NovelToon NovelToon
Semestaku Semestamu

Semestaku Semestamu

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:752k
Nilai: 5
Nama Author: ingrid nadya

Kehidupan Nayla dan Azel sudah benar-benar berubah sejak terakhir kali bertemu. Nayla bertemu seseorang, kemudian putus dan tidak bisa move on. Azel menikah dengan seseorang, dikhianati kemudian bercerai.

Satu hari, mereka dipertemukan lagi di sebuah acara keluarga. Pertemuan itu membuat dunia mereka saling jungkir balik. Bagaimana kelanjutan kisahnya?

Cover obtain from pexels, free to use.
IG author : @ingrid.nadya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Azel : Teman Baru Rara

Rara dan Nayla bergabung makan malam setelah tiga puluh menit berlalu. Mereka berjalan ke dalam ruang makan sambil bergandengan tangan.

Bagus sekali. Bikin berharap saja wanita satu ini!

“Udah selesai filmnya?” Felis bertanya pada Rara.

“Udah, Tante.”

“Lain kali jangan bandel ya.” Gue mengingatkan.

“Gak bandel kan, Tante?” Rara cemberut, mencari pembelaan pada Nayla.

“Enggak kok.” Nayla mengelus kepala Rara.

Duda mana yang tidak senang jika anak perempuannya disayangi?

Norak banget ya gue?

Kenapa otak gue tidak bisa berfungsi dengan baik saat bersama Nayla?

“Rara udah laper belum? Tante masak rendang yang enaaaak banget.” Nathan mengalihkan perhatian.

“Udah laper, Om.” Rara memilih duduk di sebelah Nathan.

Mau tidak mau Nayla harus duduk di sebelah gue.

Well, good job, Rara! Dia benar-benar anak kebanggaan gue.

Kami pun menyendokkan makanan ke piring kami masing-masing. Dan saat gue mengunyah di gigitan pertama, rasa rendang buatan Felis langsung menyerang lidah gue dengan segala kenikmatannya.

“ENAK BANGET, FEL!” seru gue.

Felis tersenyum.

“Bener kan?” Nathan tertawa, seperti kelewat bangga dengan istrinya.

“Makanya gue minta dimasakin rendang, Zel. Rendang buatan Felis tuh rasa surga.” Nayla menimpali.

Gue jadi teringat saat gue makan di blok M dengan Nayla.

Setiap kali memuji makanan, Nayla selalu menyebutkan kata-kata itu, rasa surga.

Nayla terlihat terdiam setelah mengatakan hal itu, seperti teringat akan hal yang sama dengan gue. Boleh tidak gue katakan kalau Nayla setidaknya punya sedikit ketertarikan dengan gue? Boleh ya?

Tapi sebenarnya, tertarik atau tidaknya Nayla sekarang pada gue. Keputusan gue sudah bulat, gue tetap harus memenangkan dia. Dari apapun, dari siapapun.

“Enak gak, Ra?” Nathan bertanya pada Rara. Perhatian gue teralih pada mereka.

“Enaaaak. Tapi pedaasss.” Rara mengibas-ngibaskan tangannya di depan mulut sambil menjulurkan lidah.

Saat gue hendak berdiri untuk mengambil minum untuk Rara, Felis telah melakukannya duluan. Dengan sigap dia memberikan minum pada Rara. Sementara Nathan mengelus-elus punggung Rara.

“Kayaknya aku gak dibutuhin lagi deh.”

Gue melirik Nayla.

“Kalau Rara ditinggal disini sih aku yakin gak bakal sempat inget sama kamu, Zel.”

“100% percent.”

Gue tersenyum. Betapa disayangnya anak gue di keluarga ini.

***

Jam menunjukkan pukul tujuh malam saat Nayla mulai terlihat gelisah.

“Kenapa sih lo gelisah, Nay? Kayak cacing kepanasan daritadi.”

Felis teralihkan perhatiannya dari yang tadinya mereka berdua sedang sibuk menemani Rara mewarnai.

“Laki tadi gue tinggal di pet care.”

“Elah, masih jam tujuh, biasanya juga dia diambil jam sebelas malam.”

“Nyari alesan mau balik cepet ya lo?”

“Tumben banget.”

“Hmm, gue curiga.”

Nathan dan Felis melirik Nayla dengan penuh kecurigaan dan dengan senyum jahil yang terpampang jelas di wajah mereka.

“Udah punya pacar ya lo?”

