Ersya Melviano Ravindra, anak kecil berusia 5 tahun itu harus menjalani kehidupan yang buruk, bagai sampah tidak berguna, iapun di kucilkan oleh semua orang. Namun semenjak bertemu dengan sosok wanita cantik berhati mulia, iapun perlahan berubah menjadi sosok bocah yang kejam, sadis, psikopat, dan tak mengenal kata ampun.
"Aku bersumpah akan membalas setiap rasa sakit yang pernah aku rasakan di dunia ini! Dengan cara yang sadis dan kejam. Membunuh, menyiksa, itu semua akan aku lakukan untuk melindungi bundaku! Apapun rintangannya aku akan melewatinya"
_Ersya Melviano Ravindra
Ikuti kisahnya dengan judul: Lucifer My Little Son
S1 dari S2
Not: Cerita ini murni dari hasil pikiran author sendiri, untuk latar belakang tempat, nama tokoh, alur dan sebagainya sudah di setting. Bila ada kesamaan itu tidaklah di sengaja dan tidak ada unsur kesengajaan.
Terimakasih
Di larang unsur plagiarisme!💢
*****
BLACK BLOODED DEMON
COOL BLOODE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 060, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S1 Lucifer: Bocah licik
"Mengapa kau ingin aku menjadi kakak mu?" Tanya Virendra kecil dengan menaikkan satu alisnya sambil menatap wajah cantik Zenitha kecil.
"Karena aku tidak punya siapa-siapa selain kakak, aku ingin punya kakak seperti anak-anak panti yang lain" Jawab Zenitha kecil dengan menundukkan wajahnya kebawah.
"Tuan muda" Panggil seseorang yang baru saja datang dengan terburu-buru sambil memegang payung ditangannya.
"Paman" Jawab Virendra.
"Tuan muda, maafkan saya karena telat datang!" Ucap orang tersebut dengan merasa bersalah terhadap tuan muda nya itu.
"Emmmm, tidak apa" Balas Virendra kecil dengan menganggukkan kepalanya kecil.
"Kakak, karena paman ini sudah datang! Kalau begitu aku pergi yaa" Pamit Zenitha kecil dengan perlahan bangkit dari jongkok nya itu lalu setelah itu mulai pergi tapi terhenti karena mendengar perkataan dari Virendra.
"Aku akan menjadi kakak mu mulai hari ini" Kata Virendra kecil dengan menghentikan pergerakan langkah kaki Zenitha kecil.
"Benarkah? Kakak mau menjadi kakak ku?" Tanya Zenitha kecil dengan antusias kembali mendekat kearah Virendra kecil.
"Hmmmm, siapa nama mu?" Ujar Virendra kecil dengan bertanya perihal nama dari si gadis kecil yang imut dan cantik itu.
"Zenitha Marlina Revandra, kakak bisa memanggilku Nitha saja atau Zenitha" Balas Zenitha kecil dengan tersenyum bahagia.
"Baiklah! Kalau begitu kau kembali lah ke rumah panti dan cepat bersihkan tubuhmu, air hujan sangat tajam untuk tubuh kecil seperti dirimu ini. Setiap hari minggu kakak akan menunggu mu disini untuk mengajak mu bermain" Tutur Virendra kecil dengan mengusap pelan kepala Zenitha kecil dengan lembut.
Greppp
Tanpa aba-aba Zenitha kecil langsung berhamburan memeluk tubuh Virendra kala itu, namun Virendra tidak menolak. Justru ia membalas pelukannya itu pada Zenitha kecil yang menurutnya sangat imut.
"Kakak terimakasih" Lirih Zenitha kecil dengan pelan.
"Sama-sama, pulanglah!" Balas Virendra kembali dengan tersenyum manis kali ini kepada Zenitha kecil.
"Kakak kau sangat manis jika tersenyum seperti ini, kakak kalau begitu aku akan pergi! Sampai jumpa nanti" Pamit Zenitha dengan berlari kecil sambil melambaikan tangannya kepada Virendra sebagai tanpa perpisahan untuk hari ini.
"Dahhh"
Flashback off
"Lalu...?" Tanya Ersya dengan masih menatap tajam wajah Virendra saat ini.
"Lalu... Aku menepati ucapan ku dengan pergi bermain bersama nya setiap hari minggu! Hingga akhirnya tahun pun berganti dan tidak terasa umur ku sudah delapan belas tahun sedangkan ia lima belas tahun saat itu! Dan pada saat itu aku bukan lagi menganggap nya sebagai adik ku melainkan kekasih kecil ku, ia juga mengetahuinya tapi.... Tiba-tiba terjadi sesuatu yang tidak aku sadari" Jelas Virendra dengan terduduk lemas di sofa dekat Ersya.
"Apa?"
"Saat aku bersama dengan nya, dendam yang masih aku simpan tetap aku jalan-kan! Aku mencari dua pembunuh kedua orang tuaku setiap hari tanpa kecuali hari minggu. Hingga pada akhirnya aku berhasil membalaskan dendam kedua orang tua ku kepada kedua pembunuh itu dengan cara memenggal kepala nya, tepat hari sabtu! Yaa tepat hari ini aku membunuh kedua orang yang telah membunuh keluarga ku"
"Dan hari yang sama aku berhasil membalaskan dendam tersebut, aku langsung saja membawa dua kepala orang itu kehadapan makan kedua orang tuaku! Janjiku kepada kedua mendiang orang tuaku sudah terselesaikan. Tapi pada saat itu juga aku ceroboh dan tidak melihat ada seseorang dibalik pohon besar yang ada disitu, dan orang tersebut adalah bunda mu! Yang mana tidak sengaja melihatku datang ke makan pada saat itu dengan membawa dua kepala pembunuh kedua orang tua ku" Cerita Virendra.
