Ada hadiah menarik untuk 10 orang yang beruntung, pastikan berhasil kirim gift iklan selama 7 hari berturut-turut. Hadiah dipilih berdasarkan gift terbanyak 🥰 Wajib join grupku di Noveltoon ya 🙏
***
[SEDANG DALAM TAHAP REVISI PER BAB]
Ketika hasil sebuah ujian harus dibayar dengan sebuah nyawa.
5 orang anak indigo mencoba memecahkan misteri yang terjadi selama puluhan tahun di sekolahnya. Sementara salah satu di antara mereka sudah menjadi target tumbal di tahun ajaran yang baru.
Apa yang akan terjadi pada mereka? Apakah pulang dengan membawa sebuah ijzah, atau malah menjadi jenazah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BellaBiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalian Nggak Berurusan sama Gaib Kan?!
"Jangan ngarang, Bim!" Arian yang semulanya tidak peduli, kini memutar tubuhnya memfokuskan pandangan pada mereka semua.
"Gua ngarang buat apa?! Kakek-kakek yang tadi berdiri di depan rumah Jini itu penjaga sekolah tahun 19an! Dia juga terlibat dalam mitos itu! Karena anaknya jadi tumbal pertama! Sekarang, kakek itu ngikutin Jini ke sini! Dia ada di depan rumah lu, Yan!" jelas Bima dengan napas menggebu-gebu agar teman-temannya percaya.
Jini terdiam sejenak. "Gua juga mau jujur. Nggak tau kenapa, sejak dari balik sekolah tadi siang, gua kepikiran kalo Bu Ami lagi ngincer lu, Bim. Gua nggak tau alasannya kenapa. Tapi, itu feeling gua aja sih. Kayaknya kakek itu bukan ngikutin gua, tapi ngikutin lu. Dia dateng barengan sama lu waktu ke rumah gua. Feeling gua sih, kakek itu suruhannya Bu Ami.
"Berarti lu juga liat kakek itu, kan?!" tegas Bima.
Jini menarik pelan napasnya dan mengangguk.
Arian menoleh akibat ada sekelibat asap putih berlalu di ekor matanya. Ia mendapati sosok pria tua itu sudah berdiri di depan pintu kamar. Mata Arian menancap tajam pada pria tersebut.
Bima juga menyadari keberadaan pria tua itu, begitu juga Jini. Sementara Jovan dan Rafa tak menangkap energi apapun.
Jini, Arian dan Bima mulai panik karena takut Jini akan dibunuh detik ini juga.
"Hi hi hi hiiiii!" Suara cekikikan dari luar kamar Arian menembus telinga Jini dan Jovan.
Seketika itu, Jini langsung menutup telinganya. Jovan menyadari bahwa Jini juga mendengar suara tersebut.
"Mati," bisik sosok yang tak diketahui letaknya tersebut di telinga Jini.
"Mati! Mati! Mati! Mati! Mati!"
"Aaaaaaarrrggghhhh!!" teriak Jini karena suara bisikan itu semakin terdengar jelas.
"Kenapa?" tanya Rafa.
"Aaaaarghhh!! Kok gua bisa denger sih?! Jangan ganggguuuuuuuu!" teriak Jini semakin menjadi.
"Jin! Tenang! Dia sengaja bikin lu panik! Tenang! Dengerin aja!" ucap Jovan.
"Matiii! Mati! Mati!! Jini! Mati! Ayo, mati, Jini!"
"Aaarghhh! Berisiiiiiiiiikkk!" teriak Jini menutup telinganya dengan bantal namun suara tersebut semakin bertambah terdengar jelas.
"Ada apaan sih? Kok gua nggak ngecium apa-apa," ucap Rafa.
Arian menghampiri Jini. "Buka bantalnya!"
"Nggak bisa, Yan! Ini berisik banget suaranya!" bantah Jini.
"Buka!"
"Suaranya ganggu bangeeeet!" teriak Jini yang hendak menangis.
Arian membuka paksa bantal tersebut hingga melukai tangan Jini dengan kukunya.
"Aaaawww! Lu gila ya?!" teriak Jini lagi.
Arian tak memperdulikan luka tersebut. Ia lebih memilih fokus pada sosok asap putih di belakang daun telinga Jini.
"Bim!" panggil Arian sembari memegangi kepala Jini agar gadis itu tidak memberontak.
Jovan, Rafa dan Bima menghampiri mereka. Bima menekan gigi geraham, akibat kesal akan tingkah makhluk-makhluk tak kasat mata seperti ini. Sementara Jovan dan Rafa tak melihat apapun.
"Mati! Ayo, Jini! Ayo mati!" Jovan mendengar bisikan itu dengan sangat jelas.
Bima menarik asap tersebut dan seketika asap itu menghilang.
"AAAAAAAAAAARRRGGGHHHHH!!" teriak Jini hingga kedua bola matanya terbelalak. Sosok kakek tua itu menganga hingga mulutnya sobek di hadapan Jini dan membuat gadis itu terkejut.
"Jin! Kenapa?!"
"Jin!"
