NovelToon NovelToon
Bakat Tanpa Batas

Bakat Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Action / Karir
Popularitas:233.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: airis28

'Erlangga Saputra' atau yang biasa di panggil 'Rangga' adalah anak payah, bodoh, pemalas, dan sangat tidak berguna!

hingga suatu saat, ketika ia terbangun dari koma, dan perlahan-lahan menyadari keanehan dalam dirinya.
"sejak kapan aku bisa ini itu? sejak kapan aku bisa melakukan semua hal?"

"apakah kau terbangun dan menemukan sistem?"
"tidak!"
"apakah kau manusia dari dunia lain dan merasuki tubuh Rangga?"
"tentu saja ini adalah diriku sendiri, mana mungkin aku tidak mengenal diriku sendiri?!"

lalu mengapa tiba-tiba dia menjadi jenius dan serba bisa?

penasaran?
silahkan di baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airis28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jalan yang sepi

Ini masih pukul 6.15 pagi.

Aku sedang mengikat tali sepatuku, sudah siap untuk berangkat sekolah dengan roti di mulutku.

“Rangga, apa kau serius mau berangkat sekolah sepagi ini?” paman bertanya dengan heran.

Aku mengambil roti yang masih utuh dari mulutku “Iya paman, soalnya aku mau belajar dulu dengan tenang di sekolah” tidak, aku bohong. Aku ini malas belajar. Alasan utamaku pergi lebih awal ke sekolah karna tidak mau di antar oleh Fathoni lagi. Hal itu akan menambah ketidaksukaan William padaku. Seperti kemarin, dia dengan sengaja memancing para wartawan hingga mereka mengepungku. Al hasil, aku kembali menjadi viral di berita, tapi dengan identitas Erlangga Saputra Si Perencana Jenius. Ugh.... menyebalkan! Karna hal itu tetangga dan teman sekolahku jadi suka mengerubungiku dan ikut mengintrogasiku seperti seorang polisi.

“Kalau begitu tunggu sebentar ya, paman akan ambil kunci mobil dulu”

“Tidak usah” aku menolak dengan cepat. Karna tidak ingin merepotkan paman, lagi pula aku tau kalau paman juga sibuk. Setiap pagi harus berangkat ke kantor tepat waktu. Paman adalah salah satu pegawainya, jadi dia harus disiplin dan tidak boleh terlambat. Hanya dengan mengantarku ke sekolah saja sudah membuat paman harus melaju kencang ke kantor tempat paman bekerja, apalagi jika paman harus mengantarku sepagi ini dan belum sarapan sama sekali. Aku tidak ingin membuat paman dalam masalah.

“Aku ingin ke sekolah sekalian olahraga pagi paman. Lagi pula jarak rumah ke sekolah tidak terlalu jauh, hanya perlu 20 menit untuk berjalan” tentu saja ini juga bohong. Aku sangat tidak suka berolahraga. Absolutely no!

“tapi... bagaimana jika kau di incar oleh para penjahat itu lagi?” paman khawatir.

“paman tenang saja. Lagi pula para penjahat itu sudah di tangkap oleh para polisi. Dan kini mereka sedang mendekam di penjara” paman terlihat masih khawatir. “dan lagi paman, bukankah paman sendiri yang bilang kalau aku di takdirkan menjadi pahlawan? Kalau begitu aku pasti akan baik-baik saja. Iya kan?”

Mata paman langsung berbinar gembira. “kau benar! Bagaimanapun kau adalah pangeran berkuda putih!”

Alisku berkedut saat paman mengucapkan julukan memalukan itu. Ugh.... sebenarnya aku sangat tidak ingin mengucapkan kata-kata tadi. Tapi demi membuat paman tidak khawatir lagi, terpaksa aku mengatakannya. Meski memalukan.

“Ok paman. Aku pergi dulu” ucapku sambil membuka pintu.

“tunggu!”

