Mengorbankan cinta untuk sahabat?
Cintanya pada seorang laki-laki ia pertaruhkan demi kesembuhan sahabat yang menderita depresi.
Bisakah Salma mengikhlaskan Doni hidup bersama Esti. Atau mereka akan tetap bersatu dengan cinta mereka?
Temukan jawabannya di Biarkan Ku Mengalah cerita yang seru dan mengharukan tapi ga usah baper. Happy reading💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Tamu Malam Minggu
Ada satu malam yang dijadikan malam spesial buat Salma. Spesial rebahan sambil mendengarkan musik, spesial istirahat, spesial membaca novel dari noveltoon dan spesial menulis. Pokoknya dari sekian banyak kata spesial setiap malam Minggu pasti kegiatannya akan bergantian.
Untuk malam ini Salma memilih kegiatan spesialnya menulis. Menulisnya sih masih di buku diary tentang pengalaman hidupnya maupun pengalaman orang lain yang ia dapatkan dari obrolan santai. Hal ini bisa dijadikan referensi nantinya pada saat ia akan memulai menjadi penulis novel. Dengan kata lain Salma mengumpulkan bahan mentahnya dulu, baru bisa dieksekusi. Sedang asik-asiknya menulis pintu kamar Salma ada yang mengetuk.
"Teh....teh....teteh, ada tamu!" Adik Salma yang pertama bernama Marina memberitahukan kalau ada tamu yang sedang menunggunya di bawah. Salma membuka pintu kamarnya setelah menyimpan buku diary di tempat semula yaitu di dalam lemari agar tidak bisa dibaca oleh siapa pun.
"Siapa dek?" Marina hanya mengangkat bahunya. Salma pun menutup pintu kamarnya kemudian beranjak ke bawah.
Seorang perempuan duduk di sofa sambil menyeruput teh buatan Mama Rika.
"Reni? Aih apa kabar kamu, lama tak jumpa!" Salma menyalami sahabat semasa SMP nya itu dengan suka cita kemudian memeluknya. Pasalnya sudah hampir 6 tahun baru bertemu kembali.
Mereka pun bercengkrama melepas rindu tak pernah menyangka ternyata Reni sudah menikah 3 bulan yang lalu. Tapi malam-malam begini ada apa bertamu di rumah Salma? Sementara ia sudah bersuami. Salma menatap heran sahabatnya itu.
"Maaf ya Sal, aku datang malam-malam begini. Kebetulan aku baru saja pulang kerja sekalian lewat jadi aku mampir ke sini."
"Ngomong-ngomong ada apa malam-malam begini datang ke rumah. Surprise banget tahu....uuuh senangnya bisa bertemu kamu lagi. Aku kangen tahu?" Salma memeluk sahabatnya itu. Terlihat murung. Tidak bergairah seperti banyak beban pikiran.
"Hei kamu kenapa? Baru tiga bulan nikah kok kayaknya sedih gitu, biasanya umur pernikahan segitu lagi anget-angetnya. Ga mau jauh dari suami." Ujar Salma sok tahu. Padahal dia sendiri belum pernah merasakan pernikahan. Reni hanya diam.
"Sal boleh ke kamarmu gak? Aku ingin curhat. Aku ga enak kalau di sini, malu kedengaran orang tuamu." Penuh harap sambil menggenggam telapak tangan Salma. Salma mengangguk. Ia mengajak Reni ke kamar atas.
Reni memasuki kamar Salma dengan takjub. Dinding berwarna pink terpampang foto Salma dan keluarganya dan foto saat Salma masih bayi. Di kamar itu terdapat kasur spring bed ukuran sedang, lemari baju, meja hias, meja belajar yang di atasnya terdapat komputer, printer dan laptop. Di sebelah meja belajar terdapat lemari buku yang cukup banyak koleksi buku-buku sastra, beberapa novel, cerpen. Juga koleksi buku milik ayahnya yang ikut melengkapi koleksi perpustakaan mininya. Terlihat bersih dan rapi. Reni tersenyum ketika melihat kertas hasil ujian Salma yang masih terpampang di mading mini, persis seperti saat Salma SMP. Kertas-kertas hasil ulangan selalu ditempel sebagai imun agar semangat dalam belajar.
"Sal kamu masih seperti dulu." Gumamnya pelan namun masih bisa didengar Salma.
Mereka duduk di lantai dekat spring bed agar bisa selonjoran. Sudah tersedia minuman dan cemilan juga tisu buat jaga-jaga khawatir hujan lokal datang. Biasa bukan kalau cewek curhat ujung-ujungnya mewek? Reni meneguk minumannya lalu meletakkan gelasnya di lantai.
"Sal aku hamil!"
Uhuk
Uhuk
uhuk
Salma tersedak minumannya. Ia tersenyum senang namun seketika diam ketika rona wajah Reni muram tak bergairah. Ia mengernyitkan keningnya.
"Hamil? Loh bukannya senang ya kalau hamil? Kenapa mukamu ditekuk begini?"Tanyanya bingung.
"Bukankah berita kehamilan itu sangat ditunggu oleh setiap pasangan setelah menikah? Apalagi seorang suami akan merasa dirinya berhasil dan merasa perkasa jika sampai bisa membuktikan kalau dirinya bisa mendapatkan keturunan."
Reni hanya menggeleng pelan ada sesuatu hal yang membuatnya merasa tertekan.
