NovelToon NovelToon
Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Mengubah Takdir / Chicklit
Popularitas:877.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Surya Suryan

Dinda yang berawal mengetahui jika rumah tangganya selalu baik-baik saja, ternyata salah. Kehadiran orang ketiga membuatnya harus berpisah dengan suaminya, yang bernama Dimas.
Awalnya ia rapuh, namun ketika ucapan Dimas penuh dengan penghinaan terhadap Dinda, akhirnya ia bangkit untuk mencari kehidupannya sendiri.
Dimas yang menyesal dengan perbuatannya, perlahan mendekati kembali Dinda untuk meminta maaf. Namun, adanya kehadiran seorang pria yang selalu menjadi pelindung Dinda.

Siapakah dia? Saksikan terus ya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Suryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23 Kalian kemana?

"Kamu mau kemana, Mas?" Tanya Lidya yang melihat Dimas sudah berpenampilan rapi.

"Aku mau pergi.." Jawab malasnya.

"Tapi ini malam pertama kita, kamu jangan pergi gitu aja". Cegah Lidya dengan menahan tangan Dimas.

"Itu menurutmu, tapi menurutku tetap seperti malam-malam biasa". Jawab Dimas yang langsung menepis tangan Lidya, kemudian pergi dari hotel, yang seharusnya tempat untuk malam pertama mereka.

Dimas pergi tanpa menghiraukan Lidya yang kini menangis. Harusnya ini menjadi malam pertama yang indah untuk mereka, namun semua itu berantakan begitu saja.

Lidya geram tak terima dengan semuanya, berawal dari pestanya yang kacau kemudian malam petamanya pun sama halnya. Pasti semua wanita menginginkan kebahagiaan, bukan?

Tangisnya pecah, tetapi dalam bayangannya tertuju seseorang yang membuat perubahan pada suaminya tersebut. Tangannya pun mengepal, tanda ia harus segera melakukan sesuatu terhadapnya.

**

Sementara di sisi lain, Viola baru saja pulang di malam yang sudah larut seperti ini dengan rasa lelah yang memuncak. Bagaimana tidak? Dia sendirian mengerjakan pekerjaan Dinda. Ia kerepotan karena memang otaknya tak secanggih Dinda.

Memang hukuman itu sepatutnya di berikan pada Viola karena ulahnya, tetapi hatinya tak terima dengan semua kenyataan pahit itu. Sehingga dalam perjalanan pulang banyak sekali celotehan kekesalannya.

"Kalau bukan gara-gara wanita itu, gue mungkin gak kaya gini. Awas aja, dia harus nerima akibatnya bermain-main dengan gue". Gerutunya dalam perjalanan pulang.

**

Keesokan harinya, Kevin menyernyitkan dahi melihat pekerjaan Viola yang memang berantakan. Ia sampai menggelengkan kepalanya pelan.

"Pekerjaan apa ini? Karyawan baru pun tak seperti ini dalam bekerja". Ketusnya.

Suara ketukan pintu terdengar oleh Kevin, tanpa menunggu lama ia pun mempersilahkan seeorang untuk masuk ke ruangannya.

"Anda memanggil saya, Pak?" Tanya Viola dengan tersenyum ramah. Ia sangat terlihat percaya diri saat di panggil oleh Kevin.

'Mungkin saja, Pak Kevin sudah mulai terpesona akan kecantikan gue. Aahh.. Udah gak kuat pengen di deketin cowok tampan dan tajir sepertinya'. Lirih hatinya yang tak tahu diri.

"Menurutmu apakah pekerjaanmu ini sudah sangat baik?" Tanya Kevin dengan tatapan tajam mengarah pada Viola, namun Viola tak menganggapnya malah tambah yakin jika ini hanya prank yang di lakukan oleh bosnya tersebut.

"Iya Pak, saya sudah susah payah mengerjakannya sampai larut malam". Ucap Viola yang menampakkan wajah sedihnya.

"Oh, begitu. Tapi ini pekerjaan buruk yang pernah saya lihat. Maaf Viola, tapi hari ini kamu saya pecat". Ucap tegas Kevin.

