Kisah cinta rumit si gadis culun yang berusaha mengambil hati seorang direktur tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERLAHAN PEDULI
Setelah menghabiskan waktu sehari semalam mengurung diri di dalam kamar dan meratapi keterpurukannya, Pelangi akhirnya bangkit dari ranjang begitu alarm di ponselnya berbunyi. Dengan langkah terpincang-pincang, gadis itu melangkah menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar untuk membersihkan diri.
Luka di kakinya yang disebabkan oleh pecahan vas sepertinya mengalami infleksi. Sejak kemarin memang ia tidak terlalu memperhatikan luka di lututnya itu. Kemarahan Gilang dan Gisel sudah cukup banyak menyita waktu dan pikirannya, sehingga ia tidak dapat fokus untuk melakukan hal lain, termasuk merawat luka di kakinya.
Setelah membersihkan diri dengan air hangat, Pelangi segera membongkar ransel usangnya, mengeluarkan pakaian kerjanya dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Tidak ada obrolan antara dirinya dan Gilang yang menyinggung tentang pekerjaan, apakah Pelangi harus tetap bekerja atau berhenti saat itu juga. Maka Pelangi memutuskan untuk tetap bekerja, toh jika keputusannya salah, Gilang pasti akan menegurnya.
Pelangi keluar dari kamar dan berjalan dengan cepat menuju teras, tidak terlalu peduli akan rasa sakit yang menusuk di lututnya. Rumah besar itu terlihat sepi, seolah tidak ada siapa pun di dalamnya. Pelangi berpikir, mungkin Gilang dan Toni masih tidur, karena waktu memang masih sangat pagi.
Namun, ternyata Pelangi salah, sesampainya di teras ia mendapati Gilang tengah melakukan olahraga Skipping di halaman depan. Penampilan Gilang yang santai, yang hanya mengenakan celana training selutut dan kaos tanpa lengan membuat Pelangi terperangah dan menahan napas sejenak. Setiap otot yang menyembul di betis dan lengan Gilang begitu indah, Pelangi bahkan sampai lupa bagaimana caranya berkedip.
"Jika kamu terus menatapku seperti itu, maka aku akan menilaimu sebagai gadis penafsu!" seru Gilang.
Pelangi mengerjap begitu mendengar suara Gilang. "Maaf," gumamnya, dengan pipi yang merona karena malu.
Gilang tersenyum miring, lalu menghentikan kegiatannya. "Mau ke mana pagi-pagi begini?"
"Aku harus ke kantor. Kemarin aku sudah membolos."
"Benar juga. Kerja yang benar kalau tidak mau gajimu kupotong!" ujar Gilang, lalu merebahkan diri di atas kursi lipat yang sengaja ia letakan di halaman depan.
"Baik, Pak, kalau begitu aku pergi dulu."
"Apa harus sepagi ini?" tanya Gilang, begitu Pelangi melangkah."Baru juga jam enam lebih sedikit."
Pelangi mengangguk, lalu membalik tubuhnya agar menghadap ke Gilang. "Aku berangkat dengan berjalan kaki. Supaya tidak terlambat, maka aku harus pergi sepagi ini."
"Oh, ya, ya, pergilah sana. Hush, hush! " Gilang mengibaskan tangannya di hadapan Pelangi, agar gadis itu cepat menghilang dari pandangannya.
Pelangi merasa tersinggung, bukannya menawarkan tumpangan, dirinya malah diusir seperti ayam. "Dasar kejam!" gerutunya, lalu segera berbalik dan pergi dari hadapan Gilang.
Sebenarnya Gilang merasa tidak tega membiarkan Pelangi pergi begitu saja. Apalagi saat ia melihat gadis itu berjalan dengan terpincang-pincang. Ingin rasanya ia meminta Toni untuk bangun dan mengantar Pelangi lebih dulu ke kantor. Namun, semua rasa tidak tega itu ia tekan dalam-dalam ke dasar hatinya. Jika ingin hubungannya dengan Gisel baik-baik saja, maka ia harus sedikit tega pada Pelangi. Toh Pelangi-lah penyebab semua masalah di antara dirinya dan Gisel.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 07:50, ketika akhirnya Pelangi tiba di kantor. Dengan napas terengah-engah, gadis itu langsung merebahkan diri di lantai lobi yang mengilap. Pada jam segitu memang belum ada karyawan yang hadir, hanya beberapa petugas kebersihan dan satpam yang sudah tiba.
"Heh, ngapain tiduran di situ, Pelangi!" Amara menyodok perut Pelangi dengan ujung sapu, membuat Pelangi terkejut.
"Biarkan aku baring beberapa saat dan jangan dibangunkan. Aku lelah," gumam Pelangi sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Amara duduk di samping sahabatnya itu dan melempar tatapan iba pada Pelangi. "Ada masalah apa? Rentenir-rentenir itu mengejarmu lagi?" tanya Amara.
Pelangi menyingkirkan tangan dari wajahnya, lalu menatap kosong ke atas. "Aku rasa mereka tidak akan megejarku lagi."
Amara mengernyitkan dahi. "Maksudmu? Apa kamu berhasil melunasi utang-utang orangtuamu?"
Pelangi mengangguk. "Sepertinya seperti itu."
Amara langsung menghambur memeluk Pelangi. Ia senang sekali mendengar kabar tersebut. Bagaimanapun juga Amara telah berteman dengan Pelangi sejak orangtua Pelangi masih hidup. Ia tahu betul semenyedihkan apa perjalanan hidup Pelangi. Dengan atau tanpa orangtua, tidak pernah sekalipun Pelangi hidup bahagia.
