Melati...
Cantik, kan? Tentu saja. Nama itu sesuai dengan parasku.
Cantik, anggun dan berkelas.
Semua ku dapat dalam genggamanku. Semuanya. Tapi tidak dengan kebahagiaan.
Akankah kutemukan kebahagiaan itu? Apakah masih ada jatah bahagia untuk seorang ja lang sepertiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jenk kelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menangis
Gara-gara hasrat yang tertahan, aku jadi uring-uringan. Rasanya badanku jadi pegal semua. Capek banget, tulang-tulang rasanya remuk. Moodku juga terjun bebas, gara-gara Brian.
Aku melirik Brian yang sedang mengemudi sambil senyum-senyum. Sepertinya dia puas mengerjaiku. Ini yang kedua kalinya Brian berhasil membuatku kesal.
Aku bersumpah akan membuatnya bertekuk lutut di hadapanku.
Kubuka scarf kain sutra berwarna biru motif bunga-bunga kecil yang tersampir di leherku, lalu melemparnya ke dashboard.
Scarf itu juga akal-akalan Brian. Dia yang memasangnya, agar belahan dadaku tak terlihat. Gara-gara aku beneran nggak punya baju yang menurut dia layak dipakai ngantor. Tapi menurutku ini nggak cocok, leherku jadi gatel.
"Ngapain sih aku harus ke kantor?" Dengusku.
"Briefing bentar, buat RUPS besok. Kamu belum pernah kan, ikut meeting besar seperti itu?"
"Aku meetingnya di dalam kamar, langsung praktek, nggak pake teori." Sahutku sebal sambil melipat tanganku di depan dada.
Brian melempar scarf yang kulempar tadi ke dadaku.
"Tutupin! Jaga image dong, kamu kan anaknya Agung Adiguna. Setidaknya jangan terlihat murahan didepan karyawanmu sendiri." Gerutu Brian kasar. Tapi aku sudah kebal dengan mulut pedasnya, membuatku tak kaget lagi
"Cih, kamu pikir, dulu Papaku nggak main wanita di kantor?" balasku.
"Sssttt... jangan ngomongin orang yang sudah meninggal."
"Kamu yang mulai." Dengusku.
Brian menghela nafas.
"Usahakan nanti malam jangan sampai kelelahan. Perpisahan seperlunya aja."
"Kenapa? Kamu mau gabung?" Aku menaikkan alis, menantangnya.
"Lusa kamu sudah bisa ku pakai sepuasnya, untuk apa gabung? Awas saja servicemu mengecewakan."
Lagi-lagi mulutnya yang setajam silet membuatku merasa rendahan. Tunggu pembalasan dariku Yayan. Hih...
***
Dara mencuci piring bekas makan suaminya dengan bahagia. Setelah ini, ia berencana pergi ke supermarket membeli bahan-bahan membuat kue.
Salah satu hobi yang Dara suka, ia bisa betah seharian di dapur, bergelut dengan tepung dan teman-temannya.
Dara mengedarkan pandangannya, dapurnya sudah rapi, dia bisa pergi sekarang.
Ia mengunci pintu, lalu melenggang santai sambil merapatkan cardigannya.
Saat berbelok menuju lift, matanya menangkap bayangan Brian sedang masuk kedalam lift.
Dara mengrenyit, bukannya Brian sudah pergi dari tadi? Ah, mungkin ada urusan sebentar. Ia masih berfikir positif.
Dara juga tak ingin mengejar, takut menghambat waktu Brian. Dia memilih masuk setelah lift Brian turun.
Tapi langkahnya terhenti saat ia sampai di lobi. Brian terlihat berjalan beriringan dengan Melati. Gestur tubuhnya sih sepertinya mereka tidak begitu akrab.
Bisa saja mereka papasan tadi kan? Dara masih biasa saja. Ia tetap berjalan pelan dibelakang Mel dan Brian.
Mobil Brian sudah menunggu di depan, dari tempatnya berdiri, Dara bisa melihat Brian membukakan pintu depan untuk Mel.
Wanita itu masuk, lalu Brian menyusul dan mobil itupun pergi.
Meninggalkan Dara yang tertegun ditempatnya.
Berbagai pikiran buruk mulai memenuhi kepala Dara.
Apa ini? Ada hubungan apa Mel dan suaminya?
Apa mungkin Mel numpang sampai depan? Atau mereka ada bisnis yang Dara nggak tahu?
Dara juga baru sadar, Brian tak membawa rantang yang tadi Dara kasih untuk Zain.
Kemana makanan itu? Apa jangan-jangan...
Dara sibuk menerka-nerka, kemana Brian meninggalkan rantangnya.
Tiba-tiba dadanya sakit. Ia menekan-nekan dadanya untuk mengurangi nyeri. Dara ingin menangis.
"Kakak ipar?"
Dara tersentak, Zain berdiri di depannya saat ini. Sepertinya baru pulang kuliah, ia masih menyandang ranselnya.
