NovelToon NovelToon
Forbidden Love Of The Mafia King

Forbidden Love Of The Mafia King

Status: tamat
Genre:Mafia / Romansa-Tata susila / Cinta antar ras / Tamat
Popularitas:103k
Nilai: 5
Nama Author: Zas Novia

PROLOG
Shawn Salazar Knight adalah pria muda yang tampan, gagah, berkepribadian dingin, tegas & tidak banyak bicara. Putra dari pasangan Arsitek terkenal sekaligus pengusaha sukses Sall Sherwyn Knight & Sanchia Arelia Knight itu, bukan hanya sukses sebagai CEO di group perusahaan raksasa miliknya, tapi juga merupakan Ketua Klan Mafia terbesar di Inggris yang bernama Toddestern.
Shawn memiliki seorang adik bernama Shanaya Zarine Knight. Mungkin bagi banyak orang, hidup Shawn terlihat sangat sempurna. Namun ternyata sebuah perasaan terlarang terhadap adiknya,membuat hatinya begitu kacau dan menderita.Tanpa dia ketahui,bahwa sebenarnya Shanaya bukanlah adik kandungnya.Apa yang akan dilakukan Shawn untuk menghapus perasaannya terhadap Shanaya? Dan bagaimana reaksinya saat Shanaya dicintai oleh musuh besarnya yang bernama Sheran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zas Novia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23 Demam

Hembusan angin malam yang dingin dan kencang, serta suara deburan ombak yang saling bersahutan, sama sekali tidak mengusik Shanaya yang tengah sibuk dengan pikirannya. Posisinya yang duduk di atas tempat tidur, dengan kedua tangan memeluk kakinya, sama sekali belum berubah sejak 2 jam yang lalu. Bahkan Shanaya tidak peduli tubuhnya mulai menggigil kedinginan, karena jendela kamar di lantai 2 yang awalnya hanya terbuka sedikit itu, semakin terbuka lebar karena hembusan angin laut yang sangat kencang.

Pikiran Shanaya masih saja dipenuhi perkataan Sheran yang begitu mengejutkannya. Sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya, kalau dia akan mendengar sesuatu yang sangat tidak terduga, apalagi dari seorang Sheran.

'Shawn Salazar Knight bukanlah kakak kandungmu, orangtuamu bertemu dengannya di panti asuhan. Kedua orangtua Shawn dibunuh oleh saudara angkat dari Ayahnya Shawn.'

Bagai tersambar petir di siang bolong, itu mungkin yang Shanaya rasakan saat mendengar fakta dari mulut Sheran. Hati Shanaya merasa perih, mengetahui kalau kakak yang selama ini disayanginya ternyata bukanlah kakak kandungnya. Tidak pernah terbersit sedikitpun di pikirannya, kalau fakta itu memang benar adanya. Shanaya menolak keras untuk mempercayai kenyataan itu, tapi perkataan Sheran selanjutnya sedikit menyadarkan Shanaya, kalau hal itu memang mungkin adanya.

'Aku tidak pernah sengaja mencari tahu tentang asal-usul Shawn. Aku tidak sengaja mengetahui semuanya, saat meretas data-data milik Papa-ku. Kamu pasti menyadari kalau Shawn sama sekali tidak memiliki kemiripan secara fisik dengan kedua orangtuamu. Apa kamu juga tidak curiga, melihat kedua orangtuamu bahkan tidak pernah merayakan wedding anniversary mereka? Karena saat bertemu dengan Shawn yang saat itu berusia 2 bulan, usia pernikahan kedua orangtuamu baru beberapa bulan saja. Orangtuamu tentu melakukan segala cara untuk menutupi asal-usul kelahiran Shawn.'

Tiba-tiba Shanaya tersadar dari lamunan, setelah sebuah selimut putih menutupi tubuhnya dari belakang. Shanaya mendongak, mengarahkan pandangannya pada seseorang yang baru saja menyelimutinya itu.

"Anginnya terlalu dingin dan kencang, kenapa kamu membiarkan jendelanya terbuka lebar?" Shanaya diam tidak menanggapi perkataan Sheran barusan. Shanaya justru memperhatikan Sheran yang berjalan pelan dan hati-hati untuk menutup jendela kamar, dengan tangan memegang perutnya yang terluka.

