April mengalami patah hati karena lelaki yang selama ini dia taksir justru menjalin kasih dengan sahabatnya sendiri.
Karena kesal April ingin menghabiskan malam dengan pria bayaran di bar tempatnya bekerja.
Namun, siapa sangka pria yang dibayarnya itu justru mengajaknya menjadi kekasih kontrak.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengadu
Adam pikir kalau sikap labil April hanya berlaku untuk malam itu tapi dia salah, April jadi berubah emosional.
"Jangan pergi!" April tiba-tiba saja memeluk Adam ketika lelaki itu berpamitan pulang.
"Aku harus pergi ke kantor," ucap Adam yang akan melakukan rapat penting.
"Tapi, aku ingin melakukannya," April jadi berubah agresif dan mencoba menggoda Adam sebelum pergi.
"Ck!" Adam berdecak karena tubuhnya berkhianat atas sentuhan yang dilakukan oleh April padanya.
"Ini masih pagi!"
Lelaki itu harus bisa mengontrol semuanya atau Adam akan terlambat pergi ke kantor.
Bukannya mereda justru April berjongkok di depan Adam dan mencoba membuka celana lelaki itu.
"Oh tidak!" Adam harus segera bertindak.
Dia pun mendorong April di sisi sofa apartemen dan melakukan kegiatan panas di sana.
Terdengar suara April yang begitu menikmati permainan Adam pagi itu.
Setelah selesai, April tampak kelelahan dan tertidur di sofa.
"Apa yang terjadi padamu?" gumam Adam sambil menyeka keringat perempuan itu.
Karena sudah terlambat, Adam harus segera pergi.
"Aku akan menghubungimu nanti," ucap Adam sebelum benar-benar pergi.
Di perusahaan Bamantara, asisten Rio sudah menunggu kedatangan Adam sedari tadi. Dia sudah mengundur jadwal rapat dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Kalau tuan besar tahu pasti akan kacau," gumam asisten Rio.
Namun, dia bisa bernafas lega ketika melihat mobil Adam sudah memasuki area lobi perusahaan.
"Apa semuanya sudah menunggu?" tanya Adam yang baru turun dari mobil.
"Semuanya sudah siap, Tuan," jawab asisten Rio.
"Tapi..."
Sang asisten menahan langkah kaki Adam sebelum masuk ke dalam perusahaan.
"Ada apa?" tanya Adam.
"Itu..." Asisten Rio menunjuk bagian celana Adam. "Sepertinya Tuan belum menarik resleting celana dengan benar!"
Adam langsung membalik badan dan benar saja resleting celananya masih terbuka. Dia bergegas menariknya ke atas sambil menahan rasa malunya.
"Ayo kita masuk!"
Lelaki itu tidak sadar jika ada seseorang yang memperhatikan gerak-geriknya.
"Lihat saja Adam Bamantara, orang yang tidak kompeten yang hanya bisa berlindung dibalik nama keluarga sepertimu akan hancur sebentar lagi," ucap Ken yang mengawasi Adam.
Selagi Adam melakukan rapat, Ken akan datang menemui Yoga.
Pada saat itu, Yoga tengah berada di lapangan golf untuk memeriksa bisnis barunya. Lebih tepatnya Yoga menanam investasi di sana yang dijalankan oleh koleganya.
Yoga memukul bola dengan stik golfnya dan melambung tinggi.
"Wah, pukulan Anda masih sama seperti dulu," komentar rekan Yoga.
"Aku sudah tua, cucuku akan bertambah tahun ini," balas Yoga seraya mendudukkan dirinya untuk istirahat.
"Saya dengar putra pertama Anda juga sudah mempunyai calon istri," ucap rekan Yoga lagi.
"Ya begitulah, aku harap Adam bisa menyusul Galang yang lebih dulu menikah," Yoga tidak mau anak pertamanya menjadi perjaka tua terus-terusan.
Obrolan itu terputus karena tiba-tiba saja salah satu bodyguard Yoga memberitahu jika ada yang ingin bicara.
"Siapa?" tanya Yoga. Sepertinya ada sesuatu yang penting.
Jadi, Yoga pergi menemui orang itu yang menunggunya di kafe yang ada di tempat golf.
Ketika melihat Ken, Yoga mengerutkan keningnya.
"Ada apa lagi?" tanya Yoga dengan gusar.
Ken berdiri dan menunduk hormat pada lelaki paruh baya itu.
"Saya datang ingin bicara penting, Tuan," ucap Ken.
"Apa itu? Kebohongan lainnya?" tanya Yoga yang tidak percaya pada Ken setelah kejadian sebelumnya.