuri hutan yang dipenuhi pepohonan pinus, maple, oak dan cemara.
Aku berjalan hati-hati saat melewati jalan bebatuan lembab yang ditumbuhi lumut dan agak menanjak. Gabe berjalan mendahuluiku di depan sana. Langkahnya cepat dan ringan seolah ia seperti melayang di atas permukaan batu yang sedikit licin dan basah, sedangkan aku harus tersaruk-saruk di belakangnya.
Suasana di dalam hutan sedikit gelap dan berkabut. Dahan-dahan pohon besar membentuk kanopi raksasa, menutup sebagian sinar matahari yang bersinar di cakrawala. Burung-burung sejenis elang dan burung hantu mengepak-ngepak setiap kali mendengar suara injakan ranting atau dahan pohon yang patah. Aku tidak terlalu tahu banyak mengenai hutan ini, tapi kebanyakan hutan-hutan di Minnesota didiami oleh beberapa kawanan serigala dan beruang hitam. Para pendaki dan pecinta alam kebanyakan menyukai kawasan ini karena berbatasan dengan negara Kanada dan terdapat pemandangan indah yang bisa dilihat dari atas tebing Eagle Mountain. Ke sanalah tujuan kami sebenarnya.
"Kenapa kita tidak berteleportasi saja daripada harus bersusah payah berjalan seperti ini?" gerutuku tak sabar. Sebuah dahan pohon birch yang melandai ke bawah mengenai tubuhku saat aku melintas. Aku terkejut dan hampir terpeleset ke samping. Air bekas endapan hujan semalam yang masih membasahi dedaunannya menyapu wajahku. Dingin sekali, membuatku sedikit terhenyak.
Gabe berbalik, melihatku sambil mendesah, lalu ia berjalan mendekatiku. Tangannya terulur untuk membantuku berjalan lebih cepat.
"Terima kasih," kataku seraya menerima uluran tangannya dan berjalan kembali menyusuri jalan berbatuan sempit yang membelah lautan pepohonan di sekeliling kami.
"Apa kau belum pernah menjelajah hutan?" tanyanya.
"Tidak." Aku menggeleng. "Biasanya orang tuaku lebih sering mengajakku pergi ke danau. Memancing dan kemping di sana. Itu lebih menyenangkan. Aku tidak suka hutan. Lagipula kau tahu, kan di Minnesota kau akan lebih sering melihat danau daripada hutan. Danau mengelilingi negara bagian ini dimana-mana."
"Kalau begitu aku salah mengajakmu ke tempat ini," ia tersenyum.
Oh tidak, Gabe. Untukmu itu pengecualian. Aku akan bahagia kemanapun kau membawaku. Ke neraka sekalipun.
"Ya, tidak apa-apa. Aku hanya penasaran kenapa kau membawaku ke hutan? Apa kita akan memanah binatang? Well, harus kuberitahu bahwa satwa di hutan ini semuanya dilindungi. Aku tidak ingin kita ditangkap polisi hutan karena membunuh mereka."
Suara tawa Gabe pecah. Ia berhenti sejenak dan berdiri tegak di sebelahku. "Aku tidak menyuruhmu untuk memanah hewan di hutan ini."
"Lalu?" Aku menatapnya bingung.
"Kau akan memanahku," jawabnya yang membuatku tercengang.
"Apa kau sudah gila?" teriakku kaget.
"Oke, nanti saja kita membahasnya. Lebih baik kita berjalan lebih cepat karena perjalanan kita masih panjang. Aku tidak ingin kita kehabisan waktu."
"Kalau begitu kenapa kita tidak berteleportasi saja? Atau terbang dengan sayapmu. Kita akan lebih cepat sampai kurasa."
"Tidak. Aku ingin kau menggunakan kemampuan manusiamu. Berjalan. Anggap saja sebagai pemanasan untuk latihanmu hari ini."
