NovelToon NovelToon
Daddy I Love You

Daddy I Love You

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Beda Usia / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:533.1k
Nilai: 5
Nama Author: SantikaKumala

Azqia Azara, di angkat menjadi seorang putri oleh pengusaha kaya raya di usianya yang kala itu baru menginjak 10 tahun.

Selama tujuh tahun bersama, gadis cantik yang sering di panggil Ayana rupanya diam-diam menyimpan perasaan terhadap sosok ayah angkatnya tersebut.

Bagaimana reaksi pria itu kala mengetahui fakta anak perempuan yang ia angkat menjadi putrinya justru menyukainya bukan sebatas adanya hubungan ayah dan anak, melainkan sebuah perasaan suka layaknya wanita normal pada umumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SantikaKumala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DILY Bab 23 ~ Lamaran di Tunda

Sepeninggal Radit, semua orang memborong Ritz dengan berbagai macam pertanyaan.

"Apa maksud dari ucapan Radit barusan?" Tanya Eyang

"Iya Ritz, kok Mama sama Papa ngga tahu apa-apa." Sambung Mama Ritz

"Pak Bos, bicaralah! Kalau anda diam semua masalah tidak akan selesai." Timpal Amalia

Sementara Devan memilih diam menyaksikan, sesekali matanya melirik ke arah brankar dimana Ayana masih tertidur begitu lelapnya.

_Ritz benar-benar akan menyesal jika sampai mengabaikan gadis itu, apa hanya aku saja yang sadar dengan perilaku gadis itu_. Gumamnya berbicara dalam hati

"Hey Ritz, jangan membuat kami marah padamu." Kesal Mama Ritz mulai hilang kesabarannya

Sementara yang di tanya, masih diam tanpa ingin menjawab berbagai pertanyaan yang di tujukan padanya.

Semua hal yang terjadi begitu tiba-tiba membuat otaknya sulit berpikir, apa ia melupakan sesuatu?

"Kalian jangan banyak bertanya dulu, aku sendiri pun bingung apa yang sebenarnya terjadi." Sahut Ritz mulai memijit kepalanya yang terasa pusing

"Aku ingin istirahat sejenak, perihal apa yang di katakan Radit tadi. Jika kalian masih ingin mencari tahu, maka carilah anak itu dan tanyakan langsung padanya! Aku perlu menenangkan pikiranku sekarang." Lanjutnya sudah berpindah tempat dan berbaring di sisi kiri Ayana

Brankar yang berukuran beberapa kali lipat lebih besar itu, tentu mampu menampung lebih dari satu orang.

Entah kemana perginya semua orang saat Ritz membuka mata sejenak dan tidak mendapati keluarganya termasuk Amalia dan Devan di dalam kamar, yang jelas ia tidak mau ambil pusing.

.

.

Keesokan harinya, semua keluarga sudah bersiap untuk kepulangan Ayana dari rumah sakit.

Bosannya si cantik yang tidak suka tinggal berlama-lama di tempat yang penuh dengan bau obat-obatan itu tentu membuat heboh pihak rumah sakit termasuk Devan.

Berkali-kali Devan memohon serta merayu Ayana, agar mau menginap sampai beberapa hari lagi tetap tidak membuahkan hasil apapun. Hanya ada penolakan dan kekesalan yang ia dapatkan.

"Papi marah loh kalau Adek tetap ngotot pulang ke rumah." Ancam Devan mulai kehilangan cara menghadapi sikap keras kepala Ayana

"Kan, tinggal ke rumah Daddy kalau mau cek kondisi Adek, kenapa Papi Devan malah jadi kayak tante Maira sih, suka keras-keras kalau bicara." Jawab Ayana protes

Mulut Devan sampai menganga lebar mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ayana, beberapa tahun tidak bertemu nyatanya ada begitu banyak yang berubah pada gadis itu.

Sikap keras kepalanya, cueknya, mudah marah-marah dan bermulut pedas yang dapat Devan nilai mulai mendarah daging di dalam diri Ayana.

_Ritz benar-benar tidak salah membawa anak nakal ini._ Bathinnya

"Okok, tapi Adek janji ya. Jangan ulangi lagi kesalahan yang sama! Mengurung diri dalam kamar itu bukan sesuatu hal yang baik, sayang."

