Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan.
Jam sembilan pagi. Demian, Gunawan dan Sarah sudah berada di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta. Masih tersisa waktu satu jam lagi sebelum penerbangan mereka menuju Bandara Kuala Namu, Medan. Kini ketiganya terlihat sedang duduk sambil sibuk dengan gadget masing-masing.
Demian tidak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Sarah yang pagi ini terlihat sangat berbeda penampilannya. Sepanjang mereka ber-partner, baru kali ini dia melihat Sarah memakai celana jeans dan kaos oblong. Apalagi untuk urusan kantor begini. Demian tidak berhenti memuji istrinya itu sejak berangkat dari apartemen tadi pagi. Membuat Sarah terlalu kenyang dengan rayuan dan gombalan-gombalannya.
TING!
Sarah melihat ada pesan WhatsApp masuk melalui pop up.
Demian :
Sayang, you're so beautiful ❤️❤️❤️
Tiga buah emoticon love yang diberikan Demian membuat Sarah langsung tersenyum. Ternyata meski pun dia sudah kenyang sejak tadi pagi, rasanya masih tetap suka jika dirayu lagi dan lagi. Pesan singkat itu memberi efek berbunga-bunga di hatinya. Dia pun melirik ke arah Demian yang kebetulan duduk di hadapannya. Lalu beralih sebentar ke arah Gunawan, di sebelah Demian. Pria itu sangat serius dengan laptop yang dia pangku.
Demian melemparkan ciuman kecil lewat udara. Sarah menutup setengah wajahnya dengan tiket dan boarding pass pesawat untuk menyembunyikan senyum malu-malunya. Mereka benar-benar seperti anak remaja yang sedang di mabuk cinta.
Sarah :
Lucky you, i'm your wife 😘
Demian :
Just my wife? Not mine, at all?
Sarah :
Yours. Definitely.
Demian menggigit bibirnya menahan senyum. Detak jantungnya memburu saat Sarah memproklamirkan jika dirinya adalah milik Demian. Ingin rasanya Demian menarik Sarah dalam pelukannya dan memeluk istrinya itu dengan erat. Tapi sialnya itu tempat umum, terlebih lagi ada Gunawan di sana.
Demian :
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sarah :
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sarah :
Udah ah, ajak ngobrol tuh Pak Gunawan. Kasian diam-diam mulu.
Demian :
Siap, Nyonya Demian 😘😘
Gelak tawa Sarah tanpa sengaja terdengar. Membuat Gunawan yang sedari tadi fokus pada layar laptop-nya menengadah.
"Bu Sarah, kenapa?" tanya Gunawan dengan polosnya. Sarah cepat-cepat menggeleng sedangkan Demian mendadak menahan napas.
"Ah, maaf-maaf. Ini ada yang lucu, Pak, di Twitter," Sarah terpaksa ngeles untuk menjawab pertanyaan Gunawan. Gadis itu lalu menepuk jidatnya sendiri, kenapa juga tawanya harus keluar sekencang itu?
Sarah :
Kannnnn, kau sih!!!
Kini giliran Demian yang tertawa terbahak-bahak. Hingga terbatuk-batuk. Gunawan mengerutkan keningnya. Dia tidak pernah melihat bosnya itu tertawa sebelumnya. Jangankan tertawa kencang begitu, tertawa biasa saja belum pernah.
Gunawan seakan ingin berbagi kebingungannya dengan Sarah. Namun gadis itu malah cepat-cepat berdiri dari tempatnya dan meninggalkan mereka. Dia pergi entah kemana dan kembali setelah mereka sudah harus masuk ke dalam pesawat.
*****
Gunawan bisa merasakan atmosfer yang berbeda saat berada di antara Demian dan Sarah sejak tadi pagi. Kedua orang itu seperti pribadi yang berbeda dibanding saat berada di kantor. Demian dan Sarah sama-sama terkenal dengan karakternya yang cool dan jarang tersenyum. Tapi apa yang dia saksikan di Bandara juga selama di pesawat tadi sungguh tidak biasa.
Selama di pesawat Gunawan juga melihat kalau bosnya itu suka senyum-senyum sendiri sembari memandangi ponselnya. Bahkan sampai tertawa cekikikan. Sarah pun demikian. Namun keduanya seperti tidak merasa terganggu satu sama lain. Justru Gunawan sendiri yang merasa sedikit terusik dengan tingkah kedua orang itu.
Biasanya, setahu Gunawan, Demian suka membahas soal pekerjaan saat dalam penerbangan, namun tadi pagi dia sama sekali tidak tertarik untuk membahas apa-apa. Dia benar-benar sibuk dengan ponselnya.