Aku menghela napas kesal. "Kau jahat sekali. Kau tahu kan aku nyaris mati beberapa jam yang lalu karena tenggelam. Seharusnya kau bersikap lebih baik."
"Tenang saja. Kau tidak akan mati kali ini." sahutnya.
Ada seekor rusa jenis ekor putih melintas di dekat kami. Rusa itu berhenti tepat ketika Gabe menoleh padanya. Hewan itu menunduk sementara Gabe menatapnya sambil bersuara rendah dan rusa itu menggoyang-goyangkan ekornya yang seputih salju. Beberapa kawanannya yang lain muncul, mereka semua menunduk begitu melihat Gabe. Aku mengamati Gabe yang tersenyum dan masih mengeluarkan suara rendah seperti gumaman pada rusa-rusa itu.
"Apa kau berbicara pada mereka?" Aku tak bisa menahan kekagumanku.
Rusa-rusa itu mengangkat kepala mereka ke arahku, lalu mereka semua berlarian mengelilingiku beberapa saat, aku memekik kaget dan nyaris terjatuh. Gabe tertawa sambil menangkap bahuku.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa mereka ingin menyerangku?" tuntutku padanya dengan jantung berdebar kencang.
"Mereka hanya berkenalan denganmu dan menyambutmu di hutan ini," jelas Gabe, nyengir lebar. Rusa-rusa berekor putih itu pun berlari meninggalkan kami, menghilang di balik pepohonan rindang yang tumbuh di depan.
"Jadi, itu keahlianmu yang lain? Berbicara dengan hewan?" Aku geleng-geleng kepala takjub.
"Itu sudah menjadi keahlian yang umum bagi kami," ia menjawab datar.
"Hebat sekali," kataku masih merasa takjub.
"Sebenarnya, memang keahlian ini harus kami miliki. Terkadang, kami bisa mencari tahu kabar baik atau buruk dari hewan-hewan yang kami temui. Mereka bisa memberi informasi yang kami butuhkan."
"Apa kau sudah mendapat kabar tentang kunci yang kau hilangkan?" tanyaku sambil melompati dahan pohon besar yang melintang di depanku.
Gabe mendesah. Wajahnya berkerut antara sedih dan marah. Ia masih berjalan di sisiku. "Beberapa hari lalu, aku hampir menemukannya, tapi ternyata pasukan Lucifer menghalangiku."
"Maksudmu?" Aku tersentak dan menghentikan langkah.
"Mereka sudah mengetahuinya, Keana. Bahwa kunci itu hilang dan sebagian dari mereka akan ikut mencari keberadaan benda itu sekarang. Aku tidak punya banyak waktu. Pertanda buruk semakin jelas terlihat."
"Oh, tidak. Apa kalian memiliki rencana untuk menghentikannya?"
"Entahlah. Mungkin akan terjadi pertempuran lagi. Antara kami dengan mereka sebelum akhirnya kalian ikut terlibat. Inilah kenapa aku perlu mengajarimu memanah. Kemungkinan buruk tidak bisa dihindari. Seperti kejadian semalam misalnya."
Ia merogoh saku jaket kulitnya. Sebuah benda seukuran tongkat estafet berwarna perak dan melemparnya padaku. Aku dengan sigap menangkapnya. Kuperhatikan sisi ukiran yang memanjang di sepanjang tongkat tersebut. Ukiran yang sangat rumit dan terdapat sebuah tulisan yang tidak kuketahui artinya.
"Apa mereka hanya bisa dibunuh dengan cara ini? Tidak bisakah dengan pedang, pistol dan semacamnya?" tanyaku sambil menatap Gabe penasaran.
"Mereka hanya bisa mati dengan pedang dan panah api yang terbuat dari api neraka lapis ketujuh. Selain dari itu mereka kebal terhadap apapun, terutama Lucifer dia sangat kuat. Tidak mudah membunuh mereka," jelas Gabe.