"Bapak tidak serius 'kan? Ini cuma ngeprank 'kan? Ya ampun Pak, jika Bapak memang sudah mulai suka sama saya, jangan seperti ini. Saya akan menyerahkan diri saya untuk Anda, jika itu perlu". Ucap Viola dengan memperlihatkan senyuman yang menggoda agar atasannya bisa terpikat olehnya.

"Kamu bicara apa? Saya tidak bercanda, ataupun apalah yang menurut dalam ucapanmu itu. Sekarang kemasi barang-barangmu". Ucap Kevin.

"Ta-tapi, Pak.."

"Sudahlah, saya sudah muak denganmu. Saya tidak mau mempekerjakan karyawan sepertimu, bisa-bisa perusahaanku hancur". Ucap Kevin tanpa memperdulikan perasaan Viola.

Viola pun pergi dari ruangan tersebut, lalu mengemasi barang-barangnya. Riana kebingungan dengan kepergian Viola, ia sudah bertanya berkali-kali pun tak ada jawaban. Kemudian ia bungkam tak ingin sahabatnya tersebut merasa tambah frustasi. Hingga akhirnya Viola melangkah pergi dari perusahaan tersebut.

**

Saat Viola tengah berada di depan perusahaan, terlihat wanita yang kebingungan melihat ke beberapa arah. Wanita tersebut menghampirinya kemudian menanyakan beberapa pertanyaan kepada Viola.

"Permisi, Mbak. Saya boleh numpang tanya?" Tanya wanita tersebut.

"Nanya apa?" Ketus Viola yang sedang malas berbicara.

"Apakah Anda mengenal Dinda? Ia bekerja sebagai cleaning service di sini". Tanya wanita itu lagi.

"Ohh.. Dia udah jadi sekretaris di sini, tapi gak pantes. Lihat aku sekarang? Aku di pecat gara-gara ulahnya". Jawab Viola masih bernada ketus.

Wanita tersebut tercengang mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Viola. Tetapi dengan santainya wanita tersebut sedikit memperbaiki emosinya. Kemudian ia tampak berfikir, senyuman pun terbit dari sudut bibirnya. Ia mempunyai ide yang sangat cemerlang.

Wanita tersebut adalah Lidya, tentu ini sangat kebetulan. Dia bisa memanfaatkan kesempatan ini yang tidak akan datang dua kali.

"Boleh kita bekerja sama?" Ajak Lidya dengan senyum licik.

"Maksud kamu?" Tanya Viola yang merasa kebingungan.

"Kita bicarakannya nanti, sekarang kamu ikut saya. Mungkin ini adalah tawaran yang menarik untukmu". Jawabnya, kemudian melangkah menuju mobilnya yang terparkir di depan dan di buntuti oleh Viola dari belakang.

**

Hari pun beranjak sore, Dinda berjalan menuju ruangan atasannya. Ia pun mengetuk pintu dan memasuki ruangan tersebut setelah mendapatkan izin.

"Ada apa?" Tanya Kevin yang masih sibuk dengan komputernya.

"Maaf, Pak.. Saya ingin menagih janji Bapak, s-soal.. Eemmhh.. Cuti saya.." Ucapnya dengan sangat gugup.

"Silahkan kamu bercuti, tapi ingat jangan terlalu lama. Cukup tiga hari saja". Tegas Kevin dengan menatap tajam Dinda.

"Baik Pak, terimakasih.. Nanti saya akan memberikan jadwal pertemuan Anda dengan beberapa klien dalam tiga hari ke depan kepada Pak Riko". Ucapnya yang hanya di jawab oleh anggukan.

"Kalau begitu saya permisi, sekali lagi terimakasih banyak". Sambung Dinda yang nampak bahagia dengan cutinya.

Kevin tak menjawab lagi setelah itu, ia hanya bergumam dalam hatinya. Mungkin ia harus menahan rindu untuk beberapa hari ini.

**

Malamnya pun Dinda memasuki bus yang akan membawanya ke kampung halamannya. Ia sangatlah merindukan orang tuanya, sehingga tak hentinya ia memperlihatkan senyuman yang mengembang dalam sudut bibirnya.

"Ayah.. Ibu.. Aku akan segera kembali, tunggu aku beberapa jam lagi. Aku sangatlah merindukan kalian". Lirih pelan Dinda.