Aku kembali berbalik menghadap paman. “ada apa?”

“Berikan tas mu pada paman, dan tunggu disini 2 menit.”

Aku mengerjapkan mataku bingung, namun aku tetap mengikuti perkataan paman dan memberikan tas ku padanya.

Paman kembali masuk ke dalam rumah, dan setelah 2 menit berlalu, dia datang bersama bibi dan Siska dengan senyum sumringah dan mengembalikan tas ku.

Aku menerima tas ku dari tangan paman. Umm... rasanya tas ku jadi semakin berat? Apa yang mereka masukan ke dalam sini?

Aku kembali menatap paman, bibi dan Siska yang .... terlihat aneh? Entah kenapa mereka seperti sedang merencanakan sesuatu.

“selamat jalan Rangga”

“dadah...”

“hati-hati di jalan”

Aku mengangguk ragu pada mereka bertiga. Memakai tas ku dan berjalan keluar. Senyuman mereka tadi seperti menyimpan sesuatu. Apa ya? Ah.. sudahlah... lupakan saja, aku tidak ingin banyak berfikir.

Aku duduk sebentar di halte bus yang masih sepi. Tidak mau berangkat ke sekolah sepagi ini. Karna aku yakin para wartawan sedang menunggu di depan gerbang dari pagi hari atau dari subuh.

Meskipun aku membawa topi di dalam tas ku untuk sedikit menutupi wajah, tapi jika datang ke sekolah sepagi ini, dan belum ada temanku yang datang, itu akan sangat mencolok. Jadi aku pasti akan langsung ketahuan. Karna itu, aku akan menunggu sebentar sampai sekiranya sudah banyak murid-murid yang datang. Barulah pada saat itu aku menyelinap ke dalam dengan topiku ini.

Aku membuka tas untuk mengeluarkan topi yang sudah ku siapkan. Namun aku terkejut dan melempar tas ku saat melihat isinya.

“apa-apaan ini? Kenapa kostum norak ini ada didalam sini??” aku jadi teringat dengan senyum aneh paman, bibi dan Siska tadi.

Aku menutup wajahku dengan tangan. Frustasi. “lagi-lagi mereka....”

Padahal kostum ini sudah aku tinggalkan di rumah William. Tapi sekarang sudah kembali berada di tangan paman sekeluarga. Aku yakin, pasti Fathoni yang mengembalikan kostum ini.

Aku buru-buru kembali menutup tas ku. Numpung tidak ada yang melihat. Seketika aku mendapat ide. “lebih baik aku buang saja kostum ini!” ini ide yang cemerlang!

Aku berjalan ke sisi kiri halte bus ini, di situ ada tempat sampah. Saat ingin membuka tas dan membuang kostum ini aku ragu-ragu. Sepertinya tidak bagus jika aku membuangnya di tempat seperti ini, bagaimana jika tanpa sengaja ada orang yang melihat aku membuang pakaian ini?

Aku mengeluarkan ponsel dari saku dan membuka maps. “lebih baik aku pergi ke jalan ini, disana sangat sepi, jadi kemungkinan kecil tidak akan ada yang melihat.

Aku beranjak dari tempatku, dan pergi ke suatu tempat mengikuti maps.

Setelah berjalan 30 menit, akhirnya aku sampai di jalanan ini. Disini sangat sepi, sisi kiri dan kanan jalan hanya ada lahan kosong yang kering tidak terawat. Jalanan disini juga tidak bagus. Banyak lubangnya, jadi aku yakin, kalau disini tidak akan ada orang. Mungkin ada, tapi sangat jarang sekali. Lagi pula sekarang masih pagi.

Terdengar suara mesin motor dari arah belakang.

Oh.. ternyata masih ada orang. Ya sudah, aku buangnya nanti saja, jika orang itu sudah hilang dari pandanganku.

Motor itu terus melaju dengan kencang tanpa mempedulikan kalau jalanan disini rusak parah. Dia terus melaju hingga sampai di sampingku dan.....