"Syukurlah, La, aku benar-benar bahagia mendengarnya." Amara menepuk punggung Pelangi, lalu ia melepas pelukannya dari tubuh ramping Pelangi dan menatap Pelangi dengan tatapan menyelidiki. "Kamu tidak menjual diri, 'kan?"
"Ah, entahlah. Aku rasa bukan cuma diri ini yang kujual, tetapi harga diriku juga." Pelangi kembali berbaring dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Baru saja Amara ingin mengajukan pertanyaan, Tiba-tiba terdengar suara pria berdeham di dekat mereka.
"Astaga, Pak Gilang!" Amara segera bangkit berdiri dan membungkuk hormat di hadapan pria itu.
Sementara Gilang, tatapannya jatuh pada sesosok gadis yang berbaring di lantai. Melihat tatapan Gilang yang kesal, Amara segera menendang kaki Pelangi, berharap sahabatnya itu segera bangun dan memberi salam pada bos mereka yang luar biasa tampannya.
"Sudah aku bilang jangan ganggu, Ra, aku lelah dan--"
"Bangunlah, tubuhmu itu membuat pemandangan lobi jadi rusak!" perintah Gilang, memotong ucapan Pelangi.
Mendengar suara Gilang, Pelangi langsung bangkit dengan terburu-buru. "Kenapa datangnya pagi sekali?" tanya Pelangi, yang seketika mendapat cubitan di lengan dari Amara. Amara tentu saja kesal, bukannya memberi hormat pada Gilang, Pelangi malah bertanya seenaknya, seolah Gilang adalah temannya, bukan bosnya.
Gilang mengabaikan pertanyaan Pelangi. "Ikut ke ruanganku, kita harus bicara," ujarnya, lalu segera melangkah menuju elevator.
"Tuh, kan! Bos jadi marah sama kamu. Seharusnya kamu bersikap sopan dan hormat sama dia, supaya dia itu--"
"Sudah-sudah, nanti aja ceramahnya." Pelangi memotong ocehan Amara, dan segera berlari menyusul Gilang yang sudah menunggu di elevator.
"Hati-hati, La, doaku menyertaimu!" Amara berteriak ke punggung Pelangi yang semakin jauh dan menghilang di balik pintu elevator yang perlahan tertutup.
"Kenapa dia memintamu berhati-hati?" tanya Gilang, begitu Pelangi telah berdiri di sampingnya.
"Mungkin dia takut Anda akan memakanku!" Pelangi menjawab sambil meringis.
"Kakimu masih sakit?"
"Sedikit."
"Bukannya aku sudah memintamu utuk mengobatinya semalam. Kenapa masih sakit?"
"Apa luka bisa sembuh secepat itu, Pak? Tidak ada yang instan di dunia ini, termasuk menyembuhkan luka dan lain-lainnya. Semua butuh proses!"
Gilang tersenyum sinis saat mendengarkan perkataan Pelangi. "Tidak semua butuh proses, Pelangi, nyatanya kamu dengan mudah menjeratku hanya dalam waktu satu malam."
Pelangi mendongak, menatap wajah Gilang yang berkedut karena menahan amarah. "Aku tidak menjeratmu."
Gilang menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Pelangi yang pucat. Gilang tiba-tiba merasa bersalah saat matanya menangkap memar di sekitar pipi dan bibir gadis itu. Tidak diragukan lagi, memar itu pasti karena pukulan Gisel yang membabi buta kemarin. Alih-alih memarahi Dan mengintimidasi Pelangi seperti niatnya sejak awal, Gilang malah mengulurkan tangan untuk menyentuh memar di wajah gadis itu. "Apakah sakit?" tanyanya.
Pelangi terkejut akan apa yang Gilang lakukan. Baru beberapa detik yang lalu Gilang bersikap sinis padanya, sekarang tiba-tiba saja Gilang menjadi lembut. Sentuhan tangan Gilang di wajahnya saja terasa seperti belaian sehelai kapas, begitu lembut dan sangat nyaman.
"Sakit?" tanya Gilang lagi, kali ini wajah keduanya semakin tak berjarak. Pelangi bahkan dapat merasakan embusan napas Gilang pada wajahnya.
"Tidak, hanya saja--"
Ting!
Pintu elevator terbuka.
"Ooh, maaf, Pak, maaf!" Sedikitnya ada enam orang karyawan bagian HRD tengah berdiri di depan pintu elevator, melihat apa yang sedang Gilang dan Pelangi lakukan.
Pelangi yang terkejut, refleks mendorong tubuh Gilang, kemudian segera berlari dari dalam elevator.
"Hai, Pelangi, kamu mau ke mana?!" Gilang berteriak, kemudian menatap kesal ke arah sekumpulan karyawan yang masih berdiri dengan penasaran di hadapannya.
Bersambung ....
dan ending yang menyedihkan untuk Gisel and the Genk..
btw..
soal visualnya mereka ,aku liat² wajah mereka pada serupa yaa sama para pasangan nya..
jangan ² mereka beneran jodoh di dunia nyata 🖤🖤
rasa nya kok sedih yaa..
Selamat ber bahagia Gilang pelangi dan semua nya🤗🖤
gemes sama Toni ..
satu demi satu
kebahagiaan mu akan trcapai
terlebih Gilang harapan saya kpd outhor smoga Gilang sembuh seperti sedia kala
supaya pelangi semakin bahagia 🙏❤️