Karena terlalu lelah seharian bekerja, Dinda pun tertidur dalam bus tersebut. Perjalanannya sangatlah panjang, akan sangat menyayangkan jika waktu tersebut tak di pergunakan untuk beristirahat.

**

Tok.. Tok.. Tok..

"Assalamu'alaikum.. Ayah, Ibu.. Ini Dinda, tolong buka pintunya". Ucapnya setelah beberapa jam menempuh perjalanan panjang menuju tempat kelahirannya.

Ia sangat bingung, kenapa dari tadi ia mengetuk pintu tak ada yang menyahut? Resah gelisah pastilah ia rasakan, namun harapan agar kedua orang tuanya baik-baik saja selalu menyelimuti do'anya kini.

"Astaghfirullah.. Kenapa tak ada jawaban? Sudah dari tadi aku mengetuk pintu". Ucap pelannya.

Ia pun semakin kebingungan saat menggerak-gerakan gagang pintu yang memang tak di kunci.

Kemudian ia masuk dengan sambil memanggil-manggil kedua orang tuanya. Jawabanya pun sama, tak ada sahutan. Ia semakin frustasi setelah mencari ke seluruh penjuru rumah tersebut yang masih tak menampakkan kedua orang tuanya.

"Kalian kemana?" Tanyanya dengan mata yang berembun.

Namun beberapa saat, ponselnya berdering. Ia pun melihatnya, namun panggilan tersebut dari nomor yang tidak dikenal. Di tekannya tombol hijau, Dinda sangat heran ketika terdengar suara tawa yang begitu nyaring dalam panggilan tersebut.

"Dengan siapa ini?" Tanyanya.

"Kamu sedang mencari orang tuamu bukan? Pasti gak ketemu ya? Kasihan.." Ucap seorang wanita yang menghubunginya.

"Siapa kamu? Kenapa dengan orang tuaku? Jangan macam-macam dengan mereka". Ancam Dinda dengan air mata yang tak bisa lagi ia tahan.

"Aku hanya main-main dengan mereka, tapi jangan salahkan aku jika mereka kenapa-napa. Kamu sih, mulai duluan mengganggu kehidupanku. Mungkin tidak masalah, kalau aku juga sedikit mengganggu hidupmu?" Jawabnya dengan masih menyelipkan tawa di ujung pembicaraannya.

'Degg'

Pernyataan seseorang dalam panggilan tersebut membuatnya sport jantung, kekhawatiran pun menghantui Dinda kini. Ia bingung harus berbuat apa? Dan siapa dibalik semuanya?

Dinda pun tak kuasa mendengar semua kenyataan pahit ini, hingga kakinya melemas dan terduduk dengan fikiran yang mulai kalut.

1
Farhah Ali basebe
Wahhhhh di gantung dari 2023 sampai sekarang 2025 🤣🤣 padahal PINISIRIN TAU THOR
Isabela Devi
org kaya gitu pantas di cambuk
Milad Khusnul
Biasa
Isabela Devi
org iri pasti selalu ada
Isabela Devi
bagus Dinda
Isabela Devi
gmn Dimas sekarang malah terbalik
Isabela Devi
Lidya knp nyalahin org lain
Isabela Devi
Lidya knp nyalahin org lain
Isabela Devi
Dimas gila, dia yang selingkuh malah dindah yg salah
Isabela Devi
moga ibunya cepat sembuh
Isabela Devi
kasian
Teh Euis Tea
lah koplak dia yg salah make nyalahin orang lain dihhh tak sleding nih
Teh Euis Tea
makleb kan jawaban dinda kaya numpang darii orangtua aj udah sombong, sombong tuh klu kaya hasil sendiri baru dah sombong
good dinda
SR.Yuni
aku ga suka Dinda manggil mas ke Dimas ini, harusnya diganti panggilannya....
Nabila Ramadhani
Luar biasa
Henny Sahriani10
keren banget.. luar biasa
Ai Maswah
Luar biasa
Rostin Dawi
lanjutanx mana
Puspa Veda
cerita ga jelas... lama ga ada update payah
Titik Supadmi
next thor.... 👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!