Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya
Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita
Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
"Eh! kalau jalan tuh liat-liat dong. Nabrak gue nih!"
Irine menatap lekat pada cewek dihadapannya yang justru marah padanya.
Cewek itu Jenny. Kakak kelas yang sempat melabraknya di toilet tempo hari lalu.
Irine menatap garang pada Kakak kelasnya ini.
"Heh! Jelas-jelas lo yang nabrak gue! Seharusnya lo yang jalan liat-liat. Selain pake kaki, mata juga perlu dipake!" sentak Irine.
Jenny sedikit terkejut dengan Irine. Ia kira, Irine bakal menunduk dan langsung meminta maaf padanya. Tapi ternyata tidak.
"Apa?! Mau ngelak lagi kalau lo gak salah? Hah?!" Irine lebih melotot.
"Cih, dasar cewek murahan," ucap Jenny.
Irine tidak terima dengan ucapan Jenny. Refleks, tangannya langsung menjambak rambut Jenny.
"Heh! Dasar mulut jablay! Lo gak sadar kalau lo yang cewek murahan! Di perempatan jalan gue lihat lo lagi godain cowok-cowok, terus lo berusaha ngerebut pacarnya Sisi. Iya kan lo?!" sentak Irine lagi hingga membuat semua orang terperangah dengan ucapan Irine. Entah percaya atau tidak, mereka tidak bisa menarik kesimpulan.
Jenny menghentakkan tangan Irine.
"Heh! Kalau punya mulut tuh dijaga! Gak usah fitnah jadi orang!"
"Siapa yang fitnah? Gue benar-benar ngelihat lo kok waktu itu. Gue gak mungkin salah orang."
"Bukan gue! Itu bukan gue! Lo tuh salah lihat!" bentak Jenny ke Irine.
Irine tersenyum puas.
"Makanya, jangan mulai duluan. Udah tahu gue lagi sensi. Salah cari mangsa deh jadinya. Kalau lo pengen cari mangsa, tunggu gue lagi gak sensi." Irine berlalu begitu saja meninggalkan Jenny ditempat.
Banyak orang disana yang tertawa melihat tingkah aneh Irine. Lucu tapi terlihat aneh. Jenny pun dibuat kesal oleh Irine.
[[]]
Di meja Yuan, Rega dan Jojo saling berbisik-bisik mengenai kejadian antara Irine dan juga Jenny.
"Gila, tuh anak napa dah? Tumben ngelawan si Jenny. Biasanya enggak," komentar Rega pertama kali.
Jojo menoleh ke Yuan dengan menyenggolnya dan berhasil membuat cowok itu menoleh.
"Kenapa?"
"Si Irine kenapa? Tumben tingkahnya jadi aneh gitu?"
"Dia emang udah aneh sejak dulu kali. Baru nyadar?" balas Yuan.
Rega terkekeh.
"Samperin sana. Kali aja tuh anak kurang belaian dari lo."
Plakk
Kepala Rega mendapat pukulannya telak dari Yuan.
"Belaian pala lo!"
"Oh ya, Yuan. Si Irine, kemarin perhatian gak waktu lo dirawat di rumah sakit?" tanya Jojo dengan penasaran.
"Kagak. Dia malah sibuk chatan sama si Sastra."
Rega tertawa puas.
"Gila! Pinter juga si Irine cari gebetan. Gak nanggung-nanggung gila."
"Hooh, Sastra itu udah pinter, jago main basket, jago bela diri, ganteng juga sih menurut gue," imbuh Jojo. Mereka tahu kalau Yuan saat ini lagi kesal.
"Ucapan kalian sampah semua, tau gak?!" Yuan bangkit dari tempatnya kemudian pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu.
Sementara Rega dan Jojo, mereka menertawai Yuan yang kelewat cemburu itu.
"***** tuh bocah. Ternyata dia suka sama sahabatnya sendiri," celetuk Rega.
