"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Matahari hari Kamis baru saja menembus celah gorden, namun ketegangan di apartemen sudah terasa nyata. Tepat pukul setengah tujuh pagi, Aruna keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi, siap untuk berangkat ke Children Smart School. Di ruang tengah, ia mendapati Gavin sudah duduk di sofa dengan wajah kusut, lingkaran hitam di bawah mata, dan rambut yang mencuat ke segala arah—sangat jauh dari citra playboy cap Bunglon yang selalu ia tampilkan.
Gavin sengaja tidak berani tidur lagi setelah subuh. Ancaman kehilangan aset dan saham perusahaan Bang Rendy benar-benar merusak sistem sarafnya.
Aruna meletakkan buku biru muda peninggalan Adisti di atas meja kopi dengan bunyi plak yang sengaja dikeraskan. "Aku berangkat. Semua jadwal Kenzie ada di sini. Jam delapan dia harus mandi, jam sembilan sarapan, kebetulan hari ini aku belum membuat makanan buat Kenzie. Jadi hari ini sekalian kamu buatkan sarapan dnan juga makan siang buat Kenzie. Jam sebelas dia minum susu lalu tidur siang. Ingat Gavin, jangan berani melangkah keluar dari pintu ini kalau kamu tidak mau Pak Eza mencoret namamu dari jajaran direksi."
"Oh satu lagi. Semua makanan kesukaan Kenzie ada di dalam buku biru itu juga."
Gavin hanya mendengus, memalingkan wajahnya dengan dongkol. "Iya, iya! Cerewet banget sih. Cuma ngurus bocah sekecil itu doang, kecil!. Memenangkan tender aja ku bisa, masa ngurus bocah aku ngga bisa."
Aruna tidak membalas sesumbar Gavin. Ia hanya tersenyum miring, sebuah senyum penuh arti yang seolah mengatakan, 'Silakan nikmati harimu, Gavin.' Setelah mengecup kening Kenzie yang baru saja menggeliat bangun di kamarnya, Aruna melangkah keluar dan menutup pintu apartemen.
Begitu pintu terkunci, medan perang yang sesungguhnya bagi Gavin resmi dimulai.
---
Pukul 08.00 WIB: Tragedi Kamar Mandi.
"Ayo, Ken... Ken... Kenzie, bangun. Saatnya mandi," puji Gavin dengan suara yang dipaksakan manis, sambil mengangkat tubuh Kenzie dari atas kasur.
Kenzie yang baru bangun langsung merengek, matanya masih terpejam namun bibir kecilnya sudah mengerucut. "Nda mau... Eji nda mau mandi, Oom Apin..."
"Nga ada bantahan. Oom ada janji... maksudnya, Oom harus disiplin, nanti Ante mu kaya macan marah loh." ralat Gavin cepat. Ia membawa Kenzie ke kamar mandi, mendudukkannya di dalam bak mandi plastik khusus bayi, lalu menyalakan shower.
Gavin lupa membaca catatan di buku biru bahwa suhu air untuk Kenzie harus suam-suam kuku. Begitu kucuran air mengenai punggung kecilnya, Kenzie langsung tersentak. Airnya ternyata terlalu dingin untuk ukuran kulit bayinya.
"Hwaaaa! Dingiiin! Una... Mau Una! Hwaaa!" tangis Kenzie pecah seketika, menggema di dalam kamar mandi. Bocah itu memberontak, kakinya menendang-nendang air ke segala arah.
Cebur! Byur!
"Eh, eh! Kenzie, diem! Aduh!" Gavin panik. Saking hebohnya gerakan Kenzie, air sabun dan air dingin itu sukses menciprat deras, membasahi seluruh piyama yang dikenakan Gavin. Tidak hanya itu, Kenzie yang licin karena sabun hampir saja merosot kalau Gavin tidak sigap menangkapnya.
Dalam kepanikannya, tangan Gavin yang licin menyenggol botol sampo bayi di rak, membuatnya jatuh dan isinya tumpah ke lantai. Gavin yang tidak siap langsung terpeleset.
Gubrak!
Pondasi pertahanan sang playboy runtuh. Gavin terduduk di lantai kamar mandi yang basah dengan celana yang basah kuyup, sementara Kenzie yang melihat Oom-nya terjatuh justru mendadak diam dari tangisnya. Bocah satu setengah tahun itu malah bertepuk tangan kesenangan.
"Hahaha! Oom Apin atoh! Atoh ayak odok! Hahaha!" tawa Kenzie renyah, menunjuk Gavin dengan tangan mungilnya yang penuh busa.
Gavin mengusap wajahnya yang terkena cipratan air dengan pasrah. "Sabar, Gav... Sabar... Demi Saham perusahaan, Gav... Saham," gumamnya menenangkan diri sendiri.
---
Pukul 09.15 WIB: Waktu sarapan.
Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk urusan mandi dan mengganti pakaian—yang berakhir dengan Gavin harus ikut berganti baju karena basah kuyup—kini beralih ke sesi sarapan.
Gavin berdiri di depan kompor dengan dahi berkerut, buku biru catatan milik mendiang kakak iparnya. "Oke, Disini kak Adisti menuliskan kalo Kenzie suka dengan nasi goreng mentega. Jadi buat sarapan pagi ini aku akan membuatkan nasi goreng mentega khusus buat Kenzie."
Gavin mengambil teflon dari dalam rak bawah Kitchen set. Lalu menyiapkan beberapa bahan untuk membuat nasi goreng mentega, seperti resep yang di tulis oleh Adisti di buku.
Dengan cekatan Gavin mengaduk - aduk nasi goreng tersebut, lalu mencicipkan rasanya sebelum di sajikan pada Kenzie.