Kami sampai juga di atas tebing Eagle Mountain setelah meniti perjalanan berbatuan yang cukup terjal dan melewati jalan setapak kecil yang membawa kami ke atas puncak. Danau Whale di bawah sana membentang sejauh mata memandang. Biru yang menyejukkan. Rasanya seperti mendapatkan oasis di tengah gurun. Walau lelah, tapi pemandangan yang didapat rasanya sebanding. Mungkin inilah yang dirasakan para pendaki ketika menaiki gunung yang terjal dan berbahaya, namun berhasil sampai di puncak.
"Baiklah. Ayo, kita mulai latihannya!" Gabe membuyarkan lamunanku.
Aku menarik napas. Membolak-balik tongkat perak itu dengan bingung. "Bagaimana cara menggunakannya?"
Gabe meraih benda itu. Lalu, menekan bagian bawahnya. Seketika benda itu memanjang menjadi sebuah busur panah berwarna keperakan. Kemudian, ia membuka jaket kulit tebalnya. Sebuah arrow tube tersampir di punggungnya. Ia mengambil satu anak panah tersebut dan menyuruhku memperhatikan caranya memanah. Aku mengamatinya dengan seksama. Gabe membuka kakinya selebar bahu, berdiri tegak lurus secara vertikal. Pinggulnya menghadap ke depan sementara bagian dadanya menyamping ke kanan. Tangan kirinya menahan busur sejajar siku dan tangan kanannya menarik tali busur tepat sampai bawah rahangnya. Sebelah mata kirinya ia pejamkan. Begitu selesai membidik sasaran di depan, ia melepaskan anak panahnya.
Aku bisa melihat anak panah tersebut melesat begitu derasnya bagai sebuah peluru dan tepat mengenai pohon cemara yang berjarak 100 meter dari tempat kami berdiri. Pohon itu terbelah dengan dahan pada bagian puncaknya terbakar api. Aku membelalak kagum. Api tersebut padam menyisakan kepulan asap hitam yang membumbung ke angkasa.
"Giliranmu," katanya kemudian seraya menyerahkan busur dan anak panah tersebut padaku.
Aku berdehem, mencoba melakukan posisi yang sama seperti yang dicontohkannya tadi, membuka kaki selebar bahu, berdiri tegak-tegak dengan posisi badan sedikit menyamping ke arah kanan.
"Rileks, oke?" bisiknya sambil membantuku mengangkat busur. Aku mengangguk. Sedikit gugup saat mencoba menarik anak panah tersebut ke bawah rahangku.
"Pandanganmu harus tegak dan lurus ke depan. Ingat berkonsentrasilah saat membidik sasaran," ia menjelaskan.
Aku mengangguk, menarik napas dalam-dalam. Kupicingkan sebelah mataku, menatap tajam pada sebuah pohon pinus merah yang berdiri kokoh dan berjarak tak terlalu jauh dari tempatku berdiri. Kulepaskan anak panah tersebut dan sayangnya tembakanku tidak sampai. Anak panah tersebut lebih dulu jatuh ke tanah sebelum menyentuh sasaran.
"Gagal," keluhku sedikit kecewa.
"Tidak apa-apa. Kau bisa mencoba lagi. Tidak ada yang berhasil pada percobaan pertama." Gabe memberi semangat. Ia berdiri di belakangku, membetulkan posisi tanganku yang sedikit mengendur dan tidak tegak lurus.
Aku mengerjap ketika ia membantuku menarik busur ke belakang. Konsentrasiku buyar. Aroma manis tubuhnya menusuk penciumanku. Suaranya mengalun rendah saat memberi arahan padaku untuk membidik sasaran dengan benar. Jantungku berdebar tidak karuan. Ia menundukan wajahnya tepat di samping leherku. Sekali lagi aku mengerjap. Berusaha mengenyahkan kegugupan dan kembali berkonsentrasi.
