Kecelakaan yang terjadi pada Abian Reegan membuat sebagian ingatanya menghilang. Dan hal tersebut membuat Zahira harus berjuang mati-matian untuk membuktikan kepada Sang Suami, Abian bahwa dia adalah istrinya. Dia bahkan terpaksa menjadi pembantu di rumah suaminya sendiri untuk bisa membuktikan hal tersebut dan membuat Abian mengingatnya.
Dikelilingi oleh ibu dan adik tiri yang manipulatif membuat Abian semakin lupa siapa itu Zahira.
Bagaimana cara Zahira untuk membuat Sang Suami mengingatnya ketika ibu dan kakak tiri Abian menghadirkan cinta masa lalu pria itu? Dapatkah Abian mengingat tentang istrinya kembali?
Yuk, terus ikuti kisah rumah tangga Abian dan Zahira. Jangan lupa, like, komen, vote, dan giftnya.
Follow juga akun media sosial author
- IG: samudra_lee_19
- Samudra Lee
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Inge membuka pintu dengan malas saat mengetahui yang bertamu ke rumahnya adalah Devita. Dia yakin, wanita itu hendak menceramahinya karena kesalahan yang ia perbuat yang membuat Abian tahu tentang hubungan pria itu dengan Zahira.
"Tan, kalau Tante dateng buat menceramahiku mending Tante pergi deh dari sini. Aku lagi nggak mood buat ngedengerin ceramah Tante," ujar Inge saat Devita sudah masuk dan duduk di ruang tamunya.
"Tadinya sih memang itu alasanku datang kesini buat ngasih pelajaran ke mulut sama otak tumpul kamu itu. Bisa-bisanya sampai keceplosan! Tapi, aku juga lagi gak mau debat sama kamu," jawab Devita. "Sebaiknya kita cari instan untuk membuat Abian menjadi milik kamu."
Inge menatap ibu tiri Abian itu dengan dahi berkerut. "Maksud, Tante apa ya?" tanyanya.
"Maksudku, kita harus melakukan apapun untuk membuat Abian tetap bersamamu meski ingatannya kembali nanti," jawab Devita.
"Caranya?"
Devita menyuruh Inge untuk lebih mendekat kepadanya.
"Itu ide bagus sih, Tante. Tapi, gimana caranya? Apalagi Abian sedang marah sama aku dan Tante. Rasanya sulit untuk menjalankan misi itu sekarang," ucap Inge setelah mendengar ide yang dikemukakan oleh Devita.
"Kita minta sama dia. Kalau perlu, kamu juga harus minta maaf sama Si Hira itu."
"Males, Tan, kalau aku harus minta maaf. Bisa gede kepala tuh si cewek udik," tolak Inge.
Sebagai seseorang yang merasa memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan Zahira, tentu dia tidak sudi meminta maaf kepada istri dari Abian yang dianggapnya tidak selevel.
"Udah, lakukan saja. Minta maaf doang juga, Tante juga akan minta maaf sama si Abian. Setelah semua berjalan kondusif, baru deh kita jalankan rencana kita."
Inge tampak mencerna perkataan Devita.
"Mau ya, Nge. Ntar, kalau rencana kita udah berhasil, baru deh kita bikin perhitungan sama gadis kampung itu," bujuk Devita lagi.
Inge menghembuskan napasnya. "Baiklah. Aku ikutin rencana Tante," jawab Inge ogah-ogahan.
"Good."
Devita mengacungkan dua jari jempolnya.
"Nge, kamu masak apa? Tante mau makan, tadi nggak sempet sarapan karena keburu ngambek sama Abian. Eh, nggak tahunya tuh anak nggak peduli," cicit Devita.
"Aku aja baru bangun tidur, Tan. Lagian, akukan nggak bisa masak. Ngapain Tante nanyain makanan ke aku?"
"Terus biasanya kamu nggak makan gitu?" sungut Devita.
"Order, Tan. Asal punya fulus, urusan perut pun mulus," jawab Inge.
"Cih. Duit juga kamu dapat dari Tante dan Armand. Kamu itukan pemales!" oceh Devita.
Inge hanyak mencebik.
"Ya, udah sana orderin buat Tante!" suruh Devita.
"Duitnya?"
"Ish. Kamu ini!" Devita memberikan uang kertas berwarna merah sebanyak 3 lembar.
"Ini nggak ada lagi, Tan?"
"Duit cash Tante cuma segitu. Itu kalau buat beli rendang daging, masih dapat dua porsi lebih lah," jawab Devita.
"Tapi kan aku juga mau pesen yang lain, Tan. Ntat kalau aku berhasil dapetin Abian, Tante juga yang bakalan ikut senang."
Devita menghela napasnya. Dia mengotak-atik hp di tangannya. "Sudah Tante transfer sejuta. Udah, cepetan pesen makanannya. Tante udah laper banget!"
"Kok cuma sejuta sih, Tan? Tambahin dong, sama keponakan sendiri juga," protes Inge.
"Itu udah dapat makanan lumayan kali, Nge. Udah, buruan pesen makanannya! Ntar, Tante bantu bujuk Abian buat ngirim uang ke kamu."
"Iya-iya," jawab Inge. Dia segera memesan makanan dan minuman melalui aplikasi. "Tungguin, sebentar lagi dateng. Aku mau mandi dulu sebentar, Tan."
"Hm."
Inge pergi ke kamarnya untuk mandi. Sementara, Devita memilih duduk di sofa sambil melihat-lihat video yang saat ini sedang viral di tok-tok.
