Aini dan Brandon saling mencintai. Cinta mereka bersemi di pesantren tempat mereka menuntut ilmu. Akan tetapi, perbedaan kasta di antara keduanya membuat hubungan mereka menjadi rumit. Bapak Aini yang matre, sengaja menjodohkan Aini yang statusnya merupakan kembang desa, dengan anak juragan tanah setempat. Padahal, sebenarnya Brandon anak orang kaya. Orang tua Brandon yang memiliki pesantren Brandon dan Aini menuntut ilmu.
Hingga setelah sederet kesalahpahaman yang terjadi, dan delapan tahun telah berlalu, takdir kembali menemukan mereka dalam status berbeda. Aini yang hijrah ke Jakarta menjadi ART, justru bekerja di rumah orang tua Brandon. Selain mengetahui fakta bahwa ternyata Brandon merupakan anak dari orang kaya raya, Aini juga mengetahui bahwa pemuda yang statusnya masih menjadi kekasihnya itu akan menikah dengan wanita lain.
Sementara yang Brandon tahu, Aini sudah menikah, hingga akhirnya Brandon juga menyerah dan mau-mau saja dijodohkan dengan seorang perempuan cantik dari kerabat orang tuanya. Namun kini, di hadapannya, Aini justru mendadak hadir sebagai pembantu baru di rumahnya.
Kisah mereka memang belum usai. Namun masalahnya, selain bibit, bebet, sekaligus bobot mereka sangat berbeda, Tuan Muda yang dulu dianggap miskin juga sedang menjalani persiapan pernikahan di tahap akhir.
Lantas, bagaimana akhir dari kisah mereka? Akankah Brandon mengambil keputusan sulit yaitu meninggalkan persiapan pernikahannya untuk Aini yang masih sangat ia cintai? Atau, justru Aini yang akan diam-diam pergi mengakhiri kisah mereka yang terhalang kasta?
💗Merupakan bagian dari novel : Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang 💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 : Brandon Dan Boy
“Dicintai olehnya harus menjadi orang lain bahkan itu kembaranku ...?” batin Boy segera menyuguhkan senyum terbaiknya lantaran ia telah membuat Lentera terlalu lama menunggu. Jemari tangan kiri gadis itu mendadak menjelma menjadi capit yang mencubit gemas hidung mancungnya.
Kemudian, yang Boy lakukan ialah merangkul punggung Lentera dan telanjur bersandar manja kepadanya. Boy juga refleks menenggelamkan wajahnya di kepala Lentera. Kini, selain sangat lembut, rambut di sana juga sangat wangi atas creambath yang beberapa saat lalu Lentera jalani.
“Mulai malam ini, kita enggak sama-sama lagi?” rengek Lentera.
Mendengar itu, Boy yang nyaris ketiduran berangsur menatap kedua mata Lentera. “Besok pagi sebelum kerja ... ah, besok pagi aku ke rumah kamu. Terus siangnya baru pergi kerja.”
Melihat Boy yang tampak jelas kelelahan, Lentera langsung mengangguk paham. “Mau pulang, apa lanjut tidur di sini? Kamu kelihatan capek banget,” lirihnya sambil membimbing agar menyandar ke bahunya, selain ia yang juga sudah langsung merangkul punggung kokoh Boy.
“Begini saja sudah sangat nyaman,” ucap Boy yang membiarkan kedua matanya terpejam.
Mendengar itu Lentera langsung tersipu. Ia menyelimuti tubuh Boy menggunakan selimut tipis berwarna pink salem yang sengaja ia bawa. Ia sengaja berbagi selimut dengan Boy yang membuat bibirnya sibuk menempel ke sebelah pipi pemuda itu.
Di sebelah Lentera dan hanya terpaut oleh keberadaan ibu Elena, pak Rayyan menatap sebal kebersamaan sang putri dan Boy. “Wajahnya terlalu mirip Helios. Rasanya sedendam ini!” batinnya.
