Apakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidaApakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidak akan ada ucapan sakinah mawadah warahmah, dalam pernikahan.
Bertahan dalam pernikahan yang memberi tangis kesedihan bukan hanya bentuk kebodohan, tetapi bentuk dari perjuangan dalam mencapai pernikahan yang bahagia. Karena tidak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa masalah. Begitu juga pernikahan antara Zaara dan suaminya–Arjuna.
Malam pertama pernikahan yang harusnya memberikan Zara kebahagiaan, justru memberikan luka yang begitu menyakitkan untuk Zara, saat Zara mengetahui jika suaminya mencintai wanita lain.
Apakah Zara memilih menyerah? Tidak. Karena Zara mencoba bertahan dan berjuang untuk pernikahannya.
Apakah perjuangan Zara akan berbuah manis? Entahlah.
Ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Kenapa kamu diam? Kamu takut?" tanya Laura kesal saat Juna hanya diam mendengar apa yang dikatakannya.
"Jangan ikut campur urusanku!" ucap Juna tanpa sadar membentak Laura yang dibuat amat terkejut mendengarnya.
Laura bangkit berdiri berkacak pinggang menatap kesal pada Juna. "Kamu membentakku hanya karena wanita itu? Luar biasa," ujar Laura menatap marah pada Juna.
Juna yang melihat kemarahan Laura sama sekali tidak berpikir untuk membujuk Laura saat pikirannya masih saja tertuju pada Zara yang untuk pertama kalinya setelah empat bulan tidak menjawab telepon ataupun pesan darinya.
Laura yang melihat Juna hanya diam tak berniat membujuknya menjadi semakin kesal, Laura keluar dari ruangan Juna membanting pintu dengan sangat kencang, tetapi tetap saja semua itu tak membuat Juna berniat membujuknya.
"Bagaimana jika dia marah padaku? Sial! Kenapa semua ini benar-benar menggangguku?" ucap Juna bangkit berdiri kembali mengambil ponselnya berharap ada balasan dari Zara meskipun Juna sadar sedari tadi tidak ada suara dari ponselnya.
Juna kembali membuka ponselnya, pesan yang dikirimkan pada Zara terkirim tetapi sama sekali belum dibaca oleh Zara.
Juna kembali menghubungi Zara, tetapi semua tegap sama, Zara sama sekali tidak menjawab telepon darinya dan itu semakin membuat Juna menjadi uring-uringan.
Tak dapat jawaban dari Zara, Juna langsung menghubungi telepon rumah nya. "Apa Zara sudah pergi?" tanyanya langsung.
"Sudah, Tuan. Non Zara pergi tak lama setelah Anda pergi," jawab pelayan semakin membuat Juna berpikir jika Zara marah padanya.
Juna mengakhiri telepon, lalu terduduk lemas di kursi kebesarannya. Jika saja Juna punya kontak keluarga Zara atau nomor telepon rumah Zara, maka Juna akan menghubungi mereka, tapi Juna tidak memiliki satu kontak pun dari keluarga Zara.
"Bagaimana caranya aku menghubungi mereka?" gumam Juna mengusap kasar wajahnya.
***
Zara dan keluarganya tiba di kota Jambi. Dikelilingi oleh keluarganya dapat membuat Zara melupakan masalah yang tengah menimpanya. Zara terus saja tersenyum dan itu membuat keluarganya tak dapat melihat kesedihan yang ada di dalam hati Zara.
"Pa, berapa jauh ke sana?" tanya Zavier yang memang belum pernah datang ke sana.
"Jika lalu lintas lancar mungkin tiga jam lebih, tapi jika macet atau cuaca sedang buruk bisa jadi empat jam kita tiba di sana," jawab Zara menjawab pertanyaan Zavier pada papanya.
"Wah kamu lebih tahu dari papa," ucap Zavier tertawa.
"Tentu saja, anak kesayangan selalu ikut Papa Mama kemanapun mereka," sahut Zayan ikut tertawa membuat Zara mencubit perut kedua kakaknya.
"Ma, om Am yang menjemput kita atau Om kadir?" tanya Zara pada mamanya.
"Nah, itu dia. Amri yang menjemput kita," jawab Renata menunjuk mobil yang baru saja berhenti tepat di depan mereka, sesaat kemudian turun seorang pria yang disebut Renata bernama Amri.
Zara dan kedua saudaranya bersalaman dengan Amri begitu juga kedua orang tua Zara. Mereka berbasa-basi sejenak sebelum akhirnya keluar dari kawasan bandara, memulai perjalanan menuju ke desa Limbur Tembesi yang akan memakan waktu kurang lebih sekitar tiga sampai empat jam perjalanan.
Obrolan santai mengisi perjalanan mereka menuju ke desa yang akan menjadi tujuan mereka. Satu jam berlalu, Zavier menoleh ke samping saat melihat adik kesayanganya sudah terlelap bersandar di lengan Mama mereka.
"Dia terlihat lelah," ucap Zayan yang duduk di bangku paling belakang, mengusap lembut kepala Zara.
"Di mana suami Zara? Dia tidak ikut?" tanya Amri yang duduk di balik kemudi melirik pada kaca spion mobil.
"Dia sedang ke luar kota, akan menyusul jika pekerjaannya selesai," jawab Renata.
"Apa sudah ada tanda-tanda kita akan memiliki tambahan anggota keluarga?" tanya Amri lagi diselingi dengan suara tawanya.
"Entahlah, kami belum bertanya. Semoga saja," jawab Renata tersenyum melirik Zara, tanpa mereka semua sadari jika Zara dan Juna bahkan belum pernah melakukan yang namanya hubungan suami istri.
Perfect deh.....
ada season kedua kah???
ternyata selama itu kamu pergi , gimana keadaan papa Emir juga Juna sekarang....