Sebelumnya ia berpamitan untuk pergi ke toko membeli keperluan kedua putra kembar kami. Tetapi ia tidak kunjung kembali dan aku sangat khawatir.
Berbagai cara aku lakukan untuk mencarinya baik lewat jalur udara maupun laut. Hingga bertahun tahun lamanya.
Aku berpikir sesuatu yang buruk terjadi padanya. Sampai aku melihatnya dengan pria lain di Instagram. Seketika hatiku hancur, kaki ku terasa lumpuh. Istriku tega mengkhianatiku dan meninggalkan kedua putra kembar kami.
Aku menyimpan rahasia ini sendirian tanpa memberitahu kedua putra kembar ku, dan memutuskan untuk merawat dan membesarkannya.
Sampai suatu hari, aku terpaksa menikahi seorang gadis salah satu pasien rumah sakit jiwa.
Hay kakak semua, ada novel baru nih yuk kepoin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkembang
Tianyfa berdiri di ambang pintu, bahunya bersandar memeluk boneka beruangnya. Matanya menatap ke arah Gerhana yang sedang di periksa Dokter. Sesekali ia melirik ke arah Ken, berdiri tak jauh dari tepi tempat tidur.
Tianyfa merasa bersalah, karena tidak bisa menjaga Gerhana sewaktu kehujanan. Sementara Ningrum tidak ada di rumah, wanita paruh baya itu berpamitan pada Tianyfa untuk satu urusan penting.
"Bagaimana Dok?" tanya Ken, khawatir.
"Tidak perlu khawatir, putra bapak hanya perlu istirahat dan jangan banyak pikiran. Untuk hasil selanjutnya, saya butuh hasil tes darah nanti." Jelas Dokter.
"Baiklah Dok, terima kasih." Ken mengulurkan tangannya.
"Istirahat yang cukup, jangan lupa obatnya di berikan secara teratur." Dokter membalas uluran tangan Ken. "Saya permisi pak."
Ken menganggukkan kepalanya, menatap kepergian Dokter sesaat. Lalu berjalan mendekati Gerhana.
"Istirahat, ayah akan menjagamu." Kata Ken.
"Gerhana.." sapa Tianyfa. "Aku-?"
"Jangan dekati putraku, biarkan dia istirahat." Ken mencegah Tianyfa mendekati Gerhana.
"Anakku!"
Ken dan Tianyfa menoleh ke arah pintu, terlihat Elmira dan Galaksi menghampiri dan langsung memaki Tianyfa.
"Kau pembawa sial! tidak pantas kau menjadi ibu dari anak anakku!" maki Elmira.
Tianyfa memeluk erat boneka beruangnya. Kepalanya tertunduk dan tidak melakukan perlawanan, begitu pula dengan Ken, ia hanya diam saja.
"Ma, hentikan!" cegah Gerhana mencoba bangun dan turun dari atas tempat tidur.
"Tidak sayang, kau tidak perlu membela wanita itu. Gara gara dia, kau jadi sakit." Kata Elmira merangkul bahu Gerhana lalu memaksanya untuk keluar dari kamar. "Ayo kita pulang."
"Tidak ma, aku tidak mau!" tolak Gerhana.
"Kau harus nurut, aku ibumu." Elmira menatap wajah Gerhana dengan tatapan sendu.
"Aku tidak mau ma.." Gerhana menggelengkan kepalanya. Namun Elmira tidak mau ada penolakan. Ia memaksa Gerhana untuk pulang ke rumahnya.
'Mas, ayo pulang!" perintah Elmira, melirik sesaat ke arah Ken.
Ken masih tetap diam, memperhatikan Elmira memaksa Gerhana keluar dari kamar. Ken mengalihkan pandangannya ke arah Tianyfa yang masih menundukkan kepala, memeluk erat boneka beruangnya.
"Tian.." sapa Ken, berjalan menghampiri. "Kau jangan sedih, nanti malam aku pulang ke sini. Kau baik baik di rumah, ya?"
Tianyfa menganggukkan kepalanya. Ia tengadahkan wajah saat Ken mencium keningnya cukup lama.
"Aku pergi dulu.'
Tianyfa menganggukkan kepalanya. Tersenyum meski Ken tidak melihatnya. Sepeninggal Ken, Tianyfa duduk di tepi tempat tidur, memeluk bonekanya, entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
Tak lama kemudian, Tianyfa di kejutkan dengan kedatangan Elmira dan dua pria memakai pakaian serba putih.
"Dr Alan? Dr Ayu?" sapa Tianyfa berdiri menatap kedua Dokter di hadapannya, lalu beralih menatap Elmira.
"Tianyfa, rumahmu bukan di sini. Tapi di rumah sakit jiwa, bagaimana mungkin orang gila sepertimu bisa merawat kedua putraku, jangan mimpi!" Maki Elmira, menatap penuh kebencian.
"Tianyfa, ayo kita pulang sayang." Bujuk Dr Ayu. "Kau harus sembuh, setelah kau sembuh. Kau bebas kemanapun kau pergi."
Tianyfa menggelengkan kepala, berjalan mundur ke belakang. "Aku tidak mau!"
"Dokter! tunggu apalagi? ayo bawa, nanti dia kabur!" perintah Elmira.
Tianyfa terus berjalan mundur, hingga ia tersudutkan. Saat Ayu dan Elmira memegang tangannya. Tianyfa memberontak, akhirnya Dr Alan memberikan suntikan bius supaya Tianyfa bisa di bawa ke rumah sakit.
Mata Tianyfa melebar, saat jarum suntik menancap di pergelangan tangannya. Tubuh Tianyfa lemas, matanya mulai terpejam. Bamun sebelum ia kehilangan kesadarannya, Tianyfa sempat berucap.
"Bukan aku yang gila, tapi kau. El..mi..ra.."
Elmira hanya menanggapi dingin ucapan Tianyfa, ia tidak perduli lagi. Yang terpenting buat Elmira adalah, bagaimana caranya ia bisa dekat lagi dengan putra dan suaminya, sebagai ibu. Ia tidak ingin ada yang merebut posisinya, apalagi harus memiliki ibu tiri. Meski secara sadar, Elmira mengakui kesalahannya, tapi Ego berkata. Apa salahnya melupakan masa lalu dan mulai dari awal?
Setelah Tianyfa tak sadarkan diri, Dr Alan dan Dr Ayu membawa tubuh Tianyfa keluar dari dalam rumah di bantu Elmira, kemudian di masukkan ke dalam mobil.
Elmira tersenyum, berhasil menyingkirkan Tianyfa tanpa sepengetahuan Ken dan Ningrum.
lope lope bwat mereka semua....peluk onlen bwat othornya...Makasiiih untuk ceritanya.
jgn lupa kasih extra part ya😘😘😘😘
Salam dri " Reinkarnasi untuk Balas dendam "
Hhhhh
lanjut makk,mngatt