Suatu perjodohan yang buat kedua dua insan harus menerima nya, tetapi dengan perjanjian yang dibuat di atas kertas, yang mereka sepakati bersama, walau ada hati yang tersakiti dengan perjanjian itu....
Akan kah mereka dapat melalui lika likunya rumah tangga yang akan mereka hadapi nanty
Ikutin trus, dan slalu siap" dengan cerita baru nanti.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat
Hari-hari berlalu dan Ntah kenapa sikap Alvano makin dingin kepada Dela. Dela kira makan malam dan perhatian kecil waktu lalu yang Alvano berikan itu adalah suatu kemajuan untuk hubungan pernikahannya. Tapi sayang, lagilagi dia hanya menghayal akan mendapatkan perhatian yang tulus dari Alvano.
Dela juga sudah benar-benar berhenti dari pekerjaannya. Hari harinya hanya dilewati begitu saja didalam rumah. Iajuga ragu untuk memakai kartu yang diberikan oleh Alvano. Mengingat Alvano yang rupanya marah ketika ia memberitahu tentang Angel pada malam itu. Ntah Alvano berpikiran tentang apa yang jelas itu membuat Dela bertanya-tanya soal sikapnya.
Drettt! Drettt!
Dela mengalihkan perhatiannya dari acara televisi didepannya kepada ponsel yang berbunyi diatas meja. la mengukir sederet senyum yang terpancar akan bahagia. Sahabatnya itu yang super sibuk tiba-tiba menelfon dan mengajaknya untuk bertemu. Tak mau menyia-nyiakan waktu berharga, Dela langsung bersiapsiap untuk pergi ketempat yang sudah menjadi langganan favoritnya dulu bersama kedua sahabatnya.
Ketika sampai Dela mengedarkan matanya mencari keberadaan kedua sahabatnya. la tersenyum senang kala melihat dua orang yang memanggil namanya sambil melambaikan tangan.
"Hay.. apa kabar lo berdua?" tanya Dela setelah sampai dan langsung memeluk singkat Amel dan Aulia secara bergantian.
"Seperti yang lo liat," jawab Amel sambil tersenyum senang.
Dela menganggukan kepalanya seraya ikut duduk bergabung bersama.
"Lo udah pesen duluan nih ceritanya? Tau banget yah kesukaan gue apa." ujar Dela ketika menatap meja yang sudah berisikan beberapa makanan.
"Tau dong, kita masih hapal kok tenang aja.." ujar Aulia seraya terkekeh pelan.
"Ohiya, gimana sama pernikahan lo?" tanya Amel membuka pembicaraan.
"lya gimana Del? Lo berdua udah saling cinta belum?" ucap Aulia ikut menimpali.
Dela tersenyum samar mendengarnya. Jelas dua manusia didepannya ini tau jika pernikahannya itu sebuah perjodohan. Dan pastinya mereka jugajelas tau pernikahaan ini bukan atas dasar cinta.
"Dia punya cewe.."
Aulia maupun Amel tersedak dengan makanan yang berada dimulutnya. Sedangkan Dela menikmati pemandangan didepannya dengan tertawa kencang.
"Sumpah! Bercandaan lo galucu.."
ucap Amel dengan kesal setelah meminum jusnya.
"Gue gabercanda Mel," kata Dela dengan sisa tawanya.
"Tuhkan ini nih yang buat gue sedikit males buat jauh dari lo.." ujar Aulia membuat Dela bingung.
"Emang kenapa kalau lo jauh dari gue?" bingung Dela.
"Yah ini! Kita gatau kabar lo, kita gabisa bantu lo dan ngehibur lo waktu lo sedih. Gue udah yakin pasti lo nangis sendirian dikamar pas gada kita-kita!" jelas Aulia kesal.
Dela tersenyum hangat. la terharu mendengar kalimat itu. Beruntungnya Dela memiliki sahabat seperti mereka.
"Lo cenayang Aul?" tanya Amel membuat Dela terkekeh pelan.
"Gue udah tau jelas kebiasaan Dela." ketus Aulia.
"Uhh.. makasih Aulia anaknya mbak Ririn yang baru lahir kemarin." kata Dela seraya memeluk Aulia dengan semangat.
"***** lepas! Gue gabisa napas.." ucap Aulia disela-sela pelukannya.
Dela lalu melepaskannya sambil menyengir lebar mendapat tatapan menghunus dari Aulia.
"Kalau gue anaknya mbak Ririn, berarti gue baru lahir kemarin dong?" tanya Aulia bingung.
"lya lo masih orok sekarang, Jadi harus lebih sopan sama yang tua." jelas Amel seraya terkekeh pelan.
"Udahlah pusing gue. Terus gimana kisah pernikahan lo itu? Ayo cerita, gue mau tau." ujar Aulia mengalihkan topik pembicaraannya.