Setelah menutup jendela kamar, Sheran menghampiri Shanaya, lalu duduk di tepi tempat tidur. Pandangannya tampak sendu saat melihat Shanaya yang cukup berantakan.

"Makanlah.. Maaf hanya ada makanan instan. Karena penjaga mansion ini hanya akan datang setiap seminggu sekali untuk membersihkan mansion dan menyediakan bahan makanan, jika sewaktu-waktu aku datang kemari." Shanaya melirik sekilas nampan berisi makanan yang Sheran simpan di atas nakas.

"Aku tidak lapar, bisakah kamu pergi? Aku sedang tidak ingin diganggu." Perkataan ketus Shanaya sama sekali tidak membuat Sheran tersinggung. Sheran justru mengambil sepiring Penne Carbonara yang dibawanya, lalu menyodorkannya pada Shanaya.

"Ambil dan makanlah.." Ucap Sheran yang langsung dibalas gelengan kepala Shanaya.

"Shanaya, kalau kamu seperti ini, kamu bisa sakit." Bujuk Sheran dengan suara yang terdengar sangat lembut.

"Jangan berpura-pura peduli padaku." Jawaban ketus Shanaya tidak membuat Sheran berhenti. Sheran menyimpan piring itu di atas tempat tidur, lalu mulai menyendokkan makanan dan menyodorkannya tepat di depan mulut Shanaya.

"Aaaa..."

Shanaya bukannya membuka mulut, tapi malah menghunuskan tatapan kesalnya pada Sheran.

"Makanlah.. Jangan bersikap seperti anak kecil dan menyiksa dirimu seperti ini." Ucap Sheran, membuat Shanaya cukup tersinggung. Hingga Shanaya  merebut sendok yang dipegang Sheran dan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan kasar.

Melihat apa yang dilakukan Shanaya, Sheran justru tampak melengkungkan senyum tipisnya diam-diam. Sesungguhnya Sheran begitu khawatir dengan keadaan Shanaya, terlebih setelah dirinya mengatakan fakta tentang Shawn sebelumnya.

"Sudah.. Sekarang pergilah." Perkataan Shanaya memancing kerutan di kening Sheran. Pasalnya Shanaya baru menyuapkan tiga sendok makanan ke dalam mulutnya.

"Kamu baru memakan tiga sendok makanan, Shanaya.." Lirih Sheran namun dengan nada memprotes.

"Perutku mual, rasanya aku ingin muntah." Jawab Shanaya jujur. Mungkin angin dingin yang menerpa tubuhnya selama berjam-jam, membuat tubuhnya tidak enak. Sheran pun menyimpulkan hal ini, sehingga raut khawatir kini terlihat jelas di wajah tampannya.

"Jangan sakit Shanaya.." Ucapan Sheran yang lebih mirip gumaman itu begitu pelan, tapi pendengaran Shanaya masih bisa menangkap perkataan Sheran dengan jelas. Namun Shanaya tidak menanggapinya dan malah mengalihkan pembicaraan.

"Keluarlah.. Kamu juga perlu beristirahat." Ucapan Shanaya yang ketus namun menyiratkan perhatian itu, berhasil membuat Sheran kembali mengulas senyum tampannya.

Shanaya sebenarnya merasa khawatir, karena wajah Sheran terlihat sangat pucat, bahkan buliran keringat kini mulai membasahi dahi Sheran. Karena terlalu penasaran, Shanaya mulai meraba kening dan juga leher Sheran, yang ternyata begitu panas.

"Oh tidak.. Kamu demam. Jangan bilang kalau lukamu infeksi." Wajah Shanaya terlihat begitu panik, berbeda dengan Sheran yang justru tampak santai, bahkan terlihat menikmati pemandangan dihadapannya.

"Berbaringlah Sheran, aku akan membawa obat untukmu." Shanaya melepas selimut yang masih menutupi punggungnya, lalu hendak beranjak turun dari tempat tidur. Namun gerakannya terhenti karena Sheran memegang lengannya dengan lembut.

"Aku tidak apa-apa, Shanaya. Tidurlah.. Kamu juga perlu beristirahat." Sheran terlihat berusaha menenangkan Shanaya, namun Shanaya masih belum mengubah ekspresi khawatirnya. Sejujurnya Shanaya merasa takut jika Sheran mengalami infeksi pasca diobati olehnya, meskipun Shanaya seringkali dibuat marah oleh Sheran yang sudah menculiknya.

Sheran perlahan bergerak, hendak berdiri dari duduknya, namun tubuhnya limbung seolah terlalu lemas untuk menopang tubuhnya. Shanaya refleks menahan punggung Sheran agar tidak terjatuh.

"Berbaringlah, aku tahu kamu tidak baik-baik saja." Lirih Shanaya.

Perkataan lembut dan perhatian Shanaya berhasil membuat Sheran terpaku selama beberapa saat. Bahkan netranya terlihat sendu memandang mata jernih Shanaya. Hingga Sheran tersadar, saat Shanaya menariknya lembut, agar berbaring di atas tempat tidur.

"Menurutlah.. Aku akan mengambil obat dan air hangat untuk mengompresmu." Sheran hanya menganggukkan kepalanya, lalu memandangi Shanaya yang sudah berjalan keluar dari kamar itu.

Selang beberapa menit, Shanaya sudah kembali dengan membawa obat demam, segelas air, wadah berisi air hangat dan selembar kain bersih di atas nampan. Setelah menyimpan nampan di atas nakas, Shanaya segera duduk di tepi tempat tidur dan mulai menyuapkan obat demam dan air minum pada Sheran. Sheran menegakkan tubuhnya dan tanpa ragu segera meminumnya.

Tanpa sadar, Shanaya mengulas senyum manisnya, membuat Sheran cukup terpana dengan pemandangan dihadapannya. Namun Sheran segera merebahkan tubuhnya kembali, tidak ingin Shanaya menyadari degup jantungnya yang mendadak bertalu-talu serta raut bahagianya saat ini.

"Aku akan mengompresmu ya." Ujar Shanaya, tapi Sheran menggeleng kuat.

"Tidak, biarkan saja obatnya bereaksi dulu. Aku tidak suka dikompres." Shanaya hanya mengangguk pelan mendengar jawaban Sheran.

Shanaya menyelimuti tubuh Sheran sampai sebatas dada, lalu berdiri hendak keluar dari kamar itu. Namun ucapan Sheran mengurungkan niatnya.

"Tolong jangan pergi.." Ucap Sheran lembut.

Shanaya tampak bergeming, raut wajahnya tampak ragu. Tetapi Shanaya pun ingin memantau keadaan Sheran sampai panasnya turun. Hingga akhirnya Shanaya memutuskan untuk duduk di sofa yang terletak di sebelah kiri tempat tidur.

"Aku akan menungguimu disini." Putus Shanaya.

"Baiklah.." Sheran mengiyakan, meskipun sebenarnya dia berharap Shanaya menemaninya dengan duduk di tepi tempat tidur. Agar Sheran bisa puas memandang wajah Shanaya sampai dia terlelap.

Rasa kantuk mulai menyerang Shanaya yang kini terlihat menyandarkan punggungnya, hal ini pun disadari Sheran yang memperhatikan Shanaya diam-diam. Tapi Sheran berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apapun, agar Shanaya tidak terusik.

Senyum Sheran terulas cukup lebar saat Shanaya akhirnya memejamkan matanya dengan nafas yang terdengar lembut dan teratur. Setelah menunggu selama beberapa menit dan memastikan Shanaya sudah tertidur dengan sangat nyenyak, perlahan Sheran menuruni tempat tidur dan menghampiri Shanaya. Digendongnya tubuh Shanaya dengan hati-hati, meskipun Sheran harus menahan rasa sakit karena lukanya yang tertekan oleh tubuh Shanaya. Terlebih tubuh Sheran masih sangat lemas saat ini. Tapi demi membuat Shanaya nyaman, Sheran rela susah payah memindahkan Shanaya ke atas tempat tidur.

Tidak cukup itu saja, Sheran bahkan meletakkan kepala Shanaya dengan sangat lembut di atas bantal, lalu menyelimutinya sampai sebatas dada.

"Good night, Princess.." Lirih Sheran seraya merapihkan anak rambut yang jatuh di dahi Shanaya.

