Spin Off Tawanan Cinta Pria Dewasa.
Dua kali gagal dalam pernikahan, Justin Anderson menganggap semua wanita itu sama. Sebatas mainan dan hanya merepotkan, bahkan tidak ada wanita yang membuat dia betah.
Hingga, takdir justru mempertemukannya dengan seorang gadis cantik yang terjebak keadaan. Agny Tabina, gadis belia yang dipaksa terjun ke dunia malam akibat keserakahan pamannya.
"500 juta ... tawaran terakhir, berikan gadis itu padaku." - Justin Anderson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Menikah Itu Penting?
"Nanti siang kita keluar, untuk beli baju-bajumu."
"Hm? Tidak perlu, kan besok aku pulang," ucap Agny kemudian karena dia tidak mengetahui apa yang terjadi, Edward maupun Bimo tidak memberitahukan perihal itu padanya.
"Pulang kemana? Tempatmu akan selamanya di sini," ucap Justin kemudian dan ikut sibuk sendiri cari pakaiannya, entah cari perhatian atau apa yang jelas dia ingin meminta Agny turun tangan menyiapkan pakaiannya.
"Maksudnya?" tanya Agny bingung dan menatap wajah Justin yang begitu dekat dengannya.
"Kamu tidak perlu lagi bekerja pada Edward, sekarang kamu tanggung jawabku ... dan kamu boleh meminta apapun yang kamu mau selama menjadi milikku," ucap Justin kemudian sedekat itu bahkan Agny mengira pria itu akan menciumnya.
"Woah, ini maksudnya jadi sugar baby tetap Om Justin? Ini anugerah atau becana ya?"
Baru saja kemarin Agny berusaha agar membuat Justin luluh dan tidak lepas darinya, dan kini pria itu benar-benar mengatakan niatnya untuk berdua dengan menjadikan Agny sebagai tanggung jawabnya.
"Mobil boleh?"
"Ehm, boleh," jawab Justin secepat itu karena dia benar-benar berpikir Agny meminta sungguh-sungguh.
"Rumah boleh?"
"Tinggalnya bersamaku, boleh."
Agny hanya bercanda, mana mungkin dia berniat memerras harta Justin tanpa pikir panjang. Wanita itu tertawa sumbang kemudian seraya menggelengkan kepala. "Aku bercanda, tidak minta apa-apa ... asal Om lindungi aku selama hidup, itu sudah lebih dari cukup."
Agny memang selalu dicekik ketakutan, dan hanya di dekat Justin dia merasa aman walau sebenarnya tetap saja Justin menginginkan hal lebih darinya. Akan tetapi, selama Justin menjaganya demi apapun Agny benar-benar merasa lebih baik.
"Ehem, lindungi dari apa? Pamanmu itu?" tanya Justin serius, sedikit banyak dia mengetahui siapa Agny dari Edrward.
"Iya, aku tidak masalah jadi pelaccur pribadimu ... tapi lindungi aku, itu saja," ungkap Agny tersenyum getir dan itu membuat Justin menghela napas kasar.
"Kalau misal jadi istriku bagaimana? Mau?" tanya Justin tiba-tiba, Agny yang mendengar sontak saja mendongak dan bingung apa sebabnya.
"Hah?"
"Hahaha aku bercanda, jangan terlalu dipikirkan," ucap Justin kemudian mengusap pelan wajah Agny, dia masih takut untuk benar-benar menjalani hubungan semacam itu dengan seorang wanita. Justin hanya takut, akan ada wanita selanjutnya yang dia jadikan janda setelah kedua mantan istrinya.
"Bercandanya saja seserius itu, sama sekali tidak lucu." Agny menunduk pelan kemudian tersenyum tipis kala dia menarik kemeja Justin dari dalam lemari.
.
.
Pada akhirnya setiap pria akan teladan pada masanya. Ya, prinsip telat datang pulang duluan tampaknya akan Justin anut setelah ini.
Hampir jam sepuluh dan dia baru memperlihatkan batang hidungnya, tanpa dosa dan bergabung tanpa rasa bersalah dalam rapat yang Keyvan pimpin hampir satu jam lalu.
Tatapan Keyvan tertuju pada Justin, sementara Keny yang kini berlumur dendam akibat keningnya cidera hanya memutar bola matanya malas begitu Justin duduk di sisinya.
"Kenapa masih datang? Khawatir Evan menjadikanmu tukang parkir kantor?" tanya Keny sengaja berbisik akan tetapi tetap terdengar oleh teman kanan kiri.
"Diam, Ken ... kau tidak lihat mata Evan setajam apa?"
"Dia begitu karena ulahmu, jangan macam-macam jika kau tidak ingin jadi penjual tahu bulat."
Lihatlah, sama sekali tidak konsisten bukan. Beberapa saat lalu dia mengatakan terancam jadi tukang parkir dan kini berpindah jadi penjual tahu bulat.
Di saat-saat serius begini, Keny dan Justin berdebat perihal sesuatu yang sama sekali tidak penting bahkan tidak bermanfaat sama sekali.
"Jadi intinya apa? Penjual tahu bulat atau tukang parkir?"
"Ck, sudahlah ... tidak habis-habis pembicaraan bersamamu, Evan sedang serius jangan bercanda."
Yang mengajak bercanda adalah dia, bahkan dengan sendirinya memulai padahal Justin tidak berniat berseteru dengannya.