Malam ini juga tidak luput dari perhatian Gunawan. Saat mereka bertiga sedang makan malam di restoran hotel. Demian dan Sarah tetap tidak banyak bicara. Gunawan seperti merasa terasing karena obrolannya hanya dibalas seadanya oleh Demian. Selebihnya mereka saling tebar pandang dan mencuri-curi senyuman satu sama lain.
Rasa penasaran Gunawan semakin memuncak saat dia tidak sengaja melihat Sarah dan Demian saling bergandengan tangan saat masuk ke dalam lift, hendak kembali ke kamar masing-masing. Mata Gunawan membulat sempurna, dia pun menutup mulutnya tanda tidak percaya. Apa Pak Demian dan Ibu Sarah selama ini ada affair di kantor? Pikirnya.
Gunawan tak kuasa memendam rasa penasarannya lagi. Dia tidak ingin pekerjaan mereka selama di Medan akan terganggu jika tingkah mereka tetap begitu. Dia pun memberanikan diri untuk menahan pintu lift sebelum benda itu benar-benar tertutup. Membuat Demian dan Sarah kaget bukan main.
"Kenapa, Pak?" tanya Demian berusaha bersikap normal.
"Pak Demian dan Ibu Sarah ... pacaran?"
*****
Demian dan Sarah memutuskan untuk menjelaskan kebenaranya kepada Gunawan. Mereka baru sadar kalau tingkah kekanakan mereka yang bak remaja tanggung yang sedang dimabuk cinta itu ternyata sudah kelewatan. Wajar saja jika Gunawan curiga.
Sekarang ketiganya sudah duduk di lounge hotel yang kebetulan ada di lantai tiga. Demian dan Sarah duduk berdampingan, Gunawan sendiri ada di hadapan mereka.
"Ehm ... begini, Pak Gunawan. Sebenarnya ini rahasia. Jika kami memberitahunya ke Bapak, itu artinya Pak Gunawan adalah karyawan pertama di perusahaan yang mengetahui ini," Demian membuka dengan tenang. Berbanding terbalik dengan Sarah yang kelihatan sedikit gugup.
"Saya dan Sarah sudah menikah," Demian mengangkat tangan kanannya, diikuti Sarah. Keduanya menunjukkan cincin pernikahan mereka kepada Gunawan. Entah kenapa kebetulan Sarah memutuskan untuk memakai cincin tersebut tadi pagi. Tak tahunya berguna juga.
Mata Gunawan membulat sempurna. Lagi-lagi tangannya terangkat untuk menutup mulutnya yang menganga.
"Serius, Pak? Bu?" dia menatap Demian dan Sarah secara bergantian. Kedua orang itu mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau Pak Gunawan tidak keberatan, tolong jaga rahasia ini ya, Pak. Sebenarnya Pak Demian sudah nggak sabar pengen announce ke orang-orang, tapi saya masih belum siap, karena pasti banyak pro dan kontranya," Sarah meminta pengertian Gunawan. Berharap pria itu mengerti posisinya. Andai saja Sarah bisa bilang kalau pernikahan itu hanya demi kontrak, tentu saja beban pikirannya akan lebih ringan. Gunawan juga pasti langsung setuju untuk tutup mulut. Tapi Sarah malah tidak kepikiran ke sana.
"Kita memang nikahnya baru-baru ini, belum ada dua minggu. Tapi tenang saja, kita menikah sah secara Agama dan secara Hukum kok. Jadi ... berhubung kita masih pengantin baru dan belum honey moon, wajar nggak sih, kita kayak anak remaja, iya kan sayang?" Demian spontan merangkul Sarah di depan Gunawan. Sarah yang terkejut spontan melepaskan rangkulan Demian dengan paksa.
"Ih, ada Pak Gunawan tau!" omelannya yang sudah sengaja dibuat dengan nada kecil tetap terdengar oleh Gunawan. Lagi-lagi pria itu takjub dibuatnya. Dia sama sekali tidak menyangka Sarah bisa memarahi bosnya seperti itu.
"Saya takjub ..." racau Gunawan tanpa sadar sambil geleng-geleng kepala. Jika kewarasannya sudah hilang, dia pasti sudah bertanya tanpa malu perihal bagaimana awal pernikahan bos dan sekretaris itu. Tapi dia tidak akan se-lancang itu, meski pun dia sangat kepo maksimal. Pasalnya keduanya terlihat sangat profesional di kantor. Sama sekali tidak ada tanda-tanda adanya cinta lokasi di atara mereka.