"Yuan, makanan lo buat kita berdua ya?" pekik Jojo ke Yuan. Yuan terus berjalan tanpa menyahut ucapannya.
Ah, surga dunia bagi Rega dan Jojo karena makanan Yuan yang masih banyak. Bahkan disentuh aja belom oleh si Yuan.
"Bagi-bagi woy! Jangan rakus sendiri!" tegur Rega ketika Jojo ingin melahap habis bakso milik Yuan.
"Lo makan itu aja, Ga. Gue laper banget soalnya." Jojo menunjuk ke bakwan yang berjumlah satu. Rega tentu menolaknya.
"Kagak kagak! Mana kenyang gue cuma makan bakwan satu? Barengan! Lo bukannya habis makan mie ayam dua porsi ya? Kenapa lo gak kenyang-kenyang, satbang!"
"Gue gak makan berhari-hari, Ga. Kasihan sama gue kenapa."
"Heh! Orangtua lo sultan, masa gak bisa kasih anaknya makan sih!? Gak, pokoknya barengan!"
Jojo mendecak.
"Yang sultan kan orangtua gue. Gue mah gak!"
"Pokoknya barengan, Jojo! Gue juga laper!"
"Ck! Iya-iya. Jangan kek orang susah napa lo."
"Gue emang susah! Gak kayak lo yang sultan! Seharusnya lo yang ngalah buat gue!" jawab Rega.
"Dih, gak ya kalau soal makanan."
Dan bla-bla-bla lagi mereka berdua berantem. Bahkan penghuni kantin itu hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. Bahkan ada yang tersenyum karena merasa lucu dengan tingkah mereka.
[[]]
Saat pelajaran akan dimulai, Irine merasakan nyeri diperutnya. Bahkan ia terlihat sangat lemas.
"Rin, lo kenapa? Kesurupan lagi?" tanya Secil bermaksud bercanda.
"Sakit, Cil. Perut gue sakit banget," lirih Irine.
Secil menjadi panik ketika ia melihat wajah Irine yang terlihat pucat. Ia menyenggol Vinkan didepan nya.
"Vin, si Irine sakit. Anterin ke uks yuk!" ucap Secil dengan panik.
"Hah? Dia beneran sakit?"
"Iya, mukanya pucet banget gila."
"Yaudah, ayo. Kita anterin," ucap Vinkan.
"Rin, ayo, kita anterin lo ke uks," ucap Secil sambil berusaha membuat Irine berdiri.
Kemudian mereka memapah Irine menuju ke uks.
"Woy, Aji! Kalau guru udah dateng, bilangin kalau kita berdua anterin Irine ke uks," panggil Secil pada Aji, yang menjabat sebagai ketua kelas.
"Ya."
Secil dan Vinkan sudah diluar kelas.
"Kalian kenapa?"
Baik Secil maupun Vinkan menoleh dan otomatis Irine juga ikutan menoleh.
"Irine? Dia kenapa?" tanya Yuan cepat.
"Irine sakit, Yuan. Ini kita mau bawa ke uks," jawab Secil.
"Biar gue aja." Yuan mengambil alih menjadi dirinya yang memapah Irine.
"Kalian masuk aja," ucap Yuan lagi.
"Beneran gak papa, Yuan?" tanya Secil lagi.
"Iya."
"Yaudah, kalau gitu kita masuk lagi ke kelas. Hati-hati ya, Yuan," ucap Secil yang dianggukkan oleh Yuan.
Vinkan dan Secil masuk kekelas lagi karena Irine sudah ditangani sama Yuan.
"Sakit."
"Vin, lo sakit juga? Mau gue anterin?" tanya Secil ketika ia mendengar ucapan dari Vinkan.
Vinkan langsung menggeleng.
"Gue baik-baik aja." Kemudian cewek itu masuk kedalam kelas.
Secil hanya bingung.
[[]]
"Gimana? Udah baikan belom?" tanya Yuan ketika Irine sudah bisa duduk.
