Novel ke tiga ini hanya kisah fiktif khayalan penulis semata, jika ada kesamaan nama, tempat semua itu hanya kebetulan.
Gadis bernama Airin Nurani usia 21 tahun, yang nekat ke kota Metropolitan untuk merubah nasib dan menyekolahkan adik nya, setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.
Berbekal Ijazah SMA dan selembar kertas bertuliskan alamat seorang teman di desa yang sudah lebih dulu kerja di Jakarta, dan mendapatkan pekerjaan sebagai Pramusaji.
Airin yang akhirnya bertemu dengan kekasihnya ketika masih di desa begitu bahagia, hingga sang kekasih meminta sesuatu dari dirinya...
Apakah Airin akan memberikan permintaan sang kekasih? Bagaimana kelanjutan kisah nya,,,
Simak terus di hari Rabu dan Sabtu jam 20:00 mlm.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Venus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Daffa bertanya, Airin berbohong
Sambel teri
Sambel bawang
Kita mulai hari ini
Sayangggggg.....
**********🌹🌹🌹🌹🌹**********
"Permisi bu Widya, ini teh pesenannya." begitu memasuki ruang tv, tak sengaja pandangan kami bertemu saling diam menatap.
Daffa menatap menelisik dari atas ke bawah dan berhenti di bagian perut yang sudah terlihat membuncit masih menatap lekat seperti mencari kebenaran bahwa seseorang didepannya itu yang selama ini dia cari.
"Oiya terimakasih Rin, kamu sudah kenal dengan anak ibu, sini kalau belum kenal?" bu Widya melambai menyuruh Airin mendekat.
"Sudah bu, sudah kenal. Maaf bu saya mau membantu mbok Yem." aku pun berbalik melangkah cepat ke dapur.
Ya Allah, itu tadi bukannya cowok yang dulu aduh,, berati dia ayah anakku,,, aaahhh kenapa jadi harus ketemu disini sih. Kenapa juga harus jadi majikan ku? Bagaimana ini, baru dapat pekerjaan masa udah di pecat dan di usir, gak mungkin dia ingat dan..dan.. Ah sudahlah, ku jauhi saja dia.
"Sebentar ya mah." cepat mengejar Airin yang ke dapur tapi di dapur hanya ada mbok Yem.
"Ehm, mbok asisten baru nya mbok kemana?"
"Oh, lagi ke kamarnya sebentar den."
"Sekarang ada mam, balik lagi manggil nya aden. Aku ini udah besar mbok, panggilan aden jadi ngerasa masih bocah aku. Panggil kaya kemaren aja mbok pak Daffa, lebih wow gitu ha-ha-ha" protes nya.
"Iya deh iya, suka suka den Daffa aja, eh lupa suka-suka pak Daffa aja. Jangan ganggu ya mbok mau masak makan malam lagi."
Daffa memeluk mbok Yem sebentar lalu melangkah keluar menuju halaman samping kamar Airin. Daffa memang sudah menganggap mbok Yem seperti nenek nya, wanita yang tak lagi muda menyayangi nya begitu tulus.
Eh, kok gue malah kesini sih. Ngapain coba diri di depan pintu gini.
Daffa buru-buru berbalik badan tapi bersamaan dengan pintu yang terbuka, kembali mereka saling menatap lalu Airin menunduk.
"Permisi pak," ucapnya begitu berjalan melewati Daffa.
"Tunggu!" seru Daffa memanggil.
Aku berhenti diam perlahan Daffa mendekat.
"Kamu gadis yang waktu itu kan? Kamu Airin kan? Bener kan?" dengan perasaan was-was Daffa menunggu jawaban wanita didepannya.
"Ii..iya..benar pak. Maaf tapi tolong bapak jangan pecat saya, saya butuh pekerjaan. Saya janji kejadian itu akan aman selamanya menjadi sebuah rahasia." kataku.
"Kamu sudah menikah?"
"Daffaa!! Ya ampun mama cariin tau nya disini. Ayo kedalam, kamu sedang apa?" tiba-tiba mama Widya muncul dari dalam berdiri di ambang pintu.
"Permisi pak," aku pun berbalik berjalan menuju dapur.
"Eh, bu Widya. Maaf tadi Airin ijin sholat Ashar dulu."
"Oh iya gak pa pa." bu Widya bergeser memberi ruang supaya Airin bisa melewatinya.
"Mah, Daffa ke kamar dulu ya. Mau mandi sambil nunggu makan malam siap." mengekor masuk.
Berjalan menuju kamar melintas disebelah Airin yang sedang memotong tempe untuk di goreng. (wong sugeh mangan ne podo koyo aku tempe goreng hehehe).
"Rin, kamu sedang hamil kan?"
"Iya bu, kenapa memangnya?"
"Muntah-muntah gak ribet gitu gak hamilnya?"
"Alhamdulilah gak sih bu, biasa aja. Pernah muntah pas awal aja."
"Sykurlah, enak hamil seperti itu. Dulu waktu ibu hamil Daffa aduh, muntah hampir setiap pagi, belum kalau makan sejam kemudian bisa mual lagi. Pernah sampai harus di rawat, ibu sampai takut banget Daffa kenapa-napa karena ibu gak bisa masuk makanan."