"Apa yang ia lakukan ketika melihatmu tengah memegang kepala manusia?" Tanya Ersya dengan penasaran.
"Ia berteriak ketakutan dan menangis dengan berjongkok di dekat pohon besar tersebut, aku yang mendengar suara nya pun langsung saja menghampiri nya tapi sebelum itu aku menaruh dua kepala pembunuh itu terlebih dahulu disamping makam mending kedua orang tuaku! Ketika aku menghampiri nya dan berniat ingin menenangkannya ia justru malah teriak ketakutan dan menjauhkan tubuhnya kepada ku dan mengatakan bahwa aku adalah "Pembunuh" pada saat itu aku tidak marah padanya karena berteriak mengatai ku seperti itu" Jawab Virendra kembali.
"Lalu...?"
"Ia pergi dengan berlari secepat mungkin dengan menjauh dariku! Pada saat yang bersamaan aku pun mengejar nya tapi na'as nya ia sudah pergi jauh dan aku tidak dapat menemukannya. Keesokannya harinya aku berkunjung ke rumah panti tempat tinggal nya saat itu dan aku bertanya dimana ia. Tapi pemilik panti itu mengatakan bahwa ia sudah di bawa pergi oleh keluarga angkat nya secara mendadak" Lirih pelan Virendra dengan menghela nafasnya berat.
"Apa yang akan kau lakukan jika kau sudah bertemu dengan bundaku? Apakah kau akan menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi padamu saat itu?" Tanya Ersya lagi dan lagi kepada Virendra.
"Tidak tau, tapi yang jelas saat ini yang terpenting aku ingin bertemu dengan nya" Tutur Virendra.
"Hari ini bunda ku berada di sini! Di perusahaan. Ia sedang mengurus berkas-berkas tentang dirinya untuk masuk kedalam sini! Padahal bisa saja aku langsung memasukkan bundaku ke dalam perusahaan ini tapi aku tidak ingin bunda ku merasa curiga nantinya" Jelas Ersya dengan santainya.
"Di ruangan mana ia sekarang?" Tanya Virendra dengan cepat.
"Jangan menemui nya untuk saat ini, biarkan bunda ku menyiapkan berkas-berkas tentang dirinya untuk bekerja! Jika kau ingin bertemu dengan nya sebaiknya diluar area perusahaan" Ujar Ersya dengan cepat menghentikan pergerakan langkah kaki Virendra.
"Ck! Baik"
*****
Rumah L'z
"Ersya sayang bunda pulang" Ucap Zenitha dengan sedikit berteriak memanggil sang putra.
Si kecil yang pintar itu memang sudah pulang setelah tau bahwa sang bunda sudah selesai menyiapkan berkas-berkas tentang dirinya untuk bekerja diperusahan-nya besok! Jadi dengan cepat pada saat itu Ersya meminta kepada Leonard untuk segera membawanya pulang karena waktu sekolah nya memang sudah selesai sedari tadi.
"Bundaaaa" Teriak Ersya dengan berhamburan ingin memeluk tubuh Zenitha tapi justru malah tertahan.
"Stop sayang! Jangan memeluk bunda terlebih dahulu, karena bunda baru saja dari luar. Dan belum membersihkan tubuh bunda" Ucap Zenitha dengan menghentikan pergerakan sang putra.
"Aku sudah membuatkan makanan untuk mu, Segeralah mandi bunda setelah itu kembali lah kemari dan makan lah bersamaku" Tutur Ersya dengan tersenyum manis.
"Kau memasak lagi untuk bunda?" Tanya Zenitha dengan menatap sendu wajah sang putra.
"Tentu saja dan itu semua untuk mu" Jawab Ersya dengan cepat.
"Er sayang, mengapa tangan-mu diperban? Apa kau terkena pisau saat kau memasak? Katakan pada bunda? Hmmm" Khawatir Zenitha yang tidak sengaja melihat tangan sang putra dibalut dengan kain kasa.
"Aku tidak apa-apa bunda" Kata Ersya.
"Bagaimana mungkin kau tidak apa-apa, birkan bunda obati kembali luka mu" Pungkas Zenitha dengan perlahan menarik pergelangan tangan sang putra dan membawa nya kedalam kamarnya.
Saat pagi hari, Zenitha memang tidak memperhatikan dengan jelas luka tangan sang putra, karena pada saat itu Ersya masih belum sadar bahwa tangannya terluka jadi ia belum perbankan tangan nya! Tapi ketika dirinya pulang. Ersya baru ingat jika tangan nya terluka oleh pisau lipat kecilnya itu ketika habis menyerahkan mafioso dirinya (Blue Dragon) kepada Virendra yang mana dengan cara bersumpah dan menyayat telapak tangannya itu.
Jadi ketika ia pulang, Ersya pun mencari akal untuk bisa berbohong kepada sang bunda mengenai luka tangan-nya itu dengan cara ia memasak. Jadi Zenitha nanti berfikir bahwa luka di telapak tangan nya itu adalah luka ketika dirinya masak.
"Untung-nya aku pintar"
...*****...
...Bocah licik...
lanjut dong ka season 2 nya
semangat thor
makin seru ni
yg banyak updetx
Ersya sudah ngomong lancar seperti jalan tol 👍.