NovelToon NovelToon
Dandelion

Dandelion

Status: tamat
Genre:Patahhati / Mafia / Balas Dendam / Chicklit / Tamat
Popularitas:65.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lilaura Callisto

[Judul sebelumnya: Highest Life]

Taufan Ravael, seorang pemuda yang selalu menebar senyum dan keceriaan pada orang orang di dekat nya. Setidaknya itu yang orang lain lihat dari nya, tanpa mengetahui jika itu hanyalah topeng belaka.

menyembunyikan duka dan rasa sakit karena kehilangan kedua orang tua nya, dan menghabiskan 6 tahun hidupnya tanpa kasih sayang.

Orang tua nya meninggal akibat kebakaran di rumah nya dan kedua saudara nya membenci nya sejak saat itu.

Harus terus bertahan melawan penyakit yang semakin lama kian menggerogoti dirinya, apa Taufan bisa terus bertahan dan kembali mendapatkan kebahagiaan dan kehangatan keluarga seperti apa yang selalu ia impikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilaura Callisto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Di malam itu

Flashback

Langit gelap membentang luas. Angin dingin berhembus dari timur menandakan musim kemarau tiba. Awan pun tak berani mengusik sang luna juga prajurit bintangnya. Kala itu angkasa berbinar dengan anggunnya.

Sayang tak semua orang memedulikannya, termasuk lelaki ber rambut hitam yang menyusuri trotoar seorang diri. Iris ruby nya menatap layar ponsel yang menunjukan suhu 16°.

"Padahal ini kan musim panas, kenapa dingin sekali? Rasanya ingin cepat tidur, capek banget."Ucap nya sambil ia mengeratkan hoodie merah kesayangannya.

Malam belumlah terlalu larut, tapi sudah tak terhitung berapa kali ia menguap lebar. Sesekali ia memijat bahunya yang pegal karena rutinitas padat yang ia jalani. Malam itu motornya mendadak mogok dan keadaan memaksanya untuk berjalan kaki sampai rumah.

Tangan kirinya menenteng plastik yang penuh dengan belanjaan, sementara tangan kanannya memainkan ponsel untuk mengusir kebosanan. Jalanan yang kala itu sepi membuat Hali tak memperhatikan sekitarnya. Tanpa ia sadari seseorang juga berada di jalan yang sama dengannya.

BRUK...

Barang belanjaan terlepas dari tangan Hali jatuh berceceran. Seseorang gadis yang tak sengaja menabraknya ikut terjatuh.

"Ma-maafkan aku!" ucap gadis itu terbata, khas dengan aksen jepang nya.

"Tidak, aku yang minta ma-," Perkataan Hali terhenti. Untuk sesaat ia memperhatikan gadis di depannya. Tubuhnya gemetar, pakaiannya kusut dan terlihat jejak air mata membasahi pipinya.

"Kau baik-baik saja? Ada yang sakit?"

"To-tolong aku. Para preman itu, seseorang sedang melawan mereka!" Gadis itu meracau tak jelas membuat Hali bingung.

"He-hey! Tenanglah, coba jelaskan perlahan."

"T-tadi aku diganggu beberapa preman dan seseorang yang menolongku. Tapi sekarang dia dalam bahaya, dia sedang dikeroyok para preman itu!" Raut wajah gadis itu nampak cemas tapi juga takut.

"Di mana dia sekarang?"

"Di gang kecil di sekitar pertokoan lama." Ujarnya menunjukan tempat yang tak jauh dari posisi mereka saat ini.

"Aku akan kesana, sebaiknya kau segera lapor polisi."

Gadis itu mengangguk, "A-aku akan segera menyusul bersama polisi. Berhati-hatilah!"

Hali bergegas menunju tempat yang ditunjukan gadis yang sama sekali belum ia kenal. Entah kenapa perasaanya menjadi gusar tanpa sebab, seperti rasa cemas yang berlebihan.

Dari kejauhan terdengar sayup-sayup gelak tawa dari salah satu gang di persimpangan toko. Dadanya terasa sakit begitu mencapai tempat itu. Detik itu juga darahnya mendesir cepat, jantungnya tertohok melihat tubuh Taufan yang tersungkur tak berdaya. Matanya terpejam, darah tercecer dari hidung dan mulutnya. Tubuhnya penuh luka dan pakaiannya kotor oleh debu dan darah.

Seorang dari mereka yang pertama kali menyadari keberadaan Hali mengernyit, "Siapa kau?"

"Sepertinya dia melihat kejadian tadi." Kata seseorang tubuh tinggi yang membawa balok kayu.

"Hei, kau melihat kami menghajarnya?" tanya lelaki bertubuh gendut.

"Bodoh! Buat apa menanyakan hal seperti itu, habisi aja sekalian." Seorang yang berlagak seperti bos itu menyeringai.

Hali terdiam seribu bahasa. Padahal ia tak pernah peduli dengan apa yang dilakukan Taufan, kebodohannya, tingkah lakunya, apapun itu. Tapi saat ini, entah mengapa amarahnya memuncak ketika melihat Taufan tergeletak tak sadarkan diri dengan penuh luka seperti itu.