"Masih sakit," ucap pelan Irine.
"Lo kenapa sih sebenarnya? Udah dari tadi pagi kayak orang gila. Sekarang malah lemes kayak mayat hidup," cibir Yuan.
"Kayaknya gue datang bulan deh," gumam Irine. Irine memiringkan badannya kesamping, kemudian ia melihat belakangnya.
Sedikit bercak merah di rok belakangnya. Irine panik.
"Yuan."
"Apa?"
"Hmm ... anuu ...."
"Anu apaan sih? Ambigu tau gak ucapan lo," ucap Yuan.
"Ituu ... Yuan. Masa lo nggak ngerti sih?"
"Ya apa? Lo dari tadi aja gak ngomong-ngomong," greget Yuan.
"Gue tembus," ucap Irine dengan sangat pelan.
"Hah? Lo ngomong apa? Gak kedengeran gue."
Irine mendecak. Ia melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apakah ada orang atau nggak.
"Yuan! Gue itu tembus! Beliin gue pembalut sana!" Akhirnya Irine memekik membuat Yuan melotot. Ia tidak salah dengar, kan?
"Apa? Pembalut? Ya kali gue beliin itu buat lo? Gak ah, malu," tolak Yuan cepet-cepet.
Posisi Irine masih miring. Karena ia takut mengotori kasur di uks itu.
"Yuan, please beliin. Gue butuh banget sekarang."
Yuan mendecak.
"Ck! Gak mau! Gue gak mau."
"Yuan!" Irine kali ini membentak Yuan karena kesal. Ia pun pegal dengan posisi miring seperti ini. Tapi, Yuan tidak mengerti juga.
"Iya-iya. Gue beliin. Bikin gue malu aja sih." Yuan pun pergi meninggalkan Irine.
[[]]
Yuan pergi ke warung di kantin. Didalam warung masih ada orang. Gak mungkin kan dia masuk dan langsung bilang beli pembalut? Mau ditaruh mana mukanya?
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya orang yang ada didalam keluar. Dan ini adalah kesempatan Yuan.
"Mau beli apa?" tanya Bu Ning, penjaga warung pada Yuan.
"Hmm, itu Bu." Tunjuk Yuan dengan matanya ke pembalut.
Tentu saja Bu Ning tidak paham dengan ucapan Yuan.
"Mau beli apa toh?"
"Itu lho, Bu. Itu." Tunjuk Yuan lagi. Kali ini lebih jelas.
"Ooh, mau beli pembalut toh. Ngomong sama Ibu dong dari tadi. Biar Ibunya gak bingung," ucap Bu Ning.
Yuan mendesis.
"Sst, jangan gede-gede kenapa Bu ngomongnya. Malu."
"Lho, kenapa malu? Buat pacarnya, kan? Udah biasa atuh," kata Bu Ning.
"Bukan."
Bu Ning mengernyit.
"Lho, bukan buat pacarnya? Terus buat siapa? Masa buat kamu sih?"
"Buat sahabat saya. Yaudah, berapa harganya, Bu?" tanya Yuan agar tidak semakin malu dirinya.
"Cuma tiga ribu doang kok."
Yuan memberikan uang lima ribuan ke Bu Ning.
"Nih, Bu. Kembaliannya buat ibu aja." Yuan segera pergi dari sana cepet-cepet.
Baru kali ini, ia dibuat malu oleh Irine.
"Ck! Pokoknya lo harus ganti rugi, Irine. Gue gak terima." Yuan terus saja mengumpat. Plastik berisi pembalut itu ia kantongin di saku celananya. Agar tidak ketahuan siapapun.
To be continued
Wkwk, ada yang ketawa gak pas Yuan disuruh beli pembalut sama Irine?
Lucu ya. Gimana ekspresi dia ya?
Jangan lupa like + comment + vote.
Oke?
Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih
Mencintaimu kaka
Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung