Misteri kasus orang hilang sejak tahun 1986 hingga 2017 membuat semua orang menjadi takut, bahkan pihak berwajib pun tidak bisa melakukan banyak hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HousingAmoeba45, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23: Pernyataan
Pantulan cahaya rembulan menyinari langit malam yang gelap gulita di tempat tanpa lampu seperti antah-berantah.
Jumlah peneliti telah ditambah beserta beberapa personil untuk mengamankan area bangunan mangkrak hasil korupsi itu.
Raezha masih berada di luar bangunan, melihat jalanan aspal yang sepi. Sesekali motor lalu-lalang tetapi sekali lagi, itu sangat jarang. Raezha mengarahkan pandangannya ke atas, menatap bulan dan bintang-bintang yang cahayanya redup akibat polusi udara bahkan jumlah bintang-bintang tersebut kurang dari belasan.
Raezha bersandar pada mobil operasi mereka sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ia menatap cahaya rembulan cukup lama, merasakan angin sepoi-sepoi malam yang berhembus pada kulitnya. Mengangkat senjata apinya dari pinggangnya lalu berpikir. "Kenapa aku bisa memegang senjata api? Padahal step pelatihannya panjang...." Meletakkan kembali senjatanya ke sabuk pinggangnya.
Malam itu otak Raezha rasanya seperti mengalami banjir, banjir informasi yang sama sekali tidak terkait atau berhubungan dengan dirinya. Ia berusaha menyusun setiap informasi. Namun, justru itu membuatnya semakin over-thinking dan pusing. Segala informasi tersebut membuat kepalanya sakit.
Tetapi, ada satu hal yang masih sangat ia ingat. Yaitu, percakapan yang tiba-tiba ia dengar di kepalanya. Raezha merasa percakapan itu sangat nyata, bahkan seolah dirinya ada di dalam percakapan aneh itu.
"Apa sih, gak usah dipikirin aja lah. Tambah pusing." Gumamnya pada diri sendiri tidak ingin memikirkan semua hal terlalu jauh.
Dari dalam bangunan mangkrak itu Herlambang dan Nita keluar, mereka berjalan bersama menuju mobil operasi mereka sambil berbincang di sepanjang jalan.
Raezha mendengar suara hentakan sepatu dari langkah kaki mereka, Raezha beranjak dari sandarannya lalu berjalan ke sisi samping mobil.
Herlambang dan Nita melihat Raezha keluar dari samping mobil, perbincangan mereka pun terhenti. "Udah nunggu di sini rupanya." Celetuk Herlambang, mereka berdua menghampiri Raezha.
Raezha berdiri di depan kehadiran Her;ambang dan Nita. "Kalau boleh tau, kalian tadi ngomongin apa?" Tanya Raezha penasaran seperti terlewat gosip terbaru.
"Cuma ngomongin anomali yang kita temui tadi." Jawab Nita dengan nada santai, sedikit gerakan senyum dan kedipan mata yang melentik.
Raezha menganggukkan kepalanya sedikit dan pelan. Kemudian ia lanjut bertanya sembari menggaruk-garuk rambutnya. "Oh.... Karena kalian ke mobil, berarti kita balik nih?"
"Yah gitu lah, kita balik ke fasilitas karena tempat ini udah diisolasi dan dijaga oleh tentara. Jadi harusnya aman sih." Jawab Herlambang sembari dirinya berjalan ke bagian belakang mobil, membuka bagasi mobil.dan meletakkan senapannya di dalam bagasi.
Raezha dan Nita berjalan ke bagasi juga, mereka sama-sama meletakkan senapan mereka di dalam bagasi. Setelah memasukkan barang-barang, Herlambang menutup pintu bagasi dan melangkah membuka pintu pengemudi.
Sebelum akan masuk ke dalam mobil, Nita menyaut nama Raezha. "Oh ya Raezha, pas pulang nanti kamu ikut aku bentar ya." Bujuk Nita suara ngantuknya terdengar lembut, ditambah kelopak matanya sudah akan menutup mata.
"Oke.... Tapi kayaknya kamu lebih perlu tidur deh." Raezha menerima bujukan Nita, meski ia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Nita. Namun, Raezha lebih mengkhawtirkan rasa kantuk Nita, apalagi ia sampai menguap sambil menutupi mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya.
Membuka pintu mobil, mereka berdua masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Kursi mobil yang empuk dan lebih nyaman ketimbang bersandar di dinding semen keras membuat mereka bisa menikmati perasaan santai dan satu dari sekian pekerjaan yang selesai.
Herlambang menyalakan mesin mobil, ia melihat Raezha dan Nita di kursi belakang sebelum menginjak mengganti transmisi dan menginjak pedal gas.
Bersandar di kursi penumpang, justru Raezha yang tertidur duluan. Tidak memedulikan goyangan dan guncangan di dalam mobil, Raezha masih tetap tertidur lelap. Padahal ia yang peduli dengan rasa kantuk Nita, tetapi malah ia yang lebih dulu tepar.
Nita yang melihat Raezha sudah tepar hanya bisa tersenyum dan memberi sedikit gelengan kepala pelan.
Roda mobil bergerak berputar di jalanan aspal, menggerakkan mobil pada kegelapan malam yang hanya ada cahaya bersumber dari lampu depan dan belakang mobil.
Jalanan aspal habis, tergantikan oleh jalanan tanah yang berlubang dan tidak rata. Herlambang memperlambat laju mobil serta berhati-hati agar tidak masuk ke dalam lubang.
Guncangan demi guncangan tidak terhindarkan, kepala Raezha menghantam kaca pintu mobil sontak membangunkannya dari dunia mimpi yang indah. "Aduh.... Sakit banget...." Meringis kesakitan sambil tangannya menggosok-gosokkan ke bagian kepala yang terasa sakit.
Raezha mengusap kedua matanya dengan jarinya, kemudian ia dapat melihat secara jelas Herlambang masih mengemudi lalu menoleh ke Nita yang masih terjaga. "Loh, kirain udah tidur." Celetuknya mengetahui Nita tidak tidur sama sekali.
Nita tadinya sempat cekikikan sedikit saat tahu kepala Raezha menghantam jendela pintu mobil. Ia memandangi Raezha lalu membalas. "Menguap bukan berarti benar-benar mau tidur." Balas Nita. Pipinya bersandar pada kepalan tangan kirinya yang bertumpu pada pintu mobil.
Mobil mereka sampai dan berhenti di depan fasilitas setelah melelui perjalanan panjang, lama serta banyak guncangan. "Akhirnya sampai juga." Ucap Herlambang, mematikan mesin mobil dan memastikan transmisi ada di netral lalu ia mencabut kunci mobil kemudian keluar dari mobil.
Disusul Raezha dan Nita membuka pintu keluar dari mobil. Baru bersantai sedikit dan melakukan peregangan setelah mengalami guncangan di jalan, Raezha langsung ditarik oleh Nita dan dibawa ke tempat yang sepi.
Kaki Raezha bersusah payah mengikuti ritme langkah NIta sambil tangannya ditarik paksa mengikuti Nita ke area sepi. "Mau ngapain sih?" Tanya Raezha terkejut tiba-tiba tangannya ditarik paksa.
Nita masih menarik tangan Raezha, ia hanya menjawab. "Ikut aja, ada yang mau aku omongin."
Jantung Raezha berdebar cukup cepat, penasaran ke mana ia akan dibawa dan apa yang ingin dibicarakan NIta. Seperti seseorang yang sangat mengharapkan sesuatu, jantung Raezha tetap berdebar cepat bahkan lebih cepat dari sebelumnya.
Langkah Nita terhenti, melepaskan genggaman tangannya dari tangan Raezha. Kemudian ia berbalik dan menatap Raezha tepat ke matanya.
Melihat Nita yang langsung berbalik dan menatap matanya, jantung Raezha berdebar semakin kencang dan dipenuhi rasa penasaran. Waktu seperti berhenti sejenak saat mereka saling tatap-tatapan.
Bibir Nita seolah perlahan bergerak untuk mengeluarkan pernyataan yang ditunggu Raezha. "Sebelum dengar percakapan aneh itu, kamu sudah pernah ngalamin kejadian yang sama sebelumnya kan?" Tanyanya dengan nada serius.
Jantung Raezha yang awalnya berdebar kencang kini langsung melambat, merasakan sebuah kekecewaan atas sesuatu yang tidak sesuai harapannya. Seolah lemas serta kehilangan semangat, Raezha hanya bisa menjawab dengan sejumput kata. "Uhhh ya pernah...." Jawab Raezha masih diliputi perasaan kecewa.
Jawaban Raezha membuat Nita kembali bertanya dengan penasaran tanpa tahu Raezha sedang kecewa akan sesuatu. "Selain saat kamu melawan anomali Trisula, kapan lagi kamu ngalamin hal serupa?" Wajahnya mendekat ke muka Raezha ketika bertanya lagi, Raezha menarik kepalanya sedikit ke belakang agar tidak terlalu dekat dengan wajah Nita.
"Intinya sih waktu itu aku tertidur di sebuah warung makan dan yang aku alami itu mimpi.... Aku bertemu makhluk humanoid berwarna hitam dengan mata putih bersinar, makhluk itu hanya menyuruh aku untuk mengungkap misteri anomali. Seingatku sih itu.” Ujar Raezha, hatinya berupaya untuk melupakan harapan palsunya.
Nita berpikir keras seusai mendengar ujaran Raezha, ia berusaha mengingat apakah ada makhluk sama atau setidaknya mirip yang pernah ia temui dan memiliki kemampuan untuk memasuki mimpi seseorang. "Aneh, kok cuma kamu.... Dan memangnya ada anomali kayak gitu?" Gumamnya bertanya pada diri sendiri.
Tetiba suara keras terdengar dan memecah keseriusan.