"Jika cinta dapat mengubah segala hal, mengapa perlu ada yang namanya memperjuangkan? Kamu tahu kenapa? Karena untuk mendapatkan sesuatu butuh usaha,dan sekarang aku tengah memperjuangkanmu dengan usaha yang sungguh-sungguh."
~Davier Galuh Pramono~
"Meski hatiku memilihmu namun apakah aku mampu untuk mempertahankanmu selamanya agar selalu bersamaku?"
~Aira Anandia Maheswari~
Aira Anandia Maheswari merupakan Mahasiswi yang terkenal pintar di fakultasnya. Bahkan hampir seluruh kampus mengenal dirinya. Masa mudanya harus berakhir dengan di jodohkan oleh orang tuanya. Dijodohkan dengan Davier Galuh Pramono yang tak lain adalah dosennya ssndiri.
Keduanya sering merasakan perasaan aneh yang terselimut di dalam dirinya. Hingga Davierlah yang menyadari lebih dulu perasaannya itu. Lalu apakah Aira akan menyadari perasaannya atau ia akan terus menepis perasaan itu dari hatinya? Akankah mereka bisa bersatu dengan hati yang tulus? Apakab mereka bisa melewati semua lika-liku yang menghalagi kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tia Oktavianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~MTLY 23~ Mengapa Begini?
Pandu terlihat semakin gusar. Ia berusaha meredam emosinya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian menatap Ai dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa Kak?" tanya Ai bingung karena Pandu menatapnya.
"Ai, kamu sebelum ke sini, pergi kemana?" tanya Pandu.
"Emang ada apa kak?" tanya Ai balik.
"Kamu bisa kan langsung jawab pertanyaan aku. Ga perlu jawabnya dengan nannya balik." ucap Pandu ketus.
"Eh iya kak, sebelum ke sini aku berangkat sama Fira dan pergi ke taman dekat komplek." jawab Ai.
"Ngapain ke sana? Ketemuan sama Revan?" tanya Pandu spontan.
"Haah?" kaget Ai
"Iya kan?" tanya Pandu lagi.
Mendengar peracakapan Pandu dan Ai yang sejak tadi menjadi topik pembicaraan antara Davier dan juga Pandu, membuat Davier pun menimpali obrolan mereka.
"Benar Ai kamu ketemu sama Revan?" tanya Davier yang membuat Ai terkejut. Pasalnya ia belum sama sekali menceritakan mengenai hubungan masa lalunya dengan Revan.
"Iya, Ai akui tadi ketemu sama dia." ucap Ai sembari menundukkan kepalanya.
"Lalu apa kamu masih mau memaafkan dia untuk semua yang udah dia perbuat sama kamu?" tanyaPandu.
"Kak, kita ga boleh membenci seseorang. Bukan berarti dia jahat sama kita, kita juga ngelakuin hal yang sama. Lagi pula Ai ga mau menyimpan kebencian dalam hati yang akan berbuah dendam." ucap Ai.
"Ai, kamu terlalu baik. Tapi apa dia perduli sama kamu? Aku akan kasi tau ke Arsyad dan Arrayn tentang masalah ini, biar mereka yang mengatasi Revan." ucap Pandu sembari meninggalkan mereka.
"Kak Pandu tunggu. Jangan kasi tau mereka. Biarin Ai yang menyelesaikan. Ai udah terlalu banyak menyusahkan kalian. Jadi Ai mohon jangan kak." pinta Ai.
"Terserah mau kamu aja Ai." ucap Pandu.
"Disti sayang, sekaramg kamu istirahat ya Mami harus pulang. Mami akan nepatin janji nanti ya. Sekarang kamu masuk ke kamar ya." pinta Ai dan dipatuhi oleh Disti. Ia pun berjalan menaiki tangga meuju kamarnya.
"Kita pulang?" tanya Davier lembut, dan dibalas anggukan oleh Ai.
Di dalam mobil mereka tidak berbicara. Mereka saling bungkam. Ego mereka mulai menguasai diri keduanya. Hingga mobil Davier pun sampai di halaman rumah Ai.
"Makasih ya untuk hari ini dan maaf udah ngerepotin kamu." ucap Ai.
