Kisah seorang cucu yang relah mengorbankan mahkotanya demi menyelamatkan nyawa sang nenek.
Rindu nama gadis itu, dia harus bertemu dengan seorang pria yang sangat kejam dan juga di takuti di kota itu.
Apa yang akan terjadi berikutnya yuk mari ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. KE BUTIQ.
Fathur segera berdiri dari tempat duduknya dan mendekat kearah Rindu yang masih sibuk membersihkan dalam ruangan itu.
"Hay...Rindu serindu rindunya. Ayo ikut denganku," Fathur yang berdiri tepat di belakang Rindu sembari memasukan kedua tanganya dalam saku celananya.
Seketika Rindu berbalik.
"Ikut kemana?," tanya Rindu heran sembari mengerutkan dahinya.
"Ikut ke planet mars, Ayo cepat, jangan banyak tanya macam ibu-ibu arisan yang sudah 3 bulan namanya belum keluar," Fathur menarik pergelangan tangan Rindu.
"Tapi kerjaan saya belum selesai Tuan," Rindu terus mengikuti langkah Fathur yang terus saja menariknya.
"Aku ini Bos perusahaan ini Jadi, siapa yang akan memarahimu selain Aku," Fathur terus memegangi tangan Rindu dan membawanya menuju pintu keluar.
"Ayo masuk," ucap Fathur saat mereka sudah di depan lift.
"Tapi sebenarnya kita mau ke mana sih," Rindu yang terus saja protes.
"Sebentar juga kamu pasti tahu, Ayo cepatan masuk" Fathur sedikit mendorong tubuh Rindu untuk masuk kedalam Lift.
Hanya butuh beberapa detik saja kini mereka berdua sudah tiba di dasar lantai bangunan itu.
"Ayo keluar atau kamu ingin Aku menggendongmu lagi seperti dulu,"
Seketika Rindu melotot dan bergegas keluar dari dalam Lift.
Fathur ingin sekali tertawa melihat tingkah laku Rindu tapi sedapat mungkin dia tahan.
Semua karyawan yang ada di lantai bawah segera berdiri dan dan memberi hormat tak kala melihat kedatangan Fathur.
Sedangkan Rindu, hanya bisa menunduk dan tak berani memperlihatkan wajahnya yang saat itu berjalan tepat di belakang Fathur.
Sementara Rianty yang juga berada disana dan sedang sibuk membersihkan kawasan itu segera berhenti setelah melihat kedatangan Fathur dan Rindu.
Gadis itu segera berlari kecil menghampiri mereka berdua.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya," ucap Ryanti sembari menundukkan kepala.
Seketika Fathur mengeryitkan dahinya mendengar ucapan Nyonya.
Fathur menoleh ke kiri dan ke kanan tapi tidak juga menemukan orang yang disebut Rianty sebagai Nyonya.
Di posisi Rindu, perempuan cantik itu ingin sekali menertawai kelakuan dan ucapan Rianty.
Ryanti benar-benar percaya kalau Rindu adalah istri dari Fathur.
"Akan Aku kerjain perempuan kepo ini, "tawa Rindu dalam hati.
"Humm, pagi Ryanti. Apa semua pekerjaanmu sudah beres?," ujar Rindu pura-pura tegas pada Ryanti.
"Sebentar lagi Nyonya," balas Ryanti yang masih menundukkan kepalanya.
"Bagus, setelah ini kamu bersihkan semua toilet yang ada di lantai dasar supaya para karyawan merasa nyaman saat membuang air, paham!,"
"Saya Nyonya?," kini Ryanti mengankat kepalanya sembari menunjuki dirinya sendiri.
"Iya, Kamu, masa mak lampir," Rindu dengan suara tegas sambil memplototkan matanya.
"Baik Nyonya, Apa masih ada lagi yang harus Saya kerjakan setelah itu,"
"Untuk sementara waktu, itu saja dulu," balas Rindu.
"Kenna loe, makanya jangan julid ," lanjut Rindu dalam hati sembari tertawa kegirangan.
"Baik Nyonya Saya akan kerjakan," Ryanti berbalik dan kembali melanjutkan pekerjaanya yang sempat tertunda.
Ingin mencari muka di depan Fathur malas apes yang harus dia terima.
"Hay....kenapa bisa Cleaning service tadi memanggilmu dengan sebutan Nyonya. Apa kamu bisa jelasin semua ini?," kini Fathur yang bertanya pada Rindu.
Secepat mungkin Rindu memutar otak untuk menjawab pertanyaan Fathur.
"Oh ..itu!, Anu dia itu sedikit gini," Rindu menyilangkan jari telunjuknya di depan keningnya.
