Novel ini sekuel dari novel pertamaku yang berjudul Mencintai Kekasih Sahabatku. Jadi alangkah lebih baik membacanya terlebih dulu sebelum membaca Cinta Sang Mantan Cassanova.
"Aku baru sadar kalau cintaku padamu begitu dalam setelah aku kehilanganmu. Mungkinkah janin yang tak sempat berkembang itu membuat ikatan kita semakin kuat? aku berjanji akan membuatmu kembali lagi padaku" Dewangga Surya Wijaya.
Kehilangan 3 orang sekaligus dalam hidup Angga membuat hidupnya terpuruk. Mamanya meninggal karena serangan jantung, Viviane pergi entah kemana setelah keguguran janinnya.
Hal itu membuat seorang Angga kini menjadi pribadi yang sangat dingin. Bahkan gelar cassanova yang melekat pada dirinya sudah ia tanggalkan.
Dapatkah Angga menemukan Viviane?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dee_K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 23
Kini Edwin sudah kembali ke meja kerjanya. Setelah adegan hangat yang dilakukan dengan Viviane, Edwin serasa mendapatkan suntikan semangat untuk bekerja. Tapi sebelum menuju meja kerjanya, Edwin sudah memberi pengarahan pada Viviane tentang pekerjaan apa yang harus dilakukannya.
Edwin sudah duduk di meja kerjanya. Dia tersenyum sendiri memegang bibirnya sambil melihat Viviane. Sedangkan yang dilihat sedang menyibukkan diri di depan layar komputer. Padahal Viviane sebenarnya pura-pura cuek. Dia tahu bahwa Edwin sedang memperhatikannya namun dia enggan untuk melihatnya. Nanti yang ada akan membuat Edwin tidak bisa fokus bekerja.
Hari pertama Viviane bekerja di perusahaan Edwin dan untuk pertama kalinya juga menjadi sekretaris, bagi Viviane itu bukanlah pekerjaan yang terlalu sulit. Dengan cepat dia bisa menguasai job desc nya.
Kini waktunya semua karyawan pulang. Tak terkecuali Viviane. Namun hari ini Viviane tidak pulang ke apartemennya, melainkan ke rumah orang tua Edwin. Karena Sonya tadi sudah berpesan pada Edwin untuk mengajak calon menantunya makan malam di rumah sekaligus akan mengenalkan Viviane dengan keluarga Laura.
“sudah siap?”
“iya mas, ayo”
Setelah itu Edwin segera keluar dari ruangannya dengan diikuti oleh Viviane. Beberapa karyawan yang kebetulan juga pulang, melihat atsannya sedang berjalan dengan seorang wanita cantik menjadi bertanya-tanya. Siapa wanita itu. Padahal setahu mereka, atsannya yang baru-baru saja ini memimpin kantor pusat tidak pernah kelihatan dekat dengan seorang wanita. Dan ada dari mereka yang tahu bahwa wanita yang sedang berjalan di belakang atasannya itu adalah sekretaris barunya.
“mungkin wanita itu rela menawarkan tubuhnya pada bos agar bisa jadi sekretarisnya”
“kamu benar sekali, modal wajah cantik sekarang bisa mendapatkan segalanya”
Begitulah bisik-bisik yang didengar oleh Viviane dari beberapa karyawan yang sedang berjalan tidak jauh darinya. Namun Viviane hanya diam saja, enggan menanggapinya. Memang Edwin baru saja memimpin perusahaan yang ada di kantor pusat ini. Dan tidak banyak yang tahu kalau atasannya itu sudah bertunangan dengannya.
Viviane dan Edwin sudah berada di dalam mobil menuju rumah orang tua Edwin. Viviane hanya diam saja. Dia sedang melamun memikirkan tentang ucapan beberapa karyawan tadi. Dia jadi ingat masa lalunya. Apa yang akan mereka katakan tentangnya jika ada yang mengetahui tentang masa lalunya.
Tapi bukankah dirinya sekarang sudah berubah. Bahkan semenjak menjalin hubungan dengan Edwin, pria itu sama sekali tidak pernah menyentuh tubuhnya. Dia sangat menjaga dan menghormati wanitanya. Hanya kemarin dan tadi pagi saja Edwin merasa kelepasan. Tapi Viviane yakin Edwin adalah pria yang setia dengan komitmennya. Dia tidak akan melakukan hal yang lebih dari ciuman. Viviane berharap tidak akan ada satu orang pun yang mengetahui masa lalunya. Kecuali Edwin tentunya.
“sayang ayo?”
Edwin sudah membukakan pintu mobil untuk Viviane. Namun Viviane masih terdiam dan masih asyik dengan lamunannya.
“sayang!!” panggil Edwin sekali lagi
“eh iya mas, ada apa?”
“ck.. kamu ini ngelamun apa sih? Ayo keluar kita sudah sampaai”
“oh maaf”
Viviane tertunduk merasa bersalah karena sejak tadi melamun. Sampai dirinya tidak sadar bahwa sudah sampai di kediaman calon mertuanya. Kemudian Edwin menggandeng lengan Viviane berjalan masuk ke dalam rumah. Disana sudah ada Laura dan orang tuanya yang sudah menunggu.
“selamat malam semuanya” sapa Edwin pada semua orang yang kini sedang duduk bersantai di ruang tamu.
“kak Vi!!” panggil Laura dan segera memeluk Viviane.