"Jini! Tarik napas, Jin!"
Jini masih berteriak hingga wajahnya memerah kehabisan napas.
"Jiniii!" teriak teman-temannya sembari menggoyang-goyangkan tubuh Jini agar gadis itu terlepas dari apa yang membuatnya terkejut.
"Aaaaarrrrghhhh!!" Jini masih berteriak panjang. Tiba-tiba ia jatuh pingsan.
"Jiniii!"
Bima langsung mengecek detak jantung gadis tersebut, untungnya Jini masih bernyawa.
"Tadi Jini liat apa, Yan?" tanya Bima.
"Gua nggak liat apa-apa," jawab Arian.
"Bohong banget!" bantah Bima.
"Gua nggak liat apa-apa!" Arian mempertegas kalimatnya.
"Udah, udah! Jangan ribut dulu! Ini Jini gimana?!" Jovan menengahi perdebatan mereka.
***
Hingga pagi hari, Jini tak kunjung sadarkan diri. Akhirnya, mama Arian menghubungi kedua orangtua Jini dan membawa gadis itu ke rumah sakit.
"Gejala awalnya bagaimana?" tanya Dokter di IGD.
"Dia teriak ketakutan. Kayaknya, dia ngeliat sesuatu, tapi kita semua nggak liat apa-apa. Terus dia pingsan, kita tungguin mungkin dia bakalan sadar beberapa menit kemudian, nyatanya sampai pagi dia belum banhun," jelas Bima.
"Sebelumnya ada gejala lain?"
"Dia bilang ada suara-suara yang mengganggu di telinganya dan suara itu mengatakan ...." Jovan tak melanjutkan kalimatnya.
"Mengatakan apa?" tanya Dokter.
Jovan menoleh kepada kedua orang tua Jini. "Ayo mati, Jini," jawab Jovan pelan.
"Sebelum ini kalian ada ngelakuin hal apa?! Kalian berhubungan sama gaib-gaib lagi?!" tegas ibu Jini.
"Nggak ada, Tante." Bima langsung menjawab dengan yakin.
"Jangan bohong!" tegas ibu Jini lagi.
Bima menoleh pada ketiga temannya dan menganggukkan kepala.
Setelah mendapatkan hasil pemeriksaan, dokrer menyatakan tidak ada yang salah pada tubuh Jini, juga tidak ditemukan bukti kekerasan. Memang ada sedikit shock, tapi itu tidak menyerang spot jantung. Jini hanya layaknya orang tidur yang belum terbangun.
Kedua orang tua Jini meminta untuk Jini tetap dirawat inap karena khawatir anaknya mendadak sakit jika dibawa pulang.
***
Siang hari berikutnya, Jovan, Arian, Rafa dan Bima berjalan menuju perpustakaan. Namun, sayangnya kali ini perpustakaan telah dikunci.
"Tumben-tumbenan perpus nggak buka," celetuk Jovan.
"Jini, mana?" Suara itu membuat mereka terkejut.
Bu Ami berdiri di belakang Rafa. Dengan cepat Rafa belari ke belakang Bima.
"Bim," panggil Rafa ketakutan.
"Kita udah nggak ngurusin soal mitos itu, Bu. Kenapa Ibu masih gangguin Jini?!" ucap Bima memberanikan diri.
"Gangguin Jini? Memangnya Jini kenapa?" Bu Ami balik bertanya.
"Ibu nggak usah pura-pura nggak tau! Kenapa Bu Ami masih gangguin kita?! Kita udah nggak ngurusin mitos itu!" tegas Bima lagi.
"Maksud kamu apa?!" Bu Ami ikut tersulut emosi.
"Kalau Bu Ami masih mau lanjutin Jini jadi tumbal tahun ini, kami juga bakal lanjutin bongkar soal mitos dan kami siap ngumpulin bukti kalau sekolah ini banyak memakan korban jiwa!" tantang Bima.
"Bim!" Arian mencoba menahan temannya tersebut, namun Bima sudah terlanjut berucap.
"Bebasin Jini, atau kami usut kembali soal SMA GAIB RENGGANI," ucap Bima.
Bu Ami merasa tak terima akan tuduhan dan semua perkataan Bima yang terkesan tidak menghormatinya sebagai seorang guru. Urat leher Bu Ami menerik sembari menatap tajam kedua bola mata Bima.
***
"Bim! Kayaknya mending kita pindah sekolah aja deh, Bim!" usul Rafa.
"Menurut gua, kita ajak damai aja Bu Ami sama kepala sekolah! Atau, kita kasih tumbal lain selain Jini. Biar kita bisa lulus bareng-bareng. Terserah sekolah ini aja mau pake tumbal kek, mau pake apa kek. Bukan urusan kita! Dari pada lu ngancem kayak tadi, kita bisa kena masalah, Bim!" sambung Arian.
"Bukan Jini tumbal tahun ini, tapi kita berlima!" jelas Jovan sembari memegangi telinganya.
"Hah?! Maksud lu?" tanya Rafa.
"Gua denger kepala sekolah bilang gitu ke Bu Ami."