"You okay?" Wajah Zain nampak khawatir melihat mata Dara yang basah.
Dara gelagapan, "Zain..." Lirihnya, matanya yang besar dan bulat itu menatap Zain penuh rasa sakit.
"Kakak sakit?" Zain menyentuh kedua pundak Dara, ia sedikit menunduk untuk melihat wajah Dara.
Dara menggeleng, sekuat tenaga ia menahan tangisnya agar tidak terlihat Zain. Tapi kenapa ini terlalu sakit? Dadanya seperti ditusuk-tusuk ribuan belati, ia tak tahan.
Akhirnya Dara hanya bisa menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mencoba menyembunyikan genangan air matanya yang tak bisa ia bendung lagi
Sekuat apapun Dara mencoba berfikir positif, tapi ia tak mampu lagi berpura-pura.
Zain meraih kepala Dara masuk kedalam dadanya. Tangis Dara pecah.
***
Setengah jam lebih, Zain menunggui Dara menangis. Sekotak tisyu sudah habis dipakai Dara melap air mata dan ingusnya.
"Kak tisyunya habis, nih pake bajuku." Zain menyodorkan lengannya. Iseng aja sih, kasihan juga lihat Dara yang nggak kunjung diam. Dara juga tidak mengatakan apa-apa, bikin Zain salah tingkah sendiri.
Dara menatap Zain dengan wajah sembab, matanya bengkak, hidungnya juga sudah merah banget, ia meraih lengan Zain lalu menangis lagi.
Zain mengerjapkan matanya, yah basah deh. Keluhnya dalam hati.
Beruntung sebentar kemudian tangisan Dara mereda. Terakhir ia melap ingusnya di lengan Zain.
Zain cuma bisa bengong.
"Maaf, kamu bisa ganti pakai baju kakakmu kalau mau." Ucap Dara nggak enak hati lihat expresi Zain.
Zain nyengir, "santai Kak, aku bawa kaos kok di tas." Ia menepuk-nepuk tas ranselnya.
Dara terdiam, lalu menatap Zain. "Zain, tolong jangan bilang siapa-siapa ya, termasuk Mas Brian, juga Papa dan Mama." Lirih Dara.
Zainal menghela nafas, ia menatap Dara iba.
"Apa Kak Brian menyakitimu?" Tanya Zain.
Dara menggeleng, "tidak, tidak... aku aja yang over thinking, lagi PMS jadi gampang baperan." Elak Dara, ia nggak mungkin cerita ke Zain kalau sedang cemburu, kan?
"Oke kalau gitu, aku bakal bilang ke Kak Brian, juga Papa dan Mama." Ancam Zain. Ia sungguh ingin tahu kenapa Dara sampai menangis tadi. Di lobi lagi, nangis kan bisa di kamar. Ngapain coba nangis di lobi? Kan banyak orang lewat.
Untung Zain datang tadi, meski tatapan security agak curiga, saat dia membawa Dara yang nangis kejer di dalam pelukannya.
Dipikir nyulik kali ya? Postur tubuh Dara yang imut, kontras banget sama Zain yang tinggi besar, untung ganteng.
Dara terlihat kebingungan, dia bukan tipe wanita yang bisa berbohong dengan mudah. Dan Zain tahu Dara sedang mencoba membohonginya.
"Kakak bisa berbagi, aku janji akan tutup mulut." Tambah Zain memberi tanda mengunci mulutnya dengan jari.
Dara menatap Zain, matanya yang bulat dan besar itu kembali memerah dan berair.
Zain menyisir rambutnya, alamat nangis lagi ini mah.
"Anu, Kakak ipar, aku ganti baju dulu ya..." Zain asal melepas kemejanya di depan Dara dan menggantinya dengan kaos futsal yang kebetulan ia taruh di dalam tas.
Lalu ia menyodorkan kemejanya tadi untuk Dara, "Nih, buat lap ingus." Ucap Zain tanpa dosa.
Dara terdiam, matanya mengerjab jenaka, sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak sambil meraih kemeja Zain.
Astaga, kenapa ada laki-laki selucu ini sih? Dara gemas.
Ganti Zain yang tertegun. Astaga, bisa ya wanita nangis sambil ketawa. Hadeeeehh...
***
bang Brian memberi restu kalian ko
brian cuma lg nguji kamu doang biar makin kuat
kamu juga harus ikut memperjuangkan ketulusan. cinta dewan
buat Zain kamu hebat bisa menyadarkan marni
tokoh tokohnya keren
dialognya kekinian membuat para pembaca terkoneksi ke situasinya.
tulisannya menjadi candu yg nikmat terasa saat dibaca.
great job
you're the best Jeng Kelin ❤️🌹
adegan situasinya..
dialognya..
complicated nya..
haa haa haa 🤣
you did it JENG KELIN ❤️🌹