Devan akhirnya mengalah. Tidak lupa ia juga memberi beberapa vitamin dan satu buah laptop yang bisa Ayana gunakan untuk menonton berbagai macam film yang tidak mengandung kekerasan atau segala sesuatu yang memicu masalah Psikologis nya.

Ia sengaja menyiapkannya guna membantu proses kesembuhan Ayana agar berjalan dengan baik, sudah bisa di pastikan isi film dalam laptop yang Devan berikan semuanya berbau kartun dan anime.

"Kenapa semua isinya kayak gini sih, Pih?" Tanya Ayana gemas ingin mencakar wajah tampan Devan yang tertawa

"Itu bagus untuk kesehatan otak dan juga hatimu." Jawab pria itu santai

"Papi." Teriak Ayana kesal

"Sstt, ingat! Adek punya rahasia loh sama Papi, mau Papi bocorin nah?" Ancam Devan tidak takut

Mata Ayana membulat sempurna dengan tangan mengepal kuat menahan geram.

_Awas saja kalau sampai Daddy tahu._ Bathin Ayana menatap tajam ke arah Dokter tampan tersebut

Tidak ada lagi perdebatan yang berlangsung antara keduanya, mengingat hari sudah semakin siang.

Semua anggota keluarga sudah menunggu di dalam mobil, tinggal Ritz dan Ayana yang belum keluar dari rumah sakit.

Lima menit kemudian, semua sudah siap. Ayana ikut semobil dengan Eyang dan orang tua Ritz. Sementara Amalia dan Ritz sendiri bukan pulang menuju rumah, melainkan tujuan mereka yaitu menuju perusahaan.

Sepanjang perjalanan Amalia terus memperhatikan apa saja yang di katakan Ritz, namun ada satu poin yang dengan cepat di bantah wanita itu.

"Apa. Bos minta saya untuk mengatasi kekacauan di kantor sampai besok?" Kaget Amalia bertanya

"Lama-lama mulut kamu kena sobek ya, setiap kali aku bicara selalu saja ada yang akan kamu bantah." Kesal Ritz

"Tapi ngga sampai nyiksa juga kan, Bos." Balas Amalia dengan nada lesuh

"Hanya kamu yang bisa aku andalkan, Amalia." Gemas Ritz pada Sekertaris kepercayaannya itu

"Ok. Tapi aku mau bonusnya harus naik."

"Iya."

"Aku juga mau liburan,"

"Hmm."

"Bos seriusan?" Tanya Amalia kembali memastikan.

Sebab apa yang di katakannya barusan sama sekali tidak di bantah Ritz.

"Semua ada di tanganmu, asal semua selesai tanpa ada yang kurang. Aku tidak keberatan dengan semua permintaan mu itu." Jawab Ritz sebelum keluar mobil

Mereka sudah tiba di Perusahaan, tanpa menunggu lama Ritz langsung naik ke lantai atas menggunakan lift khusus bersama Amalia.

.

.

Jika di rumah Ritz penuh kehebohan karena kepulangan Ayana dari rumah sakit, berbeda dengan kediaman atau lebih tepatnya rumah milik orang tua Maira.

Di rungan kerja yang tidak terlalu besar, terdapat seorang pria yang mengamuk seperti orang kesetanan.

Kabar yang baru saja di terimanya sungguh membuat Hendra marah besar, masalahnya itu bukan sesuatu yang seenaknya di ubah.

"ALMA," Teriak pria itu dari dalam ruangannya.

Wanita cantik yang duduk santai bersama sang putri di dalam kamarnya itu sampai terlonjak kaget, mendengar teriakan keras suaminya.

"Papa kenapa lagi sih, Mah?" Tanya Maira mulai takut jika sang Papa sudah berteriak

"Entahlah, lebih baik kita pergi lihat Papa mu!" Jawab Alma segera bangkit dari duduk

Wanita itu keluar dari kamar sembari menggandeng salah satu tangan putrinya.

Dari arah luar, mereka bisa dengan jelas mendengar suara pecahan yang tidak tahu itu apa.

Tidak ingin menerka-nerka, baik Alma maupun Maira segera masuk ke dalam ruangan milik Hendra.

Ceklek

Semua barang sudah berhamburan di atas lantai, barang pecah yang tadi mereka dengar pun ikut berserakan di mana-mana.

"Ya ampun, Papa. Kenapa semua bisa berantakan begini?" Kaget Alma tidak percaya akan melihat aksi gila suaminya sendiri

"Mereka sudah gila, Mah." Teriak Hendra frustasi

"Mereka benar-benar ingin bermain-main dengan kita," lanjutnya masih berteriak.