"Jangan bilang gitu lagi, aku ga merasa direpotin sama kamu Ai." ucap Davier lembut.
"Aku turun ya. Sampai jumpa besok. Kalp kalo kamu udah sampai langsung kabarin aku ya." ucap Ai.
"Iya, kalo gitu aku pamit pulang. Salam buat Ayah Bunda dan yang lain." ucap Davier lalu melajukan mobilnya.
Ai masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya begitu sepi. Jelas saja ini masih pukul 12.00. Ayah dan kedua saudaranya pasti masih di kantor dan Bunda masih di butiknya. Ai pun melangkahkan kakinya menaiki tangga dan menuju ke kamarnya.
Di kamar Ai merasakan pusing di kepalanya. Badannya lemas seketika. Ia berjalan gontai menuju ke kamarnya. Ia memgang dinding untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Ia berhasil sampai di depan pintu kamarnya. Langsung ia buka pintu tersebut kemudian masuk. Ia sudah tak mampu menahan beban tubuhnya dan akhirnya ia ambruk. Ia berusaha bangkit namun tak mampu. Ia benar-benar lemas tak berdaya.
"Gue ga boleh lemah, gue harua kuat. Ayo Ai lo pasti bisa." monolognya pada dirinya.
Ia terus berusaha berdiri dan akhirnya ia dapat bangun dan menyeimbangi tubuhnya. Ia berjalan menuju ranjangnya. Ia kemudian menuangkan air ke dalam gelas dan mengambil obat serta vitamin lalu meminumnya.
Seketika tubuhnya yang lemas lebih baik daripada sebelumnya. Ia pun merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur. Dalam sekejap ia pun terlelap dalam dunia mimpinya.
Di rumah Davier telah sampai dan sudah membersihkan diri. Ia berniat menagabari Ai. Ia telah mengatakan sebelmya untuk mengabari gadisnya itu. Ia pun mengambil handphonenya dan mencari nama sang gadis lalu mengabarinya.
Me
Maaf aku baru ngabarin
Aku udah nyampe rumah
Sejak 20 menit lalu.
Me
Kamu lagi ngapain sekarang?
Setelah mengirim dua pesan tersebut namun tak kunjung mendapatlan balasan Davier hendak menelpon Ai. Bagaimana tidak dia sedang online tetapi tak membalas pesan darinya.
Tiga kali ia menghubungi Ai namun tidak djawab oleh Ai. Davier pun memutuskan untuk kembali menelponnya nanti. Ia pun kembali berkutat dengan pekerjaannya. Kali ini pekerjaan kantor dan mengkoreksi tugas mahasiswanya.
Di sisi lain Revam uring-uringan memikirkan perkataan Fira padanya yang begitu membuatnya merasa terpukul dan begitu merasa bersalah.
Flashback On
"Van, gue kasi tau ya ke lo, Ai udah terlanjur kecewa sama lo. Dan dia juga udah ngelupain semua tentang lo di ingatannya. Dan lo juga bukan siapa-siapa lagi sejak tiga tahun lalu. Dan satu hal lagi gue tegasin sekali lagi berhenti untuk mencoba masuk ke kehidupan Ai ataupun hanya sekadar lewat doang, karena dia udah bahagia sama orang lain." jelas Fira yang membuat Revan benar- benar terkejut.
"Fir, gue salah apa sama Ai. Sampe lo minta gue buat ninggalin Ai?" lo tau dengan baik gue mencintai dia." balas Revan.
"Tapi dia udah ga mencintai lo lagi. Tante saya permisi, saya ada kuliah siang ini." ucap Fira sembari berdiri dan pamitan dengan Miranda.
Flashback Off
"Sebegitu kecewanya Ai kamu smaa aku? Apa aku begitu membuat kamu terluka?" monolog Revan pada dirinya sambil melihat bingkai foto ia dan Ai yang terpancar raut kebahagiaan.
"Apa yang kamu omongin di taman pagi tadi itu benar Ai? Apa kamu serius ngomong gitu Ai atau karena kamu cuma emosi aja?" monolognya lagi.