Nathan langsung menembak.

Wajah Nayla merona.

“Apaan sih?”

Diam-diam dia melirik gue, sebentar sekali.

Hmm.

Apa arti lirikan mu, Nayla?

Lama-lama wanita ini sepertinya benar-benar bisa membuat gue gila.

“Siapa? Kok gak cerita? Finally ya…”

“1992, 1993, 1994, 1995, 1996, 1997, 1998, 1999, 2000, 2001…”

“Apaan sih, Nath?”

“Ngitungnya aja capek ya, apalagi lo yang harus ngejalani masa-masa kejombloan itu.”

“Lo belum jera gue pukulin daritadi?”

Nayla mengancam. Nathan tertawa.

“Siapa Nay? Cerita dooong.” Felis merangkul Nayla.

“Enggak wey.”

“Iya, kenalin ke kita dong. Lo sombong banget.”

“Natttttth. Feeeeeeeeel. Udah dong.”

“Tapi janji ya ntar dikenalin.”

“Iya. Kalo lo berdua gak rese.”

Dan ternyata benar. Nayla memang sudah jadian lagi dengan si kampret Ernest. Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Hati gue yang penuh kebrengsekan ini menyanyikan lagu halo-halo bandung dengan lantang dan mantap.

MARI BUNG REBUT KEMBALI!

“Enggak, janji deh.”

Wajah Nathan tiba-tiba terlihat serius. Dia memandang Nayla dengan tatapan tajam.

“Tapi gue cuma mau mastiin satu hal aja sih.”

Bisa gue lihat wajah Nayla menegang.

“Apa?” suara Nayla terdengar mencicit, karena panik.

“Lo gak macarin cewek kan?”

“HAH?” Nayla mengernyit.

“Hahahahaha.” Tawa Nathan membludak, dia terbahak-bahak. Felis dan gue ikut tertawa.

“Gila kali!” Nayla memukul Nathan.

“Gue open minded kok, Nay. Jujur aja.” Nathan berlari ke belakang Felis untuk menghindari pukulan Nayla.

“Diem lo! Abang kampret!”

“Kalau secantik Liza Soberano gue dukung deh. Gue ikut pacarin ntar.”

“Suami kampret!” Giliran Felis yang memukul Nathan.

“Fel, kita kan harusnya satu kubu…”

Nathan menjerit karena dihujani pukulan oleh Nayla dan Felis.

Gue cuma bisa tertawa-tawa.

Lima belas menit lamanya Nathan disiksa. Karena kelelahan mereka berhenti.

“Udah ah, gue mau balik!” kata Nayla.

Dan disinilah waktunya gue bergerak.

“Bareng gue aja, Nay?”

Nayla kaget. Seperti tidak percaya dengan kata-kata gue.

“Oh iya, kalian kan searah.” Felis mengangguk-angguk.

“Iya, bareng Azel aja gih. Ntar kasih tip aja sepuluh ribu.”

Nathan menambahkan. Gue tertawa.

“Busuk, lo pikir gue supir online?”

“Enggak deh, Zel, ntar ngerepotin.” Nayla menolak. Tegas dan menyakitkan.

Sayang sekali, Nay. Bukan Azel namanya kalau mudah menyerah.

“Dih, apaan sih, Nay? Ngerepotin darimana, sejalan ini.”

“Tau. Kapan lagi direktur nyupirin lo, Nay? Gaji lo enam bulan itu seharga satu velg mobilnya Azel. Satu loh. Kalau empat-empatnya, lo kudu kerja dua tahun, gak pake makan, gak pake shopping.”

“Gue lihat-lihat bosen hidup, bro?”

Nathan tertawa.

“Ampun, ampun.”

“Jadi, gimana, Nay? Bareng Nathan aja deh. Udah malam juga.” Felis mendorong Nayla.

“Takut cowok lo cemburu ya?”

“NATH!”

“Iya, iya, gue diem deh.”

Tiba-tiba Rara menggandeng tangan Nayla, “Tante pulang bareng kita aja. Mau ya?”

Dan gue tau Nayla tidak lagi bisa menolak.

***

Sudah tiga puluh menit kami berada di mobil, tapi Nayla hanya sebatas menjawab pertanyaan gue seadanya. Sementara Rara sudah tidur pulas di pangkuan Nayla.

“Kok Rara jadi lengket banget ke kamu sih?”

“Iya nih, gak tau juga.”

“Pasti ngobrol tentang Barbie ya?”