"Baiklah. Sekarang tembakan panahmu!" perintahnya seraya menepuk bahuku dan memundurkan tubuhnya.
Aku menarik napas dalam-dalam, memusatkan arah panahku pada pohon pinus merah dihadapanku, lalu menembaknya. Nyaris mengenai sasaran. Panah tersebut melesat melewati pohon tersebut menembus ke dalam hutan.
"Tidak terlalu buruk. Coba lagi!" Gabe kembali bersuara.
Aku mengembuskan napas keras-keras. Berharap percobaan ketigaku berhasil, tapi ternyata memanah itu tidak mudah. Aku terus gagal mengenai sasaran sampai percobaan keenam. Dan pada saat mencoba ketujuh kali, aku berhasil mengenai pohon pinus merah itu walau tidak membuatnya terbakar apalagi terbelah.
Gabe tersenyum puas. Ia terlihat sabar mengajariku yang sangat bebal ini. Aku ikut tersenyum lega karena akhirnya bisa mengenai sasaran juga.
"Sekarang, maukah kau mencoba memanahku?" katanya yang membuatku terbelalak.
"Kau menyuruhku untuk membunuhmu?"
"Tenang saja. Panah itu tidak akan melukaiku. Aku kebal terhadapnya, jadi kau bisa memanahku sebagai percobaan jika ada makhluk jelek itu di depanmu nanti."
"Tapi ..." aku menggigit bibirku.
"Tidak apa-apa. Cobalah untuk memanahku," ia berkata. Sayapnya tiba-tiba mengembang. Tubuhnya setengah melayang di udara. "Kau harus mengenaiku, oke? Anggap saja aku makhluk-makhluk jelek itu. Jangan ragu untuk menembakku."
"Ugh ... oke," erangku dan bersiap untuk kembali memanahnya. Aku menghitung sampai tiga dalam hati, lalu menembakan anak panahku ke arah dadanya. Gabe tiba-tiba menghilang dan panah tersebut menembus udara kosong.
"Kau harus lebih cepat menembakannya," suaranya terdengar di sisi kiriku. Aku menoleh dan mendapati dirinya berdiri di atas tebing yang lebih tinggi dari tempatku berdiri.
Aku kembali mengarahkan padanya dan melesatkan anak panahku, tapi ia berhasil berkelit sehingga lagi-lagi panah itu menembus udara kosong. Ia muncul di sisi kananku dan dengan cepat aku menembakkan panahku ke arahnya, nyaris mengenainya sebelum ia menghilang dan berdiri di depanku sambil tertawa.
"Cukup baik untuk latihan pertamamu hari ini, Keana." katanya menepuk bahuku.
"Terima kasih," aku tersenyum lebar. "Aku senang bisa latihan memanah bersamamu, Gabe. Hari ini sungguh menyenangkan," kataku jujur.
Ia balas tersenyum, mata birunya menatapku lekat. "Ya, aku juga, Keana. Senang rasanya bisa mengajarkanmu sesuatu yang berharga."
Aku mengangguk sambil menunduk, menyembunyikan rona merah di pipiku. Setiap kali ia menatapku, aku benar-benar mabuk kepayang. "Jadi, kita latihan lagi?" tanyaku sambil berdehem beberapa kali, lalu mendongak menatapnya.
Kulihat ekspresi Gabe tiba-tiba menegang. Kedua alisnya berkerut.
"Ada apa?" Aku tak kuasa menahan kebingunganku.
Gabe mengeluarkan sebuah benda dari saku jaketnya. Benda itu dibungkus sebuah kain berbahan kulit, berbentuk persegi sebesar telapak tangan seperti logam berwarna hijau yang terus bergetar di tangannya. Aku hendak menanyakan benda apa itu padanya, tapi tertahan.
Sesosok hitam tiba-tiba melayang dan berhenti di dekat kami. Aku memekik kaget. Sosok itu berjalan mendekati Gabe. Ia mengenakan jubah hitam panjang yang menjuntai sampai ke mata kakinya. Wajahnya tersembunyi di balik tudung jubahnya. Aku mengerut. Ketakutan langsung menghantamku.