Flashback On
"Hai sayang. Happy Anniversary yang ke 7 tahun sayang. Sumpah aku kangen banget deh sama kamu. Aku ga suka ya kamu bercanda kek kemarin." ucap cowok itu langsung memeluk Ai. Ternyata benar dia adalah Revan.
"Van, lepasin aku. Kamu tuh apa-apan sih. Anniversary apa jika hubunga kita aja udah kandas sejak tiga tahun lalu." ucap Ai sembari melepaskan pelukkan Revan.
"Apa maksud kamu Ai. Kandas gimana? Kamu kalo bercanda jangan kelewatan dong. Kamu tuh ga pernah berubah selalu aja suka iseng." ucap Revan sembari mengacak rambut Ai.
"Gue ga lagi bercanda Revan Raihan Setiabudi. Kita udah ga ada hubungan apapun sejak tiga tahun lalu. Lo itu kenapa sih. Manusia macam apa lo pergi tanpa kabar dan sekarang datang dan membuka luka lama yang udah susah payah gue obati." ucap Ai kasar.
"Ai aku benar-benar ga paham sama yang kamu omongin ini. Sejak kapan kamu manggil aku pake lo gue Ai? Ai apa kamu ga mencintai aku lagi? Kenapa ucapan kamu kasar gini ke aku?" tanya Revan.
"lo tuh yang kenapa? Dulu lo ngilang tanpa kabar. Ga ada sedikitpun lo ngabarin gue kan. Padahal lo selalu online. Berbulan-bulan lo ga ngabarin gue. Lo ngebuat gue khawatir sama lo. Bulan berganti tahun gue tetap setia sama lo. Tapi apa lo ga pernah tu peduli sama gue. Lo telantarin hati dan raga gue gitu aja, hingga gue terlunta-lunta mempertahankan perasaan yang gue tau itu menyakiti gue." jelas Ai dengan gejolak emosi yang menggebu-gebu.
"Ai aku benar-benar ga paham apa yang kamu bicarakan." ucap Revan lembut.
"Oh yaa lo masih ga mau ngaku juga. Sekian lama gue nunggu lo, dan gue nemuin alasan untuk gue melepaskan lo dari hidup gue. Lo sendiri yang ngehapus semua moment tentang kita. Dan atas ulah lo sendiri yang membuat gue jadi membenci lo." jelas Ai semakin emosi. Air matanya pun lolos begitu saja.
"Ai, tolong kamu ngomong yang jelas aku benar-benar bingung maksud omongan kamu ini."
"Ga ada yang perlu gue jelasin lagi. Yang pasti hubungan diantara kita udah ga ada lagi. Lo dan gue udah ga ada hubungan apapun. Mulai detik ini jangan pernah lo hubungin gue lagi. Jangan pernah gangguin gue. Lo lupain semua tentang kita yang ada saat ini hanya ada lo dan gue bukan kita." ucap Ai berlari meninggalkan Revan dan Fira.
"Ai, tunggu dulu, aku belum selesai berbicara." teriak Revan.
Flashback Off
Kata-kata yang lontarkan sungguh masih terngiang-ngiang dipikirannya. Bak di sambar petir kala itu. Ia tahu dengan baik siapa Ai. Ai tidak pernah berkata kasar pada siapapun.
"Aku janji Ai, aku akan berusaha untuk memperbaiki bagian yang retak dari hubungan kita dan ga akan membiarkan hubungan kita hancur berantakkan." monolog Revan pada dirinya.
Di kamar Ai, ia masih terlelap dan menjelajahi alam mimpinya. Namun tergamggu oleh dering dari ponselmya. Ia pun terpaksa membuka matanya walau tak sepenuhnya terangkat.
"Halo, ada apa?"
"....."
"Ya, tinggal ngomong aja."
"......"
"Maksud lo apaan? Jangan ngarang deh."
"......"
-------------------TBC---------------------
Gimana? Pada penasaran Ai lagi telponan sama siapa? Apa yang lagi mereka bicain ya sampai buat Ai kaget dan ga percaya gitu dengernya.
Sopada penasaran yaa? Makanya terus nantikn updatenya. Stay tune ya reders tersayang.
Akusayang kalian semua❤❤❤
----------------Next Update-----------------
Sabtu, 19 Juni 2020
Salam Hangat
Author Halu