2 tahun merajut pernikahan, Nadira merasa pernikahan mereka tak memiliki arti apa-apa selain hubungan timbal balik. Semuanya berawal dari kesedihan yang tak kunjung usai, pasca orang tercinta mereka meninggal dunia.
Tak ingin terkungkung dalam kesedihan yang sama terus-menerus, Nadira hanya bisa menyibukkan diri dengan penelitian disertasinya sambil mengurusi perusahaan yang baru dirintisnya. Hal yang sama juga dilakukan Arsen, pria itu terus sibuk bekerja dan mengurusi bisnisnya yang kian banyak.
Mereka selalu merasa kosong satu sama lain. Hingga suatu kali, seseorang datang dan mencoba mengisi kekosongan itu. Menyadari bahwa hubungan pernikahannya mulai renggang, Nadira mencoba memperbaiki segalanya.
Tetapi, bagaimana cara keduanya menemukan titik temu dan kembali memupuk cinta pada pernikahan mereka yang mulai rapuh itu? Akankah Nadira mampu merengkuh kembali seorang Arsenio Sang Pewaris?
Baca kisahnya hanya di Pewaris Itu Suamiku
[Sequel Cinta Sejati Sang Pewaris]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PIS 23 — I'll Be Fine With You
Nadira hampir mencapai pintu dan sedikit lagi bisa keluar jika saja Jeana tak berbalik ke arahnya. "Mau mencoba kabur, heh?" ucapnya lalu mengalihkan pistol itu tepat ke kepala Nadira, membuat perempuan itu seketika terdiam kaku.
"Ak-aku ... " Nadira tercekat takut, enggan bergerak, matanya mendelik ke arah Bara yang sama terkejutnya.
"Jangan gila, Jeana!" bentak Bara, berharap dengan itu Jeana mau mengalihkan atensinya. Tetapi, Jeana bergeming, justru menatap Nadira dengan sengit.
"Je-Jeana, apa masalahmu? Ki-kita bisa membicarakannya baik-baik, kan?" tanya Nadira dengan tergagap. Di saat itu, tawa Jeana terdengar mengerikan di telinga Nadira.
"Apa katamu? Membicarakannya baik-baik?" Nadira mengangguk mantap, merasa negosiasinya berhasil. Jeana mendekatinya, dengan senyum menyeringai. Bara terdiam di tempat, tapi otaknya berpikir keras mencari solusi.
"Lalu, pernahkah kau berpikir saat itu, kau seharusnya juga bicara begitu? Tapi apa yang kau lakukan? Kau langsung menamparku, seperti ini," Jeana mengangkat tangannya tinggi, lalu ...
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Nadira hingga wajahnya tertoleh ke samping. Rasa perih dan panas terasa menyengat pipinya sesaat. Bara yang melihat itu sontak berlari ke depan.
"Apa yang kau lakukan?!" sentak Bara keras. "Kau menyakitinya!" bentaknya lagi marah. Nadira masih terdiam, shock dengan apa yang baru saja ia terima.
"Apa yang kulakukan? Heh! Aku sedang membalaskan dendamku, sialan!" maki Jeana seraya mendorong Bara kuat. Pria itu sampai terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Dan kau, Bara!" Jeana memelotot, jari telunjuknya menunjuk ke arah Bara. Sorot matanya memancarkan kebencian yang dalam. "Kau mengkhianatiku!"
Bara menggeleng, "Maaf, Jeana. Dan kumohon hentikan ini sekarang juga, jangan membuat dirimu menyesalinya nanti."
Lagi-lagi Jeana tertawa. "Berhenti?"
"Ya, Jeana. Hentikan ini!" kata Bara sambil sesekali memberi isyarat kepada Nadira untuk pergi dari sana.
Melihat gerakan tangan Bara, Nadira mengambil langkah pelan-pelan untuk keluar. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Lalu ...
Dug!
Sial! Kakinya menabrak sesuatu. Dan bunyi itu sukses membuat Jeana berbalik ke arahnya.
Dor!
Sontak saja Jeana menarik pelatuknya dan menembak kaki Nadira. Bara berjingkat kaget.
"Aaah!" Nadira limbung ke lantai memegangi kakinya yang terkena timah panas. Meraung sakit. Menangis. Cairan merah mengalir dari kakinya, mengotori lantai.
Jeana tertawa. Bara terkejut hendak berlari ingin menolong jika saja Jeana tak menahannya.
"Diam atau kubunuh dia," ancamnya. Bara terdiam di tempat. Sedangkan Nadira masih meraung sakit hingga wajahnya memucat.
"Kau gila, Jeana! Kau gila!"
Mereka mulai berseteru. Sengit. "Jika aku gila memangnya kenapa? Aku akan memperjuangkan apa yang kuingin hingga aku mendapatkannya dan merasa puas. Tidak sepertimu!"
"Kau! Beraninya kau Jeana!"
"Apa? Kau mau apa? Menamparku? Tampar saja! Aku sudah sering menerima tamparan. Satu kali tamparan lagi tak akan membuatku hancur!" Kalimat tanpa jeda itu ia akhiri dengan tawa yang getir nan memilukan.
Di saat-saat seperti itu, Nadira justru merasa iba kepada Jeana. Tepat saat perempuan itu kembali menodongkan pistolnya, beberapa orang merangsek masuk dan langsung menahan Jeana.