Alma yang tidak mengerti apa-apa mencoba untuk menenangkan suaminya.

"Duduklah, Pah! Kita bicarakan baik-baik." Rayunya menuntun Hendra ke sofa panjang yang berada di luar ruangan

Dirasa mulai tenang, baru Alma kembali buka suara, berharap kali ini suaminya tidak mengamuk.

"Papa kenapa? Kalau ada apa-apa bisa cerita ke Mama," Tanya Alma dengan nada yang lembut.

"Keluarga Bachtiar." Jawab Hendra singkat

Maira dan Alma saling pandang tanda tidak mengerti dengan apa yang pria itu katakan.

"Ada apa dengan keluarga Bachtiar?" Tanya Maira ikut penasaran

Hendra diam sesaat sebelum menjawab, matanya menatap nyalang ke depan.

"Keluarga kekasih mu itu benar-benar naif, dengan gampangnya menunda acara lamaran yang sudah ditetapkan akan dilangsungkan dua bulan lagi." Jawabnya marah bahkan napasnya terlihat naik turun

Maira tidak percaya dengan apa yang dikatakan Papanya barusan.

"Ish, Papa ngomong apa coba? Mana mungkin itu bisa terjadi." Selaknya berpikir sang Papa hanya membual

"Mana bisa gitu sayang? Mereka sendiri yang mengajukan tanggal lamaran pada putri kita, jadi mustahil kalau sampai di tunda." Sambung Amalia tidak percaya

Melihat ekspresi anak dan istrinya membuat Hendra semakin marah.

"Apa kalian pikir aku berbohong? Lihatlah isi email yang di kirim Nyonya besar Bachtiar! Semua tertulis jelas di situ, mereka bebas melakukan apa saja karena lamaran ini bersifat tidak terbuka, lalu bagaimana dengan kita yang sudah menyebar luaskan kabar ini?" Sarkas Hendra

Alma dan Maira segera meraih laptop yang di sodorkan pria itu, dimana ada sebuah email masuk yang dari pihak keluarga Bachtiar.

Kedua wanita itu langsung syok setelah membaca kalimat demi kalimat yang di kutip sang Nyonya besar Bactiar, pemberitahuan yang mampu mengguncang jiwa Maira selaku pihak yang paling dirugikan.

1
ayu cantik
, suka
ZHANG LINGHE 🥰🥰🥰
😁😁😁
halimah abdul hayes
Gila ke apa ayana tu?
Puput
Ciri ciri bapak Tolol , mon maap thor saya Emosi
⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔 𝑺𝒂𝒏𝒕𝒊𝒌𝒂💜♌️: Wkwk, ngga apa-apa😅
total 1 replies
TS
segera di loncing season 2nya,, ditunggu
⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔 𝑺𝒂𝒏𝒕𝒊𝒌𝒂💜♌️: Makasih ya, udah setia baca ceritanya🤗
Insya Allah, buat season 2 bakal launcing per bulan depan.
total 1 replies
Zurita Fanani
Luar biasa
Nurma septina🤍💙
Lanjut ka cerita nya seru !!
Armilah Ilham
Lanjut 😊
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
karya sebagus ini tapi yang baca cuma sedikit,padahal novelnya bagus bangt
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
ceritanya bagus kakak👍
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
Luar biasa
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
wow bagus ceritanya
Mmh Astri
blm jelas ko abis 😭
⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔 𝑺𝒂𝒏𝒕𝒊𝒌𝒂💜♌️: Tenang, masih ada lanjutannya kok🤭
cuma lagi hiatus
total 1 replies
Mmh Astri
👍👍👍💪
Mmh Astri
👍👍👍👍👍👍👍💪🥰
Sri Watigustami
semangat thor💪💪
Sri Watigustami
lanjut thor 🤣🤣🤣
COOL_I4N
konsep cerita nya sbnr nya sdh bagus thor. tp makin kesini kok ayana nya makin agresif agak kurang suka thor bacanya
Puput: Kalaau menurutku Emang kudu Agresif soalnya Ni Cowo atu kagak peka🤭
total 2 replies
Puput
Mampos kau hendra, ya walaupun aku gak suka sama maira, tapi hendra memang minta di geprek
Puput
dasar kompor mleduk si Radit🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!