Hoi.... hp ku!! Jambreettt......

Yah, ini memang kesalahanku karna bermain hp di pinggir jalan. Apalagi tempat ini sangat sepi. Jadi kalau ada yang jambret, tidak akan ada yang bisa menolong. Mau minta tolong ke siapa? Disini tidak ada orang.

Aku menghela nafas sejenak. Pencuri yang satu ini... dia pikir dia sudah menang karna situasi jalan yang sepi? Justru jalanan yang sepi ini menjadi keuntungan untukku.

Aku mengambil 3 buah batu seukuran genggaman. Lebih tepatnya pecahan jalan aspal yang rusak. Dan membidik motor pencuri itu.

Aku melempar ketiga batu itu dengan jeda beberapa detik.

Satu ku arahkan ke leher pencuri.

Satu ke tangan kanannya.

Dan satu lagi ku lemparkan ke jari-jari ban motor. Hingga akhirnya pencuri itu terjatuh dari motornya.

(Noted: jangan di lakukan di tempat yang banyak kendaraannya supaya tidak terjadi kecelakaan besar)

Bagus... lemparanku sangat sempurna! Kenapa? Ko bisa tepat sasaran semua? Karna aku juga menghitung kecepatan motor dan jarak. Wah... sejak jadi jenius aku bahkan bisa memperkirakan kecepatan dan jarak motor dengan akurat.

Aku menghampiri pencuri itu. Aduh.... saat melihat keadaannya aku jadi merasa kasian. Dia penuh luka-luka, apalagi dia terjatuh di jalanan yang hancur. Aku jadi merasa sedikit bersalah.

Aku mengambil hp ku yang layarnya sedikit retak. “jangan pernah mencuri lagi seburuk apapun keadaanmu, kalau keadaanku memang biasa-biasa saja, tapi bagaimana jika yang kau curi adalah milik seseorang yang sangat membutuhkan?” aku langsung pergi begitu saja setelah mengucapkan kata-kata ini. Namun tidak lupa aku menelpon ambulan dan juga polisi. Untung hp ku masih bisa menyala meski retak.

Meski dia pencuri, lukanya harus di rawat dahulu. Tapi meski dia terluka, perbuatannya tetap saja salah, jadi aku tetap menelpon polisi meski kasian melihat keadaannya.

1
walk_ing
riki? laki-laki? kalau iya... gue pikir selama ini perempuan 😑
walk_ing
emang, wkwkwkwkwk
walk_ing
siapa lagi, William lah.
walk_ing
prince ini mengingatkan gue sama kudi putih di film Rapunzel. siapa namanya ya, Maximus?
walk_ing: *kuda
total 1 replies
walk_ing
baru nyadar?
walk_ing
lebih baik lah. daripada hanya pakai sarung kek Super Dede, wkwkwkwkwk
walk_ing
bibinya lebih takut halamannya hancur, daripada dia yang hancur, wkwkwkwkwk
walk_ing
wkwkwkwkwk. lengkap sudah. hancur, sirna dan musnah.
walk_ing
nah, ini bukan termasuk dalam kesialan. ini adalah kelalaian. bilang aja selama ini kau lalai
walk_ing
bersyukurlah tidak tinggal kelas.
walk_ing
hal yang patut disyukuri. setidaknya masih bisa masak mie.
Endro Budi Raharjo
tepuk jidat....
Endro Budi Raharjo
krn jarang lihat bola jg.....sy anggap bagus sj
Endro Budi Raharjo
cemburu ya....
Endro Budi Raharjo
maaassss....godain kita dooinnkk
Endro Budi Raharjo
hhhhhh......misi baru
Endro Budi Raharjo
ternyata..cm salah....
Endro Budi Raharjo
wah kok jd amburadul....
Endro Budi Raharjo
kok jd curhat...
Endro Budi Raharjo
potong sj lidahnya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!