"Oh pantasan, ternyata benar kata orang tua. Orang waras pasti berteman dengan orang waras sedangkan orang aneh pasti akan berteman dengan orang aneh juga," Fathur melanjutkan langkahnya menuju pintu utama.
"Hii...orang ini benar-benar, selalu saja membuatku kesal," Rindu menghentak-hentakkan kakinya dan berlari kecil mengejar kepergian Fathur.
Sesampainya di depan mobil, Fathur menyuruh Rindu untuk masuk. Rindu sudah paham betul kalau Fathur pasti akan memarahinya bila dia duduk di kursi penumpang. Rindu segera duduk di depan bersampingan dengan Fathur.
Tidak berselang lama kemudian, kini mobil yang mereka tumpangi bergegas pergi meninggalkan area perusahaan.
"Sebenarnya kita ini mau kemana si Tuan?" kembali Rindu mengulangi pertanyaanya yang tadi.
"Kamu diam saja, nanti kamu juga akan tahu kemana tujuan kita sebenarnya," Fathur dengan nada cuek tanpa memandang kearah Rindu.
Kembali Rindu terdiam dan mengalihkan pandanganya kearah luar melalui kaca jendela.
Butuh beberapa menit mereka berada dalam mobil hingga mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan sebuah butiq yang cukup ramai.
"Cepat keluar," ujar Fathur membuka pintu mobil.
Rindu tidak bertanya, walau dirinya merasa sangat heran kenapa Fathur membawanya ke tempat itu.
Fathur melangkah menuju pintu utama butiq tersebut diikuti oleh Rindu dari arah belakang.
Dua pegawai perempuan nan cantik menyambut kedatangan mereka berdua dengan senyuman manis pada Fathur tapi lain dengan Rindu, dia harus mendapat senyuman sinis dari keduanya.
"Apa Tuan ingin mencari stelan jas?, butiq kami menyediakan produk baru dan di jamin Tuan pasti menyukainya," ujar salah seorang dari pegawai butik itu.
"Bukan Aku tapi dia, cepat kalian layani dan carikan 10 set pakaian dan sepatu yang cocok baginya. Tapi ingat bukan gaun, melainkan pakaian Formal untuk seorang sekretaris," Fathur sedikit menoleh ke belakang menatap Rindu.
"Ah...10 set pakaian dan sepatu! sekretaris?," kedua pelayan itu menutup mulutnya.
"Iya, Apa kalian berdua keberatan?," Fathur kini membulatkan kedua mata indahnya hingga kedua pegawai itu kelabatan di buatnya.
"Ba...baik Tuan, Ayo Nona silahkan, biar kami bantu memilih-milih pakaian yang cocok buat Anda," ajak kedua Pegawai butiq itu pada Rindu.
Rindu ingin sekali protes pada Fathur tapi pria tampan itu segera pergi meninggalkanya.
"Hii....dasar, semau jidatnya saja," mau tidak mau terpaksa Rindu mengikuti kedua pegawai butik tersebut.
Hampir tiga puluh menit Rindu memilih-milih baju dan mencobanya satu persatu. Hingga, dirinya memantapkan 7 pasang baju Formal yang di rasa cocok dan juga pas baginya.
Ketiganya pun menghampiri Fathur yang sedang duduk di sebuah meja bundar sembari menikmati secangkir kopi.
"Permisi Tuan, kami sudah menemukan pakaian dan juga sepatu untuk Nona ini seperti apa yang Tuan bilang,"
"Bagus, Ayo pergi!," Fathur berdiri dan mencoba melangkah.
"Tapi bagaimana dengan tagihanya Tuan?," cegah salah seorang dari pegawai tadi.
"Kamu minta pada managermu saja. Kenapa kamu hanya diam disitu, ayo cepat pergi," Fathur kembali memegangi tangan Rindu yang saat itu sedang memegangi beberapa buah kantong plastik berisi pakaian dan juga sepatu.
"Bagaimana ini Ani?," ujar pegawai itu pada Temanya.
"Aku juga tidak tahu," balas Ani sembari menggaruki kepalanya.
Tidak lama kemudian seorang perempuan parubaya mendekat kearah mereka dan menepuk pundak mereka berdua.
"Dia itu Tuan Fathur, pemilik butiq ini dan juga beberapa perusahaan besar yang ada dalam kota ini. Jadi kalian jangan heran bila dia berbuat seperti itu. Harusnya kita merasa gembira karena sang penguasa bisa menyempatkan diri singgah dan ngopi di tempat kecil kita ini."
gak cocoklah jadi pemeran utama wanita