Arumi sangat kesal dengan kedua orangtuanya. Di umurnya yang belum genap 23 tahun sudah di nikahkan dengan laki-laki yang tidak dia sukai. Meski laki-laki yang menjadi suaminya itu sudah ia kenal. Tapi tetap saja ia membenci Akbar. Bahkan di belakang Akbar, Arumi menjalin kasih dengan laki-laki lain yaitu salah satu cowok terpopuler di kampusnya.
Apakah Akbar akan mengetahui kelakuan Arumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aneh
Pagi telah menyapa. Beberapa burung-burung berkicauan di atas dahan pohon. Terbang riang dari ranting satu ke ranting lainnya. Menyambut indahnya pagi yang belum terjamah oleh polusi udara.
Arumi menggeliatkan tubuh ketika mendengar kicauan merdu itu dari arah luar kamarnya. Ia menoleh ke nakas melihat benda bulat yang berfungsi sebagai penunjuk waktu.
"Astaga, sudah setengah enam."
Buru-buru Arumi turun dari ranjang lalu ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan juga berwudhu. Kebiasan bangun terlambat memang tidak bisa ia hilangkan. Dan tumben juga alarmnya ini tidak menyala. Padahal selalu ia aktifkan. Aneh sekali, pikirnya.
Sementara Akbar melakukan aktifitas seperti biasa. Olahraga di ruang gym setelah selesai sholat subuh. Peluh telah bercucuran di dahi dan sekitar lehernya.
Arumi sudah selesai melakukan kewajibannya. Setelah itu ia membereskan tempat tidurnya. Akbar orangnya sangat rapi, suaminya itu pecinta kebersihan. Berdebu sedikit saja sudah tentu akan melayangkan protes.
"Eh, semalam dia tidur di mana, ya? Pintunya kan aku kunci?" Gumamnya bertanya-tanya sambil menata bantal dan guling.
Arumi pun meringis melihat penampilannya. Baju yang dipakaianya belum ia ganti sejak pulang dari kuliah. Pantas saja tubuhnya terasa lengket.
"Sudah lah, nanti saja mandinya."
Ia harus turun ke bawah, membantu Bi Inah masak. Tapi ketika membuka pintu, pintu tersebut tidak terkunci lagi. Berarti semalam Akbar tidur di kamar. Dan yang mematikan alarm, pasti laki-laki itu. Kurang ajar emang.
Begitu di dapur, ia melihat Mamanya juga ada di sana.
"Ma." Panggil Arumi.
Bu Ajeng dan Bi Inah menoleh bersamaan.
"Pagi sayang." Sapa Bu Ajeng dengan tersenyum.
"Pagi juga." Arumi membalas dengan senyum lebar. Ia pikir ibu mertuanya itu akan marah, tapi ternyata tidak. Padahal tadi ia sudah ketar-ketir. Ibu mertuanya itu akan mendiamkannya.
"Sini sayang. Kita masak bersama-sama." Ajak Bu Ajeng.
Arumi berdiri di samping Bu Ajeng yang tengah mengiris wortel di meja. Sementara Bi Inah sepertinya lagi merebus daging.
"Ma, maaf tentang semalam." Ucap Arumi pelan.
Bu Ajeng seketika menghentikan mengiris wortelnya.
"Iya, Mama maafin. Tapi lain kali jangan di ulangi lagi, ya. Suami kamu sampai cemas karena kamu nggak ada kabar."
"Arumi lupa Ma. Nggak ingat sama sekali buat ngabarin Mama." Ucapnya.
"Yang paling utama itu kamu harus ngabarin suami kamu dulu. Mama bisa belakangan. Kamu paham kan, Nak?" Jelas Bu Ajeng.
"Iya, Ma. Paham." Angguk Arumi lalu mendekati Bi Inah. "Bi, biar saya saja yang masak. Bibi bisa melanjutkan pekerjaan lain."
"Ini sedikit lagi matang ya Non. Bumbunya juga sudah Bibi haluskan. Tinggal ditumis." Kata Bi Inah sebelum meninggalkan dapur.
Arumi mengangguk. "Mama mau dibuatin teh hangat nggak?"
"Boleh." Jawab Bu Ajeng.
Di saat Arumi merebus air, Akbar masuk ke dapur untuk mengambil air minum.
"Oh, sudah bangun kamu." Ucap Akbar.
Arumi memutar lehernya. Akbar berdiri di depan kulkas.
"Iya." Jawabnya singkat. Dalam hati ia mendumel, pakai tanya lagi.
"Maaf tentang semalam." Bisik Akbar. Arumi merinding karena Akbar berdiri tepat di belakangnya. Apalagi saat ia hendak menuang air panas ke cangkir. Untung saja tidak tumpah.
"Saya minta maaf, harusnya saya tidak bentak kamu." Bisik Akbar lagi di saat Arumi tidak mengatakan apa-apa.
Bukannya Arumi tidak mau menjawab. Tapi karena dirinya sedikit kaget, Akbar tiba-tiba sudah di belakangnya dan meminta maaf. Laki-laki ini memang aneh, semalam saja marah-marah dan sekarang.. menyesal.
.
.
.
Bersambung.