Namaku Indira.
Karena kesalahan satu malam yang tidak aku sadari, aku harus melahirkan bayi kembar di usia yang masih sangat muda. Akan tetapi, aku lagi-lagi harus menelan pil pahit saat mengetahui bahwa satu diantara kedua anakku meninggal dunia beberapa detik setelah dilahirkan.
Dukung novel baru aku ya kak.
Bismillah, semoga kalian semua suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
Mobil yang dikendarai Nala tiba di kediamannya sekitar pukul enam sore. Dia pun berhasil membawa Isa untuk pertama kalinya ke rumah besar itu.
Nala turun dari mobil dan membukakan pintu lain untuk Isa, dia menggendong bocah itu dan meminta Rudi membawakan dua koper yang ada di bagasi ke kamarnya dan juga kamar yang akan ditempati oleh Isa.
"Ibu mana, Om?" tanya Isa sesaat setelah kaki Nala menginjak ruang tengah.
"Ibu di atas, apa Isa ingin bertemu Ibu sekarang?" tanya Nala sembari tersenyum kecil.
"Iya," angguk Isa tanpa ragu.
Nala kembali tersenyum dan mengacak rambut Isa dengan gemas. Bocah itu tak kalah lucunya dengan Nasya, bahkan memiliki senyuman yang hampir sama. Terkadang Nala bertanya-tanya dalam hati, apa mungkin ada manusia semirip itu tanpa mempunyai ikatan darah?
Entahlah, Nala tidak ingin memikirkan hal itu untuk saat ini. Dia pun menaiki anak tangga menuju kamar Nasya. Lebih baik mempertemukan Isa dan ibunya terlebih dahulu, dengan begitu Nala tidak akan merasa bersalah karena menahan Indira untuk tetap tinggal di rumahnya.
Dari luar, Nala menekan kenop pintu tanpa mengetuk lebih dulu, dia bermaksud ingin memberi surprise pada Indira. Mungkin kehadiran Isa bisa menghilangkan kecanggungan di hati Indira yang sedari tadi merasa gelisah berada di rumah itu.
Saat pintu terbuka sedikit, Isa menjulurkan kepalanya. Dia langsung berseru saat menangkap keberadaan Indira yang tengah berbaring di samping Nasya.
"Ibu..."
Indira yang tadinya sedang memegang ponsel hendak menghubungi Ulfa, tiba-tiba terperanjat menangkap keberadaan putranya. Dia membulatkan mata dengan sempurna, tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Isa... Kenapa..."
Isa lantas melompat dari gendongan Nala kemudian berlari mendekati Indira dan memeluknya dengan erat.
Disaat bersamaan Nasya membuka mata mendengar suara lantang Isa, dia melihat pemandangan itu dengan jelas kemudian mengalihkannya ke arah Nala yang masih berdiri di ambang pintu. Raut kebingungan jelas terlihat di wajah bocah perempuan itu.
"Pa..."
Nasya hendak bertanya tapi Nala mengedipkan matanya dan berjalan menghampiri mereka semua. Nala menekuk kakinya di sisi ranjang sebelah kanan kemudian membungkukkan punggung dan mencium pipi Nasya.
"Maafkan papa ya, tadi papa pergi tanpa bilang sama Nasya." Nala meminta maaf karena merasa sudah melakukan kesalahan pada putrinya. "Oh ya, Nasya kenal tidak sama kakak itu?" tanya Nala mengalihkan perhatian Nasya sembari menunjuk ke arah Isa.
Nasya kembali memutar leher menghadap Isa yang masih memeluk Indira dengan erat. "Tidak," geleng Nasya kebingungan.
"Kalau begitu kenalan dulu! Itu Isa anaknya dokter Indira. Dan ini Nasya anaknya Om." imbuh Nala memperkenalkan kedua bocah itu.
Isa menjauhkan diri dari Indira dan mematut Nasya dengan tatapan yang sulit dimengerti. "Oh, jadi kamu yang namanya Nasya. Kenalkan, aku Isa, anaknya ibu Dira." Isa mengulurkan tangannya tapi tak disambut oleh Nasya. Bocah perempuan itu hanya diam melihat kedekatan diantara Indira dan Isa, jujur dia cemburu karena tidak pernah merasakan hal yang sama.
Indira yang melihat itu lantas tersenyum dan mengacak rambut Nasya gemas. "Kenapa diam saja, sayang? Ayo, kenalan dulu dong!"
Nasya mengangguk lemah karena ini merupakan permintaan Indira. Dia pun mengulurkan tangan sembari menyebut namanya.
"Nah, gitu dong. Sekarang kalian berdua sudah saling mengenal, sebentar lagi kalian akan menjadi saudara. Isa kakaknya dan Nasya adiknya, benar 'kan?" celetuk Nala yang membuat Indira terkejut bukan main.
Indira menautkan kedua alisnya tapi tidak dipedulikan oleh Nala. Pria itu malah fokus pada Nasya dan Isa, bahkan menggendong Isa ke kasur agar bisa memeluk keduanya bersamaan.
"Pa, Nasya tidak mengerti. Kenapa Isa..."
"Loh, apa Nasya lupa? Katanya Nasya ingin dokter Indira menjadi mama Nasya?" tanya Nala.
"Iya," angguk Nasya cepat.
