Mencintai secara sepihak dalam rumah tangga tidak akan membuat pernikahan mu bahagia. Seperti yang dirasakan Tiara Aulia.
Masih banyak kesalahan dalam penulisan, saya mohon maaf akan saya perbaiki nanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yoshiputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Tiara menatap mereka yang sedang tertawa bahagia, mereka bahkan tidak pernah menoleh pada Tiara sekedar untuk memastikan nya. Tiara menunduk dia meminum air yang ada di gelasnya.
"Apa anda sendirian gadis cantik" ucap seorang pria yang membuat Tiara mendongak.
"Maaf, saya bersama keluarga saya" ucap Tiara tidak nyaman, tatapan pria itu seperti tatapan orang mesum.
"Benarkah? Tapi saya tidak melihat keluarga yang anda maksud"
Padahal dia adalah anak dari Zuhdi, tapi orang-orang tidak mengenalnya. Yang mereka tahu hanya Selena. Zuhdi pemilik perusahaan yang cukup besar, jadi itu berpengaruh kepada reputasi Selena, dia dihormati orang-orang bukan hanya karena kecantikan nya tapi juga karena ayahnya.
Tiara mengepalkan tangannya dan menatap tajam pria yang menggodanya itu.
"Maaf. Saya tidak nyaman dekat dengan anda, bisakah anda pergi?" Tiara masih berusaha sesopan mungkin. Tidak mungkin dia membuat keributan di acara ini.
"Wah tatapan matamu semakin membuat ku terangsang" goda pria itu lagi.
"Saya beritahu sekali lagi, jaga sopan santun anda. Jika tidak saya akan berteriak" nada suara Tiara mulai meninggi dan itu membuat pria tadi tidak senang.
Pria itu meremas tangan Tiara sampai membuat Tiara meringgis.
"Dasar sok jual mahal." ucapnya lalu berlalu meninggalkan Tiara yang masih gemetar. Dia menatap keluarganya awalnya dia ingin menghampiri mereka, tapi mereka terlihat bahagia.
Tiara tidak ingin mengganggu jadi dia berlari meninggalkan meja tersebut.
Tiara saat ini berada di belakang rumah. Suasananya sangat damai tidak seperti didepan rumah.
Dia duduk di sebuah kursi yang terletak di situ. Badannya masih gemetar, air matanya mulai berjatuhan. Dia masih takut mengingat kejadian yang tadi.
Dia menangis dalam diam.
Tiara mendongak karena merasakan ada yang menatapnya.
"Tuan Arsenio? kenapa anda bisa Disini?" tanya Tiara.
"Kan kau mengundang ku. Apa harusnya aku tidak usah datang saja?"
"Bukan begitu maksud saya tuan?" Tiara menggelengkan kepalanya takut pria itu marah.
"Maksud saya kenapa anda bisa datang ke sini, pestanya kan ada didepan?"
"Tidak ada satupun yang kukenal di sana. Lalu aku melihat mu lewat dan mengikuti mu"
Arsenio menarik kursi lalu duduk di sebelah Tiara.
"Maafkan saya tuan. Seharusnya saya menyambut Anda" Tiara merasa tidak enak pada Arsenio.
"Sudahlah. Siapa yang mau disambut dengan wanita penuh ingus seperti mu"
Tiara memegang hidungnya. Tidak ada ingus di hidung nya.
"Anda berbohong tuan. Saya tidak punya ingus?" Tiara memegang hidungnya sekali lagi memastikan.
"Berarti aku salah lihat" Tiara menganga di buat pria yang ada didepannya.
"Kau jangan menangis, kau semakin jelek saat menangis" raut mukanya sangat datar saat mengatakannya.
Tiara yang mendengarnya tersenyum ringan, dia mengusap air matanya yang tersisa. Dia tahu niat Arsenio menghiburnya walaupun dengan muka datar dan menyebalkan nya, tapi dia cukup terhibur.
Arsenio menatap Tiara.
Satu jam yang lalu dia tiba ditempat ini dengan perasaan jengkel. Bagaimana tidak jengkel, ibunya sudah ratusan kali menyuruh nya agar menjaga Tiara baik-baik.
Dia memilih tempat yang cukup gelap untuk menghindari orang-orang, karena jika orang-orang melihatnya maka mereka akan menjilat seperti biasa.
Setelah nya dia melihat Tiara dari jauh, dia cukup terkejut saat mengetahui Tiara sudah menikah. Dia memperhatikan perlakuan keluarganya padanya. Dia juga baru tahu kalau Tiara anak dari Zuhdi, yang dia tahu kalau Zuhdi hanya punya satu anak perempuan.
Arsenio juga menyuruh pengawalnya untuk menghajar pria yang menggangu Tiara tadi.
"Kau itu kesayangan mama dan papaku, jadi kalau ada masalah ceritakan padaku, aku yang akan menyelesaikan nya"