"Jangan takut ..." bisik Gabe padaku. "Dia temanku."
Aku menghela napas lega ketika sosok itu membuka tudungnya. Wajahnya luar biasa tampan. Mata biru gelapnya mengawasiku yang berdiri tak bergerak di sebelah Gabe. Aku ingat bahwa sosok ini pernah kulihat saat Gabe membawaku ke tempat indah untuk menghapus ingatanku beberapa waktu lalu. Ia terus mengamatiku lekat hingga aku merinding sendiri dibuatnya.
"Ada apa? Kenapa kau kemari?" tanya Gabe. Nada bicaranya terdengar waspada.
"Apa kau merasakannya? Kunci itu dekat sekali. Sepertinya tidak jauh dari kota ini," kata sosok itu. Suaranya mengalun sangat merdu. "Kita harus bergegas. Berhentilah bermain-main, Gabriel."
"Ya, aku tahu. Benda ini terus bergetar dalam beberapa hari ini. Itulah kenapa kemarin aku menerobos ke ..." Gabe membiarkan kalimatnya mengambang. Lalu, ia mengendikan kepalanya ke arahku. "Aku hanya ingin mengajarinya memanah. Cukup berbahaya jika aku membiarkannya tanpa melakukan apapun."
Sosok berjubah hitam itu mengamatiku lagi sesaat. Raut wajahnya serius. Kedua alis hitamnya bertautan. Rambut pirang pasirnya yang panjang sebahu melambai tertiup angin. "Apa dia gadis yang dimaksud?"
"Bukan!" Suara Gabe terdengar nyaring. "Bukan dia."
Aku mengerutkan alis mencoba mencerna percakapan membingungkan kedua malaikat di dekatku ini. Apa sih yang sedang mereka bahas?
"Kalau begitu, seharusnya ia tidak terlibat. Kenapa kau tidak menghapus ingatannya saja yang ketiga kali? Sudah cukup berbahaya jika ia ikut campur dalam masalah ini." Sosok itu menghela napas bosan.
Aku menggenggam busur panah di tanganku erat-erat, melirik Gabe dengan panik. Otakku masih ingat dengan jelas apa yang terjadi jika Gabe gagal menghapus ingatanku yang ketiga kali. Aku bisa kehilangan akal sehatku alias gila.
Gabe mengangkat bahu. "Aku tidak bisa mengambil resiko jika gagal kembali."
Sosok berjubah hitam itu mendengus sinis. "Kau menjadi sangat manusia belakangan ini, Gabriel. Itu sangat menyebalkan."
"Maafkan aku, Azrael ..." Gabe cuma tersenyum getir. "Pergilah. Aku akan menyusulmu nanti setelah ini."
"Kita harus merebut kunci itu. Rasanya tidak jauh dari tempat kita berada. Aku akan membantumu. Kita tidak bisa membiarkan hal buruk terjadi dengan cepat, bukan?"
Wajah Gabe pucat pasi. Tubuhnya menegang dan kaku. Aku ikut merasakan ketakutan yang terpancar dari air mukanya.
"Ini kesalahanku. Seharusnya aku dikutuk atau dihukum di neraka selama-lamanya. Maafkan aku," ucapnya dengan suara bergetar.
"Sudahlah. Tidak perlu menyalahkan dirimu. Kau diserang iblis laknat itu. Bagaimana mungkin kau bisa melawan mereka sendirian. Seharusnya kami yang ikut membantumu saat itu," sergah Azrael.
Suara gemerisik pepohonan membuat perhatian kami semua teralihkan. Dua ekor tupai melompat-lompat cepat diantara pepohonan dan menghilang dibalik hutan yang gelap. Di kejauhan terdengar suara lolongan serigala yang bersahut-sahutan. Kawanan burung-burung kolibri terbang berhamburan kesana kemari.