Dela mencebikkan bibirnya kesal. la sebenarnya sangat malas menceritakan soal hidupnya setelah menjadi seorang istri. Dan sudah dipastikan jika Dela tidak jujur dan tidak mau membuka ceritanya ia akan terkena teror pertanyaan dan desakan yang sangat mengganggu. Jadi lebih baik Dela menceritakan kisahnya kepada dua sahabatnya itu saat ini.
"Waktu malam kita berdua ketemu, dia ngasih gue surat perjanjian yang udah dia buat sama pengacaranya. Dalam hati gue terkejut saat dia ngomong langsung kalau dia udah punya kekasih. Gue coba biasa aja saat itu dan gue fine-fine aja nerima perjanjian yang dia ucapin. Tapi saat dia ngasih kertas perjanjiannya yang didalemnya ada beberapa perjanjin lain, ada satu yang gabisa gue terima.."
"Apa?" tanya Amel dan Aulia secara bersamaan.
"Dia nulis dikertas itu kalau setelah enam bulan kita harus pisah. Dia bilang pernikahan ini cuma ngerubah status diantara kita, dan jangan sampai ngelibatin perasaan. Jujur gue kecewa bacanya, masalahnya saat itu gue mempertimbangkan hati orang tua gue atau masa depan gue. Kalau gue gatanda tangan, perjodohan itu batal dan kedua orang tua
belah pihak pasti bakalan sedih dan kecewa. Dan kalau gue tanda tanganin perjanjian itu, masa depan gue gimana? Masa baru enam bulan nikah langsung jadi single perent?" kata Dela kecewa.
"Yang sabar yah Del.. gue yakin pasti bakal ada waktunya lo bahagia dan dia menyesal dikemudian hari." ujar Amel menenangkan.
"Benertuh, masih banyak lelaki yang mau sama lo diluaran sana. Apalagi lo belum pernah kesentuhkan sama dia?" tanya Aulia membuat Dela meringis mengingat kejadian yang dulu hampir saja kehilangan mahkotanya.
"Dia pernah hampir sentuh gue Aul, itu juga dalam keadaan marah."
"Serius? Kenapa nggak sekalian aja."
Amel tiba-tiba menoyor kepala Karin dengan gemas. Sedangkan Aulia merucutkan bibirnya dengan kesal.
"Lo mah pengennya gitu. Gamikir kalau itu bisa buat hidup Dela lebih dalam lagi masuk kekehidupan Alvano suaminya. lya aja kalau
Alvano mau nerima dan ngakuin itu anaknya, kalau nggak gimana?" gemas Amel yang hanya diangguki mengerti oleh Aulia.
"lyajuga yah, nikah aja udah kaya dikontrak selama enam bulan. Masa Alvano mau munculin dedek bayi yang buat pernikahan itu tambah lama?" kata Aulia.
Dela hanya menyimak apa yang diucapkan dua sahabatnya. Mungkin ini salah satu alasan kenapa Alvano tidak mau satu kamar dengannya.
"Terus gimana sama lo?" tanya Amel pada Dela yang hanya diam.
"Terus apanya?" ujar Dela tak mengerti dengan pertanyaan Dela barusan.
"Hati lo udah mulai suka atau cinta gitu sama dia?"
Dela lagi-lagi merenenungkan dirinya sendiri. Sejak kehadiran Surya rasanya sedikit memudar kepada Alvano. Dan Dela tidak tau ia memilih untuk membenci Alvano yang akan menghancurkan masa depannya atau mencintainya.
"Siapa sih yang gasuka sama suaml Dela, Cha.." ucap Aulia.
"Terlebih lagi Dela kan setiap hari ngeliatnya, mau dirumah dikamar diatas-"
"Gue gasatu kamar sama Alvano. Itu salah satu perjanjian yang dia buat." jelas Dela membuat keduanya agilagi melongo hebat.
"Terus soal Alvano hampir sentuh lo itu dimana? Gue kira dikamar." tanya Aulia.
"Diruang kerja Alvano yang ada di kantornya."
Aulia dan Amel kali ini benar benar menganga lebar. Mereka semua diam dan sudah pasti membayangkan apa yang Dela lakukan disana bersama Alvano.
"Gue kesel yah kalau kalian ngebayangin yang nggak-nggak tentang gue.." peringat Dela yang hanya diberi cengiran oleh Aulia dan Amel.
"Sorry-sorry.. terus apa jawaban lo tentang pertanyaan gue tadi?" tanya Amel kembali.
"Pertanyaan yang mana?" bingung Dela.
"Lo cinta sama Alvano?"
Dela mencoba memaksakan senyumannya. "Jawaban itu cuma hati gue yang tau," jelas Dela membuat keduanya mencebik kesal.