"Iya bu ada beberapa sebagian yang seperti itu, mungkin Airin gak mengalami itu karena Gusti Allah kasian sama Airin bu, yang singel mother hehehe."
"Kamu singel mother, suami mu kemana?"
"Suami,,,ehm itu pergi ninggalin Airin."
"Ya ampun tega sekali malah pergu disaat kamu sedang hamil gini. Jangan sedih, terus semangat dan berjuang ya."
Andai bu Widya tau kalau aku mengandung cucu nya apa jadi nya nanti? Dan lagi pula tadi Daffa bertanya soal aku apakah sudah menikah? Bagus deh, supaya semua aman aku akan tetap diam soal kebenaran nya.
"Iya bu pasti, bayi ini tidak memiliki dosa ayah ibu nya, akan Airin jaga dan besarkan sendiri."
"Tapi kalau misalkan ada lelaki yang mau sama kamu dan dia bertanggung jawab ya gak pa pa."
"Terimakasih bu, tapi sepertinya tidak."
Jam terus berputar hingga tiba waktu makan malam, setelah selesai menata meja makan, aku pun menata meja makan karyawan di samping, aku memilih untuk makan malam di kamar.
*****🌹
Hari berganti hari, minggu terus berganti bulan, hubungan Airin dengan Daffa pun tak ada kemajuan sejak Airin mengatakan bahwa dia sudah menikah.
"Rin, boleh bicara sebentar?" Daffa yang menghampiri ketika sore Airin duduk di kursi taman selepas sholat Ashar.
"Hmmm silahkan pak, apa ada yang bisa saya bantu?" Airin memperbaiki duduknya yang bersandar.
"Kamu hamil, itu apa karena kejadian waktu itu kah?" Daffa mulai bertanya hati-hati. Sejak pertemuan pertama kali dengan Airin, Daffa seperti ada rasa ingin menyentuh perut Airin.
"Hah!! Oh, bu..bukan pak bukan. Kehamilan saya tidak ada hubungannya dengan pak Daffa." aku pun agam gugup sesaat.
"Lalu, bayi yang kamu kandung itu? Dan kamu tau gak kalau saya pernah ke kos an kamu tapi kamu sudah pergi."
"Bayi ini anakku pak, iya saya pergi mendadak karena saya akan dinikahkan, dan dari pernikahan itu muncul lah bayi ini." aku berharap lelaki di depanku ini bodoh dan percaya.
"Berapa lama pernikahan kalian, aku dengar dari mama kamu seorang janda yang ditinggal pergi suamimu? Lalu berapa usia kandungan mu sekarang?" dengan kening berkerut menunggu jawaban Airin, yang bingung harus jawab apa.
"Aduuuhhh,,, maaf pak saya mau masuk ke kamar dulu kepala saya tiba-tiba sakit." aku berpura-pura lalu berdiri dan meninggalkan Daffa yang masih menatap bingung.
Apa benar, dia janda? Sepertinya sejak kejadian itu sampai sekarang itu sesuai dengan besar perut nya. Aku harus selidiki ini. Hati kecil ku selalu ingin mengelus perut Airin. Seperti ada yang memanggil ku didalam sana.
*****🌹
["Assalamualaikum Rin,, lagi apa?"] suara Asih di seberang sana terdengar bahagia.
["Aku lagi santai aja di kamar, tumben malam-malam telepon ada apa? Udah mau lahiran ya?"] tanyaku.
["Kalau aku lahiran kamu anterin aku ya Rin temenin aku, kamu kan ada di Jakarta, boleh lah ijin sama majikan mu. Please."] Asih memohon dengan sangat terdengar dari suaranya.
Aduh,,, gimana yaaaa.. Asih belum tau kalau aku hamil juga.
Ya. Selama pertemanan via telpon mereka sejak Airin pindah dari kos mereka belum pernah bertemu dan Airin pun tidak pernah jujur tentang dirinya.
**********🌹🌹🌹🌹🌹**********
Lanjut bacaaaa..☕
Don't forget to rate, like, komen, vote and gift nya. Terimakasih
apa reaksi bapak Faisal jumpa dengan mantan istrinya dan apa sebenarnya niat Bu Widya mau jumpa ya
tp kok zaman dah modern gini masih aja ada hal² yg berbau nganu..
hmm 🚶♀️🚶♀️🚶♀️
wlopun cara itu diluar nalar sekalipun 🤦♀️
aduh Del, km ini wanita masa kini kok percaya hal kek gitu sih 😶
inget lho, nyawamu sndiri yg jd taruhannya itu..
smua masih abu².. aku nunggu jd merah muda dan biru aja deh 🚶♀️🚶♀️🚶♀️
km baik² aja kn?!
klo smpe terjadi sesuatu sm km kelak, apa Airin bakal kembali sm Daffa??
hmm, bolak balik dekok w mren ieu mh
kek nya 11 12 sm Delia..
apa mungkin Rachel yaa??
jadinya gini kan..
km sndiri yg tersiksa krna jelas² km yg berjuang sndiri
km hrus berusaha lebih keras lagi utk mencari Airin dan mendapat maaf darinya..
ehh ini Faisal sakit apa sih..
jgn bilang dia mengidap penyakit berbahaya yg mengancam nyawanya.. halahhh klo kek gitu, bisa jd angin segar buat Daffa..