Suasana mencekam membuat rambut-rambut halus di area tengkukku berdiri. Aku semakin mempererat genggamanku pada busur yang kupegang. Buku-buku jariku sampai memutih. Gabe dan Azrael terlihat saling berpandangan dengan tatapan was-was.
"Mereka di sini ..." bisik Azrael. Sorot matanya nampak waspada. Sebuah pedang terhunus di tangan kanannya. Ia melirikku sejenak. "Pergilah, Gabriel. Bawa manusia itu menjauh dari sini. Aku akan mengatasi mereka."
Gabe mengatupkan rahangnya keras-keras. "Bagaimana denganmu? Kau akan terluka jika menghadapi mereka sendirian."
Azrael mendengus. Kakinya memasang kuda-kuda, bersiap menyerang. Mata birunya mengawasi sekeliling. "Aku bisa menahan mereka. Lagipula mereka tidak terlalu kuat di siang hari."
Gemuruh angin kencang menerjang. Aku tersentak dan terjengkang ke belakang karena terkejut. Gabe mengalihkan pandangannya padaku dan membantuku untuk berdiri. Aku menarik napas dalam-dalam. Aliran darah di wajahku surut seketika. Dua sosok bersayap besar lain muncul. Gabe dan Azrael saling menganggukan kepala pada mereka.
"Kalian datang di waktu yang tepat." Azrael berkata pada mereka.
"Tentu saja. Kami selalu menjadi penyelamat," kata yang bersayap abu-abu sembari tersenyum. Suaranya yang merdu terdengar santai. Ia melambai padaku. Bola matanya berwarna biru pucat. Rambutnya berwarna putih kelabu, panjang sampai ke punggung diikat rapi ke belakang. "Hai, manusia!" sapanya renyah. "Kau cukup manis juga."
"Berhentilah bermain-main, Raphael!" rekannya yang bersayap emas, rambutnya pendek sewarna perunggu dan bermata biru keabu-abuan menegur. Ia melirikku sekilas. Sekitar dagunya dipenuhi janggut halus seperti Azrael. Aku ingat pernah melihatnya juga saat Gabe membawaku ke padang rumput hijau itu.
Aku membelalakan mata dengan takjub. Dikelilingi makhluk yang bukan manusia dengan ketampanan yang menusuk mata. Tiada rupa yang bisa menandingi kesempurnaan wujud mereka yang begitu indah. Aku menelan ludah berkali-kali. Antara rasa kagum, takjub dan sedikit takut. Bagaimana jika salah satu dari mereka mencabut nyawaku?
Gabe menggenggam tanganku yang sudah sedingin es. Aku menatapnya dengan gugup. Ia menarik tubuhku ke belakang punggungnya. "Ayo, kita pergi!" ajaknya kemudian. "Terima kasih telah datang kemari."
"Berhati-hatilah, jangan sampai mereka merebut satu-satunya kunci yang tersisa darimu." Azrael mengingatkan.
Namun, gerakan Gabe tertahan ketika tujuh sosok menyeramkan muncul dari balik hutan yang gelap. Mereka berdiri menyeringai menatap kami satu per satu. Beberapa dari mereka membawa pedang panjang dan pemukul besi yang berduri. Aku menahan napas. Merasa ngeri. Lututku gemetar hebat. Tidak pernah kubayangkan bisa berada dalam situasi seperti ini. Makhluk-makhluk itu memiliki tanduk kecil di kepala mereka masing-masing. Mata mereka yang berwarna kuning terang tertuju padaku membuat nyaliku menciut.
"Hmm... manusia," seseorang dari mereka yang berdiri paling depan dan bertubuh lebih besar dari yang lain, menyeringai ke arahku. Suaranya besar dan parau. Gigi taringnya mencuat sementara cuping hidungnya bergerak-gerak liar.
🍁🍁🍁