Aku tidak pernah merencanakan akan jatuh cinta pada siapa. Bukan kuasaku untuk menjatuhkan pilihan sang cinta pada pemiliknya yang entah siapa.
Semula, semua terasa mudah. Semula, aku merasa mampu bertahan dengan segala gejolak yang ada di dalam hati, yang menuntut untuk diperjuangkan. Semula, semua terasa cukup, mengetahui kau akan selalu ada disisiku.
Nyatanya, semua tidak semudah yang kubayangkan.
Ketika keadaan semakin menuntutku untuk memilih, manakah yang harus aku pilih? Karier atau cinta, yang keduanya bahkan baru sama-sama dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Belinda Marchely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Calon Mertua? (1)
Anetta’s POV
“Drrtt ... drrtttt ....”
Susah payah aku meraih hape yang kutaruh di atas nakas di samping tempat tidurku. Dengan susah payah pula aku harus menyadarkan diri dari alam bawah sadar. Apalagi tadi malam aku memimpikan Michael Buble yang sedang bersujud sambil menyodorkan sebuah cincin berlian padaku.
Huh! Suara getaran hape yang padahal terbilang halus itu malah membuatku terbangun, entah bagaimana. Aku menggerutu sambil terus meraba-raba di mana sesungguhnya posisi hape itu di atas nakas.
“Drrtt ... drrtttt ....”
Dapat!
Masih dengan mengerjapkan mata, setengah sadar, aku melirik layar hape. Di layar berukuran 6,5 inchi tersebut tertulis nama ‘(My) Bos Marco’ yang baru saja aku edit di daftar kontakku tadi malam.
“Halo ...” sapaku begitu panggilan kuaktifkan.
“Halo, Sayang! Kamu sudah bangun?” balasnya dari seberang. Mendengar pertanyaannya dengan suara bariton seksinya itu membuat aku seketika segar dari rasa kantuk.
“Ehm, udah. Aku udah bangun dari setengah jam yang lalu,” jawabku. Jelas saja aku berbohong. Bahkan mungkin sampai menit ketiga hapeku bergetar aku masih belum sadar.
“Oh ya? Kalau begitu kenapa aku harus menunggu sendirian di bawah sini?” Nada bicaranya yang skeptis tentu saja membuat aku curiga.
Di bawah katanya? Di bawah mana dia sekarang? Ini, kan, rumahku.
Dua detik kemudian aku terlonjak, menyadari bahwa mungkin saja Marco datang ke rumahku dan menunggu sejak tadi.
Aku buru-buru keluar kamar dan menuruni tangga menuju ruang tamu. Mataku mencari keberadaan Marco, tapi tak kutemukan sosoknya di ruang tamu rumahku.
Aku kembali berbicara padanya melalui hape. “Kamu di bawah mana?” tanyaku. Masih curiga.
“Di sini ...” jawabnya singkat. Lalu panggilan dimatikan.
Sesaat kemudian, kudengar suara jentikan jari dari arah ruang makan. Begitu aku berbalik, di sanalah Marco, sedang duduk di meja makan dengan secangkir kopi hangat dengan asap yang masih mengepul di hadapannya.
“Hai, Sayang. Selamat pagi!” sapanya. Wajahnya mengembangkan senyuman. Sebuah senyum kemenangan, karena dia sudah berhasil mengerjaiku.
Aku menghampirinya.
“Sejak kapan kamu di sini? Kamu, kok, enggak bilang-bilang mau datang? Semalam juga enggak bilang apa-apa?”
“Biar aja Nak Marco enggak kabarin kalau mau datang. Biar Nak Marco tahu sendiri kamu, tuh, ‘kebo’ kalau hari libur.” Tiba-tiba Mama yang datang dari dapur berceloteh, seolah menyindirku.
“Mama ...” rengekku.
Marco tertawa. “Karena ini hari libur, aku mau mengajak kamu jalan-jalan, tapi sepertinya aku bangun kepagian karena terlalu bersemangat. Jadinya malah kamu belum bangun,” jelasnya.
“Coba kamu bilang dari semalam kalau mau ke sini, aku pasti udah siap-siap.”
“Namanya juga kejutan, mana ada kejutan dengan pemberitahuan sebelumnya.” Marco masih tersenyum menyindir.
“Oke, kalau gitu aku mandi dan siap-siap dulu.”
Aku langsung berlari menaiki tangga, menuju kamarku, menyambar handuk dan mandi, lalu bersiap-siap untuk pergi dengan Marco.
~
“Kita mau ke mana?” tanyaku begitu kami sudah dalam perjalanan.
Marco tidak menjawab.
“Sayang, kita mau ke mana?” tanyaku sekali lagi, tak sabaran.
“Nikmati saja perjalanannya dan kamu akan tahu sendiri saat kita tiba,” jawabnya tanpa menoleh. Dia terus fokus menyetir.
Aku pura-pura merengut mendengar jawabannya yang sama sekali tidak memberikan petunjuk.