Kedua orang tua Edwin dan Laura menggelengkan kepalanya melihat Laura yang sudah sangat akrab dengan Viviane. Dan Viviane pun juga menyambut hangat pelukan Laura. Mereka berdua tampak sekali seperti sudah kenal lama. Padahal mereka baru saja bertemu kemarin.
“malam ma, pa, om, tante” sapa Viviane
Kedua orang tua Laura juga terlihat senang dengan Viviane. Mereka berbincang-bincang sebentar di ruang tamu sebelum makan malam. Viviane juga merasa senang karena dia merasa punya keluarga baru yang sangat menyayanginya.
“sudah, ayo kita lanjut ngobrolnya sambil makan malam” ajak Nico kemudian
Kini mereka sudah berkumpul di ruang makan. Banyak sekali hidangan makanan yang tersedia disana. Sonya memang sengaja masak banyak menu selain mengundang keluarga Laura, dia juga ingin menyambut kedatangan calon menantunya.
“apa masakan mama enak Vi?” Tanya Sonya
“enak sekali ma”
“lain kali kita masak bareng ya. Kamu bisa memasak kan?”
“mama jangan khawatir, calon menantu mama ini sangat pandai sekali memasak” ucap Edwin
“wah beruntung sekali mbak kamu dapat menantu yang pandai memasak, cantik lagi. Nggak seperti keponakan kamu ini nih” ucap Rachel mama Laura
“ih mama ini. Iya-iya nanti aku belajar memasak dengan kak Viviane” jawab Laura cemberut dan semua orang yang ada di meja makan tertawa.
“iya benar kata mama kamu. Bagaimana nanti kamu akan melayani suamimu kalau masak saja tidak bisa” kini Wilson yang berbicara
“ish papa ini. Lagian mas Angga kan tidak peduli mau Laura bisa masak apa tidak”
Uhukkk
Seketika Viviane tersedak makanannya saat Laura menyebut nama Angga. Sudah beberapa kali Viviane mendengar nama Angga disebut oleh Laura. Apakah Angga yang dimaksud adalah Dewangga.
“sayang pelan-pelan” ucap Edwin sambil menyodorkan segelas air putih pada Viviane.
“terima kasih mas”
“tapi bener lho Ra apa yang papa kamu bilang. Menarik hati suami itu bisa dengan masakan yang enak. Kalau kamu pintar masak kayak Viviane, siapa tahu nanti Angga jadi makin sayang ke kamu” ucap Edwin.
Viviane benar-benar merasa bingung. Siapakah Angga yang dimaksud semua orang yang di meja makan ini. Apakah Edwin juga mengenal Angga. Ah sepertinya tidak mungkin. Mungkin Angga yang dimaksud adalah orang lain. Bukan Angga maantan kekasihnya.
Selesai makan malam, Edwin mengantar Viviane pulang ke apartemennya. Karena masih penasaran, akhirnya Viviane mencoba menanyakan pada Edwin tentang siapa Angga yang dimaksud dalam pembicaraan makan malam tadi.
“mas, memangnya Laura sudah punya kekasih?”
“sudah. Yang dimaksud Angga tadi itu adalah kekasih Laura”
“oh gitu. Jadi mas Edwin juga sudah mengenal kekasih Laura?”
“kalau kenal sih belum. Hanya pernah bertemu saja dua kali tapi nggak lama. Dan sepertinya Angga kekasih Laura itu orangnya seperti cuek dan dingin. om Wilson yang menjodohkan Laura dengan Angga”
“oh gitu”
Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya Viviane tiba juga di apartemennya. Karena waktu sudah malam, jadi Viviane meminta Edwin untuk segera pulang saja dan tidak perlu mengantarnya sampai ke unit apartemen.
“hati-hati ya mas”
“iya sayang. Kamu langsung istirahat ya nanti”
Viviane mengangguk tersenyum. Kemudian Edwin mengecup kening Viviane sebelum pergi meninggalkan basement.
Di sebuah mobil yang ada di basement itu juga ada seorang pria yang sejak tadi melihat Edwin bersama dengan seorang wanita. Ya, dia adalah Angga. Kebetulan Angga tadi juga baru pulang dan akan keluar dari mobilnya tapi dia batalkan karena lagi-lagi dia melihat Edwin ada di apartemen yang sama. Dan Angga saat ini juga melihat Edwin bersama dengan seorang wanita tapi dirinya tidak bisa melihat dengan jelas.
Karena fokus dengan pemikirannya, Angga sampai tidak sadar kalau mobil Edwin sudah meninggalkan basement. Dan wanita yang bersama dengan Edwin sudah hilang. Angga berusaha mengejar dan mencari tahu siapa wanita yang sedang bersama Edwin tadi.
Angga berjalan setengah berlari untuk mengikuti jejak langkah kaki wanita yang bersama Edwin. Dari jauh Angga sudah melihat seorang wanita yang memakai baju yang sama dengan wanita yang bersama Edwin tadi, tapi dia tidak tahu jelas wajahnya. Angga segera berlari untuk menghampiri wanita yang akan masuk ke dalam apartemennya. Nafas Angga tersengal. Dia seperti hafal dengan tubuh wanita itu.
“permisi” ucap Angga pada wanita yang sudah hampir menutup pintu apartemennya.
“iya?” seketika mata Viviane melotot tidak percaya dengan apa yang dilihat sekarang.
.
.
.
*TBC
udah end yak
semangat terus mama dee-k 💟💟