"Lumayan lah rasanya, ngga begitu buruk." Gumam Gavin setelah mencicipi rasa masakannya sendiri.
Setelah mendinginkan nasi goreng tersebut dengan kipas portable, Gavin membawa mangkuk itu ke meja makan. Kenzie sudah duduk manis di high chair -nya, memegang mobil-mobilan merah pemberian Leo kemarin.
"Ayo, Kenzie Sayang, buka mulutnya. Pesawat mau masuk landasan... wuzzzz..." Gavin menirukan suara pesawat terbang sambil mengarahkan sendok ke mulut Kenzie, supaya anak itu cepat membuka mulutnya.
Kenzie melihat sendok itu, lalu menggeleng kuat-kuat. "Nda au ( mau) naci oleng (nasi goreng). Eji au kokat (cokelat)!"
"Ngga boleh cokelat pagi-pagi, Kenzie. Ayo makan nasi gorengnya, biar cepat besar kayak Oom," bujuk Gavin, menaruh senyum karismatiknya yang biasa ia gunakan untuk menaklukkan para model.
Namun, pesona Gavin sama sekali tidak mempan pada balita. Kenzie justru meraih sendok dari tangan Gavin dengan gerakan cepat. Gavin yang tidak siap langsung kehilangan kendali atas sendok tersebut.
Plak! Crat!
Satu sendok penuh nasi goreng mendarat dengan sukses tepat di atas lantai marmer apartemen.
Gavin mematung. Matanya menatap nasi yang perceran di bawahnya tanpa berkedip. Sementara Kenzie, pelakunya, malah menatap sang om dengan tidak suka." Atu enda au mamam macakan oom Apin. Enda enak."
Gavin menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya lewat mulut. Menahan rasa geram yang menyesekan dada. "Kenzie... Kata siapa nasi goreng oom ngga enak ? Enak tau, nih Oom makan "desis Gavin gemas. Lalu ia menyuapkan nasi goreng tersebut kedalam mulut untuk membuktikan pada Kenzie kalo nasi goreng buatannya enak.
---
Setelah perjuangan melelahkan menghabiskan setengah mangkuk nasi goreng (yang akhirnya Kenzie mau juga untuk memakannya, walau hanya sedikit), kini giliran sesi bermain sebelum tidur siang. Gavin yang sudah lelah lahir batin memutuskan untuk merebahkan badannya di atas karpet bulu ruang tamu, berharap Kenzie akan bermain sendiri dengan tenang.
Namun, ekspektasi Gavin terlalu tinggi. Kenzie yang melihat Oom-nya telentang justru menganggap tubuh Gavin sebagai arena bermain baru.
"Oom Apin! adi ( jadi ) tuda (kuda)! adi tuda!" seru Kenzie bersemangat. Tanpa permisi, bocah kecil itu langsung memanjat dan menduduki perut Gavin, melonjak-lonjak kecil di sana.
"Aduh! Kenzie... aduh, jangan di situ, perut Oom bisa turun berok," rintih Gavin sambil memegangi pinggang Kenzie agar tidak terjatuh.
Belum selesai penderitaan perutnya, tangan mungil Kenzie bergerak lincah meraih rambut Gavin. Dengan tenaga bayinya yang ternyata cukup kuat, Kenzie menarik-narik rambut depan Gavin yang biasanya tertata rapi menggunakan pomade mahal.
"Rambut Oom jangan ditarik, Ken! Aduh, rontok nanti ketampananku berkurang!" seru Gavin panik, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Kenzie dengan hati-hati agar tidak menyakiti keponakannya.
"Oom Apin jelek! Hahaha! Rambutnya kayak burung hantu!" celoteh Kenzie polos sambil terus mengacak-ngacak rambut Gavin hingga menyerupai sarang burung.
Gavin hanya bisa pasrah telentang di karpet dengan perut yang diduduki dan rambut yang diacak-acak. Dalam hatinya, ia menjerit merindukan suasana kantornya yang tenang, atau bahkan rapat direksi yang paling membosankan sekalipun. Ternyata, menghadapi satu batita jauh lebih menguras energi daripada menghadapi sepuluh klien korporat yang cerewet.
Tepat pukul satu siang, setelah diberi sebotol susu hangat (yang untungnya berhasil diminum tanpa drama sedikit pun), Kenzie akhirnya mulai menguap dan tertidur lelap di dalam dekapan Gavin.
Gavin perlahan memindahkan tubuh mungil keponakannya ke dalam kasur kamar dengan gerakan yang sangat ekstra hati-hati, bahkan napasnya sendiri sengaja ia tahan agar Kenzie tidak terbangun lagi. Setelah memastikan Kenzie benar-benar pulas, Gavin keluar dari kamar dan langsung ambruk di atas sofa ruang tamu.
" Akhirnya aku bisa merasakan istirahat juga. Setelah setengah hari mengurus tuh bocah." Gumam Gavin.
Ia menatap langit-langit apartemen dengan pandangan kosong. Seluruh badannya terasa remuk redam, bajunya penuh noda, rambutnya acak-acakan, dan bau minyak telon kini mendominasi tubuhnya mengalahkan parfum mahalnya.
'Baru setengah hari... dan aku sudah mau mati rasanya,' batin Gavin meratapi nasibnya. Di saat yang sama, secercah rasa kagum dan bersalah yang tipis mendadak muncul di sudut hatinya yang terdalam untuk Aruna.
'Ternyata... seminggu ini Aruna menahan semua kerepotan ini sendirian?'
Belum sempat Gavin merenungkan rasa bersalahnya lebih jauh, suara pintu utama apartemen terdengar terbuka.
Bersambung...
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor