Ini cerita tentang Aresha, Arjuna dan juga Arsen.
Aresha yang memiliki kekasih ketua osis tampan seperti Arjuna. Namun Arjuna yang selalu menomor duakan Aresha demi urusan sekolahnya .
Lalu bagaimana hubungan antara Arjuna dan Aresha bisa bertahan jika Arjuna tidak pernah ada di saat Aresha membutuhkanya, dan di saat itulah Aresha memiliki masalah dengan Arsen. Cowok bertubuh jangkung dengan wajah yang menawan namun terkesan datar dan dingin itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra 025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Sedari tadi Aresha hanya bisa tersenyum menatap Arjuna yang fokus menyetir mobil. Rasanya begitu membahagiakan bisa jalan berdua di hari libur seperti ini, terlebih Arjuna yang mengajaknya lebih dulu.
"Kamu kok lihatin aku gitu banget, aku nggak pantes ya pake baju ini?" tanya Arjuna melirik Aresha sekilas.
"Enggak kok kamu bagus pake itu, cuma wajah kamu aja terlalu tampan sampai aku tidak bisa mengalihkan perhatianku dari kamu," jawab Aresha semakin melebarkan senyum nya.
Arjuna tidak menjawab, namun senyum di bibir nya terangkat hingga menampilkan lesung di pipi nya.
Mobil yang di kendarai Arjuna mulai memasuki parkiran mal, Aresha sedikit heran menatap Arjuna.
"Mau ngapain ke mal, kamu ada yang mau di beli?"
"Iya ada!" jawab Arjuna melepaskan seatbelt nya.
"Ayo turun!" ajak Arjuna melihat Aresha yang hanya diam di tempat nya.
Akhirnya Aresha turun dari mobil dan mengikuti langkah Arjuna yang sudah sedikit lebih jauh dari nya.
"Arjuna tunggu," ucap Aresha sedikit berteriak, menghampiri Arjuna dan langsung memeluk lengan nya.
"Mangkanya kalau di suruh turun itu ya turun."
Aresha mendengus kesal.
"Kamu mau beli apaan sih?"
"Sesuatu buat hadiah."
"Hadiah buat siapa?"
"Kamu."
Seketika itu juga Aresha menghentikan langkah nya.
"Belum sempat aku memberikan kamu hadiah, kamu udah bilang putus saja gara gara ngelihat aku sama Renata, jadi aku ingin menebus nya sekarang."
Aresha tersenyum dan langsung memeluk Arjuna, Aresha tidak bisa berkata kata lagi, Arjuna benar benar sudah berubah dan Aresha sangat senang sekali.
"Yaudah yuk, kamu boleh ambil apa saja yang kamu inginkan." ucap Arjuna mengelus rambut Aresha, mereka kembali melanjutkan jalan nya untuk mengelilingi mal ini.
Pukul 11 siang Aresha dan Arjuna baru keluar dari mal, kedua tangan Arjuna penuh dengan barang belanjaan, sedangkan Aresha hanya membawa boneka panda berukuran sedang.
Namun di tengah perjalanan menuju parkiran, langkah mereka terhenti dengan datang nya seorang cewek seusia Aresha dan langsung memeluk Arjuna hingga membuat barang belanjaan di tangan Arjuna berjatuhan kebawah.
"Arjuna, akhir nya kita bisa bertemu lagi!" ucap wanita itu dengan antusias nya tanpa menyadari keberadaan Aresha di samping Arjuna.
Aresha hanya diam menahan rasa cemburu melihat wanita itu tak kunjung melepaskan pelukan nya, dan yang lebih membuat Aresha marah adalah Arjuna yang juga membalas pelukan wanita itu.
"Halo Anggeli, bagaimana kabarmu? Lama kita tak bertemu," ucap Arjuna seraya melepaskan pelukan nya.
"Aku baik, dan sangat baik saat aku menemukanmu disini." wanita bernama Angeli terlihat sangat antusias, matanya berbinar saat pertama kali melihat Arjuna, teman masa kecilnya.
"Ekhem", deheman Aresha berhasil menyadarkan dua orang di samping nya.
"Oh ya, Anggeli kenalin dia Aresha pacar aku, dan kamu Aresha, kenalin ini Anggeli teman lama aku."
Masih dengan prasaan kesal, Aresha berjabat tangan dengan wanita yang sudah lancang memeluk kekasih nya.
"Pacar, kamu sudah punya pacar Arjuna?" suara Anggeli terdengar terkejut, bersamaan dengan hilangnya binar indah dimatanya.
"Gue rasa lo gak budeg sehingga gak bisa mendengar apa yang udah pacar gue ucapkan tadi," jawab Aresha dengan sinis nya.
"Sayang, kita balik aja yuk, di sini panas." ucap Aresha sengaja memperlihatkan kemesraanya kepada Anggeli.
"Anggeli aku pergi dulu ya,"
Belum sempat Anggeli menjawab, Aresha sudah dulu menarik tangan Arjuna yang penuh dengan barang belanjaan.
Aresha menutup pintu mobil dengan begitu kasar hingga menimbulkan bunyi yang keras. Arjuna yang sudah duduk di kursi pengemudi di buat terkejut dengan tindakan Aresha.
"Kamu kenapa sih, kok kelihatanya kesal begitu?" tanya Arjuna semakin menambah kekesalan Aresha, Arjuna itu bodoh atau pura pura bodoh hingga tak mengerti penyebab kekesalan nya.
"Iyalah kesal orang lihat cowok nya berpelukan sama cewek lain," jawab Aresha memalingkan wajah nya dari Arjuna.
"Tapikan Anggeli teman aku."
"Tepi enggak harus berpelukan kan? Apalagi tadi kamu balas pelukan dia." bantah Aresha, kini mata nya mulai berapi rapi, Aresha tipe orang yang posesif, dia tidak suka ada yang menyentuh apa yang sudah menjadi milik nya.
"Yaudah aku minta maaf kalau gitu." ucap Arjuna memilih mengalah, daripada harus berdebat lebih panjang dengan Aresha.
"Gampang banget minta maaf, kamu sadar? Kamu itu udah buat mood aku jelek tau gak."
Arjuna menghela napas nya, mencoba tetap tersenyum menghadapi sifat Aresha yang pencemburu berat.
Arjuna meraih tangan Aresha dan menggenggam nya.
"Gimana caranya buat aku balikin mood kamu lagi?"
"Nggak perlu, aku sudah tidak ingin melakukan apapun, sekarang jalankan mobil nya aku mau pulang."
"Tapi ini kan masih__"
"Jalankan mobil nya atau aku naik taxi saja," sentak Aresha.
Arjuna menghela napas nya lagi, menjalankan mobil nya tanpa ada sekata pun yang terucap dari bibir nya.
Keduanya tampak diam di dalam mobil, tidak ada percakapan apapun di antara Arjuna dan Aresha. Hingga sampailah mereka di depan gerbang rumah Aresha, tanpa mengucapkan apapun Aresha langsung turun dari mobil meninggalkan Arjuna yang hanya bisa diam melihat perubahan sifat Aresha.
Aresha yang sudah mencapai puncak kekesalan langsung masuk ke dalam kamar nya, bahkan Aresha sama sekali tidak membawa barang belanjaan nya yang tadi di belikan Arjuna.
Aresha merebahkan tubuh di atas ranjang, mengatur nafas nya yang masih tersenggal. Weekand kali ini hancur, benar benar hancur, mood nya sudah rusak hingga Aresha tidak tau haru berbuat apa untuk mengembalikan mood nya.
Tiba tiba dering ponsel nya terdengar, Aresha melihat jika ada panggilan vidio dari Stephany.
"Ngapain tuh orang Vc gue," gumam Aresha sebelum menerima panggil itu.
"Halo Aresha," teriakan heboh dari ketiga sahabat nya memekik gendang telinga nya, wajah mereka terlihat begitu bahagia di layar handphone.
"Kalian apaan sih, berisik tahu." sahut Aresha kesal, dan kekesalan Aresha bertambah melihat ketiga sahabatnya bersenang senang tanpa dirinya.
"Kalian di mana sih, kok berisik amat." tanya Aresha melihat sekeliling dimana ketiga sahabat nya berada, namun Aresha tetap saja tidak bisa menebak nya.
"Main lah ke Dufan, ngilangin penat tahu." jawab Veli.
"Iya seru banget tahu, ada Sakra juga." sahut Stephany mengarahkan ponsel nya ke arah Sakra.
"Halo Aresha," sapa Sakra tersenyum mengoda dengan melambaikan tangan nya.
"Kalian apa apaan sih ke Dufan nggak ngajak ngajak gue,"
"Nggak ngajak apaan, kita udah umumin di grup tapi lo nya aja yang sok nggak mau." sahut Meera.
"Terus kenapa ada Sakra, dia yang ikut atau kalian yang ngajakin?"
"Sakra gue yang ajak, karena dia mau nemenin gue seharian di sini." jawab Stephany mengembangkan senyum nya.
"Nyusul aja Sha, biar gue suruh Arsen jemput lo, sekalian ajak Refal dan Devan juga." ucap Sakra.
"Apaan gue nggak mau." tolak Aresha cepat.
"Nggak nerima penolakan, pokoknya lo harus dateng sama Arsen." ucap ketiga sahabatnya sebelum sambungan nya terputus tiba tiba.
Aresha mendegus kesal melempar handphone nya di atas ranjang, ini sudah jam 12 siang dan bagaimana bisa Aresha pergi dengan cuaca sepanas ini.
Dan Arsen, kenapa harus Arsen yang di suruh menjemput nya. Kenapa nggak yang lain aja, Refal atau Devan misalnya.
Tak mau pusing memikirkan itu, Aresha kembali membaringkan badan nya dengan bantal yang menutup kepalanya, namun suara bising motor menganggu ketenangan nya.
"Secepat itukah Arsen menjemputku," gumam Aresha beranjak dari tempat tidur, menuju dinding kaca agar bisa mengintip Arsen dari kamar nya.
Aresha membelalakan mata nya terkejut saat matanya menatap seorang pria berhodie putih dengan motor yang terparkir di depan gerbang rumah nya, dan yang lebih mengejutkanya lagi orang itu bukanlah Arsen seperti yang ada di pikiranya, melainkan Arkan, pria gila yang masih suka menganggu ketenangan nya.
"Ngapain lagi tuh cowok, gak puas puas gangguin gue."
keren novel nya bikin terharu, terbawa suasana mengingatkan jaman sekolah dlu