"Jadi kalian orang orang sampah yang membuatnya seperti ini?" Tangannya terkepal erat menahan emosi yang meluap.

"Hooo, kau mengenalnya? Kami baru saja menghabisinya, harusnya kau datang lebih cepat untuk menyelamatkannya." Orang itu menginjakkan kakinya ditubuh Taufan.

"Singkirkan kakimu darinya." Kecam Hali.

"Hmm, kenapa? Kau harus mela-"

Bughhh...

Satu pukulan keras membuat orang yang sedari tadi mengoceh itu tumbang seketika. "Akh! Sialan!" Seorang bertubuh gendut maju sambil melancarkan serangan tinju. Namun Hali dengan mudah menahannya dengan satu tangan.

"Tak perlu satu satu, maju kalian semua! Akan aku buat kalian membayar atas perlakuan kalian pada adik ku!" Matanya merahnya berkilat di bawah bayang bayang rambut nya, sayangnya para preman itu terlalu bodoh untuk memahami situasinya dan pertarungan berakhir begitu singkat dengan kemenangan Hali.

Netra nya tertuju pada sosok Taufan yang nampak menyedihkan. Perlahan, ia mendekatinya, kulitnya terasa dingin karena terlalu lama diterpa udara malam. Hali membalut tubuh tak berdaya itu dengan hoodie merah milik nya. membawa Taufan dalam gendongannya

'Dia ringan sekali,' gumamnya.

Sesampainya di rumah, Hali membaringkan tubuh Taufan di kamarnya dan mengobati lukanya dengan hati-hati. Hali tertegun, bibirnya dihiasi garis garis getir, ia baru sadar kalau Taufan yang sekarang sangat kurus. Ia bahkan bisa merasakan tekstur tulangnya dari permukaan kulit.

Dalam gendongannya, Taufan sempat siuman, meski hanya sebentar dan ia kembali tak sadarkan diri hingga sekarang. Selesai mengobati luka, ia menyelimuti Taufan sampai sebatas dada.

Hali mengedarkan pandang, memorinya sedikit terluka. Ia tak ingat kapan terakhir kali masuk ke dalam kamar bernuansa biru itu, mungkin sekitar 6 tahun lalu. Netra nya tertuju pada meja di dekat tempat Taufan tertidur.

Sebuah foto terbingkai frame masih bersih tak berdebu. Itu foto terakhir yang mereka ambil ketika keluarga mereka masih utuh. Sungguh, Hali tak ingin membuka lagi ingatan yang sudah lama ia kubur dalam. Itu membuat hatinya perih. Di samping itu, hal yang menarik perhatiannya adalah tempat obat yang jumlahnya tidak sedikit.

Hali sempat tertegun, "Obatnya sudah sebanyak ini?" Ia berganti menatap wajah Taufan yang terlelap dengan tenang, pandangannya berubah menjadi pilu. Meski begitu, ia tak berekspresi sedikitpun. Saat ini ia bingung dengan perasaannya sendiri.

Apakah ia benar benar membenci Taufan atau justru sebenarnya ia peduli padanya?

Perasaan yang sama sekali tak bisa ia pahami.

TBC

1
Ayasha sakura
Luar biasa
diliat doang kagak di baca
ohhh... lagu ini toh....
diliat doang kagak di baca
w-w-what? bla-Black card?! wawwwwwww
diliat doang kagak di baca
Ciee.. hali ciee
diliat doang kagak di baca
Nama panjang hali siapa?

hali ravael? atau halilintar ravael?
diliat doang kagak di baca
Kau malah ngedoa in nya hal 🤣
diliat doang kagak di baca
ohh... ini om nya yg di luar negeri itu kan?
diliat doang kagak di baca
sabar khai... sabar... walaupun kau seperti menjadi obat nyamuk
diliat doang kagak di baca
waduh... sejata makan tuan pula nih
diliat doang kagak di baca
waduh mervin... kau belum kapok?
diliat doang kagak di baca
akhirnya datang!!
diliat doang kagak di baca
wahh.. sama yasha, kita sama-sama anak tunggal
diliat doang kagak di baca
ini udah kek kelihatan perpus istana
diliat doang kagak di baca
jadi arga adiknya khai? waw..
diliat doang kagak di baca
ku kira hali itu cewek
diliat doang kagak di baca
lah aku baca ini jam 23.42🙂 itu bukan begadang.... aman.. itu karna ada acara dirumah... jadinya lambat tidurnya
diliat doang kagak di baca
lidah arga sungguh fasih ya
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Marzina Wertani
Ya ampun ni orang sinis banget dah, Weh! liat dulu kemampuan Taufan baru berkomentar, bukannya langsung menanyakan hal yang membuat kepercayaan orang bisa done.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Marzina Wertani
Nampaknya ia begitu mudah Care dengan orang lain, dan Taufan terlihat cukup mudah percaya dengan orang yang tipikel sepertinya.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Marzina Wertani
Ya ampun Taufan pasti ketiduran cukup lama, bagaimana ia bisa sampai ke sekolah tepat waktu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!