Pria itu kembali fokus ke topik pembahasan Keyvan, meski sebenarnya tanpa dia Keyvan mampu melakukan segala hal, akan tetapi pria itu menghormati Keyvan sebagai atasan.
Dia fokus beberapa saat saja, beberapa menit kemudian dia memejankan mata dengan pikirkan yang sudah melayang entah kemana. Melihat perubahan Justin yang semakin tidak wajar, Keny curiga jika sebenarnya Justin tengah mabuk wanita.
Hal itu berlangsung sampai rapat selesai dan di ruangan hanya menyisakan mereka bertiga. Sejak tadi Keny yang sudah angkat bicara kini bergantian, Evan tampaknya perlu juga.
"Ehem, kau baik-baik saja, Justin?"
"Hem? Ap-apa, Van? Kenapa sepi? Yang lain kemana?" tanya Justin panik seraya mengusap wajahnya kasar, dia malu sebenarnya.
"Sudah bubar, mereka tidak akan menunggumu, Justin ... aneh sekali jadi manusia," ungkap Keny merapikan beberapa dokumen yang sejak tadi dia pegang, sementara Keyvan hanya menggeleng pelan karena ini adalah kali pertama Justin seakan kehilangan arah.
"Konsentrasi, Justin ... kau kurang tidur atau bagaimana?"
"Tentu saja, Van, kau lupa siapa dia? Justin mana ada tidurnya kalau sudah punya sarang pribadi."
"Benar juga, hahaha tapi sampai kapan kau menjalani hubungan seperti itu? Tidak punya rencana untuk menikahinya, Just? Kasihan.”
Keyvan memasuki mode serius dan dia menarik kursi untuk duduk di samping pria itu. Itu adalah pembahasan paling serius antara mereka bertiga karena biasanya selalu bercanda dan membahas hal tidak berguna.
"Itu yang aku maksudkan ... kasihan, Justin. Masih sekecil itu harus melayanimu setiap waktu tanpa ikatan pernikahan. Kalau sampai ada yang menikahinya bagaimana? Dia cantik, Evan juga pasti sependapat," ungkap Keny namun Keyvan takkan berani memuji Agny cantik karena biasanya insting sang istri luar biasa tajam dan Keyvan tidak ingin terjebak dalam masalah.
"Sepenting apa pernikahan? Bukankah yang penting itu komitmen untuk bersama? Selagi aku butuh dia dan dia butuh aku kami baik-baik saja ... percuma nikah kalau pada akhirnya berpisah juga, lucu kalau dia jadi jamur, Van."
"Jamur apaan?" tanya Keny mengerutkan dahi dan hal itu sedikit membuatnya terkejut.
"Janda dibawah umur," balas Justin cepat entah dimana dia menemukan istilah semacam itu.
"Oh begitu ... jangan sampai lah, lagipula anak sepolos Agny tidak mungkin main hati dibelakangmu, jadi tidak punya alasan untuk menceraikannya."
Justin terdiam kemudian, trauma masa lalu masih membuatnya takut untuk memulai. Pernikahan bukan hal yang mudah bagi Justin, pengkhianatan seseorang dalam sebuah ikatan lebih menyakitkan daripada tanpa ikatan menurut Justin.
"Aku yakin dia berbeda, Just, biasanya yang umurnya jauh dibawah kita lebih gampang diatur ... penurut juga, tapi memang banyak maunya itu saja," ujar Keyvan karena memang dia sudah merasakan bagaimana sempurnanya kehidupan setelah menjadi suami Mikhayla.
Walau memang sedikit merepotkan dan hal itu sudah jadi resiko karena memang gadis seusia Agny dan Khayla belum bisa mandiri dalam segala hal.
"Nantilah, aku pikir-pikir dulu ... lagipula sepertinya dia tidak mau jadi istriku," ungkap Justin menatap nanar lantaran mengingat bagaimana respon Agny kala dia mengatakan apakah mau jadi istrinya.
"Astaga, paksa saja, Justin ... kau lupa bagaimana Evan mendapatkan Khayla? Dipaksa, Bro."
Keyvan mengerutkan dahi dan dia melemparkan tatapan tajam kala Keny justru membahas tentang bagaimana cara dia mendapatkan Mikhayla yang memang tidak biasa.
"Kau gila?"
"Tidak gila, kau rela andai suatu saat dia dinikmati pria lain?"
"Ya tidaklah, pertanyaanmu konyol sekali," ucap Justin sebal sendiri akan tetapi memang hal yang terjadi sebenarnya begini.
"Maka dari itu nikahi, kalau sudah jadi istri potongan kukunya saja jadi milikmu, apalagi lainnya," ucap Keny masih berusaha meracuni Justin dan berharap sekali jika mata hati pria itu akan terbuka untuk mengikuti jejak mereka.
"Sudah, nikahi saja ... soal biaya, Keny yang tanggung," ujar Keyvan serius karena memang dahulu begitulah kesepakatan mereka.
"Hah? Kenapa jadi aku? Gila kau, Van. Anakku masih kecil, kebutuhan banyak mana Sonya minta rumah baru, apartement terlalu sempit"
"Lah, kau menikah kemarin biayanya dari Justin, jangan curang, Gila."
"Ya tapi tetap saja, ays menyesal aku mengusulkan ide ini ... Ini pemerasan namanya."
.
.
.
- To Be Continue**d** -
ttep semngat ya ka menulis certa2 bru selnjutnyaa ..