Di tempat berbeda, Brandon tengah menuntun sang istri memasuki ruko yang baru ia buka dengan Anjar.
“Dekat pasar, dekat stasiun, dekat bengkel bahkan terminal juga ... cocok!” ucap Anjar bersemangat.
Aini yang masih dihiasi bentol cacar dan tampak mulai layu, tersenyum semringah menatap Brandon.
“Lantai atas bisa buat tempat tinggal,” ucap Brandon.
“Oh ... aku mau lihat!” sergah Anjar bersemangat. Ia sudah langsung setengah berlari kemudian menyalakan lampu di depan anak tangga mengingat suasana malam membuat keadaan di sana makin gelap.
Brandon dan Aini yang ditinggalkan Anjar, refleks tersenyum. Senyum yang makin lepas hanya karena Brandon mendekap tubuh Aini dari belakang. Dagu Brandon sampai mengunci ubun-ubun Aini.
“Beli sapu dan alat bersih-bersih dulu, buat mulai beberes. Bentar, minta Anjar ...,” ucap Aini sambil menengadah hanya untuk menatap wajah khususnya kedua mata Brandon.
“Di atas bagus, loh ... apa enggak mau dijadiin tempat makan di sini saja? Insya Allah rame lah. Nanti dihias-hias gitu. Mbak Ai yang urus nanti, dia kan telaten hias-hias!” sergah Anjar yang sudah kembali dari lantai atas.
Anjar menuruni anak tangga dengan buru-buru sambil tersenyum ceria menatap kedua mata Brandon maupun Aini, silih berganti.
“Awal-awal, rumah makan dulu, kan? Paling jual makanan saja?” ucap Brandon sengaja memastikan.
“Sekalian buat makan juga di sini, Mas. Kayaknya seru banget!” sergah Aini makin bersemangat. Karena baru membayangkannya saja, ia sudah sangat bahagia.
“Oke, nanti aku bantu-bantu. Semangat pokoknya!” sergah Anjar makin bersemangat.
Mendengar itu, Brandon refleks menghela napas pelan sekaligus dalam. “Kamu fokus sekolah, Mbak Aini fokus istirahat.”
“Tetap bisa atur jadwal kok, Mas. Kalau waktunya sekolah, aku pasti sekolah!” yakin Anjar lagi.
Memikirkan kenyataan Brandon yang selalu menginginkannya fokus istirahat, Aini jadi curiga, jika sebenarnya sang suami ingin ia segera hamil.
“Mas ingin aku segera hamil?” tanya Aini ketika akhirnya mereka bersiap tidur.
Brandon yang sudah meringkuk di sebelah sekaligus menghadap Aini langsung menggeleng sekaligus menatap heran sang istri.
“Jangan bohong,” rengek Aini sambil mencubit gemaa kedua pipi Brandon.
Setelah sempat mengernyit menatapnya makin tak percaya, Brandon meraih dompetnya dari meja nakas di sebelahnya. Dari dompet tersebut, ia mengeluaskan dua buah bungkusan menyerupai permen dan Aini tahu, itu kond*om.
“Kenapa kamu berpikir aku ingin kamu segera punya anak? Aku enggak pernah maksa, loh. Kecuali, kamu wajib segera menikah denganku, aku akui itu memang aku selalu memaksa!” tegas Brandon. Kini, giliran dirinya yang menatap saksama kedua mata istrinya.
Detik itu juga, Aini yang kedua sisi wajahnya dibingkai dengan hati-hati oleh Brandon, berangsur tersenyum tak berdosa. “Ya ... Mas kan selalu minta aku buat istirahat total. Ya aku curiga,” ucapnya.
“Meski wanita apalagi istri memang ditakdirkan memiliki kemampuan intel, alangkah baiknya kamu juga mulai belajar berpikir positif!” ucap Brandon benar-benat gemas. Ingin mencubit hidung Aini, di hidung yang tidak begitu mancung itu masih dihiasi cacar yang baru agak mengering. Karenanya, ia yang masih membingkai wajah Aini menggunakan kedua tangannya, sengaja membenamkan gemas wajahnya pada perut Aini.
“Terus, kapan kita mau punya anak, Mas?” tanya Aini di antara sisa senyumnya.
Brandon yang berangsur menatap Aini berkata, “Gampang. Setengah tahun lagi, apa satu tahun lagi. Biar kamu bisa istirahat, dan kita juga bisa pacaran dengan leluasa. Nanti KB mandiri saja, enggak usah minum obat atau pasang alat di kamu.”
Aini yang sepanjang Brandon menjelaskan langsung tersipu, berangsur mengangguk-angguk. Meski jika menatap Brandon, ia juga akan teringat wajah orang tua Brandon maupun wajah Lentera dan ibu Elena. “Sebentar lagi, ... sekitar semingguan lagi, harusnya kamu menikah dengan Lentera, Mas. Namun, apa pun keputusanmu, aku benar-benar akan mendukungnya. Meski aku juga akan tetap berusaha bikin kamu bersama keluargamu lagi. Satu harapan terbesarku saat ini. Kamu, aku, ... kita bisa jadi bagian dari keluargamu lagi. Kita beraama-sama mereka,” batin Aini.
Di tempat berbeda, ada ibu Chole yang perlahan terduduk lemas di sofa depan tempat tidur. Pak Helios yang baru pulang kerja, menatap aneh kenyataan tersebut, apalagi sang istri masih memakai mukena lengkap. Yang membuat pak Helios khawatir, ibu Chole sama sekali tidak terusik oleh kehadirannya. Menegaskan bahwa sang istri memang tidak baik-baik saja.
Setelah pak Helios masuk, menutup sekaligus mengunci pintu kamar mereka dengan hati-hati pun, ibu Chole tetap dengan renungannya. Tatapan ibu Chole tetap kosong, dan tetap begitu meski pak Helios sudah menghampiri setelah sebelumnya meletakan tas kerjanya di meja seberang, meja kerja yang ada di sana.
“Assalamualaikum, Mah?” sapa pak Helios lirih sambil membingkai wajah sang istri.
Detik itu juga ibu Chole terkesiap. Ibu Chole kebingungan kenapa suaminya sudah pulang dan kini sudah ada di hadapannya? Pak Helios sampai berlutut di hadapannya sambil membingkai wajah ibu Chole menggunakan kedua tangan.
“Pah ...,” rengek ibu Chole yang belum apa-apa sudah berlinang air mata.
“Kenapa? Masih Brandon dan Boy?” lembut pak Helios dan ibu Chole sudah langsung mengangguk-angguk hingga butiran bening mengalir nyaris bersamaan dari kedua sudut mata lebarnya.
walaupun banyak kesulitan yg mereka alami jg kesedihan yg mereka rasakan
pd akhirnya mereka merasakan kebahagiaan...
banyak hikmah d balik setiap mslh banyak cerita yg mengiringi langkah sprti pelangi yg muncul setelah hujan memberikan warna yg indah dlm setiap cerita bersama Aini Brandon sllu tersenyum ceria d tambah kehadiran si kembar yg sllu membuatnya bahagia pd akhirnya mimpinya tlh menjadi nyata😍😍😍💖💖🤗🤗🤗🤗
Dan rejeki, maut & jodoh sdh ada yg mengatur sejauh apapun kita mencoba utk menghindar klu sdh d takdir buat kita ya ttp akan jd milik kita
Brandon g sadar klu papa Helios lg nyamar pengin tau kehidupan dia yg jauh dr orangtua, saudara & klrg besarnya
berarti Aini bs kerja d rumahnya orangtua Brandon karna keinginan pak Helios agar Brandon & Aini menyelesaikan masalah diantara mereka yg blm selesai karna pak Helios mengira Brandon yg mau menikah dg Lentera karna dia sdh bs melupakan cintanya k Aini