"Kalau dokter Indira jadi mama Nasya, itu artinya Isa juga jadi kakak Nasya. Kita semua akan jadi satu keluarga." terang Nala mencoba menjelaskan pada Nasya.
"Oh, begitu ya." Nasya manggut-manggut meski masih bingung menelaah kata-kata Nala barusan. Dia belum mengerti dan memilih menurut saja pada perkataan sang papa.
"Sekarang kalian berdua harus saling menjaga satu sama lain, tidak boleh nakal apalagi bertengkar!" pesan Nala meski pada kenyataannya hal itu belum terjadi.
Saat Nala tengah asik bercengkrama dengan kedua bocah itu, Indira memilih turun dari ranjang dan meninggalkan mereka bertiga tanpa berucap. Indira belum bisa memahami isi otak Nala.
Untuk apa pria itu membawa putranya ke sana, bukankah mereka belum menikah, lalu bagaimana jika hal itu menjadi bahan gosip nantinya? Indira tidak mau merusak nama baik Hendri maupun pria yang akan menjadi suaminya.
Melihat Indira meninggalkan kamar, Nala pun meminta Isa dan Nasya untuk berbincang agar semakin dekat. Kemudian Nala meninggalkan keduanya dan menyusul Indira dengan langkah besar.
Saat Indira hendak menuruni anak tangga, Nala menyambar pergelangan tangannya dan menarik Indira ke kamar lain yang merupakan kamar Nala sendiri. Di sanalah nantinya Indira akan tidur meski sudah ada perjanjian diantara mereka.
"Apa yang kau lakukan? Menyingkir lah atau..."
"Bu dokter, aku hanya ingin bicara denganmu." sela Nala setelah keduanya terjebak di kamar tersebut.
"Apa kau sudah gila? Kalau mau bicara, ya bicara saja! Kenapa harus membawaku ke kamar ini?" sergah Indira dengan tatapan tajam membunuh, kakinya sedikit bergetar karena takut Nala melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud..." Nala menggaruk kepalanya yang tidak gatal, entah mengapa kemarahan Indira justru membuatnya sangat gemas. "Sekali lagi maaf, aku mengaku salah." imbuh Nala menangkup tangan di depan dada kemudian membuka kembali pintu kamar yang sempat dia tutup.
Indira meracau tanpa bersuara, Nala bisa melihat jelas bibir sang dokter yang tengah komat kamit seperti tengah mengumpat padanya. Akan tetapi Nala sama sekali tidak marah dan justru tersenyum samar melihat tingkah Indira.
Ya, Nala ingin belajar menyesuaikan diri. Setelah mendengar cerita Hendri tadi, dia malah menjadi sangat senang menggoda Indira. Itu dia lakukan agar Indira tidak merasa asing di rumah itu, rumah yang sebentar lagi akan menjadi milik Indira juga.
"Bersiaplah, sebentar lagi penghulu akan datang. Kita akan menikah malam ini juga." ucap Nala yang membuat Indira urung meninggalkan kamar itu.
Indira mengerutkan keningnya, apa dia tidak salah dengar? Menikah? Secepat ini kah?
"Biasa saja, jangan memasang wajah seperti itu di hadapanku!" keluh Nala mengulum senyum.
"Apa kau sudah gila? Kenapa jadi terburu-buru seperti ini? Aku bahkan belum sempat..."
"Aku sudah membicarakan ini pada ayah dan ibumu, sebentar lagi mereka akan datang. Sekarang giliranmu bersiap-siap, dandan yang cantik biar calon suamimu ini..."
"Calon suami dari Hongkong. Ingat Pak Nala yang terhormat, pernikahan ini hanya formalitas semata. Diantara kita tidak akan ada..."
"Biar waktu saja yang menjawab. Aku tidak ingin berdebat denganmu." sela Nala, dia maju beberapa langkah dan mencubit pipi Indira dengan gemas.
"Hei, kau..."
"Sssttt... Jangan bicara seperti itu pada calon suamimu ini! Lagian sebentar lagi kamu tidak boleh memanggil namaku, harus belajar manggil Mas, eh, sayang juga boleh." goda Nala dengan senyum merekah di bibirnya.
"Sayang sayang palamu peang!" ketus Indira meluapkan rasa kesal yang sudah membumbung tinggi.
"Sangat manis," sanjung Nala dengan gigi bergemeletuk. Entahlah, jika bukan karena memikirkan trauma masa lalu yang dialami Indira, Nala ingin sekali memeluknya dan mencium keningnya, memberikan pundaknya tempat Indira menyandarkan diri bahkan berbagi keluh kesah dengannya. Akan tetapi semua itu tidak mungkin, Indira pasti akan takut padanya.
Lalu Nala menyuruh Indira membersihkan diri terlebih dahulu. Dia sudah menyiapkan pakaian dan peralatan makeup untuk Indira serta membebaskan dokter itu menggunakan kamarnya sesuka hati. Setelah itu Nala pun meninggalkan kamar dan menutup pintu perlahan sembari tersenyum penuh kemenangan.
lanjut Thor 💪💪💪🥰
makin seruu
tapi Alhamdulillah semua sudah jelas
buat indira semoga selalu bahagia setelah ini
untuk othornya sukses selalu sama karya-karya nya selalu ditunggu
terimakasih sudah menghibur 🙏🫰😘😘😘