"Saya mengerti, Pak. Maka dari itu saya belum siap. Reaksi Pak Gunawan saja sudah begini, apalagi reaksi semua karyawan perempuan yang fans berat sama suami saya. Saya nggak tau, saya bakalan tetap hidup atau enggak kalau mereka sudah pada tau."
Demian dan Gunawan refleks tertawa mendengar curhatan skeptis Sarah. Sepertinya gadis itu kebanyakan nonton sinetron di tivi lokal.
"Pantas saja ada isu kalau Pak Demian sudah menikah. Ternyata isu itu benar. Tapi belum ada yang tahu itu hoax atau bagaimana," Gunawan mengangguk-angguk lagi seraya tersenyum, "tapi nggak tau juga siapa yang memulai isunya."
"Soal isu itu, tidak usah dipikirkan. Semua pasti akan terungkap pada waktunya. Saya dan istri juga sedang memikirkan bagaimana baiknya kedepannya. Karena suami istri kerja bareng itu pasti banyak tantangan. Saya minta tolong Pak Gunawan keep dulu tentang ini ya?"
"Baik, Pak. Rahasia Bapak dan Ibu aman di tangan saya," Gunawan membuat gerakan seperti mengancing mulutnya, lalu membuat huruf 'O' dengan dua jarinya. Sarah dan Demian pun lega. Setidaknya untuk saat ini.
******
Sarah mulai terbiasa tidur dengan Demian. Sekarang lengan Demian adalah bantal favoritnya dan tubuh suaminya itu bagaikan guling yang enak dipeluk karena pas sekali untuk ukuran tubuhnya. Malam ini pun dia tidak jadi tidur di kamar hotelnya, karena Gunawan sudah tahu semuanya. Mereka berdua tidur di kamar lux milik Demian.
"Kira-kira Pak Gunawan bakalan bocorin ini nggak ya?" sebelum tidur keduanya masih melakukan sesi pillow talk sebentar. Kali ini Sarah seakan ingin mengungkapkan ke khawatirannya tentang Gunawan beberapa waktu yang lalu.
"Kalau dia kasih tau anak-anak, kau bakalan gimana? Aku pribadi nggak apa-apa, Sar," Demian yang sedang memeluk Sarah sambil tiduran berusaha menenangkan dengan mengelus-elus punggung gadis itu.
"Hm ... aku khawatir kita akan kena gosip miring. Aku juga khawatir Grasian tau lebih dulu sebelum kita beritahu ..."
"Pulang dari sini kita ketemu dia, gimana? Urusan penyelidikan kasusnya nanti biar kupikirkan lagi gimana baiknya tanpa harus melibatkanmu lagi."
"Bagusnya memang begitu, Sayang. Aku nggak mau Grasian mengira aku yang selingkuh duluan."
"Oke. Deal. Tapi kau berani kan? Mungkin nanti akan ada sedikit keributan," lanjut Demian sambil tersenyum. Tentu saja, Grasian sudah pasti akan membunuhnya.
"Hm-m. Berani. Palingan kau yang babak belur karena sudah menikahi pacar orang sembarangan," Sarah tertawa kecil.
"Tapi setidaknya aku berani mengajakmu ke depan altar. Daripada pacaran empat tahun tapi nggak jelas, hayo???"
"Iya deh, kau memang selalu benar, Pak Demian."
Keduanya saling memandang lagi untuk waktu cukup lama. Baik Demian mau pun Sarah, sorot mata keduanya menunjukkan adanya binar cinta dari sorot mata itu. Tapi benarkah keduanya sudah saling mencintai?
"You're mine, Sarah ..."
"Absolutely i'm yours, Demian."
"How about me? Am i yours, too?" Demian ingin mendengar Sarah mengklaim kepemilikannya juga. Setidaknya itu bisa membuatnya merasa dicintai oleh istrinya itu.
Sarah tidak langsung menjawab, seperti sedang mencari jawaban dari sorot kedua mata Demian. Apakah setelah proyek Gottrado Group selesai mereka akan selesai juga? Kalau iya, pantaskah Sarah meminta Demian jadi miliknya? Lagian, dia sendiri pun tidak yakin bisa menjalani ini dalam waktu yang lama. Dia masih ragu jika ini cinta. Menurutnya mereka hanya sedang saling memenuhi kebutuhan saja.
"You're mine, Demian," jawabnya. Setidaknya sampai proyek kita selesai ... lanjutnya dalam hati.
*****