Aku mengutak-atik pemutar musik pada dasbor mobil Marco. Aku tidak tahu perjalanan ini akan lama atau malah sebentar lagi kami akan sampai di tujuan, tapi mendengarkan musik di pagi hari sangatlah menyenangkan dan membangkitkan semangat.
Pilihan lagu yang Marco punya tidak banyak dan hampir semuanya merupakan lagu-lagu dari era di atas tahun 2000-an.
“Duh, lagu-lagunya tua semua, gini!” keluhku.
Dapat kulihat dari ekor mataku, Marco menoleh mendengar kalimatku barusan.
“Hehehe, maaf, Sayang, tapi aku enggak terlalu familiar dengan lagu-lagu yang kamu punya,” kataku sambil menunjukkan jari berlambang ‘peace’.
“Coba dulu kamu setel. Pasti kamu juga akan tertarik. Gini-gini selera musikku bagus, loh.” Dia memuji diri sendiri dari balik setirnya.
Aku melihat-lihat judul lagu yang tertera di layar pemutar musik itu, ada beberapa lagu miliknya Boyz II Men, Brian McKnight, David Foster, dan ... Elvis Presley? Tuh, kan, Elvis Presley itu penyanyi tahun berapaan coba?
Akhirnya pilihanku jatuh pada lagu-lagu milik Brian McKnight. Begitu kutekan tombol ‘play’, intro dari lagu berjudul Because of You menggema memenuhi seluruh ruang mobil Marco.
Akhirnya aku larut dalam lantunan lagu romantis ini, sampai aku menyadari mobil sudah masuk ke ruas jalan tol.
“Sebenarnya kita mau ke mana sih, Marco?” tanyaku lagi, karena sejak tadi dia hanya diam dan berkonsentrasi dengan jalanan.
“Ke rumahku,” jawabnya singkat.
Aku masih bingung dengan jawabannya itu. Rumah manakah yang dimaksudnya? Karena setahuku apartemen Marco tidak terlalu jauh dari rumahku dan pastinya sudah sangat jauh terlewati.
“Rumah kamu?”
“Iya, lebih tepatnya rumah orang tuaku.” Dia menyunggingkan senyuman lebar, yang bukannya membuat aku ikut tersenyum tetapi malah terkejut dengan suksesnya.
“Jadi ... kita mau ke rumah orang tua kamu?” Aku mengulang pernyataan Marco barusan, meyakinkan diri bahwa aku tidak salah mendengarnya.
“Iya, Netta Sayang. Aku sudah cerita tentang kamu ke mamaku dan Mama sangat bersemangat untuk ketemu kamu. Jadi mumpung hari ini libur, aku memutuskan untuk mengajak kamu ketemu orang tuaku.”
Aku menatapnya lama, masih tidak percaya secepat ini harus bertemu dengan orang tuanya. Marco sepertinya mengerti apa yang aku khawatirkan, lalu menenangkan dengan sentuhan lembut jemarinya pada pipiku.
“Kenapa bengong, Sayang? Santai saja, orang tuaku tidak suka daging manusia, kok ...” Sungguh garing sekali bercandanya.
Aku memperhatikan penampilanku, riasan wajah, serta pakaian yang kukenakan. Aku takut ada yang tidak pas dari penampilanku.
“Apa aku salah kostum? Kamu, sih, enggak bilang-bilang dulu kita mau ke mana dan mau ngapain ...” keluhku pada Marco.
“Kamu tidak salah kostum, Sayang.”
“Makeup-ku? Apa aku terlalu menor?”
“Nope. Kamu cantik seperti biasanya, simple yet gorgeous (1).”
Aku tersenyum mendengar pujiannya yang terdengar berlebihan di telingaku.
“Kita sudah sampai!” katanya kemudian, setelah kami memasuki area perumahan yang cukup besar.
“Sayang, mamamu enggak galak, kan?” tanyaku sekali lagi. Aku perlu menyiapkan mental sebelum turun dari mobil dan bertemu dengan orang tua Marco.
Marco tertawa. “Sepertinya kamu memang kebanyakan nonton sinetron, Sayang. Mamaku bukan seperti ibu-ibu mertua yang jahat pada menantunya, seperti yang ada di sinetron. Kalau itu yang kamu cemaskan.”
“Oke, aku percaya apapun yang kamu bilang, tapi kalau mamamu ternyata enggak suka sama aku, bilang secepatnya, ya. Supaya aku tahu kapan harus memesan taksi online,” kekehku padanya.
“Kamu bisa pegang kata-kataku, Sayang. Ayo turun!”
Aku cukup tenang mendengarkan penjelasan Marco mengenai mamanya. Mudah-mudahan saja tidak ada yang salah dariku di mata beliau.
I am ready to meet you, Madam (2)!
••••••••••
(1) Sederhana, tapi menawan.
(2) Aku siap untuk bertemu denganmu, Nyonya!
love u
selalu ku tunggu ceritamu
melelehh hati abangg.
kamu thor sweet bangettt
selalu semangat yaa
pasti jadi romantis duet kalian.. 😍😍