Penduduk Bunian: Aku melihat dan merasakan keberadaan berbagai bentuk rupa makhluk misterius. Ini bukan lah mimpi! ketakutanku tidak tertahan melihat kenyataan hal keganjilan yang terjadi di hadapan. Keramaian disana sangat mirip pasar di dunia nyata. Kehidupan Rani menjalani dua dimensi yang berbeda
(The historical of magic, Maharani).
Seorang gadis berambut panjang, bermata biru dan gemar melukis sangat sering berbicara ke makhluk tak kasat. Petualangan menjelajahi dunia yang berbeda. Dengan berbekal cahaya lampu kecil di tangan kanan, menembus alam lain pergi naik sepeda dan kendaraan hantu.
Apakah Rani akan selamat? Banyak pohon- pohon besar bergeser memberi jalan untuk ku lewati, tanahnya terjal dan hampir membuatnya terjatuh.
Dia berada di tempat yang sangat ramai, mereka menawarkan cacing merah yang sudah di beri bumbu dan di bungkus tempurung kelapa tua. Sekeliling tampak terbentang meja dan hidangan yang disajikan untuk saling tawar menawar. Tercium bau amis darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perputaran waktu
"Anak-anak ayo kita harus mencari tempat berkemah yang sedikit aman", kata arahan dari kakek.
Cahaya langit di malam itu sangat mengerikan dan sengatan cahaya bagai api yang berkobar menelusup di ranting-ranting pepohonan membentuk kepala tengkorak yang menyeramkan. Manik netra kak Alfa menunjuk ke langit, mereka semua sangat terkejut menyaksikan tanda lukisan alam yang berbentuk aneh.
"Astaga menyeramkan sekali!" jerit Mia.
"Miaw, Miaww"
Tamsi berlari kencang di susul Rani dan lainnya. Ada sebuah Rumah tua di seberang gubuk derita yang pernah mereka datangi.
"Kita harus melewati sinar rembulan merah ini dan berpindah ke gubuk derita itu", kata Geri.
"Iya benar kata Geri, karena di dekat gubuk derita itu letak tumbuhan awal bunga bangkai", ujar Rani.
"Di sudut ruang rumah angker kosong nampak terdapat penunggunya" Gumam Rani dalam batinnya.
"Permisi wahai penghuni tempat ini, kami numpang disini sebentar."
Seketika lelaki yang di sampingnya terdapat kursi roda itupun menghilang.
Semua orang menjadi hening dan bisu menyaksikan keanehan itu dengan mata melotot.Tepat tengah malam dan mereka semua sangat mengantuk dan kelelahan. Sampai menunggu sinar merah itu berakhir maka hanya kakek yang berdiri di depan sambil membakar ranting-ranting pohon yang kering menjaga mereka semalam suntuk bersama Tamsi. Alfa dan Geri berjaga di antara Aska, Mia dan Rani.
Kak Alfa menyalakan sebatang lilin di dekat bilik-bilik jendela usang itu dan akhirnya perlahan cahaya merah itu memudar.
Malam yang mencekam berganti setitik sang mentari. Gubuk terlihat dari seberang jurang jalan setapak. Secepatnya kak Alfa melubangi tanah dan menanamkan kembali bunga bangkai itu.
"Kak Alfa ! kakek cepat lah! Mereka semua melihat kita!", kata Rani.
Suara langkah menggeret setapak demi setapak lalu suara lari kencang terdengar oleh Aska.
"Aku sudah terlalu letih menghadapi hal ini lagi!" jerit Aska sambil memeluk Mia.
Rani berdiri di belakang kak Alfa dan tamsi berfokus tajam pada makhluk-makhluk itu.
Geri memetik lagi dedaunan di sekitar hutan dan memberikannya kepada Mia.
"Coba amati dedaunan ini dengan kaca pembesar", kata Geri.
" Kau jadi gila dan sangat ketakutan!" ucap Mia bergidik.
"Kemarilah biar aku amati sebentar. Ini hanya dedaunan sejenis daun kecil berbentuk bulat dengan lingkar coklat langka di hutan! Aku akan mengembalikan ke semula di tempat asal mu memetiknya, sadarlah Geri akan semua kejadian ini!" ucap Rani menarik sudut mengernyitkan dahi.
Rani berjalan mencari letak dedaunan yang semula di petik oleh Geri. Siang begitu terik namun mereka belum juga menemukan pintu fortal.
"Ayo kita istirahat dan memakan perbekalan kita", kata kakek.
"Kakek maaf sebelumnya, menurut ingatan Rani bahwa Fortal itu seperti pohon bendo besar yang terbentuk pintu melingkar"
"Pohon bendo? kenapa kalian baru menceritakan hal ini? pohon itu sangat angker dan penuh misteri" kata kakek.
Rani memberikan sebuah lukisan hasil gambarnya ke kakek.
"Engkau mempunyai imajinasi yang kuat nak!"
"Apa yang akan kita lakukan setelah menemukan pintu fortal itu lagi?"
Tergambar wajah Mia begitu panik. Angin kencang hanya mengguncang sebuah pohon besar yang dedaunannya rontok bertebaran.
"kakak, kakak! ahihih"
'Kami menunggu mu berkunjung lagi!"
jeritan anak kecil memekik telinga Rani sampai Rani menutup sendiri kedua daun telinganya.
"Ada apa denganmu adik?" kata Alfa.