"Jangan bergerak!" titah seseorang berbadan kekar dengan tegas lalu memasangkan borgol pada kedua tangan Jeana. Sedangkan Bara tengah ditanyai oleh orang berbadan kekar yang lain. Nadira tak mengenali mereka tapi sepertinya ...
"Sayang, are you okay?"
Nadira langsung menoleh, di depannya ada Arsen yang tampak panik dan cemas. Melihat Arsen, Nadira sontak langsung memeluknya erat.
"Aku takut, Mas. Aku takut!"
Arsen balik merengkuh istri tercintanya itu. "Aku sudah di sini, jangan takut lagi, ya," katanya seraya mengusap dahi Nadira yang penuh dengan peluh.
"Kamu baik-baik saja? Ada yang terluka tidak?" Arsen menelisik keadaan Nadira dari wajah hingga ke ujung kaki dan tanpa sengaja menyentuh luka tembak di kaki Nadira, menyebabkan perempuan itu meringis kesakitan.
"Kamu terluka, kita harus ke rumah sakit sekarang!"
"Tapi ... mereka bagaimana?" Nadira bertanya.
"Biarkan mereka yang mengurusnya, kamu lebih penting. Kamu harus mendapat penanganan sesegera mungkin!" Arsen langsung menggendong Nadira keluar, diikuti Galen di belakangnya.
Sesampainya di rumah sakit, Arsen langsung meminta dokter khusus untuk mengobati luka dan memeriksa keadaannya. Selama itu, ia menunggu di luar dan menerima laporan yang terasa memusingkan.
"Bagaimana keadaan di sana, Galen?" tanyanya pada Galen yang baru saja kembali dari membeli kopi. Arsen menerima satu cup kopi yang diulurkan Galen padanya. "Terimakasih."
"Lapor, Tuan. Semuanya sudah ditangani polisi. Garong dan para anak buahnya sedang disidang polisi. Sedangkan Jeana sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi beserta Bara untuk menjadi saksi," jawab Galen lugas.
Arsen menghela napas sesaat lalu meneguk kopinya sebelum kembali berbicara. "Oke, kau urus sisanya, aku akan menjaga istriku di sini."
"Baik, Tuan. Saya permisi," kata Galen berpamitan usai memberi tanda hormat. Arsen mengangguk sekilas dan mempersilahkan Galen untuk pergi.
Sesaat setelah Galen pergi, dokter memanggilnya. Di sana, Nadira terbaring dengan kaki terbalut perban. Tampak pucat, tapi Nadira masih bisa tersenyum saat Arsen masuk dan berjalan mendekatinya.
"Maaf," kata Arsen lemah. "Aku lalai lagi dalam menjagamu."
Nadira menggeleng dan mengusap jemari Arsen lembut. "Ini salahku juga, Mas. Aku gak mendengar perkataanmu sebelumnya."
Arsen terdiam dan tertunduk selama beberapa saat, seolah mencari kata yang tepat di dalam kepalanya yang tengah berantakan.
"Mas?" panggil Nadira lagi. Arsen mendongak, menatap Nadira dalam diamnya. "Tentang Jeana dan Bara ... "
"Jangan bahas itu sekarang, oke?" potong Arsen cepat. Nampaknya pria itu masih merasa bersalah atas apa yang baru saja menimpa istrinya.
"Bagaimana kamu bisa tertembak?" Arsen bertanya usai memeriksa keadaan kaki Nadira yang dibalut perban.
Nadira termangu saat Arsen mengusap lembut kakinya. "Jeana, Jeana menembak kakiku saat aku mencoba kabur," jawab Nadira lemah. Dan, meskipun Arsen membelakanginya, Nadira dapat merasakan usapan lembut itu berubah sedikit kasar. Ia tahu bahwa Arsen tengah kesal.
"Tapi aku baik-baik aja, kok. Selama ada kamu, I'll be fine," katanya lembut dan tersenyum. Arsen berbalik.
"I will be fine with you," kata Nadira lagi yang membuat Arsen mau tak mau tersenyum.
"Please, berjanjilah padaku jangan lakukan ini lagi di masa depan, oke?" pinta Arsen serius. Nadira mengangguk dan mengiyakan janji itu.
Sekalipun di masa depan ada banyak hal sulit yang menghantam kehidupan kita, aku berjanji akan tetap bersamamu untuk menghadapinya hingga akhir.
Aku telah melewati banyak hal bersamamu, dan akan tetap begitu hingga seterusnya.
Sebab kamu bukan hanya duniaku, tapi juga separuh dari diriku. Tanpamu, bagaimana mungkin aku hidup?
Aku pernah bertanya pada hatiku sendiri, untuk apa aku hidup? Apa artinya hidupku ini? Atau untuk apa aku menikah denganmu?
Dan baru kusadari itu sekarang ini.
Bahwa bersamamu aku belajar untuk hidup. Menikah denganmu aku belajar untuk mencintai.
Sedangkan mencintaimu artinya adalah siap untuk menghadapi apapun. Dan aku telah menyadari konsekuensi itu sejak menikah denganmu.
Mencintai Sang Pewaris
•••
Selamat Membaca ❤️
Kalau suka jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komentar, vote, gift atau apapun itu, ya.
Karena dukunganmu sangat berarti bagiku. ❤️
Semoga saja kalian bertahan sampai tua
semoga bisa menemukan jawaban dari rasa sesak itu Nadira 🌹🌹