Devita menonton sebuah video. Narasi di video tersebut menceritakan bagaimana suatu kaum yang dulu pernah tidak diterima di negara manapun, ditolong, diberi makan, dan diberi tempat tinggal. Dan sekarang kaum itu malah berusaha merebut wilayah si penolong dengan cara melakukan pembersihan. Benar-benar tidak bermoral, lebih sadis dari penjajahan.
Ibu tiri Abian itu bergidik. "Aku nggak sekejam mereka kok," gumam Devita. Wanita itu segera beralih mencari tontonan lain.
***
Zahira menghela napas panjangnya setelah selesai membereskan meja makan. Dia melihat piring bekas suaminya makan yang ternyata masih tersisa banyak. Mungkin suaminya itu tidak selera makan karena sempat bersitegang dengan ibu tirinya mengenai perusahaan.
"Dari dulu Mas Abian selalu saja begitu. Tidak akan berselera makan kalau ada ribut-ribut," gumamnya. Zahira memakan nasi yang masih ada di piring bekas suaminya itu. "Mas, aku rindu kita makan bersama. Aku rindu disuapi olehmu," batinnya.
Tanpa terasa air mata merembes dari sudut matanya. Sejak kecelakaan itu dan Abian kehilangan sebagian ingatannya, Zahira tak pernah sekalipun bisa melakukan kebiasaan-kebiasaan itu lagi. Kalau bisa dia ingin kembali ke masa itu, masa dimana mereka selalu melakukan aktivitas bersama.
"Anda pasti merindukan Tuan Abian ya, Nyonya?" Bik Darsih yang baru saja dari dapur berujar.
Zahira mengangguk. "Sangat, Bik. Kadang aku merasa tidak kuat melihat dia selalu bersama dengan Mbak Inge," jawab Zahira. "Tapi... jika hanya gara-gara itu aku lemah, bagaimana aku bisa melindungi Mas Abian."
"Sabar ya, Nyonya. Saya yakin, ingatan Tuan Abian akan segera kembali. Apalagi saya tahu kalau Tuan Abian sangat mencintai Nyonya Hira." Bik Darsih mengusap pundak nyonya itu.
"Saya minta maaf ya, Nyonya karena saya tidak bisa membantu apapun. Saya takut kalau saya memberitahu Tuan Abian tentang hubungan kalian yang sebenarnya, Nyonya Devi dan Tuan Armand akan memecat saya. Saya masih butuh pekerjaan ini." Bik Darsih merasa menjadi orang yang tidak berguna karena tidak bisa membantu Zahira.
"Tidak apa-apa, Bik. Aku ngerti kok. Aku cuma minta doanya saja dari Bik Darsih agar aku tetap kuat, tidak baper, dan bisa menahan perasaan cemburuku. Bagaimanapun, sebagai seorang istri aku selalu cemburu saat Mas Abian jalan bareng dengan Mbak Inge. Tapi, aku harus menahannya dan bertahan di sini. Dan semoga ingatan Mas Abian cepat kembali," ucap Zahira.
"Pasti, pasti saya doakan itu," jawab Bik Darsih. "Ya udah, Nya. Habiskan dulu makannya sambil bayangin kalau Tuan Abian yang nyuapin. Saya tinggal ke dapur ya."
"Bik, biar nanti saya yang cuci piring setelah ini selesai. Bibik kerjakan yang lainnya saja."
Bik Darsih mengangguk setuju. Karena meskipun menolak, Zahira pasti akan tetap melakukannya.
Zahira melanjutkan memakan nasi sisa di piring suaminya.
"Apa ponselku ketinggalan di sini?"
Mendengar itu sontak saja Zahira terkejut. Dia bahkan sampai tersedak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
GAES, MAAF BARU UP LAGI. JUJUR SAYA SAYA KECEWA KARENA KARYA SAYA NGGAK LOLOS RANGE 1 PENILAIAN EDITOR. YANG ARTINYA GAK BISA DAPET REWARD APAPUN DARI NASKAH INI. PADAHAL HANYA ITU YANG BISA DIHARAPKAN KARENA KALAU MENFHARAPKAN PENDAPATAN DARI VIEW ITU NGGAK MUNGKIN.
SATU BAB UNTUK MENULIS KARYA INI MEMBUTUHKAN WAKTU KURANGLEBIH 1-3 JAM. JADI, SAAT TIDAK LOLOS PENILAIAN EDITOR, RASANYA SESUATU BANGET. BERASA PULUHAN JAM YANG SAYA HABISKAN GAK DIHARGAI
TADINYA MAU AKU GANTUNG SAJA DAN BIARKAN. TAPI, INGAT KALAU MASIH ADA YANG MENANTIKAN KELANJUTAN KARYA INI, MESKI SEUPIL MEMBUAT AKU AKHIRNYA MEMUTUSKAN UNTUK MELANJUTKAN.
SEMOGA KALIAN TETAP SABAR DAN HARAP MAKLUM. MISAL AKU SLOW UPDATE.
to the point dan g bertele-tele.. 🥰🥰🥰
makasih banyak udah mau namatin kisah ini..
walopun aku jg bukan reader yg baik buat kakak, tapi aku tetap mendoakan kakak semoga tetap sehat selalu..
terus semangat berkarya dimanapun kakak berada dan semoga sukses selalu.. 💪🏻😘😍🥰🤩
semoga masih mau nerusin cerita yg belum selesai..
atau bikin cerita baru sampai tamat apapun hasil yg diterima..
aamiin.. 🤩🤩🤩
eh tau ding takut salah nnti dikatain sok tau ma kak othor 🤣🤣🤣