"Ada apa sebenarnya?" Salma mengelus bahu Reni dengan lembut.
"Aku ga mau hamil Sal. Aku ga mau punya anak dari dia, aku ga mau Sal.....aku ga mau." Reni terisak, Salma menatapnya bingung.
Tidak mau hamil? Tapi kenapa sampai bisa hamil? Seharusnya kalau memang tidak mau hamil ada penolakan untuk disentuh. Ah ada-ada saja. Disentuh mau tapi hamil ga mau. Salma hanya geleng-geleng kepala. Namun ia penasaran juga.
"Hey sebenarnya ada apa? Ceritalah aku siap menjadi pendengar setiamu, aku masih sama seperti dulu." Salma tersenyum.
Reni menceritakan awal ia dipertemukan dengan suaminya sampai kisahnya sekarang. Perbedaan usia yang sangat jauh membuatnya selalu menyesali pernikahan itu. Usia Reni saat itu 25 tahun sedangkan suaminya 45 tahun. Salma memang tidak tahu suami Reni namun ia yakin suaminya itu orang yang bertanggung jawab. Hanya usia dan fisik saja yang menjadi sumber permasalahan. Kalau masalah ekonomi suaminya memang mapan sebagai guru PNS masa depannya sangat terjamin. Bahkan banyak orang tua yang bercita-cita memiliki menantu yang sudah menjadi PNS begitupun dengan ibunya Reni karena kemapanan itu lah mereka menerima menantunya tanpa menanyakan persetujuan dari anaknya.
"Reni aku berterima kasih kamu mau berbagi cerita denganku dan percaya padaku sehingga semua permasalahan rumah tangga kamu ceritakan tanpa kamu tutup-tutupi. Namun ingat satu hal jangan pernah kamu umbar aib keluargamu pada teman, tetangga bahkan keluarga mu karena semuanya bukan memberi solusi tetapi manambah permasalahan dengan ikut campur urusan rumah tangga atau dengan menceritakan aibmu pada orang lain begitu seterusnya sampai banyak orang yang tahu. Tapi saya yakin kamu tidak seperti itu. Tapi kenapa kamu sangat percaya padaku?"
"Karena sejak dulu kamu bisa jaga rahasia, Sal. Kamu selalu memberi solusi setiap aku punya masalah. Dan aku merasa nyaman jika cerita ke kamu." Salma tersenyum. Setidaknya masih ada orang yang mau mendengarkan perkataannya dan percaya padanya.
"Ren ingat satu hal jodoh itu Allah yang tetapkan dan rencanakan. Bukan manusia. Manusia hanya menjalani. Tidak boleh menolak. Apapun yang Allah rencanakan semuanya terbaik untuk masa depanmu dunia dan akhirat. Karena sesuatu yang kamu anggap buruk bisa jadi itu akan mengangkat derajat mu di masa yang akan datang. Kalau kamu mau protes, proteslah pada sang pemberi jodoh. Pernahkah kamu bersujud berkonsultasi pada Allah di sepertiga malam?" Reni menggeleng pelan, ia masih diam mendengarkan penuturan dari sahabatnya itu.
"Kalau memang belum kamu lakukan maka lakukanlah. Hanya dengan cara itu hatimu akan menjadi tenang."
"Tapi aku ga mau anak ini....aku ga mau Sal. Aku ga mau hamil anaknya aku benci!" Reni memukul perutnya pelan.
"Hey apa yang kamu lakukan? Dengar kalau kamu tidak mau hamil kenapa kamu mau disentuh?" Reni hanya diam.
"Jawab!" Salma sedikit kesal.
"Karena aku ....aku....aku ingin mencobanya" Jawabnya polos tanpa beban. Salma tertawa mengejek.
"Mencoba kamu bilang?" Salma geleng-geleng kepalanya sambil tertawa.
"Mencoba tapi ketagihan? Tapi kamu luar biasa Ren, luar biasa kamu sudah melakukan ibadah ritual malam dan itu dapat pahala walaupun kamu merasa terpaksa kamu tidak ada penolakan dari tubuhmu sebenarnya kamu itu sudah ada cinta padanya namun kamu enggan untuk mengakui nya. Sungguh aku acungkan jempol" Salma mengacungkan kedua jempolnya.
"Iiish kamu itu. Kalau ga cinta tetap ga cinta."
"Ya sudah terserah padamu saja lah yang penting aku sudah memberimu masukan. Banyakin istighfar saja. Insyaallah jiwamu akan tenang. Oiya ini sudah malam loh kamu ga pulang?" Salma melihat jam dindingnya menunjukan pukul 21.30 WIB.
"Kamu ngusir?"
"Bukan ngusir tapi kamu kan sudah punya suami ga baik seorang istri masih di tempat orang lain malam-malam begini apalagi kamu dalam keadaan hamil. Jangan-jangan kamu tidak meminta izin suami untuk datang ke rumah ini?" Tebaknya.
"Buat apa izin aku ga peduli."
"Iiish kamu tuh ya keras kepala banget. Perkataan mu itu ga baik terdengar oleh anakmu itu."
'Huh lahir aja belum. Mana mungkin ia dengar, ada- ada aja" Tertawa sinis.
Kemudian terdengar ponsel Reni berdering. Terlihat di layar sebuah nama "Pak Tua".