“Bener, kok tau?”

“Cuma itu yang bisa menarik minat Rara.”

Jeda. Lama. Akhirnya gue memberanikan diri bertanya.

“Kamu balikan sama Ernest, Nay?”

Nayla kaget.

Gue menunggu.

Tau bahwa tidak ada gunanya mengalihkan pembicaraan, akhirnya Nayla mengangguk.

“Padahal kemarin udah mantep banget ya mau move on.”

Nayla mencibir dirinya sendiri.

“It’s okay if you are happy.”

(Gak apa kalau kamu bahagia.)

“Thanks, Zel.”

“You’re truly happy, aren’t you?”

(Kamu bener-bener bahagia kan?)

“Bahagia banget, Zel. Kayak komplit lagi aja rasanya.”

Rasanya sakit, tapi setidaknya Nayla bahagia.

“That’s all that matters, Nay.”

(Itu yang paling penting, Nay.)

Setelah itu, gue tidak bisa banyak mengatakan apa-apa lagi. Pada akhirnya, yang bisa gue lakukan adalah menunggu Nayla. Ntah bagaimana pun ujungnya, tapi gue akan menunggu waktu yang tepat untuk masuk kembali ke kehidupan Nayla.

Lalu mobil gue masuk ke pelataran parkir apartemen Nayla.

“Raranya dibangunin aja, Nay,” kata gue.

“Jangan. Aku pindahin pelan-pelan aja.”

Nayla berusaha sehati-hati mungkin untuk bergerak menurunkan Rara dari pangkuannya tanpa membangunkan Rara.

Setelah berhasil, dia berkata pada gue, “Thanks for riding me home. Bye, Zel.”

Dan saat dia hendak turun dari  mobil, ada rasa tidak rela yang menyelimuti gue. Gue menarik tangan Nayla.

Dia kaget.

Putar otak. Putar! Kenapa juga gue harus melakukan hal ini!!

Tapi betul saja, otak dan hati sedang tidak singkron. Tangan gue masih terus menggenggam tangannya meski otak sudah memerintahkan untuk melepasnya.

“Zel?” Nayla seperti meminta penjelasan.

“Thank you, Nay, udah jadi temen barunya Rara.”

Lalu akhirnya gue melepas tangannya.

“Sama-sama.”

Dia turun dari mobil.

Gue menjalankan mobil, meninggalkan Nayla.

Kebodohan yang bertubi-tubi. Dasar duda tidak tahu diri aku ini!

***

1
Studesyy
akhirnya kumenemukanmu Thor, BAGUS BANGETTTTT... makasih ya buat karya yg sebagus ini, kamu luar biasa Thor... GBU
Studesyy
kok aku naksir Dave ya.. wakakakkakak
yhoenietha_njus🌴
koq aq juga ngerasain dangdutan ya koplo lagi..kaya aq yang lagi nelpon si Nayla
yhoenietha_njus🌴
Luar biasa
Amalia Khaer
bye bye Rara. sukses ya kamu.
Amalia Khaer
karya pertama TPI sudah sekeren ini 👏👏👏
Amalia Khaer
yok di ramein yokk. pas bngett moment nya si Om Azel dtng.
Amalia Khaer
Luar biasa
Amalia Khaer
selain krna hobi mereka sma, krna Rara mengerti apa yg diinginkan Papanya.
Amalia Khaer
ngantuk dong KLO minum antimo
Amalia Khaer
lgi isi kamu tuh, Regina.
Amalia Khaer
SDH bertahun2, aq balik lgi untk membaca, trnyata likenya msih ratusan. pdhal ceritanya Nayla keren bnget loh.
Amalia Khaer
si Cantik Rara sibuk chatan sama Calon Mamanya hihihi
Amalia Khaer
anak pintarr. dukung papa dan Tante Nay ya, Rara.
Amalia Khaer
boleh bnget Om Azel. asalnya dirimu mau berjuang.
Amalia Khaer
semangat ya Om Azellll
Amalia Khaer
aq juga mau Om Azel menguras rekeningmu. TPI gratis yaa
Amalia Khaer
GK pa2, Zel. KLO jodoh y mau gimana lgi. TPI ya itu, dirimu harus berjuang. hehhehe
Amalia Khaer
uhuyyy Om Azel 😍😍😍😍😍😍
Amalia Khaer
Hay, Nay. aku rindu kamu sama Om Azel, hihihi. aq dtng lgi mengulang ceritamu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!