*************************

Suara debur ombak dan teriknya cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca, cukup mengusik tidur Shanaya yang lelap. Seolah masih enggan bangun dari tidurnya yang nyaman, Shanaya justru semakin mendekap guling hangat yang saat ini dipeluknya. Hingga sebuah ringisan pelan berhasil memaksa Shanaya untuk membuka matanya.

Alangkah terkejutnya Shanaya, saat tahu yang dipeluknya saat ini adalah tubuh kekar Sheran.

"Aaaaaaaaaa..." Teriakan Shanaya seketika membangunkan Sheran yang baru tertidur 1 jam lalu. Terlebih dorongan keras Shanaya, sukses membuat Sheran terjatuh dari atas tempat tidur.

"Aaaw.." Ringis Sheran, menahan rasa sakit karena luka di dada dan perutnya terbentur lantai dengan cukup keras.

*************************

Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis kisah Shawn juga Shanaya.

Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️

1
Rubi Yanti
cemana ni cerita ny klau tak silap di bab 6 atau 5 marisha ni tomboy di bab 8 ni marisha rambut panjang setau saya klau rambut ny panjang tqk tomboy ank yatimpiatu lagi tapi bisa kuliah di tempat elit lagi bingung saya yng baca
ZasNov: Terima kasih sudah mampir baca Kak 🥰
Marisha dijelaskan "sedikit" tomboy, dari cara berpakaiannya Kak. Ga semua cwe tomboy rambut pendek kak, apalagi Marisha sukanya diikat ekor kuda 😄
Marisha dapat beasiswa bisa kuliah disana kak, dijelaskan di bab 11 🙏
Terima kasih banyak atas kritiknya Kak 🥰🙏
total 1 replies
Nana Niez
Luar biasa
ZasNov: 😍😍😍😍😍
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌟🌟🌟🌟🌟
total 1 replies
Atik Marwati
👍👍👍👍
ZasNov: Terima kasih banyak ya Kakak, udah baca novel2 karya aku 🥰
Seneng banget aku Kak..🤗
Love u full Kakak.. 🥰🥰🥰🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
senangnya semua akhirnya bahagia...
ZasNov: Sesuai harapan ya Kak 🥰🥰🥰🥰🥰
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
😀biar setengah memaksa akhirnya Drake punya pacar juga 🤭🤭
ZasNov: Iya Kak, akhirnya ya.. 😆
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
saatnya Drake bahagia
ZasNov: Iya betul Kakak.. ☺
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
walahhh....
ZasNov: 😣😣😣
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
🤭 padahal belum aman... tar ketahuan bisa berantem
ZasNov: Iya bener Kak.. 😄
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
aduh ....
ZasNov: Drake nyesek Kak..😣
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
rupanya shwan junior mendukung Drake ketemu keiva😀😀😀😀
Atik Marwati
hamil ..
ZasNov: Iya Kak.. 😄
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
semangat keiva aq mendukung mu...
ZasNov: Siap Kakak.. 🤗 #katakeiva
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
aduh piye nek Kabeh menghindar kapan Rep ketemu...
ZasNov: Iya Kak.. Keiva masih ga yakin sama perasaannya, Drake juga terlanjur kecewa makanya menghindar terus 😣
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
tapi aq tidak.. aq hanya mencintaimu shanaya...

🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰 shwan
ZasNov: Kalimat yang diharapkan Shanaya 😄
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
setidaknya dekat dengan shancia seira dapat merasakan kasih sayang seorang ibu...
ZasNov: Iya betul Kak.. 🥺
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
oh.. keiva sadari segera perasaanmu biar tidak patah lagi...
ZasNov: Keiva perasaannya labil Kak..😣
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
kirain keiva.. bukan to
susul aja ke... biar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan..
ZasNov: Cwe lain yang justru bikin Keiva ngerasa kepo Kak.. 🤭😄
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
shwan dah jadi kang bucin😀😀😀😀
ZasNov: Iya bener Kak..🤭😄
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
pelan tapi pasti ingatan shanaya kembali...
ZasNov: Iya benar Kak.. 😄
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
Atik Marwati
ya.. karena Drake mencintai kamu keiva...
ZasNov: Iya Kak.. 😄👍
Terima kasih banyak ya Kakak 🥰
Sehat, bahagia, banyak rezeki & sukses selalu ya 🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷🍁🌷
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!